홈 / Romansa / Terjerat Cinta Ayah Mertua / Bab 2 ー Mainan Dewasa

공유

Bab 2 ー Mainan Dewasa

작가: Onigiri
last update 게시일: 2025-11-03 10:17:03

Meyra sibuk memasak. Dibantu seorang pelayan yang terkadang datang untuk melakukan pekerjaan rumah.

Di rumah keluarga Anderson yang sebesar itu, Meyra kesulitan melakukan semuanya sendiri. Walau pelayan itu hanya datang saat pagi sampai siang saja.

"Di sofa, itu buket punya siapa, Meyra?" celetuk seorang pria dari belakang.

Meyra menoleh. Ternyata itu Ayah Mertuanya.

Glen duduk di kursi ruang makan yang bersebelahan dengan area dapur.

"Oh, iya. Itu buket yang aku pesen kemaren. Buat ke makam, sekarang hari peringatan kematian Ayah," jawabnya.

Alis Glen sedikit terangkat. Bibirnya menampilkan senyuman tipis.

"Gitu ya. Maaf Papa lupa. Dan kayakanya nggak bisa ikut," sesalnya.

Mey membalas senyuman. Lalu berjalan ke ruang makan sambil mmbawa nampan berisi makanan.

"Nggak apa-apa, kok. Papa pasti sibuk. Aku cuma lagi kangen Ayah aja," katanya pelan sambil menaruh makanan di hadapan Glen.

Meyra lalu duduk di kursi seberang. Mulai menyuap sarapannya sedikit menunduk.

Glen memperhatikannya sekilas. Meski Meyra membicarakan Ayahnya dengan santai, tapi cukup terlihat dia masih menyimpan kesedihan.

"Evan beruntung punya Istri kayak kamu, ya. Rasanya jadi pengen nikah lagi," ucap Glen.

Nadanya sedikit bersenda gurau di akhir kalimat.

Meyra mendongak. lalu tersenyum geli di balik punggung tangannya.

“Nikah aja, Pah. Aku yakin banyak yang antre.”

Glen tertawa pendek, mengangkat bahu.

“Entahlah. Kebanyakan cuma ngincer harta. Lagi pula, Papa sudah punya Evan buat nerusin semuanya nanti.”

Meyra mengangguk pelan. Dari yang dia perhatikan, Glen sepertinya memang tak tertarik menikah lagi. Istrinya, Laura, sudah meninggal belasan tahun yang lalu.

Karena di pikiran Glen, menikah hanya untuk membuat penerus bisnis perusahaan. Pernikahan dulu pun hanya hasil perjodohan, bukan cinta.

Meski sayang, mereka tak dikaruniai anak.

Setelah sarapan usai, Glen berangkat ke kantor. Sementara Meyra membereskan meja makan, berniat kembali ke kamarnya.

Tapi suara lain menghentikannya di tengah langkah.

“Non, maaf. Bahan masakan udah mau habis. Mau saya belanja?” tanya Tuti. Pelayan di rumahnya.

Meyra menatap Tuti. Dan berpikir sejenak.

"Nggak usah. Nanti aku aja, sekalian mau ke makam."

Tuti mengangguk paham, lalu berbalik pergi.

Meyra melanjutkan langkahnya. Kemudian merapikan bekas keributan tadi. Kamarnya masih sedikit berantakkan.

Merya bersiap mengganti pakaian yang lebih rapi. Keluar dari kamar, lalu mengambil buket bunga tadi.

Di depan rumah, taksi online yang Meyra pesan sudah menunggu.

"Pak. Nanti setelah belanja saya mau ke makam. Titip bunga di sini ya," ucapnya sambil meletakan buketnya ke samping.

Sopir di depan menoleh dan mengangguk ramah.

“Siap, Bu. Saya tunggu.”

Meyra tersenyum tipis.

'Duh, aku masih belum Ibu-ibu,' batinnya geli. Tapi ia diam saja.

Perjalanan ke pusat perbelanjaan memakan waktu setengah jam.

Begitu tiba, Meyra langsung menuju area food hall. Tangannya cekatan memilih sayur dan daging segar.

Meski Evan bersikap dingin dan jarang di rumah, ia tetap menafkahinya dengan cukup.

Semua kebutuhan rumah tangga tak pernah kurang. Sebagai pewaris keluarga Anderson, memberi satu kartu kredit pada istrinya jelas bukan masalah.

Usai membayar belanjaan, Meyra menatap sekilas ke arah eskalator menuju lantai dua. Ia berpikir untuk membeli cermin baru yang Evan pecahkan tadi pagi.

Tapi saat hendak naik ke area Home Living Section, langkahnya terhenti ketika suara riang memanggil namanya dari arah lain.

“Meyra!”

Meyra menoleh. Seorang wanita dengan rambut biru terang melambaikan tangan. Penampilannya mencolok. Dengan baju ketat dan rok pendek.

Itu adalah teman dekat Meyra sejak kuliah. dan berprofesi sama dengannya. Seorang penulis novel.

"Hei, Lisa," balas Meyra. Terlihat terkejut sekaligus senang. "Kamu kok di sini?"

Lisa menyibak rambut birunya.

“Mau beli bikini! Aku butuh bahan buat reset ide. Jadi mau liburan ke pantai. Kamu sendiri?”

Meyra mengangkat kantong belanjaannya.

"Biasa. Istri rumah tangga, belanja bahan makanan," jawabnya sambil tersenyum tipis.

Lisa mengangguk, tapi matanya berkilat nakal.

"Eh. Kebetulan kamu di sini, ikut aku ke toko Arson yuk. Siapa tau dapet baju gratisan karena ajak nyonya bos."

Meyra terkekeh kecil.

“Aku bukan nyonya bos. Lagian di mall ini nggak ada yang tahu aku dari keluarga Anderson.”

“Pokoknya temenin aja!” Lisa merangkul lengannya. “Sini, biar aku bantu bawa belanjaannya.”

Lalu menariknya pergi menuju toko Arson di ujung koridor. Meyra hanya bisa pasrah dan ikut saja dengan temannya yang enerjik itu.

Dari luar, toko itu tampak seperti butik dewasa bergaya elegan. Di kaca besar menampilkan lingerie mahal.

Seorang petugas menyambut dengan senyum profesional.

“Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?”

“Oh, iya,” kata Lisa cepat, menunjukkan kartu keanggotaan. “Saya anggota member. Mau lihat barang baru, boleh?”

Petugas itu melirik kartu yang tampak sedikit berbeda dari kartu member biasa. Matanya menajam, lalu tersenyum sopan.

“Silakan ikut saya."

Mereka mengikuti petugas melalui pintu berwarna hitam di sisi kiri ruangan.

Begitu pintu itu tertutup di belakang mereka, suasana berubah total. Cahaya lebih redup.

Jika sebelumnya hanya pakaian dewasa, kali ini adalah area barang-barang premium. Dan juga terdapat  koleksi mainan dewasa.

Deretan rak berisi benda-benda aneh berjajar rapi. Mainan sex dengan bentuk dan ukuran yang membuat pipi Meyra merona.

‘Kalau aku tahu bakal ke tempat ini.… Aku pasti nggak bakal ikut,’ batinnya sambil menelan ludah.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 178 — Kita Keluarga

    Meyra tak bisa menjawab. Ia menunduk lebih dalam, bahunya bergetar. Seketika air matanya jatuh."Kenapa kamu selalu seenaknya?" suaranya pecah. "Kenapa kamu selalu egois? Dari dulu kamu nggak pernah berubah."Glen tersenyum pahit. Namun dia memberanikan diri mengutarakan isi hatinya. Ini waktu yang tepat saat Meyra membahasnya."Maaf. Kalau bisa dibilang... aku memang masih egois. Aku mau kembali sama kamu, Meyra." Suara Glen lirih, tapi jelas. "Aku mau memperbaiki hubungan kita. Aku mau buka lembaran baru."Meyra mendongak, namun hanya terdiam. Matanya masih basah, menatap Glen dengan perasaan yang campur aduk. Ia tak bisa menjawab. Masih terlalu banyak luka dan rasa sakit yang belum sembuh.Tapi di saat hening itu, di saat Meyra sedang bergulat dengan perasaannya sendiri,"Mama..." terdengar suara kecil dari sofa.Mereka menoleh. Giovanni sudah bangun. Bocah itu duduk di sofa, mata masih setengah terpejam, rambutnya berantakan. Ia mengucek matanya, lalu menatap Glen.Matanya bergerak

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 177 — Melindungi Kebahagiaanmu

    Ambulans tiba beberapa menit kemudian. Para petugas medis bergerak cepat mengeluarkan Glen dari mobil yang hancur itu. Tubuhnya diangkat dengan hati-hati, dipindahkan ke tandu.Meyra mengikuti dari belakang. Tanpa sadar, kakinya hendak ikut naik ke ambulans."Maaf, Ibu keluarganya?" tanya petugas.Meyra terdiam sejenak. "Iya. Saya, saya kenal dia."Petugas mengangguk. "Baik. Kita bawa ke rumah sakit terdekat."Meyra membawa Giovanni masuk ke mobilnya dan segera mengikuti ambulan itu.Di rumah sakit, Glen langsung digiring ke IGD. Para dokter dan perawat bergerak cepat. Meyra berdiri di luar, menunggu."Pasien mengalami luka parah di bagian kepala dan dada," kata dokter yang keluar. "Ada pendarahan internal. Kami harus segera melakukan operasi."Meyra mengangguk cepat. "Ya, ya silakan.""Kami butuh persetujuan dari keluarga."Meyra terdiam. "Saya... saya kenal pasien. Tapi saya bukan keluarganya."Dokter mengernyit. "Kalau begitu, apa ada yang bisa dihubungi?"Meyra menggigit bibir. "D

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 176 — Tertabrak

    Pagi hari. Sinar matahari masuk melalui celah tirai, menyentuh wajah Giovanni yang mulai membuka mata.Bocah kecil itu mengerjap beberapa kali, lalu tersenyum sendiri. Hari ini ia akan pergi ke pesta ulang tahun temannya, anak dari Atheril. Ia sudah tidak sabar.Giovanni bangkit dari tempat tidur, melompat-lompat kecil menuju kamar mandi. Setelah selesai mencuci muka, ia berlari ke ruang makan."Mama!" serunya ceria.Meyra sudah duduk di meja makan, menyiapkan sarapan. Roti panggang, telur, susu, dan buah-buahan segar tertata rapi."Pagi, sayang," sapa Meyra, tersenyum.Tapi Giovanni langsung melihat sesuatu yang berbeda. Mata Mamanya yang agak bengkak, seperti habis menangis.Giovanni mengerjap. "Mama kenapa?"Meyra menggeleng cepat. "Nggak kenapa-kenapa, kok.""Mata Mama merah," tunjuk Giovanni."Kemarin kurang tidur aja." Meyra mengusap rambut Giovanni. "Ayo makan dulu. Nanti kita siap-siap."Giovanni masih menatap ibunya ragu, tapi akhirnya mengangguk. Ia duduk di kursinya, mulai

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 175 — Tolong Pergilah

    Meyra menatap layar dan segera menerima panggilan saat melihat nama Eri di layar."Halo?""Hai, Meyra!" suara ceria dari seberang terdengar khas. "Gimana kabarmu?"Meyra tersenyum tipis, berusaha terdengar normal. "Baik. Kamu sendiri?""Baik dong. Eh, besok aku mau ultah anakku. Kamu datang, ya? Bawa Giovanni."Meyra terkekeh pelan. "Pasti dong. Tenang aja.""Janji ya! Nggak boleh nolak!""Nggak akan," sahut Meyra. Mereka berbasa-basi sebentar. Meyra mendengar suara riang Atheril yang selalu berhasil membuatnya merasa sedikit lebih tenang.Atheril, atau sering disebut Eri, gadis albino dari keluarga Gray Evander yang menolongnya lima tahun lalu. Saat ia memutuskan pergi dan butuh tempat bersembunyi, ia tak tahu harus ke mana.Atheril memberinya dukungan penuh. Dia menyembunyikannya dan tempat tinggal setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena keluarga Gray Evander itu, Glen tak pernah bisa menemukannya.Koneksi keluarga Gray Evander yang kuat membuat jejak Meyra lenyap seolah di

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 174 — Kenapa Dia Datang?

    Glen mempercepat langkahnya. Giovanni yang pertama melihatnya. Bocah itu langsung tersenyum lebar."Om Glen!" serunya, melambaikan tangan kecil.Meyra membeku. Ia menoleh, dan di sana, hanya beberapa langkah dari mereka, Glen berdiri.Meyra mundur selangkah. Matanya membelalak, wajahnya pucat.Glen mencoba tersenyum pada bocah kecil yang menghampirinya. "Halo, Gio."Giovanni menghambur mendekat, tak sadar dengan ketegangan yang menyelimuti ibunya. "Om, kamu ke sini juga?""Gio..." Meyra memanggil, suaranya bergetar. "Kamu kenal Om ini?"Giovanni mengangguk bangga. "Iya, Ma. Ini Om Glen. Dia om baik yang anter aku tadi."Meyra menelan ludah. Tangannya meraih bahu Giovanni, menarik bocah itu ke belakangnya.Glen melangkah maju. "Meyra."Meyra mundur lagi. Wajahnya tegang, matanya waspada."Jangan mendekat," ucapnya cepat. Suaranya lirih, tapi tegas.Glen berhenti. Ia menatap Meyra, mencoba membaca apa yang ada di matanya. Takut? Marah? Atau keduanya?"Meyra, aku...""Saya bilang jangan

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 173 — Apa Aku Pantas?

    Di tengah diamnya Glen, pintu aula terbuka lagi dan Giovanni menghampirinya.Glen mengernyit heran. Dan tiba-tiba bocah kecil itu menyodorkan sebuah permen susu."Paman kelihatan pucat, pasti kurang tidur kayak Mama," jelasnya dengan suara yang menggemaskan. "Makan itu sebelum tidur."Glen menatap permen di telapak tangannya. Suaranya sedikit gemetar."Terima kasih," katanya pelan. Pandangannya kemudian beralih pada poster di dekat pintu. "Itu benar mamamu?"Giovanni mengangguk bangga. "Iya! Mama Mey. Cantik, kan?"Glen tak bisa menjawab. Tangannya bergetar hebat. Ia berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan Gio, berusaha menatap bocah itu setara."Kalau gitu..." Glen menelan ludah, berusaha menahan segala yang ingin meledak di dadanya. "Di mana Papa kamu?"Gio terdiam. Wajahnya yang ceria sedikit berubah. Matanya menunduk."Aku nggak punya Papa. Dia udah pergi ke surga," jawab Gio dengan suara kecil.Glen terdiam. Dadanya terasa sesak. Kata-kata itu menusuk begitu dalam.'Ke surg

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status