Share

Bab 2

Author: HALLOSEAN
last update publish date: 2026-10-06 20:35:59

“Siapa kamu?!”

Suara berat itu terdengar tajam dan penuh tekanan.

Serena langsung membeku. Tubuhnya menegang, kedua matanya berkedip ketika tatapan mereka bertemu dalam kegelapan kamar.

Pria itu menatapnya tajam dengan ekspresi dingin dan alis sedikit berkerut.

“Maa—”

“Bukan itu mau aku dengar,” bentak pria itu kesal, suaranya meninggi. “SIAPA KAMU, HAH?!”

Serena refleks menutup kedua matanya dengan jantung berdegup cepat.

“JAWAB, TOLOL!!”

Serena menggigit kuat bibir bawahnya. Rasa kantuk yang tadi begitu berat kini seketika hilang, tergantikan oleh rasa takut.

“Ak-aku Serena,” jawab Serena gugup sambil menundukkan kepala.

Mendengar itu, pria itu langsung terdiam. Suasana menjadi hening. Serena yang menyadari hal itu refleks mendongak sedikit. Tatapannya bertemu dengan tatapan pria tersebut yang terlihat tajam.

Serena menelan ludah dengan susah payah. Ia merasa semakin tidak nyaman berada di atas kasur yang sama dengan pria itu.

Perlahan, Serena menggeser tubuhnya dan turun dari kasur. Ia berdiri di samping tempat tidur sambil menundukkan kepala, tidak berani menatap pria itu lagi.

Karena pria itu tidak membuka suara lagi, awalnya Serena merasa sedikit heran dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba terdiam setelah mendengar nama dirinya. Namun, Serena tidak tahu dan tidak mau tahu alasannya. Dirinya benar-benar malu karena sudah salah kamar. Ia juga tidak ingin lagi mendengar amarah pria itu.

Tanpa berpikir panjang, Serena mengangkat kakinya untuk melangkah pergi dari kamar ini. Namun, sebelum sempat melangkah, tubuhnya kembali menegang ketika mendengar suara berat pria itu.

“Mau ke mana, hah?” ujar pria itu. “Enak banget, ya, jadi orang baru di rumah ini. Seenaknya pergi tanpa merasa bersalah.”

Serena terdiam, lalu menoleh ke arah pria itu.

“Maaf kalau aku sudah bertindak lancang,” lirih Serena sambil menunduk.

Pria itu tersenyum miring, lalu beranjak turun dari kasur. Gerakannya membuat Serena terkejut. Tubuhnya terasa panas dingin, entah karena takut atau malu. Semua perasaan itu bercampur aduk ketika Serena menyadari pria itu tidak mengenakan atasan.

Apalagi, pria itu kini melangkah ke arahnya. Menyadari hal itu, Serena buru-buru mengalihkan pandangan.

Namun, tiba-tiba langkah pria itu terhenti.

Tatapannya berubah tajam memarah ketika melihat ke arah lantai. Sebuah benda berharga miliknya yang tadi tersenggol Serena kini tergeletak dalam keadaan pecah.

“Sial!” umpat pria itu. Kedua tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras menahan amarah.

“Dasar wanita sialan!” bentaknya, langsung menatap Serena penuh dengan kebencian.

Pria itu tiba-tiba mencengkeram leher Serena dengan kasar.

Serena sontak membeku. Matanya membulat, napasnya tercekat. Tubuhnya menegang ketika cengkeraman di lehernya semakin kuat. Kedua tangannya refleks mencengkeram pergelangan tangan pria itu, berusaha melepaskan diri.

“Ah... lepas... lepas...” lirih Serena dengan suara bergetar.

Mata pria itu melotot tajam. Cengkeramannya semakin kuat hingga membuat Serena terbatuk-batuk. Gadis itu memukul-mukul pelan tangan pria tersebut, berusaha melepaskan cengkeramannya.

“Kamu masuk ke kamar aku tanpa izin, dan kamu sudah berani memecahkan barang berhargaku. Sialan!”

Serena semakin panik. Napasnya tersengal.

“Aku mohon... lepaskan aku. Aku tidak bisa bernapas,” ucap Serena terbata-bata. “Aku minta maaf.”

Pria itu terdiam. Tatapannya masih tajam, tetapi cengkeramannya perlahan mengendur ketika ia merasa gadis itu benar-benar sudah kesulitan bernapas. Ia berdengus kesal, lalu melepaskan cengkeramannya dari leher Serena dengan kasar hingga membuat gadis itu terhempas ke atas kasur.

Serena langsung terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengatur kembali napasnya yang berantakan.

Pria itu melirik dengan tatapan dingin, membuat Serena tidak berani mendongak.

Ia kemudian menunduk dan menatap kotak musik klasik yang tergeletak pecah di lantai. Wajahnya tetap datar, tanpa menunjukkan sedikit pun kesedihan.

Pria itu langsung berjongkok dan mengambil kotak musik klasik tersebut dengan hati-hati. Beberapa bagian kotak musik itu sudah akibat terjatuh.

Tatapannya berhenti pada tulisan kecil bagian bawahnya.

“Putra Kesayangan Mama.”

Jemarinya menggenggam kotak musik itu erat. Namun, ekspresinya tetap dingin dan sulit ditebak.

Serena hanya terdiam melihatnya. Rasa bersalah menyelimuti dirinya.

“Aku... minta maaf,” ucap Serena pelan. “Aku tidak sengaja melakukan itu. Aku tadi kaget,” lanjutnya.

Tapi tidak ada balasan dari pria itu, membuat Serena menghela napas pelan.

“Aku janji akan ganti rugi.”

Mendengar ucapan itu, pria tersebut mencekram erat kotak musik klasik yang sudah tidak utuh lagi. Rahangnya mengeras, tetapi ekspresinya tetap dingin.

Pria itu bangkit lalu mendelik tajam ke arah Serena.

“Kamu pikir benda berharga bisa diganti dengan begitu mudah, hah?” sergah pria itu.

“Maaf, tapi cuma itu yang bisa aku lakukan,” jawab Serena pelan.

Pria itu berdecih kasar. “Aku tidak sudi dengan kata maaf murahanmu itu. Kamu pikir setelah berkata itu semua bisa kembali normal?”

“Bisa membuat benda berhargaku kembali utuh, hah? Apa itu bisa?” ketusnya.

“Terus kamu mau ganti rugi? Memangnya kamu punya uang, hah?” sindirnya, membuat Serena terdiam.

“Tapi aku aka—”

“Aku tidak akan menerima uang dari pelakor. Yang ternyata uang itu dari bokapku sendiri.”

Serena sontak terdiam. Matanya membulat.

Pelakor? Siapa yang dia maksud? Tunggu dulu... apakah itu mamanya yang dimaksud pria itu?

Serena menatap pria itu yang kini tersenyum miris.

“Maksud kamu apa? Siapa yang kamu sebut pelakor?” tanya Serena bingung.

Pria itu berdeham pelan.

“Aku kira kamu akan lebih peka, adik tiriku.”

Suaranya terdengar lembut, tetapi justru terasa mematikan.

Pria itu menundukkan kepalanya, mendekat ke arah Serena yang mulai terlihat ketakutan.

“Siapa lagi kalau bukan mamamu, wanita sialan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak di Antara Tiga Kakak Tiri Kembar   Bab 48

    Ares menatap Serena dengan ekspresi datar. “Terserah,” jawabnya singkat. Serena langsung mendengus kesal. Ia bangkit dari sofa, meraih bantal kecil, lalu memukulkannya ke arah Ares. “Dasar nyebelin!” Ares memiringkan tubuhnya untuk menghindari pukulan itu. “Apaan-apaan kamu?!” “Ya, kamu aja yang bikin orang kesel!” Serena kembali mengayunkan bantal itu hingga mengenai wajah Ares. “SERENA!” bentak Ares. Namun, Serena sama sekali tidak peduli. Ia justru melemparkan bantal itu ke sofa, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan pria tersebut begitu saja. Bodo amat! Masa bodohlah! Nyebelin banget, sih! Mau ngapa-ngapain nggak boleh. Mau ini salah, mau itu juga salah. Semuanya serba salah! Dengan kesal, Serena melangkah menuju kamar Ares. Begitu masuk, ia langsung menutup pintunya rapat-rapat, kemudian menguncinya dari dalam. Serena mengempaskan tubuhnya ke atas kasur Ares. Ia menatap langit-langit kamar sambil menghela napas panjang. Beberapa saat kemudian, Serena mulai berguli

  • Terjebak di Antara Tiga Kakak Tiri Kembar   Bab 47

    “AAAAAAAHHHH!”Teriakan Serena menggema di dalam kamar. Ares yang berdiri tak jauh darinya langsung mengangkat kedua tangan untuk menutup telinga. Dahinya berkerut, jelas merasa kesal dengan teriakan gadis itu.“Berisik banget, sih!” gerutunya.Serena buru-buru merapatkan kedua tangannya ke dada untuk memastikan handuknya tetap terpasang erat. Pipinya mulai memerah saat ia menatap Ares dengan mata membelalak.“Ares, ngapain kamu di sini?!”Ares menurunkan tangannya, lalu menatap Serena dengan ekspresi datar, seolah gadis itu baru saja menanyakan sesuatu yang tidak masuk akal.“Kenapa? Ini kan kamar aku. Lagian, salah siapa pintunya nggak ditutup?”Serena langsung terdiam.“Hah? Masa nggak ditutup?”“Dasar bodoh.”Ares mendecakkan lidah, lalu berjalan melewatinya tanpa berniat memperpanjang percakapan. Setelah keluar dari kamar, ia meninggalkan Serena yang masih berdiri dengan wajah semakin memerah.Serena menggigit bibir bawahnya, menunduk, lalu melirik pintu kamar yang tadi dibiarkan

  • Terjebak di Antara Tiga Kakak Tiri Kembar   Bab 46

    “Ini buat aku, ya?” Serena langsung menatap mangkuk yang dibawa Ares dengan mata berbinar. Ia begitu percaya diri mengira mi di dalam mangkuk itu memang disiapkan untuk dirinya. Ares yang mendengar pertanyaan itu melirik Serena. Melihat ekspresi gadis yang begitu percaya diri, padahal belum tentu makanan itu untuknya, Ares hanya mengangkat sebelah alis. “Pede banget.” Seketika, wajah Serena berubah cemberut. Bibirnya mengerucut, menunjukkan kekesalannya. “Ih, aku kira buat aku,” gerutunya pelan. Ares tidak menanggapi. Ia justru duduk sambil meletakkan mangkuknya di atas meja. Serena melirik mangkuk itu, lalu kembali menatap Ares. “Terus, buat aku mana?” Ares mendongak dan menatapnya datar. “Ya tinggal bikin. Apa susahnya?” Serena langsung menggerutu. Wajahnya semakin cemberut, persis anak kecil yang tidak dituruti keinginannya. “Ih, aku mau, ya. Kamu yang bikinin,” rengeknya dengan nada manja. Ares menatap Serena datar. “Emang siapa kamu, hah? Enak banget nyuruh-nyuruh

  • Terjebak di Antara Tiga Kakak Tiri Kembar   Bab 45

    Serena masih terbaring di sofa. Tatapannya tertuju pada langit-langit apartemen dengan pandangan kosong. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan, terutama tentang sampai kapan ia harus berada di tempat ini. Ares bahkan mengambil ponselnya, membuatnya tidak bisa menghubungi siapa pun atau sekadar mencari kesibukan untuk mengusir rasa bosan.Serena mengembuskan napas pelan. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa selain berdiam diri di sofa sambil menunggu waktu berlalu.“Bosan banget,” gerutu Serena pelan.Tiba-tiba, Serena tersentak ketika mendengar suara pintu kamar Ares terbuka.Ia langsung memejamkan mata dan kembali berpura-pura tidur sebelum Ares sempat menyadari bahwa dirinya sudah terbangun sejak tadi.Tak lama kemudian, Ares keluar dari kamar dengan langkah santai. Pria itu hanya mengenakan celana pendek, sementara satu tangannya sibuk menggosok rambutnya yang sedikit berantakan.Tatapannya langsung tertuju pada Serena yang masih berbaring di sofa. Ia memperhatikan gadis i

  • Terjebak di Antara Tiga Kakak Tiri Kembar   Bab 44

    Malam harinya, sekitar pukul delapan lewat, Ares kembali ke apartemennya setelah menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Begitu masuk, ia mendapati apartemennya gelap. Ares sempat berpikir bahwa Serena mungkin sudah kabur. Namun, ia merasa gadis itu tidak mungkin pergi begitu saja. Serena tidak memiliki kartu akses apartemennya, dan tidak mungkin juga gadis itu nekat melompat dari balkon hanya untuk melarikan diri. Ares mencari sakelar, lalu menyalakan lampu. Pandangannya langsung tertuju pada Serena yang tertidur pulas di sofa panjang. Mochi duduk di atas perut gadis itu sambil menjilati bulunya sendiri. Ares terdiam sejenak, menatap Serena. Ada sedikit rasa iba yang muncul, tetapi ia segera mengalihkan pandangan dan berjalan menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat kedua kaki Serena yang berada di ujung sofa. Kulitnya tampak kemerahan, bahkan beberapa bagian terlihat melepuh akibat kuah bakso yang tumpah tadi. Ares baru menyadari hal itu. Ares mendekat, lalu

  • Terjebak di Antara Tiga Kakak Tiri Kembar   Bab 43

    Ares terus menarik Serena memasuki apartemennya tanpa memedulikan protes gadis itu sama sekali. Cengkeramannya pada lengan Serena tetap erat saat ia membawanya melewati lobi, memasuki lift, hingga menyusuri koridor menuju unit apartemennya. Serena terus berusaha melepaskan diri, tetapi Ares sama sekali tidak menggubrisnya. Begitu tiba di depan pintu apartemennya, Ares segera membukanya dan menarik Serena masuk dengan kasar. Pria itu langsung melepaskan cengkeramannya, membuat tubuh mungil Serena oleng hingga terjatuh ke sofa. Serena spontan berpegangan pada dudukan sofa, lalu mendongak menatap Ares dengan wajah tegang dan tatapan penuh kebencian. “Aku udah bilang aku nggak mau di sini. ARES!” bentak Serena dengan suara yang meninggi. “Kenapa? Kenapa, hah?! Apa karena kejadian semalam itu? Iya?” tanya Ares dengan suara yang tak kalah tinggi. Tatapannya tertuju tajam pada Serena. Ada kemarahan yang jelas terpancar dari wajahnya, berbeda dari sikap dingin yang biasa diperlihatkannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status