Share

2. Malam Panas

last update publish date: 2026-07-22 10:17:50

Natasha terhenyak ketika pria itu memenjarakannya di dinding dan mengunci kedua pergelangan tangannya di sisi kepala.

“Lebih cepat dari dugaan saya,” bisik pria itu, yang membuat Natasha mendongak menatapnya dengan tatapan takut dan panik.

Hingga dia temukan wajah tegas seorang pria. Alisnya tebal, hidung mancung dan bibir penuhnya memiliki belahan kecil di tengah bibir bawah.

Sementara mata kelamnya memandang lurus dengan ekspresi datar yang sulit ditebak.

Belum sempat Natasha mencerna apa yang terjadi, pria itu sudah lebih dulu membenamkan bibirnya ke ceruk lehernya. Melumatnya pelan.

“Ah!”

Tanpa sadar, desahan itu keluar dari bibir Natasha.

Natasha buru-buru menggigit bibir bawahnya seraya mendorong dada pria itu agar berhenti menyentuhnya.

“A-Apa yang Anda lakukan?”

Napas Natasha semakin berat. Tubuhnya yang panas bergerak semakin gelisah.

“Menurutmu…,” bisik pria itu seraya menjepit dagu Natasha dengan jemarinya. “Untuk apa saya menyewamu?”

Kening Natasha berkerut. Dia tidak mengerti apa maksud kata ‘menyewa’ dalam pertanyaan Pak Candra, kepalanya terasa semakin berdenyut hingga membuat Natasha tak bisa berpikir jernih.

“Apa bisa kita membicarakannya dengan baik?” lirih Natasha dengan bibir bergetar.

Satu alis pria itu terangkat. “Membicarakannya dengan baik?”

Natasha mengangguk seraya menelan saliva dengan berat.

Rasa takut, panik dan gelisah bergumul di dalam dadanya. Matanya berkunang-kunang sehingga sesekali wajah Pak Candra tampak berbayang.

“Kerjasama perusahaan,” gumam Natasha, “apa Bapak bisa menyetujuinya tanpa menyentuh saya?”

Pria itu tersenyum miring. Punggung jemarinya sempat terangkat, tetapi Natasha segera memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Saya mengerti alkohol bisa membuat seseorang bicara melantur,” bisik pria itu seraya meraih dagu Natasha kembali.

Disentuhnya pipi halus itu dengan punggung jari tangan, yang membuat Natasha menggeliat kecil.

“Tapi saya tidak menyewa seorang wanita untuk membicarakan bisnis,” pungkasnya, sebelum kemudian dia kembali membenamkan bibirnya di ceruk leher Natasha.

Natasha menggigit bibir kuat-kuat saat merasakan ciuman yang lebih liar dari sebelumnya.

Matanya berkaca-kaca. Dia ingin lari dari sana, pergi sejauh-jauhnya dari pria itu.

Namun ancaman Haikal terus terngiang-ngiang di telinga, membuat Natasha mau tidak mau tetap berdiri di hadapan investor itu sambil menggadaikan harga dirinya.

Pria itu menarik Natasha menuju ranjang dan menjatuhkannya hingga punggung Natasha menyentuh permukaan kasur.

Natasha sempat memekik panik.

“Panas,” lirih Natasha sembari melepas cardigannya dengan tidak sabar, berharap rasa terbakar yang memerangkap tubuhnya segera hilang.

Kini hanya menyisakan gaun terbuka di tubuhnya yang diberikan Haikal tadi.

Pria itu memperhatikan setiap gerak Natasha seraya melepas kancing kemejanya.

Satu sudut bibirnya terangkat tipis.

“Rupanya kamu sudah dipersiapkan untuk datang kemari.”

Natasha menggeleng pelan. Kepalanya terasa semakin berat.

“Tolong nyalakan AC-nya,” pintanya seraya menatap pria itu dengan penuh permohonan.

Tubuhnya terasa semakin tersiksa.

Pria itu sudah bertelanjang dada. Memperlihatkan otot perutnya yang keras terbagi enam, dada bidang yang mengkilap serta lengan yang kekar.

Pemandangan yang entah mengapa membuat tubuh Natasha bereaksi berlebihan.

Merasa tak tahan lagi, Natasha bangkit dan mengulurkan tangannya berusaha menggapai remote AC di atas nakas.

Namun, pergelangan tangannya seketika dicekal pria itu.

“AC sudah menyala.” Suara pria itu terdengar semakin berat. Dia menunduk, mencium tulang selangka Natasha yang terbuka dengan bibir panasnya. “Yang kamu butuhkan adalah saya, Nona.”

Tenggorokan Natasha tercekat. Jari jemarinya mencengkram sprei dengan erat.

Akal sehatnya ingin mendorong pria itu.

Namun tubuhnya berkhianat.

Otot-ototnya terasa lumpuh saat pria itu menyapukan bibir dan lidahnya pada belahan dadanya.

“Saya akan menolongmu.” Pria itu merobek paksa gaun tipis yang dikenakan Natasha. “Dan membebaskanmu dari neraka yang memerangkapmu.”

Sesaat kemudian, Natasha lupa caranya bernapas ketika puncak dadanya tenggelam dalam mulut panas pria itu.

Pria itu tanpa ragu menyapukan jemari kokohnya ke perut Natasha. Dengan perlahan turun ke area sensitif wanita itu dan mengoyaknya, membuat tubuh rapuh itu menggeliat kecil.

Natasha tidak lagi sadar sepenuhnya dengan apa yang terjadi. Bibirnya setengah terbuka, mendesah tanpa dapat dia cegah.

Jemari pria itu berganti dengan lidah panasnya, menyapu milik Natasha di bawah sana dengan liar.

Tubuh Natasha menggelinjang. Dadanya bergetar hebat. Jemarinya tanpa sadar menjambak rambut pria itu dan menekan kepalanya di antara pangkal tungkai kaki.

Seolah memohon agar mengoyaknya semakin dalam.

Sesaat kemudian, pria itu membuka kedua kaki Natasha lebih lebar dan menempatkan diri di antaranya.

Seraya menatap wajah wanita itu, dia menyatukan diri mereka berdua dengan dorongan kasar.

“S-Sakit,” desis Natasha seraya mencengkeram sprei kuat-kuat.

Gerakan pria itu seketika terhenti. Dia menatap wajah Natasha dengan tatapan sulit diartikan, napasnya memburu.

“Kamu… masih perawan?” bisik pria itu seraya menunduk.

Natasha menggigit bibir bawah. Dadanya naik turun dengan cepat.

Pria itu terdiam sejenak. Seolah ingin memastikan, dia mendorong miliknya kembali dengan kasar hingga Natasha memekik kesakitan.

Pria itu tertegun.

“Bertahanlah,” bisik pria itu seraya menggeret giginya di rahang Natasha. “Ini akan sedikit sakit.”

Detik berikutnya, pria itu menyambar bibir Natasha untuk pertama kalinya lalu melumatnya dengan rakus.

Erangan Natasha tertahan saat miliknya terkoyak perlahan-lahan. Setetes air matanya jatuh membasahi pelipis.

***

Natasha terbangun pagi itu dengan kepala yang berdenyut hebat. Lalu dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang terasa asing itu.

Keningnya mengernyit.

“Di mana aku?” gumamnya lirih.

Ini bukan kamar yang biasa dia tempati di rumah mertuanya.

Ketika aroma woody yang asing menyapa indra penciumannya, seketika itu juga degup jantung Natasha meningkat dua kali lebih cepat.

Perlahan potongan-potongan memori tadi malam datang silih berganti di benaknya.

Natasha terkesiap. Matanya terbelalak.

Refleks dia menoleh ke samping dan mendapati seorang pria sedang terlelap dengan selimut yang hanya menutupi sebatas pinggang.

Pria itu tertidur menelungkup dengan wajah menghadap Natasha.

Napas Natasha tercekat.

“Ya Tuhan,” bisiknya dengan wajah yang semakin pucat.

Dia menunduk menyingkap selimut dengan tangan yang gemetar.

Ekspresinya seketika menegang saat menemukan tubuhnya sendiri tidak tertutupi sehelai benang pun.

“Apa yang sudah terjadi semalam?” Mata Natasha mulai memanas.

Suara berat pria itu kembali terngiang di telinganya, serta panas tubuhnya yang mengungkungnya semalam masih terasa begitu jelas di ingatan.

Natasha menutup mulut dengan telapak tangan. Rasa bersalah, takut dan hancur bercampur menjadi satu.

Tanpa berani menoleh lagi pada pria itu, Natasha bergegas turun dari ranjang. Dia meringis merasakan nyeri pada area sensitifnya.

Dengan tangan gemetar diambilnya pakaian yang berserakan di lantai lalu mengenakannya.

Tetapi dia menemukan pakaian bagian depannya robek.

Natasha memejamkan mata sejenak, sebelum akhirnya menutupi bagian yang robek itu dengan cardigannya.

Dia bergegas menuju pintu.

Sebelum keluar, dia menoleh sekilas pada pria itu. “Maaf,” lirihnya nyaris tak terdengar.

Sesaat kemudian Natasha pergi dan menutup pintu seraya mengepalkan tangannya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
~kho~
koq minta maaf?
goodnovel comment avatar
NING
Apakah pria yang meniduri Natasha adalah paman suaminya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   111. Hukuman

    Natasha terbangun dari tidurnya saat dia merasakan usapan lembut di pipinya.Ketika matanya terbuka, pemandangan pertama yang dia dapati adalah ibunya yang tengah menatapnya.Natasha sempat membeku. Tatapan itu terasa begitu lembut dan hangat. Padahal sebelumnya Mutia bahkan enggan melihatnya.“Ibu ganggu tidur kamu, ya?” tanya Mutia lembut.Natasha bangkit. “Nggak, Bu. Ada apa?”“Makan dulu. Kamu ‘kan belum makan siang.” Mutia mengelus puncak kepala Natasha, yang membuat Natasha lagi-lagi membeku.“Ibu kenapa? Sepertinya aku sedang bermimpi?” gerutu Natasha.Seulas senyum penuh rasa bersalah terbit di wajah Mutia. Perlahan dia menarik Natasha ke dalam pelukannya.“Maafin Ibu, Nak.”“Ibu….”“Ibu sudah mendiamkanmu tanpa memberi kamu kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Ibu,” ujar Mutia lirih seraya mengusap-usap punggung Natasha. Air matanya terjatuh. Betapa malangnya nasib putrinya selama ini. “Maafin Ibu.”Mata Natasha terasa memanas. Dia balas memeluk Mutia dengan erat. Natas

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   110. Bertanggung Jawab

    Natasha memaklumi jika ibunya marah dan kecewa. Tetapi melihat sang ibu terus menerus mendiamkannya membuat Natasha merasa benar-benar sedih dan bersalah.Mutia menolak bicara dengannya. Bahkan keesokan harinya Mutia meminta mereka keluar dari rumah Bian.Karena tak ingin membuat ibunya semakin marah, akhirnya Natasha membawanya pulang ke rumah mereka.Tetapi diam-diam Bian menyewa beberapa bodyguard untuk berjaga di rumah Natasha, karena khawatir media masih akan terus mengejar mereka.Siang ini, Natasha membawa segelas air minum dan beberapa butir obat ke dalam kamar ibunya. Tetapi yang dia dapati ibunya justru tengah tidur sambil membelakanginya.“Ibu, minum obat dulu, ya,” ucap Natasha pelan seraya menaruh nampan di atas nakas. Kemudian duduk di tepian ranjang. “Sudah waktunya Ibu minum obat.”Namun, Mutia tetap bergeming. Natasha tertunduk lesu karena sampai saat ini ibunya masih mendiamkannya. Dia yakin ibunya tidak benar-benar tidur.“Maafin aku, Bu. Aku sudah mengecewakan Ibu.

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   109. Berubah

    “Kenapa kamu pergi tanpa memberitahu saya? Bukankah sudah saya bilang untuk tetap diam di rumah sebelum masalah ini mereda?” cecar Bian setibanya mereka di dalam mobil.Namun, Natasha seolah tidak mendengarkan omelan pria itu.Dia justru sibuk menggulir berbagai artikel di ponselnya sambil berusaha mencerna fakta yang baru saja dia dengar.Jadi Stella yang menyebarkan foto-foto dirinya dan Bian?Lalu, Bian membalas mereka dengan menyebarkan berita perselingkuhan Stella dan Haikal?Semua kenyataan itu membuat kepala Natasha terasa penuh. Semua peristiwa itu terjadi dalam sekejap.“Natasha!”Seruan Bian membuat Natasha terhenyak. Dia langsung menaikkan pandangannya ke arah Bian yang tengah menatapnya dengan tegas.“Ada apa? Apa tadi Bapak bicara sesuatu?”Bian tidak langsung menjawab. Dia merampas ponsel Natasha terlebih dahulu dan mengeceknya sekilas. “Jangan membuka situs web apapun dan media sosial. Berita di luar sana tidak baik untuk kalian.”Kalian? Maksudnya dirinya dan janinnya?

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   108. Kemarahan

    [Natasha, di mana kamu sekarang?][Bukankah sudah saya bilang untuk tidak keluar dari rumah?]Natasha menghela napas panjang seraya menatap layar ponselnya yang tengah menampilkan pesan dari Bian.Kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas tanpa membalas pesan tersebut. Bahkan Natasha mengabaikan panggilan yang masuk dari Bian setelahnya.Pandangan Natasha lurus ke depan, menatap jalanan dengan tatapan marah.Jika itu bukan Stella, Natasha tidak akan semarah ini. Namun karena perempuan yang berselingkuh dengan Haikal selama ini ternyata Stella, Natasha tak bisa lagi menahan emosinya.Natasha benar-benar muak. Stella seakan tidak pernah puas merebut sesuatu dalam hidup Natasha. Selain merebut ayahnya dan suaminya, Stella bahkan berniat merebut Bian darinya.Seolah-olah Stella ingin menghancurkan apapun yang Natasha miliki.Tak lama kemudian taksi yang ditumpangi Natasha berhenti di depan sebuah gedung apartemen.Natasha mengepalkan tangannya sejenak, sebelum akhirnya turun dan masuk ke

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   107. Serangan Balik

    “Apa Ayah yang melakukannya?” Bian menatap Wira dengan tatapan tajam.Setelah membawa Natasha dan ibunya ke penthouse-nya, Bian langsung menemui ayahnya dengan marah. Wira adalah orang pertama yang Bian curigai telah menyebarkan rumor tersebut.Wira yang kini berdiri membelakangi Bian mengembuskan napasnya dengan berat. “Apa menurutmu Ayah akan melakukan sesuatu sejahat itu padamu?”“Ayah pernah mengancam saya dengan ancaman yang sama,” timpal Bian dingin. “Bukankah wajar kalau saya mencurigai Ayah?”Perlahan Wira memutar tubuhnya menghadap Bian. Terdiam cukup lama seraya menatapnya datar. “Bukan Ayah yang melakukannya.”Kening Bian mengernyit tipis. Meski hubungan mereka tidak dekat, tetapi Bian tahu bahwa ayahnya tidak sepenuhnya berbohong.Wira mungkin kejam dalam caranya mempertahankan kekuasaan, tetapi jika dia ingin menghancurkan hubungan Bian dengan Natasha, pria tua itu tidak akan menyangkalnya seperti sekarang. Wira pasti akan mengakuinya.Bian mengepalkan tangan. Jika bukan

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   106. Skandal

    Raut muka Natasha pagi itu tampak begitu ceria. Dia memasak sarapan dengan hati bahagia karena akhirnya bisa membuat sarapan lagi untuk ibunya.“Bos kamu itu sepertinya orang yang baik ya, Nak,” ucap Mutia yang duduk di kursi roda sambil memperhatikan Natasha.Senyuman di wajah Natasha sempat memudar sepersekian detik. Dadanya seketika berdebar-debar tapi juga terasa sesak di waktu yang sama begitu mengingat pria itu.“Iya, Bu. Pak Bian memang baik,” ucap Natasha pada akhirnya. Walaupun sebenarnya pria itu begitu menyebalkan dan dingin. “Mungkin karena Nata istri keponakannya Pak Bian.”“Beliau sudah menikah?”“Belum, Bu. Katanya Pak Bian nggak tertarik dengan pernikahan.”Kening Mutia mengernyit seraya memperhatikan ekspresi Natasha yang berubah saat membahas Bian.Sementara itu Natasha sendiri merasa gugup, dia takut ibunya mencurigai sesuatu di antara dirinya dan Bian.Bahkan sampai saat ini Natasha tidak tahu bagaimana caranya memberitahukan kehamilannya pada sang ibu. Natasha tak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status