Masuk
“Jangan tidur, Alea! Bertahanlah!”
Suara itu samar, panik, lalu menghilang begitu saja. Tubuhku terasa ringan, seolah melayang tanpa arah. Di sekitarku hanya ada gelap pekat, menelan semua suara dan cahaya. Aku ingin membuka mata, tapi kelopak mataku berat. Ingin bicara, tapi lidahku kelu.
Aku… di mana?
Yang kuingat terakhir kali hanyalah bunyi rem mobil yang berdecit keras, cahaya lampu yang menyilaukan, lalu benturan keras. Setelah itu kosong.
Aku mencoba meraih sesuatu, tapi tanganku menembus udara. Semuanya hampa. Dadaku sesak, namun anehnya, tidak sakit. Hanya… dingin.
“Apakah aku mati?” bisikku pada diri sendiri, suara itu hanya menggema dalam kepalaku.
Tiba-tiba, cahaya kecil muncul jauh di depan sana. Aku berlari atau mungkin lebih tepatnya melayang ke arah cahaya itu. Semakin dekat, semakin terang, hingga membuatku harus menutup mata.
Saat kubuka kembali, aku tidak lagi berada di kegelapan.
Aku terbangun di sebuah ranjang megah dengan sprei putih bersulam benang emas. Di atas kepalaku tergantung lampu kristal yang berkilau. Aroma lembut lavender tercium di ruangan itu.
Aku terkejut. Ini bukan kamarku. Bukan pula rumah sakit.
“Nyonya Elira… Anda sudah sadar.”
Aku mendongak. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan berdiri di tepi ranjang. Tubuhku kaku. Elira? Siapa itu?
Aku ingin berkata, ‘Aku Alea, bukan Elira’, tapi kata-kata itu tercekat di tenggorokan.
Pelayan itu tersenyum lega. “Saya akan segera memanggil Tuan Leonard. Mohon jangan bergerak terlalu banyak, Nyonya.”
Leonard?
Sebelum aku sempat bertanya, kepalaku berdenyut. Gambar-gambar asing melintas di benakku—seperti potongan film yang diputar cepat.
Seorang wanita berambut panjang berdiri di tepi danau yang gelap, bahunya bergetar menahan tangis. Wajahnya pucat, matanya sembab. Air beriak di bawah kakinya.
“Mengapa kau tidak pernah melihatku, Leonard? Apa aku begitu tak berarti?”
Suara itu pecah dalam kepalaku, begitu menyayat.
Wanita itu Elira? melangkah setapak lebih dekat ke tepi. Angin dingin menerpa, gaunnya berkibar. Dalam sorot matanya ada kepedihan yang menusuk, seolah dunia telah merenggut semua harapannya.
Lalu… sebuah bayangan muncul di belakangnya. Samar. Aku tidak bisa melihat jelas siapa itu. Setelahnya, tubuh wanita itu jatuh. Air danau menyambutnya dalam gelap yang menakutkan.
Aku terengah, tubuhku gemetar. Itu… apa barusan? Apakah itu kenangan Elira? Atau mimpi?
Pintu terbuka. Seorang pria masuk.
Aku langsung terpaku.
Dia tinggi, tegap, wajahnya tampan dengan rahang tegas, rambut hitamnya tersisir rapi. Tapi bukan itu yang membuatku terdiam melainkan tatapannya. Mata hitam itu begitu dingin, menusuk, seakan menguliti sampai ke tulang.
“Ingat peringatanku, Elira.” Suaranya dalam, datar, tanpa emosi. “Jangan coba-coba membuat masalah lagi. Kau sudah cukup memalukan keluarga ini.”
Aku menelan ludah, jantungku berdentum tak karuan. Jadi ini Leonard? Suami Elira?
Tunggu… suami? Jadi aku sekarang… istri orang?
Aku ingin tertawa, tapi tidak ada yang lucu. Hidupku yang normal kuliah, nongkrong dengan sahabat, punya mimpi jadi penulis hilang begitu saja. Kini aku berada di tubuh wanita lain, dengan suami yang jelas-jelas membencinya.
Aku mengerjap, menatap pria itu tanpa sadar. “Kau… siapa?” tanyaku lirih.
Alisnya langsung berkerut, tatapannya semakin tajam. “Hentikan sandiwara bodohmu, Elira. Aku tidak punya waktu untuk lelucon konyol.”
Aku menggigit bibir. Jadi… semua orang di sini benar-benar mengira aku adalah wanita bernama Elira.
Dalam hati aku berteriak, aku Alea, bukan Elira! Tapi tak ada gunanya. Mulut ini seperti terikat oleh takdir asing yang memaksaku menjalani peran ini.
Leonard mendekat, aura dinginnya semakin terasa. Ia menunduk sedikit, menatapku dari jarak dekat.
Aku membeku. Jadi benar… Elira ditemukan di danau. Tapi… apa dia benar-benar ingin mengakhiri hidupnya? Atau ada sesuatu yang lain?
Aku masih terpaku, jantungku berdegup terlalu cepat. Kata-katanya barusan—“jangan harap aku akan menolongmu lagi”—membuat tubuhku merinding. Jadi… Elira benar-benar hampir mati di danau itu?
Tapi tunggu… “lagi”? Artinya Leonard sendiri yang menyelamatkannya? Kalau memang dia tidak peduli, kenapa repot-repot menarik Elira dari air?
Aku menelan ludah, menatap pria itu dalam-dalam. Wajahnya tanpa ekspresi, seolah diriku ini hanyalah orang asing yang kebetulan numpang tidur di rumahnya.
“Aku tidak tahu apa yang kau maksud,” aku memberanikan diri bicara. Suaraku terdengar bergetar, tapi aku berusaha menegakkan dagu, tak ingin terlihat lemah. “Aku bahkan tidak tahu… siapa kau.”
Hening.
Sejenak, udara di kamar itu seperti membeku. Tatapan Leonard menusukku, penuh keterkejutan dan amarah yang ditahan.
“Beraninya kau bermain drama di depanku.” Rahangnya mengeras, nada suaranya nyaris seperti geraman. “Kau pikir aku tidak tahu permainanmu? Menjatuhkan diri ke danau, membuat semua orang panik, lalu berharap aku akan bersimpati? Kau benar-benar… menyedihkan.”
Aku ternganga. Jadi dia pikir Elira sengaja menjatuhkan diri hanya untuk mencari simpati?
Darahku mendidih. Kalau aku benar-benar Elira, mungkin aku akan menunduk pasrah, menangis dalam diam. Tapi aku bukan dia. Aku Alea. Dan aku tidak bisa membiarkan kata-kata seperti itu masuk tanpa perlawanan.
“Kalau aku memang ingin mati,” kataku cepat, nada suaraku meninggi, “kenapa harus menyusahkanmu? Kau pikir seluruh hidupku hanya berputar di sekeliling perasaanmu?”
Leonard menoleh cepat, sorot matanya tajam. Mungkin dia kaget mendengar balasan seperti itu dari wanita yang selama ini dikenal pendiam dan pasrah.
Aku menatapnya, dada naik turun, menahan emosi. “Aku tidak tahu apa yang pernah Elira lakukan sampai kau begitu membencinya. Tapi satu hal yang jelas, aku tidak akan lagi jadi perempuan menyedihkan yang kau injak seenaknya.”
Aku sendiri kaget dengan keberanianku. Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa bisa kucegah.
Pelayan yang masih berdiri di pintu menunduk dalam-dalam, jelas terkejut dengan percakapan ini. Ia buru-buru mundur, menutup pintu rapat-rapat, seolah takut menjadi saksi lebih jauh.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Leonard menatapku tajam, kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya. Untuk sesaat aku pikir dia akan berteriak atau melempar sesuatu. Tapi tidak. Ia hanya mendekat, langkah-langkahnya berat dan penuh wibawa.
Aku menahan napas saat wajahnya hanya sejengkal dari wajahku. Aroma maskulin samar tercium, tapi aura dinginnya menelan segalanya.
“Kalau kau pikir aku akan terjebak oleh sandiwara baru ini,” katanya pelan, nadanya dingin tapi jelas, “kau salah besar. Kau tetaplah wanita yang bukan pilihanku. Jangan pernah bermimpi lebih dari sekadar nama yang terikat denganku di atas kertas.”
Aku terdiam. Kata-kata itu menusuk, walau aku tahu bukan aku yang dimaksud. Itu untuk Elira. Tapi entah kenapa, rasanya sakit juga.
Tanpa menunggu jawabanku, Leonard berbalik dan melangkah keluar. Pintu tertutup dengan dentuman pelan, meninggalkan aku sendirian dalam keheningan.
Aku menatap langit-langit, mencoba mencerna semuanya. Jantungku masih berdegup kencang.
Astaga… aku benar-benar terjebak dalam hidup wanita lain. Dan suaminya… benar-benar pria paling dingin yang pernah kutemui.
Aku menggenggam selimut erat-erat. Aku harus mencari cara. Aku harus tahu kenapa aku bisa ada di tubuh ini. Dan yang paling penting… apa yang sebenarnya terjadi di danau itu?
Aku menarik napas panjang, lalu menutup mata. Lagi-lagi, bayangan danau itu datang. Sosok Elira berdiri di tepi air, menangis, gaunnya basah oleh embun malam. Dan… ada bayangan lain di belakangnya. Aku mengejap, mencoba melihat lebih jelas, tapi selalu buram.
Siapa itu? Apakah seseorang mendorongnya? Atau hanya ilusi dari kepedihan Elira?
Kepalaku terasa sakit, tapi aku tahu satu hal: aku tidak bisa diam. Kalau memang ada seseorang yang berusaha menyingkirkan Elira, maka aku juga yang sekarang jadi sasarannya.
Dan aku—Alea—tidak akan membiarkan diriku jadi korban.
Aku terbangun sebelum matahari benar-benar naik.Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada teriakan.Justru sebaliknya—kepalaku terasa terlalu jernih, seolah-olah semalam aku baru saja menata ulang kepingan-kepingan diriku sendiri.Aku duduk di tepi ranjang, menatap kedua tanganku.Tangan Elira.Putih, halus, selalu terlihat seperti milik seseorang yang tidak pernah melakukan pekerjaan kasar. Seseorang yang hidupnya diatur, dilindungi, tapi juga… dikurung.Elira, apa yang sebenarnya kau rasakan sebelum jatuh ke danau itu?Bayangan air gelap itu kembali muncul di kepalaku. Dinginnya, beratnya, rasa sesak yang me
Aku terbangun di tengah malam dengan dada sesak.Bukan karena mimpi buruk—melainkan karena ingatan yang tidak sepenuhnya milikku.Kamar gelap. Jam dinding menunjukkan pukul 00.17.Waktu yang sama.Waktu ketika Elira keluar dari mansion malam itu.Aku duduk perlahan, meraba sisi tempat tidur yang dingin. Udara malam merayap masuk dari jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma tanah basah dan danau.Kakiku menyentuh lantai.Dan tanpa sadar, aku berjalan.Lorong mansion sunyi. Lampu-lampu temaram menciptakan bayangan panjang yang terasa terlalu hidup. Setiap langkah seolah memanggil kenangan yang ingin tetap terkubur.Tangga belakang.Pintu samping.Semua terasa… familiar.Seolah tubuh ini tahu jalan bahkan ketika pikiranku menolak.Kau yakin mau keluar malam-malam begini?”Suara itu muncul samar di kepala Elira.“Aku hanya sebentar,” jawabnya. “Aku hanya ingin bicara.”“Dengan siapa?”Tak ada jawaban.Hanya getaran ponsel di genggaman.Aku berhenti di depan pintu samping, napasku memb
Malam di mansion Veyron terasa lebih panjang dari biasanya.Lampu-lampu lorong menyala redup, menciptakan bayangan yang memanjang di dinding marmer. Setiap langkah terasa bergema, seolah rumah besar ini ikut mengingat terlalu banyak hal yang selama ini dipendam.Aku duduk di tepi ranjang, memeluk bantal. Tidak menangis. Tidak bergerak.Hanya… kosong.Alea sadar sepenuhnya. Otakku bekerja, mencoba menata ulang potongan-potongan kebenaran. Namun tubuh ini—tubuh Elira—masih menyimpan sisa rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.Leonard masuk.Ia tidak menatapku. Jasnya sudah dilepas, kemeja putihnya kusut. Rambutnya sedikit berantakan—tanda kecil bahwa malam ini tidak mudah baginya.“Kau belum tidur,” katanya datar.Aku mengangguk. “Kau juga.”Ia berhenti beberapa langkah dari ranjang. Diam. Terlalu lama.“Kata-katamu tadi,” ujarnya akhirnya, “tidak semuanya benar.”Aku menoleh perlahan. “Bagian yang mana?”Ia menghindari tatapanku. “Bahw
Ruang makan itu dingin, meski lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan.Aku duduk di kursi Elira—kursi seorang istri yang sah, namun tak pernah benar-benar dianggap ada. Di hadapanku, keluarga Valen duduk dengan sikap tenang dan senyum tipis yang terlalu terlatih.Ini bukan jamuan keluarga.Ini pertemuan bisnis.Leonard duduk di ujung meja. Wajahnya keras, rahangnya mengatup. Ia bahkan tidak menatapku—seolah kehadiranku hanya formalitas yang terpaksa diterima.“Elira,” suara pria paruh baya itu terdengar datar. “Kami dengar kondisimu sempat… mengkhawatirkan.”Arman Valen.Ayah kandung Elira.
Malam turun perlahan, menyelimuti mansion dengan keheningan yang terlalu sempurna. Lampu-lampu taman menyala satu per satu, memantulkan cahaya ke permukaan danau yang tampak tenang—terlalu tenang untuk tempat yang hampir merenggut nyawa seseorang.Aku duduk di tepi ranjang, memutar-mutar kancing mantel di antara jari-jariku. Logamnya dingin. Beratnya terasa nyata, seperti bukti kecil yang menolak dibantah oleh penyangkalan siapa pun.Ketukan pelan di pintu membuatku terkejut.“Elira.”Suara Leonard.Aku menyembunyikan kancing itu ke laci terdalam, lalu berdiri. “Masuk.”Leonard melangkah masuk dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ia menutup pintu, berdiri beberapa langkah dariku, seolah menjaga jarak yang tak kasatmata.“Kita perlu bicara,” katanya.Aku mengangguk. “Tentang apa?”Ia menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. “Tentang kau.”Aku menatapnya, menunggu.“Kau berubah,” lanjutnya. “Dan perubahan itu… membuat orang-orang di rumah ini tidak nyaman.”“Orang-orang?” ulangku pel
Leonard tidak langsung membawaku keluar rumah. Ia hanya berjalan menuju lorong samping, langkahnya panjang dan tegas, seolah ingin segera mengakhiri percakapan yang tak ia inginkan.Kami berhenti di depan ruang kerjanya.“Masuk,” katanya singkat.Nada itu bukan ajakan. Lebih seperti perintah.Aku menurut.Begitu pintu tertutup, udara di ruangan itu berubah. Lebih dingin. Lebih berat. Leonard berdiri membelakangiku, kedua tangannya bertumpu di meja.“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan pada Lysandra?” tanyanya tanpa menoleh.“Aku hanya bertanya,” jawabku pelan.“Kau berbicara seolah-olah ada seseorang yang mendorongmu ke danau,” katanya tajam. “Itu tidak pantas.”Aku menelan ludah. “Dan jika memang begitu?”Leonard berbalik cepat. Tatapannya keras.“Elira,” ucapnya menekan. “Kau jatuh ke danau karena kau ingin mengakhiri hidupmu sendiri.”Kata-kata itu menghantam dadaku lebih keras dari yang kuduga.“Kau begitu yakin?” tanyaku.“Aku tahu bagaimana keadaanmu saat itu,” katanya. “Kau h







