Compartir

15. Mas gak akan kalah!

Autor: El Alfun27
last update Fecha de publicación: 2026-08-14 23:12:06
Sehari setelah Alina diusir, Wijaya Mansion hening. Tapi heningnya palsu.

Dina masih shock abis diserang grup WA 80 orang. Arka lebih diem dari biasanya. Tiap Dina lewat, Arka narik napas panjang. Kayak nahan sesuatu.

"Mas kenapa?" tanya Dina pagi itu pas sarapan. Cuma mereka berdua. Mama masih "sakit hati" karena Arka keluar grup keluarga.

Arka nyuapin Dina roti. "Nggak apa-apa. Cuma ada rapat penting jam 9."

"Rapat apa, Mas?"

"Proyek reklamasi Teluk Surabaya. Nilai 2 triliun," jawab
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terjebak Malam Pertama dengan Bos Baru   42. Ibu janji!

    Jam 1.15 pagi. Angin dari jendela belakang nyusup masuk. Dingin. Baju bayi pink yang jatuh di meja masih tergeletak di lantai. Dina berdiri. Kaki telanjangnya injak keramik dingin. Matanya nggak lepas dari kaca jendela. Kosong. Nggak ada siapa-siapa. Cuma bayangan pohon mangga yang goyang.Arka dari kasur nahan napas. "Din. Jangan."Dina nengok. "Mas takut?"Arka: "Aku takut kamu kenapa-kenapa. Aku nggak bisa jalan cepet kalau ada apa-apa."Dina jalan pelan ke arah jendela. Tangannya gemetar, tapi dagunya naik. "Kalau itu Mama, Mas. Masa aku diem aja."Jari Dina buka gagang jendela. _Krek_. Angin malam masuk lebih kenceng. Bau tanah basah + melati. Nggak ada siapa-siapa. Cuma ada amplop coklat kecil diselipin di jeruji. Basah kena embun. Dina ambil. Tangannya dingin. Di depan amplop ditulis pake spidol merah: _UNTUK ANAK RATIH WIJAYA._Arka: "Buka, Din."Dina sobek pelan. Di dalamnya cuma ada 1 benda. Liontin kecil. Bentuknya jangkar. Sama persis kayak liontin 'R.W' yang ada di l

  • Terjebak Malam Pertama dengan Bos Baru   41. Pada malam ituu

    Tok. Tok. Tok.Jam 12 malam. Dina bangun kaget. Arka masih merem, keringat dingin.Dina: "Mas?" Nggak jawab. Tidurnya kelelahan.Ketukan lagi. Lebih kenceng. Tok tok.Dina pegang sapu, ngintip dari jendela. Motor matic. Cewek pake jaket ojek online, helm full face. Nggak keliatan muka.Dina buka pintu dikit, rantainya masih kepasang. "Siapa?"Cewek itu buka helm. Rambut pendek sebahu. Mata... mata Alina banget. Tapi lebih dingin.Cewek: "Mbak Dina? Saya Rani. Fisioterapisnya Mas Arka."Dina kaku. Darahnya dingin. Pesan WA Alina siang tadi: "Tanya aja ke fisioterapis kamu besok kenapa dia tau semua jadwal Arka."Dina: "Jam 12 malam ngapain ke sini, Mbak?"Rani: "Saya mau ngaku. Saya adik Ratu. Saya yang nyuntik Mas Arka pake racun pelumpuh 3 hari sebelum dia ditusuk Alina. Maaf, Mbak."Dunia Dina berputar. Tangannya gemetar pegang sapu.Dina: "KAMU GILA?! KAMU YANG BIKIN MAS ARKA HAMPIR MATI?!"Arka kebangun. Dia liat Rani. Napasnya berat. "Kamu..."Rani masuk tanpa diizinin. Dia lepas

  • Terjebak Malam Pertama dengan Bos Baru   40. Ujian kesetiaan

    Jam 6 pagi. RSUD Dr. Soetomo.Arka duduk di kursi roda. Kaki kanannya masih dibalut perban tebal. Dokter fisioterapi, Mbak Rani, jongkok depan dia.Mbak Rani: "Pak Arka, hari ini kita coba berdiri 10 detik. Nggak usah malu kalau jatuh. Saya nangkep."Arka: "10 detik doang? Saya dulu lari marathon, Mbak."Mbak Rani: "Dulu Bapak CEO. Sekarang Bapak pasien. Bedanya, CEO nggak pernah belajar jatuh. Pasien harus."Arka pegang parallel bar. Keringat dingin. Kaki kanan gemetar. Dia paksa berdiri. Satu. Dua. Tiga detik... lututnya tekuk.Dina yang dari tadi diem di pojok langsung lari. Dia nangkep badan Arka sebelum nyium lantai.Dina: "Mas! Nggak usah maksain!"Arka: "Aku nggak mau kamu ngurusin aku seumur hidup, Din. Aku mau jalan lagi. Demi kamu. Demi Dedek."Dina diam. Dia tau "Dedek" itu nama bayi mereka yang nggak jadi lahir. Arka masih sebut tiap malam.Dina: "Ya udah. Kita coba lagi. Tapi pelan-pelan. Aku di sini. Terus."Arka senyum pahit. "Kamu masih mau di sini, padahal aku udah ng

  • Terjebak Malam Pertama dengan Bos Baru   39. Dina keguguran

    Jam 8 pagi. Pengadilan Negeri Surabaya. Ruang Cakra 2 sesak.Dina duduk di kursi terdakwa. Borgol lepas sebelah. Perut 6 minggu belum keliatan, tapi tangannya nggak lepas dari liontin 'R.W'.Hakim: "Sidang lanjutan dibuka. Saksi dari terdakwa."Pintu kebuka. Perawat dorong kursi roda. Nenek kurus, muka penuh luka bakar, tabung oksigen "tit tit" tiap 3 detik.Ruang sidang bisik-bisik: "Itu napi hukuman mati Mbah Sumi!"Jaksa: "Keberatan! Saksi terpidana mati!"Hakim: "Diam. Sumpah dulu, Bu."Nenek buka kerudung. Bekas luka bakar bentuk jangkar. Matanya... mata Dina. "Demi Allah saya bersumpah... Saya Ratih Wijaya."Dina langsung berdiri. Borgol bunyi. "Ma..." Suaranya pecah.Alina dari kursi pengunjung teriak: "BOHONG!! KAMU MATI DIBAKAR 30 TAHUN LALU! GUE YANG NYIRAM BENSIN!"Ratih nengok. Senyum getir. "Iya, Nak. Kamu umur 5 tahun disuruh Mama kamu, Ratu. Mama masih inget kamu nangis habis itu."Hakim ketok palu. "Saksi, cerita."Ratih tarik napas pake oksigen. "30 tahun lalu saya is

  • Terjebak Malam Pertama dengan Bos Baru   38. Sidang pertama

    Jam 8 pagi. Pengadilan Negeri Surabaya. Ruang Cakra 2.Dina masuk pake baju tahanan orange + borgol. Perutnya belum keliatan, tapi ia pegang terus. Di belakang, 200 anak yatim duduk baris paling depan. Bawa poster: "BEBASKAN BU DINA. IBU KAMI."Jaksa: "Dakwaan korupsi 5 Miliar, Pasal 2 UU Tipikor. Hukuman minimal 4 tahun."Hakim ketok palu. "Silakan Jaksa bacakan dakwaan."Jaksa puter video. Isinya: CCTV transfer + tanda tangan Dina 15 Maret. Ruang sidang riuh. "Penjara! Penjara!"Dina diem. Ia liat ke pintu. Nunggu Arka.Pintu kebuka. Arka masuk. Pincang parah. Tongkat. Baju kemeja putih kebesaran nutupin perban di rusuk. Wajah pucat tapi mata tajam.Hakim: "Saksi Arka Wijaya, suami terdakwa. Sumpah dulu."Arka angkat tangan. Suaranya serak: "Demi Allah saya bersumpah..."Pengacara Alina: "Keberatan Yang Mulia! Saksi punya konflik kepentingan! Dia pasti bohong buat bela istri!"Arka nengok ke pengacara. "Saya nggak bohong. Saya bohong kalau saya diem liat istri + anak saya difitnah."

  • Terjebak Malam Pertama dengan Bos Baru   37. Hamil?

    Jam 4.30 pagi. Rutan Kelas 1 Surabaya. Azan subuh.Dina sujud terakhir. Baru mau duduk... perutnya mules. Dunia muter. Ia jatuh lemes di sajadah. "Ya Allah..."Napi sebelah: "Bu Dina! Sipir! Bu Dina pingsan!"Sipir lari, bawa Dina ke klinik rutan. Dokter jaga: nenek-nenek 50an, muka jutek.Cek tekanan. Cek denyut. Dokter liat tespek bekas yang Dina muntahin 3 hari lalu. "Tespek positif. Bu Dina hamil 6 minggu."Dina melek. Air matanya jatuh. "Hamil? Saya... saya sama Mas Arka..."Dokter: "Selamat ya Bu. Tapi..." Dokter liat rekam medis. Mukanya berubah. "Vitamin prenatal Ibu yang tiap hari... ini bukan vitamin. Ini obat Cytotec. Obat penggugur kandungan."Dina kaku. "Apa Bu?"Dokter bisik: "Ada yang ganti botol Ibu dari 1 minggu lalu. Dosis kecil tiap hari biar janin lemah. Kalau nggak dikasih obat penguat + infus 3x24 jam, janin nggak kuat, Bu. Bisa keguguran."Dina pegang perutnya. Belum gede, tapi dia udah sayang. "Nak... maafin Ibu ya..."Sipir: "Bu, siapa yang ganti vitamin Ibu?"

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status