Compartir

Siapa Orang Itu?

Autor: Nafelluve
last update Fecha de publicación: 2026-07-01 21:39:27

Langit pagi masih diselimuti mendung ketika Hana turun dari taksi di depan rumah sakit. Udara yang seharusnya terasa sejuk itu sama sekali tidak mampu meredakan rasa sesak yang memenuhi dadanya.

Ia berdiri beberapa saat di pelataran rumah sakit guna menatap bangunan tinggi bercat putih yang beberapa hari terakhir menjadi tempat paling sering ia kunjungi.

“Aku bosan melihat tempat ini setiap hari,” monolog Hana dengan suara lirih.

Perlahan, Hana mulai membawa kedua kakinya untuk melangkah masuk. Pintu kaca otomatis terbuka memperlihatkan kesibukan yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Beberapa perawat berjalan tergesa sembari membawa berkas milik pasien. Seorang dokter tampak berbicara dengan keluarga pasien di sudut lorong.

“Selamat pagi, Nona Hana. Semoga hari ini ada keajaiban untuk ayah Anda.” Salah seorang perawat menyambut Hana ramah.

Di ruang tunggu, seorang anak kecil tertidur di pangkuan ibunya, sementara seorang lelaki tua duduk memejamkan mata sembari menggenggam tasbih di tangan kanannya.

Pemandangan itu membuat hati Hana semakin berat. Setiap orang datang ke rumah sakit membawa harapan.

"Semua orang datang ke sini dengan harapan. Aku juga, tapi kenapa rasanya harapanku semakin jauh?"

Ia menekan tombol lift menuju lantai ruang perawatan intensif. Selama pintu lift menutup dan bergerak naik, pandangannya hanya tertuju pada pantulan dirinya di dinding baja.

“Ternyata aku terlihat sangat menyedihkan seperti ini. Tubuhku bahkan bukan milikku sendiri sekarang.”

Hana mengusap pelan lingkar hitam di bawah matanya. "Aku benar-benar berantakan. Kalau Ayah melihatku begini, pasti Ayah akan marah karena aku tidak merawat diri."

Suara pelan dari lift membuyarkan lamunannya. Pintu terbuka dan Hana berjalan menyusuri lorong yang sedikit senyap. Langkahnya terdengar pelan berpadu dengan dengung pendingin ruangan yang memenuhi setiap sudut koridor.

Semakin dekat menuju ruang perawatan ayahnya, langkah itu justru semakin berat. Ada ketakutan yang tidak mampu ia jelaskan.

"Tolong jangan sampai terjadi apa-apa sebelum aku menemukan jalan keluar," doanya nyaris tanpa suara.

Hana berhenti di depan dinding kaca ruang intensif. Napasnya tercekat kala menyaksikan ayahnya masih terbaring di tempat yang sama.

Monitor jantung di samping ranjang berbunyi teratur. Akan tetapi, di telinga Hana, setiap dentingnya terasa seperti hitungan waktu yang terus berjalan tanpa mau menunggu.

Ia memejamkan mata sejenak sebelum mengenakan pakaian pelindung yang telah disediakan oleh rumah sakit.

“Hana, masuk ya, Yah.”

Begitu pintu ruang intensif terbuka, udara dingin langsung menyambut tubuhnya. Ruangan itu dipenuhi aroma obat-obatan dan cairan antiseptik.

Hana berjalan perlahan hingga tiba di sisi ranjang. Tangannya terulur pelan menggenggam jemari ayahnya yang terasa dingin.

"Aku datang, Ayah.” Suara Hana pecah hingga hanya menjadi bisikan lirih.

Kelopak mata sang ayah tetap terpejam rapat. Hana mengusap perlahan punggung tangan ayahnya menggunakan ibu jari.

Tatapannya perlahan mengabur. Sejak ibunya meninggal dunia belasan tahun lalu, hanya ayahnya yang menjadi tempat ia bersandar.

"Ayah pernah bilang, kalau Ayah ingin melihat Hana hidup bahagia." Senyum tipis yang dipaksakannya justru membuat air mata jatuh semakin deras.

"Hana bahagia, asal bisa terus bersama Ayah. Tapi maaf, sampai sekarang Hana belum bisa membalas semua pengorbanan Ayah." Ia menundukkan kepala ketika dadanya terasa begitu sesak.

Semalam, demi menyelamatkan nyawa ayahnya, ia rela mengorbankan sesuatu yang selama ini dijaganya mati-matian. Sayangnya, takdir justru mempermainkannya.

Air mata Hana menetes satu per satu membasahi punggung tangan ayahnya. "Maafkan Hana..." Suara itu nyaris tenggelam oleh isak tangisnya sendiri.

"Hana benar-benar tidak tahu harus mencari uang ke mana lagi sekarang." Ia menggenggam tangan ayahnya semakin erat. Ia takut kehilangan satu-satunya keluarga yang masih tersisa.

Tok Tok

Suara ketukan pelan di pintu itu  membuat Hana buru-buru mengusap pipinya. Ia menarik napas dalam beberapa kali sebelum menoleh ke arah pintu.

Seorang perawat berdiri di ambang ruangan dengan senyum tipis sebagai bentuk profesionalitas.

“Maaf mengganggu, Nona Hana.”

Hana mengangguk pelan. “Tidak apa-apa, Sus.”

“Dokter Rendi ingin bertemu dengan Anda di ruang konsultasi.”

Jantung Hana berdegup lebih cepat. Entah mengapa, setiap kali mendengar dirinya dipanggil oleh dokter, selalu ada firasat buruk yang muncul tanpa diundang.

Ia menatap ayahnya sejenak sebelum melepaskan genggaman tangannya. “Tunggu Hana sebentar ya, Yah.”

Meski tahu ayahnya tidak akan menjawab, Hana tetap membisikkan kalimat tersebut. Barangkali hanya itu satu-satunya cara agar dirinya merasa sedikit lebih tenang.

Ia mengikuti langkah perawat tersebut menuju ruang konsultasi yang berada tidak jauh dari ruang intensif tempat ayahnya terbaring lemah.

Dokter Rendi sudah menunggu di sana. Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu mempersilakan Hana untuk duduk. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya menyiratkan keraguan. Seperti sedang mencari cara paling tepat untuk menyampaikan sesuatu.

Hana meremas ujung tas yang berada di pangkuannya. “Ada apa dengan ayah saya, Dok?”

Dokter Rendi mulai membuka map berisi hasil pemeriksaan terbaru. “Tadi pagi kami kembali melakukan evaluasi terhadap kondisi ayah Anda.”

Hana menahan napas dengan kedua tangan yang saling bertaut di atas paha. Ia bungkam menantikan apa yang akan keluar dari bibir Dokter Rendi.

“Kondisinya belum menunjukkan perkembangan seperti yang kami harapkan.” Kalimat itu membuat jantung Hana seakan berhenti berdetak.

Dokter Rendi melanjutkan dengan suara lembut dan hati-hati. “Tekanan darah beliau masih sangat labil. Selain itu, respons tubuh terhadap pengobatan juga semakin menurun.”

Hana hanya bisa menundukkan kepala. Jemarinya saling bertaut semakin erat. “Apa artinya semua itu, Dok?”

“Operasi harus segera dilakukan.”

Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi. Hana menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tidak pecah.

“Saya masih berusaha mencari biayanya, Dok.”

“Saya tahu ini semua pasti tidak mudah untuk Anda. Tapi saya sangat yakin kalau Anda akan berhasil melewati semuanya dengan baik.” Jawaban dokter terdengar lembut.

“Tapi saya juga berkewajiban menjelaskan kondisi sebenarnya kepada keluarga pasien.” Hana mengangguk pelan meski dadanya terasa semakin menyiksa.

“Semakin lama tindakan operasi ditunda, risiko yang dihadapi ayah Anda akan semakin besar.” Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya kembali menggenang.

“Kalau saya meminta waktu sedikit lagi?”

Dokter Rendi mengembuskan napas perlahan. “Saya tidak bisa menjanjikan apa pun.” Jawaban itu terasa seperti sebilah pisau yang perlahan mengoyak pertahanan Hana.

Ia sudah menduga kemungkinan itu. Tapi tetap saja, mendengarnya secara langsung tetap terasa menyakitkan.

“Rumah sakit memahami kondisi Anda.”

Dokter Rendi menutup map di hadapannya. “Tetapi ada prosedur yang harus kami jalankan. Kami tidak dapat menjadwalkan operasi sebelum administrasi diselesaikan.”

Hana memejamkan kedua matanya. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya memang sedang berusaha. Semalam ia bahkan telah mengorbankan sesuatu yang tidak seharusnya dikorbankan.

Sayangnya semua itu terasa percuma. Pada akhirnya ia tetap tidak memiliki uang untuk menyelamatkan ayahnya.

“Baik, Dok.” Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibirnya.

Dokter Rendi mengangguk pelan. “Saya harap Anda tidak menyerah.”

Setelah berpamitan, ia melangkah keluar dari ruang konsultasi. Lorong rumah sakit terasa lebih panjang dibandingkan sebelumnya.

Ia berhenti di depan jendela besar yang menghadap halaman rumah sakit. Di luar sana, matahari mulai menembus awan mendung.

Hana mengusap air mata yang kembali mengalir. Ia menarik napas panjang, lalu memaksa kakinya kembali menuju ruang intensif. Apa pun yang terjadi, ia ingin tetap berada di sisi ayahnya.

Baru beberapa langkah, suara seseorang memanggilnya dari arah belakang. “Nona Hana?”

Hana berhenti dan menolehkan kepalanya perlahan. Seorang petugas administrasi berdiri sembari membawa sebuah map berwarna biru.

“Maaf mengganggu.”

“Ada apa?”

Petugas itu tampak memastikan sesuatu pada berkas di tangannya sebelum kembali menatap Hana.

“Apakah benar Anda keluarga dari Bapak Surya Pratama?”

“Iya, benar.”

Petugas itu mengangguk. “Kalau begitu, tolong ikut saya sebentar.”

Hana mengernyit. “Ikut ke mana dan untuk apa?”

Petugas itu terdiam sesaat, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat. “Baru saja ada seseorang yang datang ke bagian administrasi. Beliau meminta kami menyampaikan satu pesan kepada Anda.”

“Pesan apa? Dan, siapa orang itu?”

Petugas itu menatap Hana lekat-lekat. “Beliau mengatakan akan membayar seluruh biaya operasi ayah Anda.”

Tubuh Hana seketika membeku. Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, petugas itu kembali melanjutkan penjelasannya,

“Namun ada satu syarat yang harus Anda penuhi.”

 

 

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Bertemu Lagi

    Pagi belum sepenuhnya ramai ketika Hana kembali berdiri di depan ruang intensif tempat ayahnya dirawat.Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Percakapan dengan Armand terus berputar di kepalanya, terutama satu kalimat terakhir yang membuatnya tidak tenang.Reinald akan datang menemuinya.Hana mengembuskan napas panjang. Tangannya menggenggam tali tas yang menggantung di bahu.Seharusnya ia merasa lega karena seseorang masih mengingat namanya. Namun, yang muncul justru kegelisahan.Ia tidak ingin bertemu Reinald lagi. Bukan karena pria itu telah melakukan sesuatu setelah malam tersebut. Justru karena Hana sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengannya dalam keadaan sadar.Malam itu saja sudah cukup membuat hidupnya kacau. Kini Reinald bahkan mengetahui rumah sakit tempat ayahnya dirawat.Hana menoleh ke balik kaca. Ayahnya masih terbaring tanpa kesadaran. Selang dan berbagai alat medis tetap terpasang di tubuhnya. Monitor di samping ranjang menunj

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Orang Suruhan Reinald

    Jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul delapan malam ketika Hana melangkahkan kaki memasuki Kafe Edelweiss.Bel kecil di atas pintu berdenting pelan menyambut kedatangannya. Berbeda dengan keramaian jalan raya di luar, suasana di dalam kafe terasa jauh lebih tenang dan nyaman. “Semoga kali ini aku tidak melakukan kesalahan lagi.”Hana tidak menemukan siapa pun yang memang ia kenal di dalam kafe. Ia mulai bertanya-tanya apakah keputusan datang ke tempat itu merupakan pilihan yang tepat.Akan tetapi ia sudah terlanjur datang. Kini tidak ada alasan untuknya berbalik pergi. Mungkin memang inilah cara agar ayahnya bisa terselamatkan. "Selamat malam." Suara lembut seorang pelayan membuyarkan lamunannya."Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"Hana mengangguk pelan masih dengan ekspresi bingung menghiasi wajahnya. "Saya mendapat undangan untuk datang ke sini."Pelayan itu memperhatikan wajah Hana selama beberapa detik mencoba untuk memastikan sesuatu. "Apakah Anda Nona Marcelia Hana?"

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Pria Di Dalam Mobil

    Hana terpaku di tempatnya. Jemari yang sejak tadi menggenggam tali tas perlahan mengendur. Sesaat ia mengira pendengarannya sedang mempermainkannya."Maksud Anda, ada seseorang yang ingin membayar biaya operasi ayah saya?" tanyanya pelan untuk sekedar memastikan.Petugas administrasi itu mengangguk. "Iya, Nona.""Siapa orangnya?""Maaf, saya tidak mengetahui identitas beliau. Dan sepertinya beliau juga sedang terburu-buru."Jawaban itu membuat dahi Hana berkerut. Rasanya mustahil jika ada orang yang bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk seseorang yang bahkan tidak dikenalnya."Beliau tidak meninggalkan nama atau yang lainnya?"Petugas itu kembali menggeleng. "Tidak. Beliau hanya menitipkan pesan agar saya menyampaikan sesuatu kepada Anda."Hana menelan ludah. "Pesan apa itu?"Petugas itu mempersilakan Hana mengikutinya menuju ruang administrasi. Langkah mereka bergema pelan di sepanjang lorong rumah sakit. Selama berjalan, pikiran Hana dipenuhi berbagai kemungkinan.Apak

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Siapa Orang Itu?

    Langit pagi masih diselimuti mendung ketika Hana turun dari taksi di depan rumah sakit. Udara yang seharusnya terasa sejuk itu sama sekali tidak mampu meredakan rasa sesak yang memenuhi dadanya.Ia berdiri beberapa saat di pelataran rumah sakit guna menatap bangunan tinggi bercat putih yang beberapa hari terakhir menjadi tempat paling sering ia kunjungi. “Aku bosan melihat tempat ini setiap hari,” monolog Hana dengan suara lirih. Perlahan, Hana mulai membawa kedua kakinya untuk melangkah masuk. Pintu kaca otomatis terbuka memperlihatkan kesibukan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Beberapa perawat berjalan tergesa sembari membawa berkas milik pasien. Seorang dokter tampak berbicara dengan keluarga pasien di sudut lorong. “Selamat pagi, Nona Hana. Semoga hari ini ada keajaiban untuk ayah Anda.” Salah seorang perawat menyambut Hana ramah. Di ruang tunggu, seorang anak kecil tertidur di pangkuan ibunya, sementara seorang lelaki tua duduk memejamkan mata sembari menggenggam tasb

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Salah Kamar?

    Ting! Suara notifikasi ponsel membuat Hana terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Pandangannya masih buram ketika tangannya meraba-raba permukaan meja di samping ranjang.Bianca: Hana, kamu ini ke mana? Kok malah menghilang?Hana mengernyit. Pesan berikutnya berhasil masuk.Bianca: Laki-laki tua itu semalam mendatangiku dan semuanya jadi kacau. Aku kira kamu sudah menyelesaikan tugasmu. Kalau seperti ini, aku batal kasih uang itu ke kamu.Mata Hana langsung terbuka lebar. Ia buru-buru bangun. Gerakannya membuat selimut yang menutupi tubuhnya bergeser. Hana membeku ketika menyadari satu hal yang baru saja luput dari pikirannya. Ia belum mengenakan pakaian.“Ya Tuhan...”Hana menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Kepalanya menoleh cepat ke samping. Seorang pria masih terbaring di sana.Hana menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat. Tangannya bergerak membuka percakapan dengan Bianca.Hana: Bi, tapi aku benar-benar masuk ke kamar yang kamu bilang. Aku bah

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Tidurlah Dengan Tunanganku

    Beranda rumah sakit terasa begitu sunyi meski lalu-lalang orang tidak pernah benar-benar berhenti. Aroma obat-obatan menusuk hidung, berpadu dengan suara roda ranjang pasien yang sesekali melintas di lorong. Marcelia Hana atau yang akrab disapa Hana, ia masih berdiri mematung di depan ruang perawatan ayahnya. Jemarinya menggenggam erat ponsel yang sejak beberapa menit lalu menempel di telinga. “Tidurlah dengan tunanganku, Hana.” Suara Bianca terdengar begitu damai, seolah yang sedang mereka bicarakan bukanlah tentang harga diri seseorang. “Tapi aku tidak yakin bisa melakukannya.” Suara Hana melemah. Ia memejamkan mata, membayangkan hal yang diminta oleh sahabatnya itu. “Aku akan membayar seluruh biaya operasi ayahmu kalau kau berhasil menggagalkan pertunanganku.” “Tapi, Bi...” Hana tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dadanya terasa sesak. Rasanya seperti ada dua suara yang saling bertarung di dalam kepalanya. Sejak kecil, sang ayah selalu mengajarkannya bahwa kehormatan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status