LOGINTing!
Suara notifikasi ponsel membuat Hana terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Pandangannya masih buram ketika tangannya meraba-raba permukaan meja di samping ranjang. Bianca: Hana, kamu ini ke mana? Kok malah menghilang? Hana mengernyit. Pesan berikutnya berhasil masuk. Bianca: Laki-laki tua itu semalam mendatangiku dan semuanya jadi kacau. Aku kira kamu sudah menyelesaikan tugasmu. Kalau seperti ini, aku batal kasih uang itu ke kamu. Mata Hana langsung terbuka lebar. Ia buru-buru bangun. Gerakannya membuat selimut yang menutupi tubuhnya bergeser. Hana membeku ketika menyadari satu hal yang baru saja luput dari pikirannya. Ia belum mengenakan pakaian. “Ya Tuhan...” Hana menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Kepalanya menoleh cepat ke samping. Seorang pria masih terbaring di sana. Hana menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat. Tangannya bergerak membuka percakapan dengan Bianca. Hana: Bi, tapi aku benar-benar masuk ke kamar yang kamu bilang. Aku bahkan masih di kamar ini. Hana berhenti sejenak. Ia menatap pria di sebelahnya. Entah mengapa, ia merasa Bianca tidak akan percaya begitu saja. Akhirnya Hana membuka kamera, mengarahkannya pada Reinald yang masih tertidur pulas dan mengambil satu foto. Hana: Ini orangnya. Aku masuk ke kamarnya. Pesan itu terkirim. Baru saja Hana hendak membaca pesan balasan dari Bianca, suara berat terdengar dari belakangnya. “Jadi dari tadi kau sibuk memotretku?” Hana tersentak sampai ponselnya hampir terlepas. Ia menoleh dan mendapati Reinald sudah membuka mata. Pria itu menopang tubuhnya dengan satu tangan. Rambutnya berantakan, wajahnya masih menyisakan kantuk, tetapi tatapannya jauh lebih tajam daripada yang Hana bayangkan. “Tu– Tuan, sudah bangun?” Reinald tidak menjawab. Matanya justru turun pada ponsel Hana. Kemudian ia kembali menatap perempuan itu. “Sudah berniat buruk menghancurkan seseorang, sekarang kau juga memotret orang tanpa izin?” Hana terdiam. “Apa? Kenapa diam?” Reinald duduk sepenuhnya. Tangannya memijat pelipis karena masih merasa pusing. Kepalanya masih berdenyut hebat. Ada sesuatu yang salah dengan kejadian semalam. Ia mengingat dirinya berada di sebuah acara bersama beberapa rekan bisnis. Ia mengingat gelas terakhir yang diberikan seseorang kepadanya. “Siapa yang menyuruhmu datang?” “Bi– Bianca.” “Siapa Bianca?” “Temanku.” Reinald mengusap wajahnya. “Jangan bohong.” “Aku tidak bohong!” Hana mulai kehilangan kesabaran. Sejak membuka mata, semuanya sudah terasa kacau. Bianca menyebut dirinya menghilang, kamar yang ia masuki ternyata berbeda, sementara pria di sebelahnya sekarang malah menuduhnya memiliki niat buruk. Reinald menatapnya tajam. “Kalau begitu, kenapa kau datang ke kamarku?” “Apa kau masih tidak mengerti? Aku datang karena aku disuruh.” “Untuk apa?” Hana bungkam. Ia tidak mungkin menjelaskan semuanya. Reinald menangkap perubahan ekspresi itu. “Jadi benar dugaanku.” “Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tetapi aku tidak bermaksud mencelakaimu.” “Lalu siapa yang menyuruhmu? Katakan dengan jelas!” Hana menggeleng merasa takut akan intimidasi Reinald. “Aku sudah bilang kalau namanya Bianca.” Reinald terdiam beberapa detik. Tatapannya berubah menjadi curiga. “Dasar pembohong. Jangan-jangan... Darren?” Hana mengerjapkan mata. “Darren siapa?” Pertanyaan itu membuat Reinald berhenti. “Jadi benar bukan dia?” “Siapa Darren?” Hana mengulang pertanyaannya dengan bingung. Reinald beralih menatap Hana lebih lama. Ada sesuatu yang tidak masuk akal dari semua ini. Semalam ia memang minum bersama beberapa rekan bisnis. Ia terbiasa minum, tetapi tidak pernah sampai kehilangan kesadaran seperti itu. Yang lebih mengganggu, ia masih mengingat rasa pahit aneh dari minuman terakhir yang diminumnya. Setelah itu, ingatannya putus. Ia hanya terbangun dengan seorang perempuan asing di sampingnya. “Semalam,” ucap Reinald perlahan, “Aku diberi minuman oleh seseorang.” Hana menatapnya. “Apa hubungannya denganku?” “Entahlah.” Reinald menekan pelipis. “Tapi aku tidak yakin semua ini kebetulan.” Ting! Notifikasi baru muncul di layar ponsel Hana. Nama Bianca kembali terlihat. Ia langsung membacanya dari notifikasi yang tertera di layar. Bianca: Aku tidak tahu siapa laki-laki di foto itu. Pokoknya kesepakatan kita batal. Kau gagal melakukan tugasmu. Cari cara lain untuk mendapatkan uang. Dunia Hana seperti berhenti sesaat. Tangannya mencengkeram ponsel. “Tidak mungkin...” Reinald memperhatikan perubahan wajahnya. “Ada apa?” “Dia membatalkan uangnya,” lirih Hana seperti kehilangan separuh dari nyawanya. “Uang apa?” “Uang untuk biaya operasi ayahku.” Reinald diam masih berusaha mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir Hana. Hana mengangkat wajah. “Bianca bilang akan membayar biaya operasi ayahku kalau aku berhasil membuat pertunangannya batal.” Reinald menatapnya. “Jadi itu alasanmu datang kemari?” Hana mengangguk kecil. “Aku tidak tahu siapa kamu. Aku hanya menjalankan apa yang dia suruh.” Reinald menatap lekat ke arah Hana. “Dan kau tidak tahu bahwa aku bukan tunangannya?” “Tidak.” “Siapa nama tunangannya?” Hana menjawab pelan. “Bisakah berhenti bertanya? Aku pusing. Padahal aku sudah masuk ke kamar 6009, tapi kenapa dia bilang aku salah.” Reinald mengerutkan kening. “Kamar 6009” Hana mengangguk. Pandangannya beralih pada pintu kamar. “Aku masih tidak mengerti di mana letak kesalahanku.” Reinald menatapnya serius. “Dengarkan aku. Kalau Bianca memang menyuruhmu ke 6009, lalu bagaimana kau bisa sampai ke 6006?” “Apa? 6006?” Reinald mengangguk tanpa keraguan. “Kau bilang Bianca menyuruhmu datang ke kamar 6009, bukan?” Hana mengangguk. “Tapi ini bukan 6009.” Hana mengernyit. “Apa?” Reinald menunjuk pintu di belakangnya. “Kita berada di kamar 6006.” “Kalau begitu, bagaimana aku bisa masuk ke sini?” lirih Hana, tapi masih bisa didengar oleh Reinald. Hana menggeleng pelan. Ia tidak ingin memikirkan semua itu. Yang ada di kepalanya hanya wajah ayahnya yang terbaring lemah di rumah sakit. Dengan cepat Hana meraih dan mengenakan seluruh pakaiannya. Ia tidak ingin terlalu lama berada di tempat ini. Ia meraih ponsel dan kembali membuka percakapannya dengan Bianca. Tidak ada pesan baru. “Kenapa kamu melakukan ini, Bi?” bisiknya. Hana menggigit bibir bawahnya menahan air mata yang kembali menggenang. Ia sudah mengorbankan harga diri demi biaya operasi ayahnya, tetapi sekarang ia bahkan tidak tahu harus mencari uang itu dari mana. “Kalau uangnya tidak ada, bagaimana dengan Ayah?” Suaranya terdengar bergetar. Hana segera menghapus air mata yang jatuh. Ia tidak boleh terus menangis. Waktu terus berjalan, sedangkan kondisi ayahnya tidak akan menunggu sampai dirinya selesai meratapi keadaan. Ia harus mencari Bianca. Setidaknya, perempuan itu harus memberikan penjelasan. Hana memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu berdiri. Namun, sebelum meninggalkan kamar, pandangannya sempat tertuju pada Reinald. Pria itu masih memandanginya dengan tatapan sulit ditebak. Hana tidak tahu mengapa dirinya bisa sampai berada di kamar ini. Yang ia tahu, sejak malam tadi, hidupnya mulai berantakan. “Kau mau ke mana sekarang?” “Aku harus menemui Bianca. Kalau seperti ini, jelas aku yang dirugikan.” “Tunggu!” Reinald menghentikan Hana yang sudah sampai di ambang pintu. “Siapa namamu?” “Hana, namaku Hana.”Hari ini Hana datang lebih awal daripada biasanya. Udara di dalam mobil terasa dingin ketika ia menatap gedung Wijaya Group dari balik kaca, tetapi bukan suhu pagi yang membuat pikirannya berat.Sejak kejadian kemarin, ia terus mencoba meyakinkan dirinya bahwa kedatangan Karissa tidak perlu mengubah apa pun. Reinald sudah mengatakan dengan jelas bahwa masa lalu mereka telah berakhir, tetapi hati Hana tetap menyimpan kegelisahan yang sulit disingkirkan begitu saja.Ia turun dari mobil dan berjalan memasuki lobi. Beberapa langkah sebelum mencapai lift, seorang perempuan berdiri di dekat pintu masuk. Hana mengenal wajah itu bahkan sebelum Karissa menoleh.Karissa, perempuan itu tersenyum ketika melihat Hana. Yang membuat heran, pagi-pagi dia sudah berada di kantor Reinald. “Kau datang lebih pagi, Hana.”Hana berhenti. “Kau sedang menungguku?”“Tidak secara khusus.” Karissa memainkan tali tas di tangannya. “Aku hanya ingin menemui Reinald.”Hana mengangguk kecil. “Kalau begitu, sebaiknya
Hana masih berdiri di dekat mejanya ketika pintu lift tertutup setelah Karissa pergi. Kalimat perempuan itu terus terngiang di kepalanya, terutama tentang bagaimana ia mengenal Reinald jauh sebelum Hana hadir dalam kehidupan pria itu.Ia berusaha mengabaikannya. Namun semakin ia mencoba, semakin banyak hal yang muncul di kepalanya.Cara Karissa memanggil nama Reinald. Cara perempuan itu menyentuh lengannya tanpa ragu. Dan juga cara Reinald terlihat begitu mengenal setiap gerak-geriknya.Semua terasa seperti potongan masa lalu yang tidak seharusnya berada di hadapan Hana, tetapi sekarang justru berdiri begitu nyata di antara mereka.Hana menarik napas panjang lalu kembali duduk. Ia membuka laptop, tetapi pikirannya tidak benar-benar tertuju pada pekerjaan. Beberapa kali ia membaca halaman yang sama tanpa memahami isinya, sampai akhirnya ia menutup dokumen tersebut dan menyandarkan tubuhnya pada kursi.Mungkin Karissa benar. Mungkin Hana memang belum mengenal Reinald sedalam itu. Dan m
Pagi ini Hana baru saja meletakkan tas di atas meja ketika suara langkah kaki terdengar dari arah lift. Ia menoleh sekilas dan mendapati Reinald berjalan keluar bersama Dimas. Pria tampan itu mengenakan setelan hitam yang membuat sosoknya terlihat semakin sulit didekati.Namun langkah Hana terhenti ketika seseorang muncul beberapa detik setelahnya.Karissa, perempuan itu berjalan dengan senyum yang begitu merekah. Seolah-olah keberadaannya di kantor Wijaya Group adalah sesuatu yang sudah biasa. Ketika pandangannya bertemu dengan Hana, senyumnya tidak menghilang dan justru semakin melebar sebelum akhirnya kembali mengarah pada Reinald.“Reinald, kau masih menyimpan kebiasaan berjalan terlalu cepat.” Suara Karissa terdengar lembut.Reinald berhenti dan menoleh. “Aku tidak tahu kau masih mengingatnya. Aku hanya tidak suka membuang-buang waktu.”Karissa tertawa kecil. “Aku mengingat banyak hal tentangmu. Kau juga begitu, kan?”Hana yang berdiri tidak jauh dari sana memilih untuk menunduk
Hana masih duduk di tempatnya ketika Reinald berjalan menjauh. Kalimat pria itu terus berputar di kepalanya, membuat jemarinya yang berada di atas meja bahkan tidak mampu kembali menyentuh keyboard.Hana menelan ludah. Ia tidak tahu mengapa satu kalimat itu bisa membuat jantungnya berdebar sedemikian keras, seolah-olah dirinya baru saja mendengar sesuatu yang selama ini diam-diam ingin ia dengar.Ia memaksa pandangannya kembali pada layar komputer. Namun huruf-huruf yang tersusun di hadapannya justru tampak semakin kabur karena pikirannya tidak lagi berada di sana.Hana mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia tidak seharusnya berharap.Hubungan mereka sejak awal bahkan tidak pernah dimulai dengan sesuatu yang jelas. Reinald adalah atasannya, sementara dirinya hanya seseorang yang kebetulan masuk ke dalam hidup pria itu setelah serangkaian kejadian yang tidak pernah mereka rencanakan.Tetapi belakangan ini semuanya berubah. Reinald menjemputnya setiap p
Hana menatap foto yang tergeletak di atas mejanya. Wajah Reinald di dalam gambar itu terlihat begitu berbeda dari pria yang selama ini ia kenal.Terlihat lebih muda, lebih ringan, dan memiliki senyum yang seolah tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sejak Hana mengenalnya.Ada sesuatu yang terasa sakit ketika menyadari bahwa senyum itu pernah menjadi milik seseorang dan bukan miliknya.Hana mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Karissa. Perempuan itu masih duduk dengan tenang di hadapannya, seakan sengaja membiarkan Hana mencerna setiap hal yang baru saja ia tunjukkan.“Aku tidak tahu kenapa kau menunjukkan semua ini padaku.”Karissa tersenyum tipis. “Karena kau perlu tahu bahwa Reinald bukan hanya pria dingin seperti yang mungkin kau lihat sekarang.”“Aku tidak pernah menganggapnya sebagai pria dingin.”“Baguslah.” Karissa mengambil kembali foto itu. “Berarti kau sudah mengenalnya cukup jauh.” Nada suaranya terdengar ringan, tetapi justru membuat Hana semakin tidak nyaman.Ka
Hana memperhatikan Karissa yang menghilang di balik pintu ruang Reinald. Jemarinya tetap bergerak di atas keyboard, tetapi sejak perempuan itu datang, tidak satu pun kalimat dalam laporan yang sedang dikerjakannya benar-benar masuk ke dalam pikirannya.Ia mencoba mengabaikan perasaan aneh yang sejak tadi mengganjal di dada. Bukankah Reinald memang memiliki kehidupan sebelum dirinya? Bukankah wajar jika seseorang dari masa lalu datang dan kembali mengambil sedikit ruang yang pernah menjadi miliknya?Hana menarik napas pelan, kemudian memaksa matanya kembali pada layar. Ia tidak ingin menjadi perempuan yang cemburu hanya karena melihat mantan kekasih seseorang datang ke kantor.Terlebih lagi, ia dan Reinald bahkan tidak memiliki hubungan yang jelas. Pikiran itu seharusnya membuatnya lega. Namun entah mengapa, justru terasa semakin menyakitkan.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Pintu ruangan pribadi Reinald masih tertutup. Setiap kali terdengar suara dari dalam, perhatian Hana ta







