LOGINPagi berikutnya, aku terbangun dengan kepala berat. Rasanya seperti habis menonton film maraton semalaman, padahal aku sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan danau itu terus datang menghantui, membuat dadaku terasa sesak.
Aku bangkit perlahan dari ranjang besar itu. Begitu kaki telanjangku menyentuh lantai marmer dingin, aku sadar lagi—ini bukan hidupku. Aku bukan Alea lagi, setidaknya di mata semua orang di sini. Aku adalah… Elira Veyron.
Aku menatap pantulan diriku di cermin besar di samping ranjang.
Astaga.
Wanita yang menatap balik padaku sungguh berbeda. Rambut panjang hitam legam, wajah yang cantik tapi pucat, sorot mata yang dulu mungkin teduh kini hanya menyisakan bayangan kelelahan. Bibirnya merah tipis, tapi tanpa senyum. Elegan, anggun… dan jelas bukan aku.
Aku menghela napas panjang. “Elira, apa sebenarnya yang kau sembunyikan?” gumamku.
Ketukan pelan terdengar di pintu. Seorang pelayan masuk dengan sopan, membawakan nampan berisi sarapan. “Nyonya, keluarga besar sudah berkumpul di ruang makan. Tuan Leonard meminta Anda untuk hadir.”
Aku tercekat. Keluarga besar? Aku bahkan belum tahu siapa saja yang ada di rumah ini.
Dengan bantuan pelayan, aku mengenakan gaun sederhana warna biru pastel. Elegan, tapi tetap sopan. Setelah memastikan semuanya rapi, aku melangkah keluar kamar.
Rumah ini—atau lebih tepatnya mansion—sungguh megah. Dinding tinggi, ukiran kayu mahal, lampu gantung kristal di setiap lorong. Aku hampir kagum, kalau saja suasananya tidak terasa begitu dingin.
Saat aku tiba di ruang makan, semua kepala menoleh padaku.
Di ujung meja panjang itu duduk seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya penuh wibawa—dan sorot matanya langsung menusukku.
Itu pasti ibu mertua Elira.
Di sebelahnya duduk seorang pria tua dengan jas rapi, wajahnya tegas. Ayah mertua, barangkali.
Lalu ada seorang pria muda lain, mungkin sekitar 25 tahun, dengan tatapan sinis yang sama sekali tidak ramah.
Dan di kursi utama, tentu saja, Leonard. Dingin, tampan, tak berperasaan.
“Akhirnya kau muncul juga,” suara ibu mertua terdengar tajam. “Kukira kau akan kembali melakukan drama tak berguna dan menahan diri di kamar.”
Aku menelan ludah. Kalau Alea yang asli, aku mungkin sudah membalas dengan nada tinggi. Tapi aku harus berhati-hati. Setidaknya… sedikit lebih lembut.
“Aku hanya butuh istirahat,” jawabku pelan, mencoba terdengar sopan.
Wanita itu mendengus sinis. “Istirahat? Kau pikir menantu keluarga Veyron bisa hidup hanya dengan tidur dan mengeluh?”
Aku terdiam. Darahku mendidih lagi. Ingin rasanya aku membalas, tapi aku harus ingat—Elira dikenal sebagai wanita pendiam. Kalau aku tiba-tiba terlalu blak-blakan, mereka akan curiga.
Tiba-tiba, adik iparku—pria muda yang sejak tadi menatapku tajam—tertawa kecil. “Aku heran kenapa kakak masih bertahan dengan wanita seperti dia,” katanya kepada Leonard, jelas meremehkan.
Leonard hanya meneguk kopinya tanpa ekspresi. “Itu urusan keluarga,” jawabnya dingin.
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Sungguh, rasanya ingin melempar sendok ke wajah pria menyebalkan itu. Tapi aku tahan.
Mertua perempuanku kembali menatapku, kali ini dengan pandangan penuh penghinaan. “Kau seharusnya bersyukur, Elira. Tanpa perjodohan ini, tidak ada pria sekelas Leonard yang akan melirikmu. Jangan sampai kau mempermalukan keluarga ini lagi.”
Aku menggertakkan gigi. Jadi begitu cara mereka melihat Elira? Hanya sebagai beban, istri titipan, dan… penghalang cinta Leonard?
Dadaku terasa sesak. Kalau aku benar-benar Elira, mungkin aku akan menunduk dan diam. Tapi aku bukan dia. Aku Alea. Dan aku tidak bisa terus membiarkan mereka menginjak harga diriku—atau harga diri wanita ini.
Aku mendongak, menatap mata ibu mertua itu dengan penuh keberanian. “Bukankah menikah itu pilihan dua orang? Kalau memang aku dianggap aib, kenapa keluarga ini masih mempertahankan pernikahan ini?”
Hening.
Semua mata langsung menatapku, terkejut.
Ibu mertua terbelalak, jelas tidak percaya mendengar kalimat itu dariku. Leonard bahkan menoleh, ekspresinya untuk pertama kalinya berubah—ada sedikit keterkejutan.
“Apa yang kau katakan?” suara ibu mertua meninggi.
Aku mengangkat dagu. “Aku hanya ingin tahu, Bu. Apa sebenarnya yang keluarga ini harapkan dariku? Menjadi istri pendiam yang hanya tahu diam? Atau boneka cantik yang bisa dipajang di ruang tamu?”
Pria muda, adik ipar itu—langsung terbahak. “Wah, akhirnya si pendiam bisa bicara juga rupanya!” ejeknya.
Aku menatapnya dingin. “Kalau kau tidak suka melihatku, jangan buang-buang napas untuk menghinaku. Hidupmu sendiri belum tentu lebih berharga dariku.”
Mulutnya langsung terkatup, wajahnya memerah menahan amarah.
Aku bisa merasakan jantungku berdetak kencang, tapi entah kenapa… ada kepuasan kecil. Selama ini Elira mungkin tak pernah membela dirinya. Tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjakku begitu saja.
Keheningan kembali menyelimuti meja makan. Sampai akhirnya, Leonard meletakkan sendoknya perlahan, menatapku dengan sorot mata yang sulit ditebak.
“Menarik,” katanya pelan.
Aku menoleh, sedikit bingung. “Apa maksudmu?”
Leonard mengangkat alis, sudut bibirnya terangkat tipis—bukan senyum hangat, tapi lebih seperti senyum dingin yang penuh teka-teki. “Kau berubah.”
Aku tercekat.
Dalam hatiku aku menjerit: Tentu saja aku berubah, karena aku bukan Elira!
Tapi aku hanya bisa terdiam, menahan semua rahasia itu sendiri.
---
Pagi itu, aku terbangun dengan kepala berat. Sinar matahari masuk lewat tirai besar, menyinari ranjang megah yang masih asing bagiku.
Aku menguap panjang, lalu duduk perlahan. Tubuh Elira terasa lemah, tapi aku tahu itu karena dia sebelumnya nyaris tenggelam. Aku harus segera membiasakan diri.
Aku menoleh ke meja kecil di samping ranjang. Ada sebuah nampan sarapan: roti panggang, telur rebus, dan secangkir teh hangat.
Aku tersenyum miris. Jadi begini hidup seorang nyonya rumah kaya? Dihidangkan makanan ke kamar setiap pagi, dilayani pelayan, tinggal di rumah sebesar istana… Tapi kenapa rasanya justru sesak?
Aku mengambil roti dan menggigitnya perlahan. Di tengah kunyahan, mataku menangkap sesuatu. Sebuah buku kecil, agak lusuh, tergeletak di sudut meja rias. Sampulnya kulit cokelat dengan pinggiran sedikit sobek.
Aku mendekat, jantungku berdetak lebih cepat. Buku harian.
Tanganku gemetar saat membuka halaman pertama. Tulisan tangan yang rapi dan anggun memenuhi kertas.
"Hari ini aku resmi menjadi nyonya Veyron. Semua orang bilang aku beruntung. Tapi mengapa hatiku justru terasa kosong?"
Aku membeku. Itu tulisan Elira.
Lembar-lembar berikutnya penuh dengan curahan hati: tentang bagaimana ia mencoba memenangkan hati Leonard, tentang malam-malam yang ia habiskan sendirian di kamar, tentang tatapan suaminya yang selalu mengarah pada wanita lain.
Aku menutup buku itu dengan napas tersengal. Sakit sekali membaca isi hatinya. Sakit yang bahkan bisa kurasakan sampai ke dalam jiwaku.
“Jadi… kau benar-benar mencintainya, ya, Elira?” bisikku pelan. “Dan cinta itu yang membuatmu hancur.”
Aku duduk lama, merenung. Sampai akhirnya pintu kamar terbuka.
“Pagi,” suara bariton yang dingin membuatku refleks menoleh.
Leonard berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja putih rapi dengan dasi yang belum sepenuhnya terikat. Wajahnya segar, namun tetap dingin.
Aku tersentak. “K-kau?”
Dia masuk, langkahnya tenang tapi penuh wibawa. Matanya melirik sekilas ke arah buku harian di tanganku, lalu kembali menatapku.
“Kau sudah cukup sehat untuk membaca hal-hal menyedihkan itu rupanya,” katanya datar.
Aku buru-buru menutup buku itu rapat. “Aku hanya… ingin tahu tentang hidupku.”
“Lalu apa yang kau dapat?” tanyanya, nada suaranya seperti sedang menguji.
Aku menatapnya, menahan diri agar tidak terbawa emosi. “Aku dapat satu hal… bahwa wanita ini benar-benar mencintaimu, meski kau tidak pernah memberinya sedikit pun ruang di hatimu.”
Hening.
Wajah Leonard mengeras, tapi ada kilatan aneh di matanya. Cepat sekali kilatan itu hilang, tergantikan ekspresi dingin yang sama.
“Kau selalu pandai menulis drama,” ujarnya singkat, lalu berjalan melewatiku, mengambil jas yang tergantung di kursi.
Aku menggertakkan gigi. Dia selalu begitu! Menganggap semua rasa, semua luka, hanyalah sandiwara.
Saat dia hendak pergi, tiba-tiba mulutku bergerak sendiri. “Kalau benar aku cuma sandiwara bagimu… kenapa kau menyelamatkanku malam itu?”
Langkah Leonard terhenti.
Aku bisa melihat punggungnya menegang. Tapi dia tidak menjawab. Dia hanya membuka pintu dan keluar, meninggalkan aku dengan pertanyaan yang semakin membakar.
Aku menggenggam erat buku harian di tanganku. “Ada sesuatu yang kau sembunyikan, Leonard,” gumamku. “Dan aku akan menemukannya.”
Sunyi.Itu hal pertama yang Elira rasakan setelah semuanya berhenti. Tidak ada kericuhan, suara benturan, bisikan dan tidak ada makhluk mengerikan lagi yang berjalan di lorong.Hanya… kosong.“Leonard…?” panggilnya beberapa kali. Suaranya kecil dan hampir tidak terdengar.Ia bangkit perlahan dari lantai. Kakinya masih lemas dan tangannya gemetar. Tempat Leonard berdiri tadi benar-benar kosong. Tidak ada jejak sama sekali. Tidak ada cahaya yang tertinggal atau apapu yang menunjukkan keberadaan Leonard.Seolah dia… tidak pernah ada di sana.“Elira,” panggil Bria. Suaranya membuat Elira menoleh. Brian berdiri di dekat panel dengan wajah yang pucat.“Aether spike… hilang.”Elira menatapnya kosong.“Hilang?”Brian mengangguk pelan.“Bukan turun.”“…hilang total.”Kalimat itu harusnya jadi kabar baik, namun tidak terasa seperti itu. Karena kalau Aether hilang, Leonard juga ikut hilang.Elira berjalan pelan ke tengah ruangan. Matanya menatap lantai.“Dia tidak mungkin…”Ia berhenti. Tidak san
Suara itu tidak keluar dari mulut, karena makhluk itu tidak memiliki mulut. Suara itu langsung masuk ke kepala. Leonard merasakan sesuatu menusuk pikirannya. Gambar-gambar aneh mulai muncul. Ada pemandangan langit yang retak, dunia tiba-tiba terbali dan semua manusia di bumi ini berteriak. Dan di atas semuanya ada mata raksasa itu.Leonard langsung memegang kepalanya.“Ah—!”“Leonard!” Elira berteriak.Brian langsung menariknya mundur.“Jangan lihat matanya!” Namun sudah terlambat. Leonard sudah terhubung.Dalam satu detik dunia berubah. Leonard tidak lagi di laboratorium. Ia berdiri di ruang Aether. Namun kali ini tidak seperti sebelumnya. Ruang itu tidak kosong. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Di atas ada langit. Jika itu bisa disebut langit terbuka dan mata raksasa itu lebih dekat dari sebelumnya, Mata itu terbuka penuh seolah masih mengawasi.Leonard tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa berat. Seolah gravitasi di tempat ini berbeda. Lalu makhluk bermata satu itu muncul di depan
“Mulai sekarang kamu tidak boleh masuk ke dimensi itu lagi.”Suara Elira terdengar tegas, keras, namun matanya penuh ketakutan.Leonard langsung menoleh.“Kamu serius?”“Ya!”Elira mendekat.“Lihat tubuh kamu!”Ia menunjuk garis keperakan di wajah Leonard.“Ini semakin parah!”“Kalau aku berhenti sekarang....”“Kamu pikir Alea bakal senang lihat kamu berubah jadi sesuatu yang bahkan bukan manusia lagi?!”Leonard diam karena ia sama sekali tidak punya jawaban.Brian ikut bicara nadanya ebih tenang, namun justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.“Kalau teori Dr. Pratama benar…”Ia menatap Leonard.“…kamu bukan cuma terhubung ke Alea.”“…kamu sedang berubah jadi jangkar.”Leonard mengerutkan kening.“Jangkar?”“Penghubung tetap antara dunia ini dan ruang Aether.”Sunyi.“Dan kalau itu selesai…”Brian menatap layar. Puluhan titik merah itu.“…mereka tidak perlu Alea lagi.”Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.Karena itu berarti, Alea tidak lagi penting bagi mereka y
Leonard langsung menoleh cepat, hampir refleks. Namun tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya ruangan laboratorium yang dingin, layar-layar yang masih menyala, dan Elira yang berdiri beberapa meter darinya dengan wajah bingung.“Kamu kenapa?” tanya Elira.Leonard tidak langsung menjawab. Tubuhnya masih tegang. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Baru saja ia mendengar suara Alea dengan sangat jelas. Terlalu jelas untuk disebut halusinasi.“…dia ada di sini,” bisiknya pelan.Brian yang sedang melihat data langsung mengangkat wajah.“Apa?”Leonard menatap ke sekitar ruangan. Tidak ada apa-apa, namun udara terasa berbeda. Terasa lebih dingin dan lebih berat.“Dia bilang… lari.”Elira langsung menegang.“Leonard…”Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi seluruh lampu di laboratorium tiba-tiba mati. Ruangan langsung tenggelam dalam kegelapan. Hanya layar monitor yang masih menyala samar, memantulkan cahaya kebiruan ke dinding.“Jangan bilang ini pemadaman biasa…” gumam Brian. Sebuah
Hujan turun lagi malam itu, tipis hampir seperti kabut. Membuat seluruh kota terlihat samar dari balik jendela laboratorium. Leonard berdiri diam di depan layar. Matanya menatap catatan lama Dr. Pratama yang masih terbuka.“Sekali mereka tahu kita ada… mereka tidak akan berhenti datang.”Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang hidup. Melekat di kepalanya. Mengulang terus-menerus.Elira masih duduk di depan komputer. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard. mencari sesuatu, apa saja informasi yang bisa ia temukan untuk menghentikan semua ini. Cara memastikan apa yang dilihat Leonard tadi malam bukan awal dari sesuatu yang lebih buruk.“Kalau entitas itu benar-benar ada dan mereka bisa melihat kamu, Leonard…” katanya pelan.“…berarti ikatan antara kamu dan Alea udah terlalu dalam.Leonard tidak menjawab. Karena ia tahu setiap kali ia masuk ke sana ikatan itu semakin kuat. dan sekarang bukan cuma Alea yang bisa melihatnya. Sesuatu yang lain juga mulai melihat balik.“Elira.”Suara Leon
Leonard tidak tidur malam itu. Ia duduk di lantai apartemennya dengan punggung bersandar pada sofa, lampu ruang tamu mati, hanya cahaya dari luar jendela yang masuk samar-samar. Tangannya masih gemetar. Bukan karena dingin ataupun karena takut melainkan karena ia masih bisa merasakan sentuhan itu. Sentuhan tangan Alea, meski hanya beberapa detik, meski tubuh itu tidak benar-benar nyata dan meski dunia di sekitar mereka runtuh sebelum ia sempat menggenggam lebih erat, Leonard masih bisa merasakannya dan itu cukup untuk menghancurkan semua ketenangan yang selama dua tahun terakhir ia paksa bangun.Di atas meja tergeletak foto lama. Foto yang sama yang selama ini selalu ada di sana. Foto yang ia pandang beberapa waktu lalu sebelum pergi ke gudang tua itu. Leonard menatap wajah Alea di foto itu lama. Sangat lama.“Kenapa kamu harus ingat…” bisiknya li







