공유

Terjebak Obsesi Paman Suami
Terjebak Obsesi Paman Suami
작가: Rosa Uchiyamana

1. Salah Kamar

last update 게시일: 2026-07-22 10:16:31

“Malam ini temani Pak Candra di hotel, serahkan tubuhmu padanya.”

Wajah Natasha seketika menegang mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut suaminya.

“A-apa maksud Mas? Kenapa… kenapa Mas nyuruh aku menyerahkan tubuhku ke investor itu?”

“Karena kamu masih perawan.”

“Apa?” Natasha membelalak. Dadanya seketika diserang rasa sesak. “Apa sebenarnya yang sedang Mas Haikal bicarakan?”

“Dengar, Sha.” Haikal mencondongkan tubuhnya ke arah Natasha yang duduk di hadapannya. “Aku butuh dana besar untuk perusahaanku. Dan satu-satunya investor yang sanggup menggelontorkan dananya dalam waktu dekat cuma Pak Candra. Kamu harus bantu aku sekali ini saja!” tegasnya, tak ingin dibantah.

“Dengan menyerahkan tubuhku?”

“Ya.”

Perut Natasha terasa mencelos. Dia masih bisa menerima perlakuan tidak adil dari suaminya selama satu tahun mereka menikah.

Natasha tetap bersabar dan berusaha menjadi istri yang baik, sekalipun Haikal tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri.

Namun, permintaannya malam ini benar-benar tidak masuk akal. Hati Natasha terluka hingga ke dasarnya yang paling dalam.

“Jadi, Mas Haikal mengajakku ke tempat ini karena sengaja ingin menyerahkan aku pada laki-laki itu?” lirih Natasha seraya mencengkeram gaun terbuka yang membalut tubuhnya.

“Benar,” jawab Haikal tanpa terlihat bersalah sedikitpun. “Pak Candra itu terkenal sebagai investor yang susah sekali didapatkan hatinya. Sedangkan aku butuh dia supaya Wijaya Land nggak bangkrut.”

“Mas–”

“Pak Candra suka perempuan perawan,” sela Haikal cepat. “Jadi malam ini tidurlah dengannya. Dengan begitu dia akan langsung menggelontorkan dananya untukku.”

“Tapi kenapa harus aku, Mas?!” Natasha menggigit bibir bawahnya dengan mata memanas. “Aku istrimu! Kenapa tega sekali kamu menjualku pada pria lain?”

“Karena aku nggak punya pilihan, Sha!” bentak Haikal, membuat Natasha sempat berjengit.

Pria itu tampak mulai hilang kesabaran. “Aku sudah cari wanita bayaran yang masih perawan, tapi nggak ada!”

“Aku nggak mau!” Natasha memalingkan wajahnya ke arah lain sambil mengepalkan tangannya. “Terserah Mas mau memaksaku seperti apa, aku tetap nggak mau.”

“Oke kalau kamu nggak mau.” Haikal berdiri dengan marah. “Aku akan menghentikan biaya pengobatan ibumu!”

“Jangan!” Natasha terhenyak, menggeleng cepat. “Aku mohon jangan, Mas!”

“Kenapa aku harus mengikuti kemauanmu?” Haikal menatap Natasha tajam. “Aku nggak mau buang-buang uang buat perempuan nggak tahu terima kasih!”

Tangan Natasha mencengkeram gaunnya semakin kuat.

Jika Haikal menghentikan biaya pengobatan ibunya yang sedang koma, maka sang ibu bisa kehilangan nyawa.

Sementara Natasha tidak memiliki tempat lain yang bisa dimintai pertolongan untuk meminjamkan uang sebanyak itu.

Dada Natasha terasa sesak. Wajahnya sedikit tertunduk menatap kepalan tangannya yang bergetar dengan tatapan kosong.

“Baik,” gumam Natasha pada akhirnya setelah cukup lama terdiam. “Aku akan melakukannya. Menemui laki-laki itu.”

Seringaian puas langsung terbit di bibir Haikal. “Bagus! Itu baru namanya istri yang berguna untuk suami.”

Haikal meletakkan sebuah kartu akses di hadapan Natasha. “Temui dia di kamar ini. Ingat! Jangan sampai gagal! Kalau gagal, nyawa ibumu taruhannya.”

Haikal pun pergi meninggalkan Natasha.

Perempuan itu menggeser pandangannya ke arah meja, terdiam seraya menatap kartu akses kamar nomor 308.

Natasha tercenung, hatinya terasa hancur.

Bagaimana bisa dia tidur dengan laki-laki lain?

Namun demi ibunya, Natasha harus melakukannya, bukan?

Dia tidak punya pilihan lain.

Lalu Natasha meneguk habis minuman yang sejak tadi ada di hadapannya.

Cairan itu terasa manis dan cukup pekat di lidah.

Kemudian Natasha beranjak pergi dari ruangan VIP club malam itu.

Melewati kerumunan orang-orang yang tengah berjoget mengikuti musik yang menghantam gendang telinganya.

Setelah berhasil keluar dari kerumunan itu beberapa menit kemudian, Natasha berjalan di lorong yang remang-remang menuju lift.

“Sayang, kamu serius nyerahin Natasha ke Pak Candra?”

Mendengar namanya disebut-sebut, Natasha refleks menoleh ke sumber suara yang datang dari arah lorong lain

Natasha menahan napas ketika melihat dua orang yang sedang berjalan sambil berpelukan dan berciuman menuju lift.

“Mas Haikal?” gumam Natasha nyaris tak terdengar dengan mata sedikit membulat. Dia langsung menutupi mulutnya yang ternganga, lalu bersembunyi di tempat yang lebih gelap.

“Jangan menyebut nama wanita itu saat kita sedang bercinta, Honey.” Suara laki-laki itu teredam di dalam mulut perempuan dalam pelukannya.

Lutut Natasha mendadak kehilangan tenaga. Meski tidak melihat wajah pria itu dengan jelas, tetapi Natasha bisa dengan mudah menebaknya bahwa dia adalah Haikal.

Sementara perempuan dalam pelukan pria itu, Natasha tidak bisa melihat wajahnya.

Haikal dan perempuan itu masuk ke dalam lift tanpa melepaskan ciuman panas mereka.

Natasha membeku selama beberapa saat. Dadanya terasa sesak.

Lalu dengan tangan mengepal, dia menyeret langkahnya menuju lift yang lain setelah lift yang ditumpangi Haikal dan wanita itu tertutup.

Ting!

Pintu lift terbuka.

Natasha melangkah masuk dengan kepala yang semakin terasa berat.

Suhu tubuhnya mendadak panas.

Bahkan gesekan pakaian dengan kulitnya sendiri pun membuatnya gelisah.

“Kenapa tiba-tiba begini?” gumam Natasha seraya mengusap lehernya, tetapi sentuhan itu membuat tubuhnya menggeliat kecil. Napasnya terasa berat.

Setibanya di lantai tiga, Natasha berjalan di lorong yang temaram. Pandangannya memburam saat menatap nomor 308 yang tertera pada kartu akses dalam genggamannya.

Lalu, langkahnya terhenti di depan kamar bernomor 303.

“Tiga kosong delapan?” gumam Natasha dengan napas terengah.

Matanya menyipit menatap nomor pintu di hadapannya yang berbayang. Kemudian menempelkan kartu akses itu di pintu.

Namun, gagal.

Kartu akses itu ditolak.

Dia mencoba sekali lagi. Tetap gagal.

Dua kali. Tiga kali. Berkali-kali.

Tubuhnya terasa semakin gelisah akibat sesuatu yang tidak Natasha ketahui apa penyebabnya.

Cklek!

Pintu tiba-tiba terbuka.

Natasha terkesiap, panik, hingga kartu akses dalam genggamannya terlempar entah ke mana.

Dia menunduk dan melihat sepasang kaki yang dibalut pantofel hitam di hadapannya.

Debaran di dalam dada Natasha semakin berdetak cepat. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat.

Demi ibunya, dia harus masuk dan menyenangkan Candra, seperti yang Haikal perintahkan tadi.

“Kamu datang?”

Tenggorokan Natasha tercekat ketika pria itu bertanya dengan suara beratnya.

Sepertinya Pak Candra memang sudah tahu bahwa dirinya akan datang.

“I-iya–akh!” pekik Natasha saat pria itu tiba-tiba menarik tangannya masuk ke dalam kamar lalu memenjarakannya di dinding.

***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
~kho~
wow.... baru ajah bab 1 sdh bwt deg²an, wkwkwkk
goodnovel comment avatar
NING
Aku mampir sini thor. Agaknya aeru nih ceritanya.
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   62. Rindu?

    Hampa.Itulah yang Natasha rasakan ketika dia membuka mata pagi ini dan hanya ruang kosong yang dia dapati di sebelahnya. Di kamarnya yang ada di rumah mertuanya.Tiga kali pagi berturut-turut bangun dalam pelukan Bian membuat Natasha merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya pagi ini.Mungkinkah dirinya merindukan pria itu?Tidak. Tidak.Natasha menggeleng cepat lalu bangkit duduk perlahan. Dia tidak boleh merindukan Bian.Perasaan itu adalah sesuatu yang terlarang.Namun, semakin dia berusaha menekan perasaannya, rasa rindunya justru semakin menggebu.Drrt! Drrt!Ponsel Natasha di atas nakas bergetar singkat. Natasha meraihnya. Seulas senyum kecil seketika terbit di bibirnya saat melihat sebuah pesan dari pria yang sedang memenuhi benaknya.Mereka baru sampai di Jakarta kemarin siang.Bian Arkananta: Sudah bangun?“Tumben banget pagi-pagi sudah menghubungiku?” gumam Natasha. Apalagi ini adalah hari libur.Natasha Samantha: Sudah, Pak. Ada yang bisa saya bantu?Bian Arkananta: Tid

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   61. Ketulusan

    “Apa kabur dari saya memang hobimu, Natasha?”Natasha berjengit kaget ketika mendengar suara Bian di belakangnya. Sontak dia memutar tubuhnya dan mendapati Bian tengah menatapnya tajam.“Saya tidak sengaja kabur, kok,” elak Natasha, “tadi saya sudah izin ke Bapak waktu Bapak lagi bayar makan malam di kasir.”Sudut mata Bian menyipit. “Saya tidak mendengarmu.”Natasha berdehem pelan. Dia memang meminta izin dalam gumaman sebelum pergi dari restoran.Yah… yang penting dia sudah bilang walau tidak sampai ke telinga pria itu, bukan?Sisi licik Natasha membenarkan hal itu.“Dengarkan saya baik-baik, Natasha.” Bian menarik pinggang Natasha dan meremasnya cukup kuat. Lalu berbisik di dekat telinganya, “Lain kali pastikan saya mendengar izinmu kalau tidak ingin ‘sesuatu’ terjadi padamu.”Cara Bian menekankan kata ‘sesuatu’ membuat Natasha meremang dan otaknya otomatis membayangkan hal yang tidak-tidak.Ugh! Natasha benci pikiran kotornya.“Saya nggak kabur kemana-mana kok, Pak. Saya cuma tert

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   60. Menghibur

    “Ada apa ini?”Natasha seketika menegang saat mendengar suara Bian yang baru saja keluar dari kamar.Namun, saat melihat pintu di hadapannya masih tertutup rapat, sontak Natasha menoleh ke arah sumber suara.Mata Natasha terbelalak karena ternyata Bian keluar dari pintu kamar yang berdampingan dengan kamar mereka.Ada apa ini?Kenapa Bian tiba-tiba keluar dari sana?Bukankah kamar itu sebelumnya telah dibatalkan oleh pihak hotel?Natasha bertanya-tanya dalam hati seraya menatap Bian dengan bingung. Lalu diam-diam menghela napas lega.“Oh?” Stella hanya membeku ketika kenyataan tidak sesuai dugaannya. Sialan. Ternyata mereka benar-benar berbeda kamar.“Pak Bian, apa obrolan kami barusan mengganggu Bapak?” tanya Natasha dengan nada profesional.Bian melangkah mendekat. Sorot matanya yang kelam menatap Natasha dan Stella bergantian.“Saya membayar mahal untuk mendapat ketenangan di kamar ini,” ujar Bian dingin. Tatapan tajamnya berakhir pada Stella. “Bukan untuk mendengar keributan yang

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   59. Mulai Curiga

    “Babe, kamu tahu Natasha dan Om Bian ada di sini?”Haikal yang baru saja keluar dari kamar mandi menjawab, “Iya, Honey. Om Bian ada konferensi dan dia bawa Natasha. Kamu tahu sendiri Natasha itu asisten pribadinya Om Bian.”Haikal menghampiri Stella yang duduk di tepian ranjang, lantas mencium bibirnya sejenak. “Kenapa kamu tahu mereka ada di Singapura?”“Tadi aku ketemu Natasha di cafe.”“Mereka menginap di hotel ini juga?” tanya Haikal terkejut.“Iya, kayaknya begitu.” Stella mengerutkan kening. “Kenapa kamu kayak kaget begitu?”“Kalau Om Bian ada di hotel ini dan bertemu aku, dia pasti bertanya-tanya kenapa aku ada di sini.”Haikal mengembuskan napas lalu duduk di samping Stella.Stella langsung memeluknya dan mengusap dada Haikal dengan seduktif. “Kan kamu bisa bilang kamu lagi memantau proses syuting untuk iklan terbaru Wijaya Land.”Ya, itu memang benar. Stella sebagai Brand Ambassador Wijaya Land memang sedang syuting di Singapura.Namun, tentu saja kedatangan Haikal ke sini bu

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   58. Mengaguminya

    Natasha menggeliat. Tetapi dia merasakan tubuhnya terkunci oleh sesuatu yang berat dan keras. Kemudian dia membuka kelopak matanya yang terasa lengket.Seketika Natasha menahan napas karena pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah Bian yang masih terlelap dengan damai.Perlahan Natasha menunduk, dia mendapati tubuhnya tenggelam dalam pelukan lengan kekar dan besar milik pria itu.Bahkan mereka masih sama-sama tampil polos setelah sesi terakhir percintaan panas mereka–yang entah untuk ke berapa kalinya malam itu.Pipi Natasha seketika memanas ketika memori tadi malam kembali berkeliaran di kepalanya.Dia pun mendongak, memandangi setiap inci wajah Bian yang terpahat sempurna. Lekukan samar di tengah bibir bawahnya membuat bibir pria itu terlihat… seksi?Jantung Natasha seketika berdebar-debar saat teringat semalaman penuh bibir itu menciumnya.Natasha kembali menunduk, perlahan jemarinya terulur pada dada Bian yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang membuatnya terlihat semakin gagah

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   57. Tak Akan Berhenti

    Sesaat setelah pintu kamar tertutup, Bian memenjarakan Natasha di daun pintu. Dia kembali melahap rakus bibirnya. Melanjutkan ciuman yang sempat terjeda sejak turun dari mobil hingga keluar dari lift.Ciuman panas itu membuat kaki Natasha gemetar dan nyaris kehilangan tenaga. Tubuhnya terasa limbung dan lemas.Natasha seketika lupa dengan rasa sedih yang sempat dialaminya. Kini yang memenuhi benaknya hanya pria ini, seakan-akan Bian telah berhasil mencuri seluruh dunianya.“Saya bantu melepas jas Bapak,” ucap Natasha dengan napas terengah-engah saat Bian menempelkan dahi mereka.Dengan jemari gemetar, Natasha melepaskan jas hitam dari tubuh pria itu. Lalu melepaskan butir demi butir kancing kemeja putihnya, meski beberapa kali jarinya sempat terpeleset.Kemeja itu akhirnya terlempar. Natasha menelan saliva ketika pemandangan di hadapannya berubah menjadi dada bidang yang dipenuhi otot-otot liat.Bayangan tubuh kekar itu yang berada di atasnya dan menggagahinya membuat jantung Natasha

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status