Share

Terjerat Hasrat Bos Baru
Terjerat Hasrat Bos Baru
Author: Tusya Ryma

BAB 1 Bos Baru

Author: Tusya Ryma
last update Last Updated: 2025-11-29 15:39:52

Bau sabun bayi bercampur wangi nasi hangat memenuhi rumah kos yang kecil itu. Dari dalam kamar, seorang bocah kecil berlari keluar sambil menyeret tas sekolah bergambar kartun.

"Mama! Aku mau berangkat sekarang!" katanya sambil duduk dan berusaha memakai sepatunya sendiri.

"Ayang, tunggu sebentar!"

Marissa muncul dari dapur, tergesa tapi tetap dengan senyum lelah yang hangat.

Ia jongkok, meraih tas kecil itu lalu memasukannya ke dalam tas.

"Bekalnya Mama buat banyak, cukup untuk makan nanti siang. Oh, iya! Mungkin nanti Mama akan pulang telat, Ayang tidak apa-apa kan, sendirian di rumah?"

"Tenang, Ma! Aku udah besar, bisa tinggal di rumah sendiri!" Bocah itu berdiri dengan gaya sok dewasa. Lalu berkata sambil berkacak pinggang, "Mama, mulai sekarang jangan panggil aku ‘Ayang’ lagi! Malu kalau didengar teman-teman!"

"Hah? Kok begitu?" Marissa terkekeh. Ia pun menjawab dengan pelan, "Mario adalah anak kesayangan Mama. Jadi, panggilan Ayang itu artinya kesayangan. Mau itu udah besar atau masih kecil, Mario tetap ayangnya Mama!"

Mario tidak menjawab. Ia hanya melambaikan tangan, lalu berlari menuju bus jemputan yang sudah menunggunya di depan.

"Bye Ma!" teriaknya ketika bus mulai berjalan.

"Bye, Sayang!" balas Marissa dengan dada hangat dan mata berbinar.

Lima tahun yang lalu ia dicap hina karena merawat bayi kecil yang ditemukannya di depan pintu rumah. Semua orang menganggapnya gadis kotor yang tidak bisa menjaga diri karena hamil di luar nikah. Dan sekarang, melihat bocah itu tumbuh sehat membuat semua lukanya terasa ringan.

***

Tiga puluh menit kemudian, taksi sudah sampai di tempat kerjanya. Marissa bergegas turun dari taksi, lalu berlari masuk ke dalam gedung kantor tanpa mempedulikan apapun. Rasanya, ia akan terlambat kalau tidak segera masuk ke dalam.

Ketika berlari sambil berbelok, matanya malah melihat ke arah bawah. Ia tidak menyadari dari arah berlawanan ada beberapa orang yang sedang berjalan ke arahnya. Hingga tabrakan pun tidak bisa terhindarkan.

BRUK!

"Aahh!" Marissa menabrak tubuh tinggi dan kekar yang ada di depannya dengan sangat keras. Wajahnya pun sampai sakit karena benturan itu.

"Maaf.... Tidak sengaja!" ucapnya sambil membungkuk di depan orang itu.

Detik berikutnya, Marissa ditarik ke samping, lalu dibisiki sesuatu di telinganya.

"Kau mau cari mati? Dia itu adalah bos baru kita!"

"Hah???" Marissa membuka mulutnya lebar. Terkejut dengan ucapan rekan kerjanya tentang orang yang ada di depannya itu.

Wajah pria itu terlihat sangat tampan, mata elangnya menatap Marissa dengan tajam.

"Minggir!" Asisten pribadinya segera memberi jalan untuk bosnya.

Setelah itu mereka pergi tanpa mempermasalahkan kecerobohan Marissa.

"Ayo Cha! Kita harus segera pergi ke aula!" ajak Fanny—rekan kerja, sekaligus teman baik Marissa.

"Ah, ya!" Marissa pun mengerti. Ia segera mengikuti Fanny berjalan menuju aula.

***

Di ruangan yang sangat luas, dengan cahaya terang dari jendela besar yang ada di sekeliling dinding itu, semua karyawan sudah berkumpul dan duduk di kursi yang sudah tersedia. Marissa dan Fanny segera duduk di kursi paling belakang untuk menghindari perhatian semua orang karena keterlambatannya datang ke acara tersebut.

Tidak lama, acara penyambutan pun dimulai.

"Selamat pagi, semuanya!" sapa seorang di depan sana.

"Di pagi ini, saya ingin memperkenalkan wakil presdir kita yang baru! Yang mana, dia adalah kakak saya sendiri, dan anak tertua dari pemilik perusahaan ini! Mulai hari ini, Pak Danen akan menjabat sebagai wakil presdir kita yang baru! Dia lulusan universitas di Amerika, dan baru kembali setelah mengurus cabang di sana!"

"O, iya!" Wilyam pun melanjutkan ucapannya, "Untuk merayakan kedatangan Pak Danen ke perusahaan ini, saya akan menyampaikan kabar gembira untuk kalian semua!"

"Wuuuuu!" Semuanya bersorak.

"Nanti malam akan ada pesta penyambutan di hotel Mirlon. Kalian semua dihimbau untuk hadir dan diperbolehkan untuk menginap secara gratis di hotel tersebut. Tentu saja, besoknya kita harus bekerja lagi," canda Wilyam di tengah ucapannya. "Pokoknya hari ini semua karyawan perusahaan KJK Grup harus bersenang-senang!"

"Wuuuuu!" Semuanya kembali bersorak dan bertepuk tangan. Sangat gembira dengan acara pesta nanti malam.

"Dipersilahkan Pak Danen untuk memperkenalkan diri!" ucap Wilyam lagi. Lalu ia memberikan mikrofonnya pada kakaknya.

Danendra pun segera berdiri. Ia memperkenalkan diri dan berbicara banyak hal tentang dirinya dan visi misinya di perusahaan itu.

Marissa yang duduk di kursi paling belakang, sama sekali tidak mendengar ucapan bos barunya tersebut. Selain itu, ucapan pria itu tidak terlalu jelas karena suaranya terlalu pelan. Marissa hanya duduk tanpa benar-benar mendengarkan penjelasan dari Danendra.

Fanny yang duduk di sampinnya malah bisa mendengar semuanya dengan jelas.

Ia berkata pada Marissa, "Cha! Pak Danen itu ternyata kakaknya Pak Wilyam. Dia juga masih muda untuk ukuran wakil presdir, tiga puluh satu tahun! Aku kira, orang yang dipanggil Bapak itu adalah pria tua berusia empat puluhan."

Fanny melanjutkan ucapannya, "Pak Danen ini tidak tua, dan tentunya sangat tampan! Tapi, sayang ...."

Tiba-tiba Fanny menarik napas dan berhenti berbicara.

Marissa pun menjadi penasaran dengan kelanjutan cerita Fanny tentang bos barunya.

Marissa segera bertanya, "Sayang kenapa?"

Fanny membuang napasnya berat. Ia pun menjawabnya dengan pelan, "Sayangnya, dia seorang duda!"

"Hah? Dari mana kau tahu dia seorang duda?" tanya Marissa dengan heran.

Marissa segera mengangkat kepalanya ke depan, menatap pria yang saat ini masih berbicara di depan sana.

Sekilas, pria itu juga menatap ke arah Marissa, memerhatikan Marissa dengan tajam. Itu membuat Marissa salah tingkah.

Marissa segera menarik pandangannya kembali, merasa tidak enak dengan tatapan maut dari bos barunya tersebut.

"Aish! Kau ini ...." Fanny memukul kepala Marissa dengan pelan. Ia sedikit kesal dengan kelambatan pikiran sahabatnya ini.

"Pak Danen tadi yang bilang sendiri, dia seorang Duda. Istri dan putranya meninggal lima tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan mobil. Dulu, dia menikah di usia dua puluh lima tahun. Dan—"

"Oh, itu! Ya ... ya ... ya! Tadi aku mendengarnya. Kau tidak perlu menjelaskannya lagi. Haha!" potong Marissa dengan cepat, namun juga berbohong.

Marissa menghentikan ucapan Fanny karena tidak ingin mendengar tentang kehidupan pribadi orang lain.

Mungkin karena sejak lima tahu yang lalu Marissa selalu jadi bahan gosip orang-orang dan dikatai jelek tentang kehidupannya, jadi sekarang, ia pun tidak ingin bergosip tentang masa lalu orang lain.

Fanny yang melihat raut wajah sahabatnya segera tertawa, lalu berkata, "Kenapa wajahmu? Apa kau tidak suka Bos menceritakan kehidupan pribadinya?"

"Bukan!" tepis Marissa dengan cepat. "Tadi aku sudah mendengarnya, kau tidak perlu menjelaskannya lagi kepadaku. Hehe!"

Marissa berbohong lagi.

"Sudahlah!" Marissa mengalihkan pembicaraan. "Nanti kita pulang dulu, baru pergi ke hotel!"

"Untuk apa pulang? Rumahmu cukup jauh dari hotel itu! Lebih baik kita langsung ke salon saja, sewa baju dan dimake-up! Bagaimana?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 35 Masa Lalu Danendra

    "Kalau tidak di sini, lalu di mana lagi? Apa di luar?" tanya Danendra dengan datar. Ia tidak ada pemikiran apapun selain itu. "Ya, bukan! Maksud saya, saya tidak yakin untuk mengganti pakaian di sini karena ...." Marissa melihat Danendra yang ada di sampingnya. Ia merasa canggung harus melepas pakaiannya di mobil.. "Karena apa?" tanya Danendra, balas menatap Marissa. Wanita itu menyilangkan kedua tangannya di depan sambil memegang pakaiannya yang baru dibeli Asisten Anas. Mengerti akan isyarat itu, Danendra segera berkata sambil mendekatkan wajahnya ke arah tubuh Marissa. "Aku ingin bertanya, bagian tubuhmu yang mana yang belum pernah aku lihat? Hemh?" Danendra menunduk, melihat tubuh wanita itu yang dihalangi oleh tangan. "Perasaan, semua bagian di tubuhmu sudah pernah aku lihat!" "Bahkan, tempat tersembunyi di sana pun sudah aku sentuh, kan!" Danendra menunjuknya dengan ekor matanya. Itu membuat Marissa salah tingkah. "Pak, Danen! Apa Anda semesum ini juga ketika b

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 34 Danen yang Selalu Berubah-Ubah

    Danendra masih membolak-balik buku menu di tangannya. Jemarinya berhenti di beberapa halaman, lalu menunjuk satu per satu dengan ekspresi datar. “Apa kau suka yang ini? Atau yang ini?” tanyanya. Marissa melirik sekilas, tetapi tidak benar-benar membaca. Matanya mengikuti gerak jari Danendra, sementara pikirannya melayang jauh. Ia hanya mengangguk pelan, seolah semua pilihan itu sama saja baginya.Sikap Danendra selalu seperti itu—kadang terlihat perhatian, kadang terasa dingin dan membuat Marissa bingung. Ia tak pernah tahu versi Danendra yang mana yang akan ia hadapi. “Baiklah,” ucapnya akhirnya. “Kita pesan ini saja!”Danendra menghela napas pendek. Tatapan pria itu menajam, seperti sedang menilai sesuatu yang tidak memuaskan. Ia menutup buku menu, memanggil pelayan, lalu memesan beberapa hidangan tanpa bertanya lagi pada Marissa. Hari ini, pekerjaan Marissa sangat mudah. Ia hanya pergi sambil membawa berkas yang diminta ke kafe, lalu makan sambil mendengar penjelasan Dane

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 33 Terkadang Baik Terkadang Jahat

    Di pagi hari, sinar matahari begitu terang masuk ke dalam kamar hotel yang sangat mewah. Di atas tempat tidur yang empuk, seorang wanita berbaring dengan nyaman di bawah selimut yang sangat lembut. Marissa menarik selimutnya ke atas dan mengubur dirinya di bawah selimut itu. Ia menghindari cahaya matahari yang menganggu matanya yang masih terpejam. Sambil tidur, Marissa merasakan sesuatu yang sangat nyaman di bawah tubuhnya. Padahal tadi malam itu dirinya tidur di atas sofa yang sempit dan tidak seempuk ini. "Tidur di mana aku?" Tiba-tiba Marissa menyibak selimutnya. Ia melihat tempat yang ditidurinya nampak sangat berbeda dari sebelumnya. Saat ini, Marissa tidur di atas tempat tidur milik Danendra. Tapi pria itu ... tidak ada di manapun. Menyadari hal itu, Marissa segera bangkit dari tidurnya. Ia duduk di atas tempat tidur dengan rambut yang masih sangat berantakan. Di sekeliling kamar itu tidak ada orang lain selain dirinya. "Di mana Pak Danen?" tanya Marissa sambil mengedar

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 32 Terus Menggodaku

    Danendra tidak menjawab pertanyaan dari pamannya. Ia malah berjalan masuk ke dalam ruangan itu sambil melihat ke arah tubuh polos Jonson yang tidak memakai baju, lalu beralih ke arah wanita yang ada di depannya. Tangan pria tua itu masih memegang tangan kecil Marissa. "Paman, apa yang kau lakukan pada asisten pribadiku?" Kali ini Danendra bertanya sambil mendekat. Ia tidak sungkan sama sekali pada pamannya yang saat ini menyakiti asisten pribadinya. "Dan, Marissa! Apa yang sedang kau lakukan? Bukankah aku memintamu untuk mengantar hasil pertemuan tadi ke kamarku? Kenapa sekarang malah berada di sini?" Danendra mendekat, lalu menarik tangan Jonson secara paksa dari tangan Marissa. Kalau tadi Danendra tidak mendengar percakapan Marissa dengan pelayan restoran di telepon, selamanya ia tidak bisa melacak keberadaan Marissa. Tadi, setelah mendengar nama ruangan di restoran itu, Danendra segera mencari tahu lewat ponselnya. Dengan mudah ia bisa menemukan nama dan alamat resto

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 31 Menyeretnya ke Dinding

    Jonson menatap Marissa dari ujung kaki hingga ujung kepala. Keinginannya semakin menjadi setelah melihat tubuh indah Marissa yang masih terbalut pakaian. Tanpa aba-aba, Jonson melepas jas miliknya sendiri dan membuka kemeja yang dipakainya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Marissa semakin panik dibuatnya. Ia bingung harus berbuat apa. Untuk menghilangkan rasa paniknya, Marissa mengambil sebuah kalung dari dalam dompetnya. Lalu memegangnya erat sambil membayangkan wajah putranya yang lucu. Seketika perasaannya menjadi lebih tenang. Kalung itu merupakan sebuah kalung anak kecil yang selalu dibawa oleh Mario, juga dibawa oleh Marissa ketika mereka berjauhan. Kalung itu sudah ada di leher Mario sejak dia masih bayi. "Maaf, Pak! Kalau Anda ingin melakukan hal itu, Anda salah orang," tolak Marissa dengan tegas. Ia mundur ke belakang sambil mendorong pria tua yang sudah tidak memakai baju itu. "Walau saya seorang janda beranak satu yang ditinggal pergi oleh suaminya karena jatah um

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 30 Menonton Video Bersama-Sama

    Di dalam ruangan yang tidak terlalu luas dengan satu meja dan empat buah kursi, Marissa masuk dan berjalan menghampiri salah satu kursi di sana. Di ruang VIP—Vass nomor 5A—Marissa duduk sambil menunggu pria tua itu datang. Katanya Jonson masih di jalan. Dia akan tiba dalam waktu lima menit. "Apa Anda mau memesan makanannya sekarang, Nona?" tanya pelayan wanita yang baru masuk ke ruangan itu. Pelayan itu memberikan daftar menu pada Marissa. Marissa mengambilnya. "Terima kasih!" Lalu, ia membuka dan melihat setiap menu yang ada di buku itu. Harga permenunya cukup mahal. Marissa sangat sayangjika uangnya dihabiskan untuk memesan makanan di restoran itu. Tiba-tiba Marissa menutup kembali buku menunya. Ia menyimpannya di atas meja. "Saya menunggu teman dulu! Sebentar lagi dia datang," ucapnya pada pelayan itu. Makan malam ini merupakan ide dari Jonson. Marissa tidak ingin memesan apapun tanpa adanya pria tua itu. Kalau pun harus tetap memesan, biarkan pria itu yang membayar. "Oh,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status