MasukDina Larasati, sekretaris biasa dengan gaji 8 juta, terdesak utang 2 miliar untuk biaya kemoterapi ibunya. Dalam 24 jam ia harus putuskan: mati perlahan karena utang, atau terima tawaran gila dari bos barunya, Arkana Wijaya. Arka Wijaya, CEO muda Wijaya Corp yang dijuluki "Es Batu" karena dingin dan tanpa hati. Ia kehilangan ingatan 50% setelah kecelakaan, tapi pura-pura normal demi warisan kakeknya. Syarat warisan itu gila: ia harus menikah dan punya istri resmi dalam 6 bulan. Tawaran Arka sederhana: Nikah kontrak 6 bulan. Dina dapat uang untuk ibunya. Arka dapat status "suami" di atas kertas. Setelah 6 bulan, cerai, beres. Tanpa cinta, tanpa drama. Masalahnya, drama datang sendiri. Dina masuk ke Wijaya Mansion, rumah es batu yang isinya Mama, Papa, dan adik ipar Rania yang benci dia setengah mati. Pelayan julid, gosip kantor, sampai arisan keluarga besar jadi medan perang Dina. Di kantor, ia tetap jadi sekretaris Arka. Di rumah, ia dipaksa panggil Arka "Mas". Awalnya Arka benci Dina. Berisik, bodoh, nggak pantes. Tapi saat Dina demam tinggi, Arka yang gendong dia ke kamar. Saat Dina dihina HRD, Arka yang pecat orang itu di depan semua karyawan. Saat Dina nggak sengaja lihat foto mantan Arka, Alina, Arka yang pertama kali buka luka 8 tahun lamanya. 6 bulan itu ternyata nggak sesederhana kontrak. Karena es batu bisa meleleh. Karena pelukan "nggak sengaja" bisa bikin jantung berdebar. Karena Dina mulai penasaran: sebenarnya Arka orangnya kayak gimana sih? Dan Arka mulai panik: kenapa setiap lihat Dina senyum, ia lupa kalau ini cuma pernikahan kontrak? Nikah kontrak, hati sungguhan. Mampukah Dina bertahan 6 bulan tanpa jatuh cinta pada bosnya? Mampukah Arka menjaga tembok esnya saat wanita yang ia benci justru jadi satu-satunya yang bikin ia merasa hidup lagi?
Lihat lebih banyakKeringat dingin membasahi telapak tangan Dina saat ia menatap gedung kaca setinggi 40 lantai di depan. Logo "Wijaya Corp" berkilau keemasan, menyilaukan mata di bawah terik matahari Surabaya pukul 07.45.
"Ya Allah, semoga nggak dipecat di hari pertama," gumam Dina pelan sambil menarik napas panjang. Ini bukan sekadar kerjaan. Ini harapan terakhirnya setelah tiga bulan menganggur dan ditolak di 17 perusahaan. Surat penawaran dari Wijaya Corp datang bak keajaiban. Posisi: Sekretaris Pribadi Direktur Utama. Gaji: 3 digit. Tapi ada satu syarat aneh di email HRD: "Siap bekerja dengan jam fleksibel dan tekanan tinggi. Bos baru sangat perfeksionis." Dina merapikan blazer navy-nya, lalu melangkah masuk ke lobi marmer yang dingin dan megah. Suara sepatu hak 5 cm-nya berdenting, terlalu keras di ruangan yang hening itu. "Selamat pagi, Mbak mau ke mana?" sapa satpam di meja resepsionis. "Pagi, Pak. Saya Dina Larasati. Hari pertama kerja sebagai sekretaris Pak Arka... maksud saya, Pak Direktur Utama," jawab Dina, suaranya sedikit bergetar. Satpam itu tersenyum ramah. "Lantai 38, Mbak. Ruang Direktur. Lift sebelah kanan," Dina mengangguk cepat dan berjalan menuju lift. Jantungnya berdebar seperti genderang perang. Ia membayangkan bosnya: pria paruh baya berkepala botak dengan kacamata tebal. Stereotip sekretaris dan bos, pikirnya, sambil tertawa kecil dalam hati. Ding! Pintu lift terbuka di lantai 38. Hawa AC yang terlalu dingin langsung menyergap kulitnya. Koridornya panjang, sepi, hanya ada suara AC dan denting sepatunya sendiri. Di ujung koridor, ada pintu double door berwarna hitam dengan plat emas: *ARKANA WIJAYA - DIREKTUR UTAMA*. Dina menelan ludah. Ia mengetuk pintu tiga kali. Tok tok tok Tak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, sedikit lebih keras. "Permisi, Pak?" Masih hening. Dina melirik jam tangannya. 08.00 pas. Ia sudah telat 0 detik, tapi rasanya seperti sudah telat satu jam. Dengan ragu, ia memutar gagang pintu. Tidak dikunci. Ruangan di dalamnya seluas lapangan basket. Dinding kaca dari lantai ke langit-langit memperlihatkan pemandangan seluruh kota Surabaya. Meja kerja dari kayu jati hitam mengilap, panjangnya hampir 3 meter. Tapi... mejanya kosong. Tidak ada siapa-siapa. "Permisi?" panggil Dina lagi, suaranya kini nyaris berbisik. "Keluar." Suara itu dingin, datar, tanpa emosi. Dina langsung menoleh ke arah sofa kulit di sudut ruangan. Di sana duduk seorang pria. Kaki panjangnya disilangkan, satu tangan memegang gelas kopi hitam tanpa gula. Ia belum menoleh ke arah Dina. Jantung Dina nyaris copot. Ini pasti Pak Arka. Bos barunya. Pria itu akhirnya menoleh. Usianya sekitar 29-30 tahun. Jas hitamnya pas di badan, rambutnya disisir rapi ke belakang. Tapi yang membuat Dina membeku adalah matanya. Hitam pekat, tajam, dan sedingin es Kutub Utara. Tidak ada senyum. Tidak ada kehangatan. Hanya tatapan yang seolah bisa menelanjangi isi kepala seseorang. "Anda siapa?" tanyanya. Suaranya rendah, tapi setiap kata terasa seperti perintah. Dina membungkuk 90 derajat, refleks seperti diajarkan saat pelatihan. "Selamat pagi, Pak Arka. Saya Dina Larasati, sekretaris baru Bapak. Mulai hari ini saya yang akan..." "Berisik," potong Arka tanpa ekspresi. Ia meneguk kopinya, lalu meletakkan gelas itu ke meja dengan bunyi “klak” yang membuat Dina tersentak. Dina mengatupkan bibirnya. Oke, "Es Batu Kantor" ternyata julukan yang tepat. Ia menarik napas dan mencoba lagi dengan nada lebih tenang. "Saya sudah membaca jobdesc, Pak. Mulai hari ini saya akan mengatur jadwal Bapak, meeting, perjalanan dinas, dan..." "Jadwal hari ini?" Arka memotong lagi. Ia akhirnya berdiri. Tingginya sekitar 185 cm. Aura wibawanya menekan dada Dina sampai sesak. Dina buru-buru membuka tablet yang ia bawa. Jarinya gemetar saat menggeser layar. "Eh... jam 9 ada meeting dengan tim marketing, jam 11 conference call dengan Singapura, jam 2 siang makan siang dengan klien dari Jepang, dan jam 4 Bapak ada..." "Cukup," kata Arka. Ia berjalan melewati Dina tanpa menoleh. Wangi parfum woody-nya semerbak, tapi tidak ramah. Justru terasa menusuk. "Saya benci orang yang membaca catatan saat bicara dengan saya. Hafalkan. Besok kalau masih bawa tablet, Anda dipecat." Dina langsung menutup tabletnya. Wajahnya panas karena malu. "Baik, Pak. Maaf, Pak,” Arka berhenti di depan pintu. Ia akhirnya menatap Dina lagi, dari atas ke bawah, seolah menilai apakah ia layak ada di ruangan itu atau tidak. Tatapan itu membuat Dina ingin meleleh di lantai. "Nama Anda Dina?" tanya Arka, nadanya datar. "Benar, Pak." "Kerja Anda hanya satu: jangan membuat saya repot. Saya benci orang bodoh dan saya benci orang yang banyak bicara. Paham?" "Pa... paham, Pak," jawab Dina, suaranya mengecil. Arka mengangguk sekali. "Bagus. Meja Anda di luar. Ada 200 email belum dibaca. Bereskan sebelum jam 9. Kalau ada satu pun meeting yang berantakan karena Anda, kumpulkan barang Anda,” Tanpa menunggu jawaban, Arka keluar ruangan. Pintu double door itu menutup dengan suara “bam” yang pelan tapi mematikan. Dina terpaku di tempatnya. Lututnya rasanya lemas. Baru 5 menit kerja, ia sudah merasa seperti mau pingsan. "Ya Allah... ini bos apa malaikat pencabut nyawa," desisnya pelan saat ia berjalan keluar dan menemukan mejanya. Meja kecil tepat di depan pintu ruang direktur, dengan tumpukan map dan monitor yang sudah menyala menampilkan 237 email belum dibaca. Ia duduk dan langsung tenggelam dalam kerjaan. Mengetik, menelepon, menjadwalkan ulang meeting yang kacau. Otaknya bekerja 200%. Ia tidak berani istirahat, tidak berani minum, takut Pak Arka keluar dan memecatnya di detik itu juga. Pukul 12.30, perutnya sudah berbunyi. Tapi Dina tetap mengetik. Sampai akhirnya pintu ruang direktur terbuka lagi. Arka keluar tanpa jas. Lengan kemeja putihnya digulung sampai siku, memperlihatkan jam tangan mahal dan otot lengan yang... oke, Dina langsung menunduk. Tidak sopan kalau ketahuan melirik. "Makan siang 30 menit," kata Arka dingin tanpa melihat ke arahnya. "Kembali jam satu. Kalau saya pulang dan kerjaan belum beres, Anda tahu konsekuensinya,” peringat Arka. "Siap, Pak," jawab Dina cepat, meski ia tahu kerjaannya belum akan selesai sampai jam 6 sore. Begitu Arka masuk lift, Dina langsung ambruk di kursinya. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. "Gila... 8 jam kerja kayak 8 tahun," keluhnya. Tapi Dina bukan tipe yang gampang menyerah. Ia lulusan terbaik, ia butuh uang ini untuk ibunya di kampung yang sedang sakit. Jadi ia menegakkan punggung, menarik napas, lalu kembali menatap layar. "Baiklah, Pak Es Batu. Kita lihat siapa yang menyerah duluan," bisiknya pelan, kali ini dengan senyum kecil yang keras kepala. Ia tidak tahu, dari balik kaca ruang direktur, Arka sebenarnya sedang memperhatikannya. Tatapan dingin itu sedikit melunak saat melihat Dina yang tetap bekerja meski wajahnya pucat karena lapar. Arka menyipitkan matanya. "Hmm... menarik," gumamnya pelan, sebelum akhirnya menutup tirai kacanya. Hari pertama Dina baru saja dimulai. Dan ia belum tahu hal apa yang akan datang lebih cepat dari yang ia duga.Dua hari istirahat bikin Dina merasa bersalah setengah mati. Laporan menumpuk, meeting kelewat 3x, dan Arka harus handle semua sendirian. "Kewajiban suami kontrak" katanya. Tapi Dina tahu Arka pasti kecapean juga.Hari ketiga, demamnya sudah hilang sembilan puluh persen. Ia nekat ke kantor meski badan masih lemas. "Saya nggak bisa diem di rumah, Mas. Saya ngerasa nggak guna," katanya pagi itu di meja makan.Arka menatapnya dari balik koran. "Saya sudah bilang jangan ke kantor dulu," peringat Arka."Saya janji nggak maksa kerja berat. Cuma beresin email aja," Dina memelas. Tatapan anak kucing sakit itu berhasil.Arka menghela napas pelan. "Baik. Tapi jam 3 sore harus pulang. Saya yang antar," ucap Arka akhirnya."Siap, Mas!" Dina langsung sumringah. Senyumnya terlalu terang untuk jam tujuh pagi.Di kantor, semua orang masih kikuk ke Dina. Sapanya jadi lebih sopan, tapi tatapannya masih menilai. Dina cuek. Ia fokus kerja di meja luar ruang direktur.Jam dua siang, Arka dipanggil meeting
Tiga hari setelah insiden Rani dipecat, kantor Wijaya Corp jadi lebih sunyi. Tidak ada yang berani bergosip terang-terangan lagi. Tapi tatapan sinis dan bisik-bisik di belakang tetap ada.Dina menahannya. Ia bekerja 12 jam sehari, pulang ke rumah es batu, tidur 4 jam, lalu mengulang lagi. Rasanya sangat lelah. Tapi ia tidak punya pilihan.Malam keempat, hujan deras mengguyur Surabaya. Dina baru selesai merevisi laporan untuk meeting besok pagi jam 7. Matanya perih, kepalanya berat. Ia memaksa dirinya berdiri."Nyonya, Tuan sudah menunggu di mobil," kata Nyonya Sari di lobi kantor. "Hujan deras, jangan naik taks," peringatnya.Dina mengangguk lemas. Di mobil, AC terlalu dingin. Bajunya basah karena kehujanan dari lobby ke mobil. Ia memeluk diri sendiri dan bersandar di jendela. Tanpa sadar, ia tertidur."Mas... Mas Arka..." gumamnya dalam tidur. Panggilannya masih berantakan antara "Mas" dan "Pak Arka".Arka yang duduk di sebelahnya melirik. Ia melihat pipi Dina merah tidak wajar, bibi
Dina bangun dengan mata bengkak. Bantalnya basah. Semalam ia menangis sampai tertidur sambil memeluk guling, membayangkan itu ibunya di kampung."Selamat pagi, Nyonya," sapa Nyonya Sari saat Dina turun ke ruang makan. Meja sudah penuh sarapan continental. Croissant, telur benedict, jus alpukat. Tapi Dina hanya mau nasi uduk.Arka sudah duduk di ujung meja, membaca koran bisnis. Jasnya rapi, dasinya sempurna. Tidak ada tanda-tanda ia tidur 3 jam seperti Dina. Ia bahkan tidak menoleh."Selamat pagi... Mas," ucap Dina pelan, masih canggung dengan panggilan itu.Arka baru mengangkat pandangannya 1 detik. "Pagi. Mobil berangkat 10 menit lagi. Kamu tetap kerja sebagai sekretaris saya di kantor. Aturan mainnya sama: profesional di depan orang,” peringat Arka.Dina mengangguk. Profesional. Iya istri kontrak yang harus pura-pura tidak kenal suaminya sendiri di kantor. Di mobil, keheningan kembali. Arka mengetik, Dina menatap jendela. Sampai akhirnya Arka bicara tanpa menoleh."Mama dan Papa t
24 jam terasa seperti 24 menit.Dina menghabiskan malam itu dengan memeluk bantal dan surat nikah. Ibunya di kampung menelpon sebanyak tiga kali, suaranya lemah karena efek kemoterapi. "Din, obat bulan ini mahal ya nak... Ibu nggak enak terus minta uang..." ucap Maryam- Ibu Dina.Setiap keluhan "Ibu" yang keluar dari telepon itu seperti pisau. Dina menutup telepon dengan tangan gemetar. Gaji sekretaris 8 juta sebulan tidak akan cukup. Utang 2 miliar? Itu sama saja bunuh diri.Jam 19.58. Dina berdiri di depan meja Arka dengan mata bengkak tapi punggung tegak. Map cokelat berisi surat perjanjian kontrak nikah sudah ditandatangani tangannya. Tinta masih basah.Arka tidak menoleh dari laptopnya. Jari panjangnya mengetik tanpa henti. Suasana ruangan itu dingin, seperti kulkas."Waktunya habis 2 menit lagi," kata Arka datar. "Keputusan?"Dina menelan ludah. Harga dirinya berteriak "Tolak!", tapi suara ibunya lebih keras. "Saya... saya terima, Pak. Opsi dua. Nikah kontrak 6 bulan," jawabnya


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.