ANMELDENPonsel Elara masih di tangannya ketika layar kembali meredup.Dua kata itu singkat.Tidak manis dan tidak menjanjikan apa pun.Ada sedikit kelegaan di dadanya—bukan karena bahagia, tapi karena tekanan yang baru saja dilepas.“Kenapa rasanya berbeda hanya karena pesan singkat itu?” batinnya.Elara menutup layar dan menyelipkan ponsel ke dalam tas. Dia berdiri sendirian di ruang makan yang hampir kosong. Meja sudah setengah dibereskan. Bau makanan bercampur dengan sisa ketegangan yang belum benar-benar pergi.Elara menghela napas.“Ada yang aneh,” gumamnya.Bukan Daniel atau Agatha atau Adrian, tapi… dirinya..Dia menatap kedua tangannya. Tenang. Tidak kaku. Tidak bergetar seperti tadi.“Kenapa sekarang bisa begini?” tanyanya pelan.Pikirannya langsung kembali ke satu momen.Saat Revan memeluknya di sesi latihan.Tubuhnya tidak menolak.“Waktu it
“Kejujuran paling menyakitkan bukanlah yang diucapkan,melainkan yang sengaja ditahan karena takut kehilangan.”Udara malam di taman belakang rumah tua itu terasa lebih dingin dari sebelumnya.Bukan karena angin, tapi karena jarak yang tiba-tiba tercipta di antara mereka.Lampu taman menyala redup, menerangi jalan setapak yang basah oleh embun. Adrian berhenti di bawah cahaya itu. Punggungnya tampak kaku, seolah sedang menahan sesuatu yang tidak ingin dia hadapi.“Kalau aku mendengarkannya sekarang,” pikir Adrian, “Apa aku siap menerima jawabannya?’Elara berdiri beberapa langkah di belakang. Tangannya memeluk tubuh sendiri. Bukan karena dingin, melainkan karena sisa ketegangan yang belum hilang sejak ruang makan. Pinggangnya masih terasa tidak nyaman—bukan sakit, tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa sesuatu telah dilanggar.“Jangan goyah,” katanya pada d
“Awas!”Gelas es krim Nara jatuh ke meja. Semua terjadi dalam satu detik.Bunyi kaca bertemu porselen terdengar lebih keras dari seharusnya.Suara benturan itu membuat semua orang terdiam.Daniel tersentak.Senyum yang sejak tadi tak pernah lepas dari wajahnya—hilang.Semua kepala menoleh.Nara berdiri kaku di kursinya. Es krim meleleh di tepi meja, sendoknya terguling ke lantai. Tangannya gemetar, tapi matanya tidak.Tatapannya lurus ke satu arah.Ke ayahnya.Daniel.Tidak ada takut di sana.Tidak ada ragu.Hanya pengenalan yang terlalu jujur untuk usia sekecil itu.Lalu, tanpa menunggu siapa pun bereaksi, Nara melangkah turun dari kursi dan merapat ke Elara, memeluk pinggangnya erat—seolah tubuh Elara adalah satu-satunya tempat aman di ruangan itu.Daniel mundur setengah langkah.Gerak refleks.Terlambat.“Ada apa itu?” suara
Tidak ada yang membela.Tidak ada yang menegur satu pun.Tepat saat Elara mulai memahami posisi dirinya,perhatian ruangan berpindah.Irama sepatu yang berbeda dari sebelumnya—lebih ringan, lebih tergesa, seperti seseorang yang selalu datang membawa agendanya sendiri.Renata Huang, kakak kedua Adrian, muncul dengan blazer pastel dan rambut cokelat terikat rapi.Senyumnya terlatih, ramah di permukaan, tapi matanya tidak pernah benar-benar hangat.Di belakangnya, Evan Li, suami Renata datang bersama dua putra mereka yang langsung berlari ke arah Shinta.“Ma!”“Nenek!”Wajah Shinta berubah seketika. Senyumnya lebih hangat, lebih hidup—sesuatu yang tidak Elara dapatkan sejak tadi.Renata baru menoleh setelah semua sapaan selesai.“Elara,” katanya ringan.“Lama tidak bertemu.”Nada suaranya ramah—terlalu terlatih untuk terasa jujur.“Kamu terlihat lebih sehat,” lan
Kadang, bahaya terbesar bukan yang berteriak,melainkan yang duduk manis sambil tersenyum.Pintu utama rumah tua kembali terbuka.Bukan dengan hentakan. Bukan dengan emosi.Melainkan dengan ketenangan yang disengaja—seolah siapa pun yang masuk ingin memastikan dirinya tetap berkuasa di tempat itu.Tumit sepatu hak tinggi mengetuk lantai marmer, iramanya teratur, penuh perhitungan.Agatha Huang, kakak tertua Adrian masuk dengan langkah anggun yang disengaja.Rambutnya disanggul rapi, perhiasan berkilau di bawah lampu gantung besar, dan aroma parfum mawar hitam langsung mengambil alih udara.Di sampingnya, Daniel Santoso, suami Agatha berjalan santai dengan senyum percaya diri khas pria yang terlalu lama hidup nyaman di balik status.Di antara mereka, seorang gadis kecil berambut ikal melangkah pelan sambil menggenggam boneka kain lusuh.Nara Santoso.Anak dengan sensitivitas s
“Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mencintai seseorang yang tidak pernah berdiri di sisimu.”Malam yang seharusnya menjadi upaya kecil untuk memperbaiki segalanya berubah arah tanpa sempat dimulai.Adrian belum bergerak dari tempatnya berdiri.Telepon di tangannya sudah berhenti bergetar, tapi tekanannya belum hilang.Telepon Adrian masih berada di tangannya ketika Elara keluar dari kamar, mengenakan gaun sederhana yang baru saja dia pilih dengan hati-hati.Bukan untuk pamer.Hanya untuk merasa pantas.Wajah Adrian menegang, seperti seseorang yang baru menerima kabar yang tidak hanya tidak dia inginkan, tapi juga tidak bisa dia tolak.Nama di layar ponsel itu cukup untuk menghancurkan rencana kecil—atau lebih tepatnya, harapan sederhana—yang sempat dia bangun malam ini.“Ya, Ma,” ucapnya pelan. “Ada apa?”Suara Shinta Huang terdengar jelas bahkan tanpa speaker. Dingi







