LOGINPagi setelah pertemuan dengan Samuel dimulai dengan hujan ringan.Kabut menggantung rendah di lereng Grizzly Peak.Tetes air memukul jendela kabin dengan ritme yang pelan dan teratur.Namun tidak ada seorang pun yang benar-benar memperhatikan cuaca.Karena sejak Samuel menunjukkan foto tua bertuliskan:SITE B1983Jangan pernah kembaliseluruh isi kabin dipenuhi satu pertanyaan yang sama.Apa yang terjadi di Site B?Samuel bangun paling pagi.Hal yang mengejutkan semua orang.Terutama Austin."Aku mengira orang tua tidur lebih lama."Samuel menatapnya."Aku mengira kau lebih pintar."Austin mengangguk."Ini akan berhasil.""Apa?""Aku dan kau.""Aku ragu."Mereka duduk di meja dapur.Avery sedang menuang kopi ketika melihat sesuatu yang tidak biasa.Samuel memegang buku para penjaga.Buku hitam tua yang ditemukan bersama surat Nathaniel.Buku yang selama ini belum pernah disentuh Samuel.Setidaknya tidak serius.Kini pria itu membuka halamannya satu demi satu.Pelan.Sangat pelan.Seo
Samuel tidak melepaskan pandangannya dari peta itu.Sudah hampir satu menit.Namun ia tetap diam.Tidak bergerak.Tidak bercanda.Tidak mengeluarkan komentar sinis yang selama beberapa jam terakhir terus membuat Avery ingin melempar sesuatu ke kepalanya.Keheningan itu jauh lebih mengganggu daripada semua lelucon Samuel.Karena untuk pertama kalinya pria tua itu terlihat takut.Benar-benar takut."Samuel."Avery melangkah lebih dekat."Ada apa?"Samuel berkedip.Seolah baru mengingat bahwa dirinya tidak sendirian.Kemudian perlahan melipat peta itu dan mengembalikannya."Di mana kau mendapatkannya?""Dari Nathaniel.""Aku tahu itu.""Aku menemukannya di Site B."Keheningan kembali jatuh.Samuel menghembuskan napas panjang."Seharusnya tidak ada peta.""Apa maksudmu?"Pria itu memandang danau.Tidak kepada Avery.Tidak kepada siapa pun.Kepada masa lalu."Karena Site B sudah hilang."Boom.Avery membeku."Hilang?""Ya.""Tidak mungkin.""Itulah yang kami yakini."Samuel mengusap wajahn
Samuel tidak langsung melanjutkan penjelasannya setelah mengucapkan kalimat itu."Nathaniel tetap keras kepala sampai akhir."Pria tua itu hanya menatap permukaan danau.Tenang.Diam.Seolah percakapan mereka baru saja berpindah dari masa kini ke empat puluh tahun lalu.Avery berdiri beberapa langkah darinya.Tidak menyela.Tidak mendorong.Karena untuk pertama kalinya sejak nama Samuel Voss muncul dalam hidupnya, ia merasa berada di hadapan seseorang yang benar-benar mengenal Nathaniel Nolan.Bukan versi yang ditinggalkan dalam surat.Bukan versi yang hidup dalam kenangan.Tetapi Nathaniel yang nyata."Dia sering membicarakanku?"tanya Samuel tiba-tiba.Avery mengangkat alis."Aku bahkan tidak tahu kau ada sampai beberapa bulan lalu.""Itu terdengar seperti Nathaniel.""Apa maksudmu?"Samuel terkekeh pelan."Nathaniel bisa menyimpan rahasia lebih lama daripada orang lain menyimpan dendam.""Itu pujian?""Tidak."Samuel mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke danau."Sebenarnya it
Avery tidak tidur nyenyak malam itu.Bukan karena cuaca.Bukan karena suara angin yang sesekali mengguncang dinding kabin.Melainkan karena tiga kata yang terus berputar di kepalanya sejak sore.Datang sendiri.Samuel Voss akhirnya berbicara.Bukan melalui arsip.Bukan melalui catatan Nathaniel.Bukan melalui foto lama.Langsung.Dan entah bagaimana, Avery yakin pesan itu memang ditujukan kepadanya.Saat fajar mulai menyentuh puncak-puncak pinus, Avery sudah berada di dapur.Secangkir kopi dingin berada di depannya.Tak tersentuh.Ia sedang menatap catatan Samuel untuk kesekian kalinya ketika Oliver masuk.Pria itu hanya membutuhkan satu detik untuk mengetahui Avery telah membuat keputusan."Kau mau pergi."Bukan pertanyaan.Pernyataan.Avery menghembuskan napas."Ya."Keheningan langsung jatuh di antara mereka.Oliver menyandarkan bahunya ke kusen pintu."Aku tidak suka ide itu.""Aku tahu.""Itu bisa jadi jebakan.""Aku tahu.""Kita tidak tahu apa yang Samuel inginkan.""Aku tahu."
Kabut masih menggantung di antara pepohonan ketika Tristan menemukan jejak itu.Ia tidak mengatakan apa-apa.Tidak memanggil siapa pun.Tidak berteriak.Ia hanya berhenti di tepi hutan dan menatap tanah cukup lama hingga Logan mulai curiga."Apa?"Tristan menunjuk."Itu."Mereka semua mendekat.Jejak sepatu.Satu set.Jelas.Bersih.Dan sangat mudah diikuti.Terlalu mudah.Oliver langsung berjongkok.Tangannya menyentuh tanah yang sedikit lembap.Kemudian ia mengangkat kepala.Ekspresinya berubah."Seseorang ingin kita menemukannya."Keheningan turun."Apa maksudmu?"tanya Avery.Oliver menunjuk arah jejak.Jejak itu tidak berusaha bersembunyi.Tidak memanfaatkan batu.Tidak menghindari lumpur.Tidak seperti penyusup yang masuk ke kabin Nathaniel.Tidak seperti orang-orang Richard.Orang ini meninggalkan jejak seperti seseorang meninggalkan undangan.Logan menyilangkan tangan."Itu tidak kusukai.""Karena kau normal."gumam Austin."Tidak."kata Oliver.Matanya masih menatap jejak."K
Tiga hari setelah menemukan Site B, kehidupan di Grizzly Peak tampak kembali normal.Tampak.Hanya itu.Karena tidak ada seorang pun yang benar-benar kembali seperti sebelumnya.Salju yang tersisa mulai mencair di lereng pegunungan.Truk-truk pengangkut kayu kembali melintasi jalan utama.Broken Halos kembali membuka toko.Penduduk setempat kembali membicarakan cuaca, musim berburu, dan harga bahan bakar.Seolah tidak ada yang berubah.Seolah tidak ada pintu baja tersembunyi di bawah gunung.Seolah tidak ada rahasia yang dijaga selama lebih dari satu abad.Seolah Nathaniel Nolan tidak baru saja mewariskan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sebidang tanah.Avery berdiri di beranda kabin.Secangkir kopi hangat berada di tangannya.Di hadapannya, Grizzly Peak membentang tenang.Rumah.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kata itu terasa benar.Namun kali ini rumah tersebut membawa beban yang berbeda.Di dalam kabin, tiga benda terletak di atas meja dapur.Surat Nathaniel.Buku para







