ログインKesibukan sepanjang hari akhirnya membuat perutku terasa nyeri. Aku berpegangan pada sudut meja, berusaha menahan rasa sakit yang semakin kuat, seakan ada sesuatu yang meremas perutku dari dalam. Tubuhku terasa berat, sementara kakiku mulai kehilangan keseimbangan. Aku memejamkan mata, mencoba bertahan di antara rasa nyeri dan kelelahan yang bercampur menjadi satu.Pintu ruanganku terbuka. Beruntung, Joana segera berlari menghampiriku ketika tubuhku hampir ambruk.“Nyonya Valentino! Anda tidak apa-apa?”“Akh... Sakit. Tolong....”Suaraku nyaris tak terdengar karena rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Aku bahkan tidak lagi mampu memahami apa yang Joana lakukan. Di tengah kesadaranku yang mulai memudar, kudengar suara Sean.“Ya Tuhan, Mika! Apa yang terjadi?”Aku tidak sanggup menjawab. Pandanganku mulai kabur dan kesadaran
Rapat baru berakhir satu jam setelah waktu makan siang, dan ketika kembali ke ruanganku, Sean sudah menunggu di sana.“Kamu sudah menunggu lama?” tanyaku.Sean langsung memelukku dan mengecup puncak kepalaku.“Tidak juga. Aku baru datang sekitar lima menit lalu. Ayo, kita makan siang.”Aku sedikit menjauh untuk menatap wajahnya dengan heran.“Kamu belum makan siang juga?”“Aku sudah berjanji akan makan bersamamu.”Aku hanya mengangkat bahu. Namun, seketika itu pula, percakapanku dengan Phillip mengenai Atika kembali terlintas di benak. Aku masih menimbang-nimbang apakah sebaiknya menceritakan semuanya kepada Sean atau tidak.Dewi Batinku ikut mengangkat bahu dengan ekspresi masa bodoh. Rupanya, dia menyerahkan keputusan itu sepenuhnya kepadaku.Sam m
Investasi dari Masa Lalu yang Belum SelesaiAku terbangun lebih pagi dari biasanya. Sean masih terlelap di sampingku, satu tangannya bertengger di atas perutku yang mulai sedikit membuncit. Dengan hati-hati, kusingkirkan tangannya, lalu turun dari ranjang.Jam baru menunjukkan pukul lima pagi, tetapi perutku sudah keroncongan. Mual yang selama ini menyertai kehamilanku juga mulai berkurang. Rupanya, ucapan Dokter Grace benar. Seiring bertambahnya usia kehamilan, keluhan menyebalkan itu perlahan akan mereda.Dapur masih kosong. Nyonya Liam baru akan datang sekitar pukul setengah delapan, jadi aku memutuskan menyiapkan sarapanku sendiri.Untungnya, tersedia croissant siap panggang dan granola. Sambil menunggu croissant matang, aku menyantap granola, lalu membuka lemari es untuk mengambil jus jeruk.Sean muncul tepat ketika aku selesai menyusun croissant yang baru keluar dari oven d
Kedatanganku pagi ini disambut kerumunan wartawan di pintu masuk gedung Orchid Foundation.“Ya ampun, Jared, ayo kita lewat pintu belakang saja.”“Maaf, Nyonya, pintu belakang sedang diperbaiki. Untuk sementara, hanya pintu depan yang bisa digunakan.”Sial, aku sampai lupa. Bagian belakang gedung Orchid memang sedang direnovasi untuk pembangunan gedung baru.Dengan enggan, aku menghadapi para wartawan yang langsung mengerumuniku. Petugas keamanan gedung dan Jared segera membantuku melewati mereka, mengawalku sampai ke dalam gedung.“Nyonya Valentino, bisakah Anda memberikan keterangan mengenai kasus penyerangan yang dilakukan Ariel William? Apa motif di balik tindakannya?”Aku memilih diam. Tak satu pun pertanyaan mereka kujawab. Kejadian tiga bulan lalu itu sudah cukup menyita waktu dan pikiranku. Aku tidak ingin media kembali mengangkatnya menjadi berita panjang yang belum tentu memberikan informasi berarti bagi siapa pun.“Bagaimana hubungan Tuan Valentino dengan wanita bernama Atik
Detektif Charlie menjabat tangan Sean sebelum duduk di sofa yang berhadapan dengan kami. Wajahnya tegas, dengan sikap formal yang membuatnya terkesan kurang ramah. Aku bisa membayangkan orang-orang menghormatinya karena pembawaannya seperti itu. Mungkin seseorang yang bekerja sebagai penyidik memang harus menjaga sikap profesional saat berhadapan dengan orang lain, supaya mereka bisa mendapatkan keterangan yang benar tanpa terpengaruh suasana.“Kami sudah memeriksa seluruh bukti yang diserahkan asisten Anda dan menghubungkannya dengan kasus yang sedang kami tangani. Kami sangat menghargai bukti akurat yang Anda berikan, Tuan Valentino.”“Lalu, apa yang membuat Anda datang kemari?”Aku melirik Sean. Wajahnya sudah berubah dingin, dengan tatapan yang sanggup membuat orang berpikir dua kali sebelum berbicara sembarangan. Detektif Charlie berdeham, berusaha mengabaikan sorot mata suamiku yang mengintimidasi. Sepertinya, ksatria hitam dan putihku memang punya bakat membuat orang lain kehil
Mama Ramia datang menghampiriku dengan langkah setengah berlari. Papa Abraham menyusul di belakangnya bersama Rani. Aku langsung bangkit dari bangku dan memeluk Mama Ramia erat-erat. Begitu berada dalam pelukanku, tangisnya pecah. Setelah beberapa saat, dia melepaskan pelukan dan memeriksa tubuhku dari ujung kepala hingga kaki. Matanya sudah basah oleh air mata.“Bagaimana keadaanmu? Kamu terluka? Bagaimana dengan bayinya? Dia baik-baik saja?”Kepanikan terdengar jelas dalam setiap pertanyaannya. Aku segera meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja dan bayiku tidak terluka. Barulah sedikit ketenangan muncul di wajahnya, meski kecemasan itu belum sepenuhnya hilang.Papa Abraham juga memelukku, lalu Rani menyusul. Kakak perempuan Sean itu menangis di bahuku, membuatku ikut sesak. Aku ingin menenangkan mereka, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetapi bagaimana mungkin aku bisa terdengar meyakinkan ketika diriku sendiri nyaris hancur karena ketakutan?“Sean akan baik-baik saja,”







