Beranda / Romansa / Terjerat Hasrat Bos Baru / Bab 2 Perasaan yang Aneh

Share

Bab 2 Perasaan yang Aneh

Penulis: Tusya Ryma
last update Tanggal publikasi: 2025-11-29 16:12:00

Pukul tujuh malam di sebuah hotel berbintang di Kota A, semua orang sudah berkumpul dan sudah selesai menyantap makanannya. Marissa yang memakai gaun pesta selutut dengan belahan punggung yang sangat seksi, berdiri dari duduknya. Ia bersiap untuk pergi ke belakang.

"Mau pergi ke mana?" tanya Fanny ketika melihat wanita cantik itu bersiap untuk pergi.

Marissa melihat semua orang yang ada di pesta itu sedang bernyanyi dan berdansa. Rasanya, di sini terlalu ramai untuk melakukan panggilan telepon.

Lalu ia berkata pada Fanny, "Di sini sangat berisik. Aku mau ke belakang untuk menelepon Mario!"

"Oh, itu!" Fanny pun mengerti, ia segera mengangguk. "Baiklah! Sana pergi!"

Marissa pun keluar dari ruangan itu. Ia segera pergi ke toilet untuk menelepon putranya.

Setelah memastikan putranya baik-baik saja, Marissa pun segera memesan makanan dari aplikasi di ponselnya untuk putranya di rumah. Untungnya, kurir yang mengantar makanan adalah kurir langganannya, jadi Marissa tidak perlu khawatir lagi.

Ketika Marissa sudah masuk kembali ke dalam ruangan, tiba-tiba ada teman yang menghampiri Marissa sambil membawa dua gelas minuman berwarna merah.

"Ray?" tanya Marissa pada pria itu.

"Dari mana saja kau, baru kelihatan?" tanya Marissa dengan heran.

Padahal tadi di kantor, pria itu tidak ada sama sekali.

"Hai, Sa! Baru saja aku mau mencarimu," balas Raymon—teman baik Marissa dan Fanny di kantor.

"Bukankah hari ini kau tidak masuk kerja, ya?" tanya Marissa masih dengan herannya. Namun itu membuat Raymon tersenyum.

"Ya, itu benar! Tadi aku izin dulu tidak masuk kerja! Ada sesuatu hal yang harus aku kerjakan di luar," jelasnya sambil mengulurkan tangan, memberikan satu gelas berisi minuman pada Marissa.

"Terima kasih!" Ia pun menerimanya.

Tanpa rasa curiga, Marissa segera meneguknya sedikit demi sedikit.

"Kau sangat licik! Waktunya bekerja malah tidak masuk. Tapi, giliran ada pesta, kau hadir tanpa rasa malu sedikitpun!" ejek Marissa pada Ray. Lalu mengajaknya untuk mencari Fanny.

Sambil berjalan, Ray berbicara, "Haha, ya! Aku tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini! Bisa makan gratis dan menginap di hotel berbintang secara gratis, ini tidak akan datang dua kali. Kita jangan menyia-nyiakannya, kan?"

"Hah? Menginap? Apa telingaku tidak salah mendengar?" tanya Marissa sambil menoleh ke arah Ray.

Leher putih dan panjangnya tanpa terhalang oleh apapun terpampang jelas di depan mata Ray. Rambut panjangnya digulung ke atas, memperlihatkan punggungnya yang putih, mulus, dan juga seksi.

Tiba-tiba pria itu menelan air liurnya sendiri. Tidak tahan melihat indahnya tubuh Marissa, termasuk bagian leher dan punggung yang polos.

"I-iya, lah!" Ray segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak lagi melihat Marissa.

"Ada kesempatan ini kita jangan melewatkannya!"

"Kalau menginap, aku tidak bisa!" balas Marissa dengan pelan. Mereka masih berjalan menuju meja Fanny yang ada di belakang.

"Di rumah anakku sendirian! Aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama!"

"Tidak apa-apa! Hanya satu malam saja! Bukankah sebelumnya kau juga pernah meninggalkannya sendirian di rumah saat kita ada tugas ke luar kota? Apa kau sudah lupa?" tanya Ray sedikit memaksa. Terlihat bahwa pria itu sangat ingin Marissa menginap di kamar hotel bersamanya.

"Ya! Itu, kan, berbeda! Waktu itu kita pergi untuk menjalankan tugas dari kantor. Bukan sengaja pergi untuk bersenang-senang seperti sekarang ini!"

Marissa mengalihkan pembicaraan. "Sudahlah, ayo!"

Ia berjalan semakin cepat menuju mejanya.

Ray pun tidak berbicara lagi. Ia mengikuti langkah Marissa dan berjalan menuju meja Fanny.

***

Waktu berlalu sangat cepat, jam sembilan malam waktunya Marissa untuk pulang.

"Aku pulang sekarang, ya! Tidak tenang meninggalkan Mario sendirian di rumah!" ucap Marissa sambil merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.

"Ya udah, hati-hati, ya! Aku pulang nanti saja setelah acaranya selesai!" balas Fanny.

Sedangkan Ray hanya diam saja sambil sesekali melihat gelas kosong yang ada di hadapan Marissa.

Setelah itu Marissa pun berdiri.

"Eh!" Ketika berdiri, kepalanya terasa pusing. Ia merasakan seluruh tubuhnya panas dan juga gatal. Bahkan, ada denyutan aneh yang terasa di bawah perutnya.

'Eh, aku ini kenapa?' Marissa terheran.

Dari tadi tubuhnya memang sudah tidak enak, namun ia masih bisa menahannya karena konsentrasinya teralihkan ke hal-hal yang ada di pesta tersebut. Namun sekararng?

Marissa pun segera membuang napasnya kasar. Ia tidak bisa mengontrol diri dengan hasrat yang tiba-tiba muncul. Padahal perasaan ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

'Ada apa denganku?'

Ray yang masih duduk di kursinya tiba-tiba menyadari keanehan pada diri Marissa. Dengan cepat ia berdiri, meraih pundak polos Marissa dan menunduk untuk melihat wajah cantik itu yang semakin lama semakin memerah.

"Sa! Kau kenapa? Apa tidak enak badan?" tanya Ray dengan penuh rasa khawatir.

Fanny pun menyadari keanehan itu. Ia ikut bertanya, "Iya Sa, kau kenapa? Apa kau sakit?"

"Ah, aku ...." Marissa berusaha untuk menjawab, "Entahlah, aku juga tidak tahu! Sepertinya alergiku kambuh!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 414 Ancaman

    Pukul satu, setelah jam makan siang, Marissa diantar oleh suaminya ke rumah sakit tempat Ken dirawat. Selain melihat kondisi asisten pribadi Tuan Lim yang mengalami kelumpuhan, Marissa juga ingin bertemu dengan kakeknya. DING! Sampai di lantai atas, pintu lift sudah terbuka. Danendra memegang tangan Marissa, lalu membawanya ke ruang perawatan. Tok! Tok! Tok! Danendra mengetuk pintu tiga kali. Beberapa detik kemudian, seseorang membuka pintu, lalu mempersilakan mereka untuk masuk. "Terima kasih!" ucap Danendra pada Alex—pria yang tadi pagi datang ke tempatnya. Marissa dan Danendra pun segera masuk. "Selamat siang," sapa Danendra pada Tuan Lim dan juga Ken yang berbaring lemah di tempat tidur. Danendra masih memegang tangan istrinya. Mereka segera menghampiri Tuan Lim yang sedang duduk di kursi samping tempat tidur Ken. "Akhirnya kau datang juga!" ucap Tuan Lim sinis pada Marissa. Seharusnya, Marissa datang ke rumah sakit itu dari pagi, setelah Alex datang ke tempat

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 413 Seorang Pembunuh

    "Ba-baik!" Tanpa mempedulikan Marissa dan putranya yang berjalan mendekat, Bimo segera mengambil ponselnya, ia menghubungi seseorang untuk membawa ambulans ke sana. Setelah itu, Bimo kembali memperhatikan Ken. "Se-sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?" Bimo begitu panik. Dia mengangkat Ken dan membaringkannya di sofa. Tanpa mereka sadari, Marissa dan Michael sudah pergi. Marissa membawa putranya meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan Ken yang entah bagaimana kondisinya. Di dalam mobil, Marissa terdiam sambil mengendarai mobilnya. Ia terlihat aneh dan dingin pada Michael. "Ma! Mama kenapa? Apa mereka menyakiti Mama?" tanya Michael sambil menoleh ke samping, melihat ibunya yang nampak gelisah dan tidak tenang. Namun pertanyaan dari anaknya itu membuat Marissa tersadar. Ia pun balas menatap Michael beberapa detik. "Ah, tidak! Mama tidak apa-apa. Jangan khawatir, ya!" balas Marissa yang mencoba bersikap tenang. Ia menggosok kepala Michael dengan satu

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 412 Hati Busuk

    "Aku?" Ken menunjuk dirinya sendiri. Ia mengulangi ucapan Marissa tentang ayahnya. "Tahu tentang ayahmu?" "Tentu saja! Aku tahu semua hal tentang Ghio!" Dulu, Ken mencari tahu semua hal tentang Ghio Wijaya. Tapi ia tidak tahu kalau Ghio punya anak perempuan yang sedang kuliah di Kota A. Ken pun tidak tahu kalau Marissa ini adalah anaknya Ghio. "K-kau ... kau juga tahu ayahku kecelakaan?" tanya Marissa yang masih tidak mengerti. Marissa sangat terkejut mendengar kecelakaan ayahnya dari mulut Ken. Dulu, saat masih kuliah, Marissa menerima kabar dari ibunya kalau ayahnya kecelakaan. Ia pun tidak menyangka kalau ayahnya akan meninggal dalam kecelakaan itu. Dan sekarang, tiba-tiba saja Ken membahas hal itu. Marissa jadi curiga, Ken tahu sesuatu tentang kecelakaan ayahnya. "Hahaha!" Bukannya menjawab, Ken malah tertawa sambil mendekati Marissa. Dia menatap Marissa dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu mencengkeram rahang wanita itu sambil mengeratkan gigi. "Kau ... sama

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 411 Saling Diam

    Sore hari, Marissa benar-benar dihubungi oleh seseorang. Ia diminta datang ke suatu tempat sendiri, jangan memberitahu siapapun. "Awas saja! Kalau sampai kau membawa orang lain, putramu tidak akan selamat!" "O-oke! Aku ... aku tidak akan memberi tahu siapapun!" balas Marissa dengan gugup. Antara bahagia, takut, panik, dan khawatir, semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Sekarang Marissa bisa bernapas dengan lega setelah orang itu memberi tahu keadaan putranya. Ya, walau ada sedikit rasa takut mendengar ancaman itu, tapi Marissa mencoba untuk tenang. "Bagus! Aku tunggu kedatanganmu sekarang juga!" ucap Bimo sebelum menutup teleponnya. Tanpa membuang waktu lagi, Marissa segera pergi ke alamat yang sudah dikatakan oleh Bimo. Ia tidak memberi tahu siapa pun, tidak pula memberi tahu suaminya karena takut putranya benar-benar akan disakiti. "Ke mana Marissa? Kenapa dia malah pergi?" tanya Fanny di tempat Danendra. Mereka sedang berkumpul membicarakan Michael yang hilang. "Mungk

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 410 Michael Dibawa Kabur

    Marissa memegang tangan Drizela dengan erat. Ia menenangkan anak itu agar tidak takut lagi. Dari depannya, pria itu melihat ke arah Marissa dan Drizela cukup lama. Setelah itu, lift berhenti. DING! Pintu lift terbuka. Pria yang terlihat aneh itu segera keluar dari sana, lalu pergi entah ke mana. "Ma! Aku takut ...." Drizela memeluk Marissa dengan erat. Ia tidak ingin lagi berkeliling setelah melihat pria aneh tadi. "Sebaiknya kita kembali ke atas, yuk, Ma! Aku tidak mau liat badut!" lirih Drizela dengan perasaan takut. Padahal saat ini mereka belum sampai di bawah. "Eh, kenapa tidak mau? Katanya tadi mau melihat badut?" tanya Marissa sambil menunduk. Ia melihat Drizela yang masih ketakutan sambil memeluknya. Sebelumnya, Drizela tidak pernah pergi ke manapun tanpa neneknya, juga tanpa keempat pelayan yang selalu menjaganya. Dan sekarang, ketika anak itu pergi ke tempat umum bersama ibunya, seseorang malah bersikap aneh di depannya. Jelas saja itu membuat Drizela ketakutan. "T

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bqb 409 Mencemaskanmu

    "Ahhh, tidak usah! Biar nanti saja! Sini!" Fanny merebut ponselnya kembali. Ia tidak berniat menerima panggilan dari Darius. "Kenapa? Apa kau marah padanya?" tanya Marissa, tidak mengerti. Tanpa Fanny sadari, Marissa sudah menggeser tombol hijau pada layar sehingga orang yang ada di seberang telepon bisa mendengar percakapan mereka. "Bukan! Bukan itu, Sa! Aku hanya kesal saja, pelayanku selalu memberi tahu apa yang aku lakukan pada Darius! Termasuk sekarang ini," balas Fanny yang terlihat sangat kesal. Sedari tadi, saat Fanny masih ada di dalam mobil, Darius terus mengirimnya pesan singkat. Pria itu menanyakan keberadaan Fanny yang kata pelayannya pergi keluar bersama Marissa dan anak-anak. Fanny sudah membalasnya, tapi Darius terus saja mengganggu. "Owh! Hemmm, itu bagus, Fan! Tandanya Darius sangat peduli padamu!" "Bukan peduli padaku, lebih tepatnya Darius peduli pada bayi yang ada di dalam perutku ini, Sa!" timpal Fanny yang mengerti dengan tindakan Darius. Pria it

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 170 Sely Pembunuh

    Mendengar ejekan dari adiknya, Danendra pun segera merespon. Ia menegakan punggungnya dan menatap Wilyam dengan tajam. "Siapa yang tersesat? Kemarin itu aku kehilangan koper dan pasporku! Jadi tidak bisa pulang!" jelas Danendra dengan tegas. Ia tidak terima diejek seperti itu oleh Wilyam di dep

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 167 Tidak Merasa Bersalah

    Suasana di ruang IGD rumah sakit itu seketika menjadi ribut dan ramai. Semua orang melihat perkelahian antara Danendra dengan Ethan yang sama-sama saling serang. Tidak ada dari keduanya yang mau mengalah. Hingga para petugas keamanan datang dan memisahkan mereka. "Dasar brengsek! Kau Berani mengh

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 161 Luka Tusuk

    Di jalan yang cukup ramai, Danendra mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia terus memikirkan ucapan Zain tadi tentang Marissa dan Mario yang dibawa pergi oleh orang-orang asing. Saat Danendra menghubungi ponsel Marissa, awalnya terhubung, tapi, beberapa detik kemudian panggilannya ditut

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 152 Apa Kau Sengaja?

    Di dalam rumah yang tata letaknya sama dengan rumah Marissa, wanita itu berjalan masuk ke dapur lalu mencari makanannya sendiri. Ada begitu banyak makanan cepat saji di dapur milik Zain, beberapa mie dan sayuran, juga ada kompor dan panci juga. Terlihat bahwa pria itu sering memasak makanannya di

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status