Mag-log inPukul tujuh malam di sebuah hotel berbintang di Kota A, semua orang sudah berkumpul dan sudah selesai menyantap makanannya. Marissa yang memakai gaun pesta selutut dengan belahan punggung yang sangat seksi, berdiri dari duduknya. Ia bersiap untuk pergi ke belakang.
"Mau pergi ke mana?" tanya Fanny ketika melihat wanita cantik itu bersiap untuk pergi. Marissa melihat semua orang yang ada di pesta itu sedang bernyanyi dan berdansa. Rasanya, di sini terlalu ramai untuk melakukan panggilan telepon. Lalu ia berkata pada Fanny, "Di sini sangat berisik. Aku mau ke belakang untuk menelepon Mario!" "Oh, itu!" Fanny pun mengerti, ia segera mengangguk. "Baiklah! Sana pergi!" Marissa pun keluar dari ruangan itu. Ia segera pergi ke toilet untuk menelepon putranya. Setelah memastikan putranya baik-baik saja, Marissa pun segera memesan makanan dari aplikasi di ponselnya untuk putranya di rumah. Untungnya, kurir yang mengantar makanan adalah kurir langganannya, jadi Marissa tidak perlu khawatir lagi. Ketika Marissa sudah masuk kembali ke dalam ruangan, tiba-tiba ada teman yang menghampiri Marissa sambil membawa dua gelas minuman berwarna merah. "Ray?" tanya Marissa pada pria itu. "Dari mana saja kau, baru kelihatan?" tanya Marissa dengan heran. Padahal tadi di kantor, pria itu tidak ada sama sekali. "Hai, Sa! Baru saja aku mau mencarimu," balas Raymon—teman baik Marissa dan Fanny di kantor. "Bukankah hari ini kau tidak masuk kerja, ya?" tanya Marissa masih dengan herannya. Namun itu membuat Raymon tersenyum. "Ya, itu benar! Tadi aku izin dulu tidak masuk kerja! Ada sesuatu hal yang harus aku kerjakan di luar," jelasnya sambil mengulurkan tangan, memberikan satu gelas berisi minuman pada Marissa. "Terima kasih!" Ia pun menerimanya. Tanpa rasa curiga, Marissa segera meneguknya sedikit demi sedikit. "Kau sangat licik! Waktunya bekerja malah tidak masuk. Tapi, giliran ada pesta, kau hadir tanpa rasa malu sedikitpun!" ejek Marissa pada Ray. Lalu mengajaknya untuk mencari Fanny. Sambil berjalan, Ray berbicara, "Haha, ya! Aku tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini! Bisa makan gratis dan menginap di hotel berbintang secara gratis, ini tidak akan datang dua kali. Kita jangan menyia-nyiakannya, kan?" "Hah? Menginap? Apa telingaku tidak salah mendengar?" tanya Marissa sambil menoleh ke arah Ray. Leher putih dan panjangnya tanpa terhalang oleh apapun terpampang jelas di depan mata Ray. Rambut panjangnya digulung ke atas, memperlihatkan punggungnya yang putih, mulus, dan juga seksi. Tiba-tiba pria itu menelan air liurnya sendiri. Tidak tahan melihat indahnya tubuh Marissa, termasuk bagian leher dan punggung yang polos. "I-iya, lah!" Ray segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak lagi melihat Marissa. "Ada kesempatan ini kita jangan melewatkannya!" "Kalau menginap, aku tidak bisa!" balas Marissa dengan pelan. Mereka masih berjalan menuju meja Fanny yang ada di belakang. "Di rumah anakku sendirian! Aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama!" "Tidak apa-apa! Hanya satu malam saja! Bukankah sebelumnya kau juga pernah meninggalkannya sendirian di rumah saat kita ada tugas ke luar kota? Apa kau sudah lupa?" tanya Ray sedikit memaksa. Terlihat bahwa pria itu sangat ingin Marissa menginap di kamar hotel bersamanya. "Ya! Itu, kan, berbeda! Waktu itu kita pergi untuk menjalankan tugas dari kantor. Bukan sengaja pergi untuk bersenang-senang seperti sekarang ini!" Marissa mengalihkan pembicaraan. "Sudahlah, ayo!" Ia berjalan semakin cepat menuju mejanya. Ray pun tidak berbicara lagi. Ia mengikuti langkah Marissa dan berjalan menuju meja Fanny. *** Waktu berlalu sangat cepat, jam sembilan malam waktunya Marissa untuk pulang. "Aku pulang sekarang, ya! Tidak tenang meninggalkan Mario sendirian di rumah!" ucap Marissa sambil merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. "Ya udah, hati-hati, ya! Aku pulang nanti saja setelah acaranya selesai!" balas Fanny. Sedangkan Ray hanya diam saja sambil sesekali melihat gelas kosong yang ada di hadapan Marissa. Setelah itu Marissa pun berdiri. "Eh!" Ketika berdiri, kepalanya terasa pusing. Ia merasakan seluruh tubuhnya panas dan juga gatal. Bahkan, ada denyutan aneh yang terasa di bawah perutnya. 'Eh, aku ini kenapa?' Marissa terheran. Dari tadi tubuhnya memang sudah tidak enak, namun ia masih bisa menahannya karena konsentrasinya teralihkan ke hal-hal yang ada di pesta tersebut. Namun sekararng? Marissa pun segera membuang napasnya kasar. Ia tidak bisa mengontrol diri dengan hasrat yang tiba-tiba muncul. Padahal perasaan ini tidak pernah terjadi sebelumnya. 'Ada apa denganku?' Ray yang masih duduk di kursinya tiba-tiba menyadari keanehan pada diri Marissa. Dengan cepat ia berdiri, meraih pundak polos Marissa dan menunduk untuk melihat wajah cantik itu yang semakin lama semakin memerah. "Sa! Kau kenapa? Apa tidak enak badan?" tanya Ray dengan penuh rasa khawatir. Fanny pun menyadari keanehan itu. Ia ikut bertanya, "Iya Sa, kau kenapa? Apa kau sakit?" "Ah, aku ...." Marissa berusaha untuk menjawab, "Entahlah, aku juga tidak tahu! Sepertinya alergiku kambuh!"Waktu sudah semakin malam, tapi Marissa masih berada di basement apartemen sambil mencari benda kecil yang entah ada di mana. Lututnya pun benar-benar sudah terluka dan berdarah karena goresan-goresan ke lantai. "Arghhh!" Inginnya memaki pria yang saat ini masih bersandar di tiang besar sambil melihatnya mencari kunci mobil. Tapi Marissa tidak bisa. Ia hanya bisa marah pada angin malam yang berhembus. Ia pun melampiaskan kekesalannya dengan menendang salah satu mobil yang ada di depannya. "Aish!" DUGGG! Seketika mobil itu berbunyi kencang. Marissa pun menjadi panik. Tanpa berpikir lagi, ia segera berlari seperti pecundang meninggalkan basement dan meninggalkan Danendra yang masih ada di sana. Lalu masuk ke dalam gedung dan segera masuk ke dalam lift. Marissa tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Entah bagaimana reaksi sang pemilik mobil ketika alarm mobilnya berbunyi kencang, dan tidak tahu juga apa yang Danendra lakukan setelah itu. Yang jelas, Marissa sangat kesal
Setelah Luna pergi, Marissa juga berpamitan pada Zain. Ia ingin segera pulang, lalu tidur. "Mana ponselku! Aku mau pulang sekarang!" Marissa mengulurkan tangan ke depan Zain. Ia meminta ponselnya sebelum pergi. "Nanti saja, makanannya belum habis!" balas Zain tanpa mempedulikan permintaan Marissa. Ia pun kembali masuk ke dalam. "Aishhh! Ini sudah pukul sembilan! Aku harus segera pulang! Takutnya Michael tidak bisa tidur karena menungguku!" balas Marissa sambil mengikuti Zain ke ruang keluarga. Marissa tidak duduk. Ia hanya berdiri di samping sofa yang diduduki oleh Zain sambil meminta ponselnya. "Cepatlah, mana ponselku?" "Ya, sebentar lagi! Habiskan dulu makananmu!" "Aku tidak makan! Perutku masih kenyang! Kau habiskan saja semuanya sendiri!" balasnya yang sudah mulai kesal. Pria itu terus saja mengulur waktu agar dirinya tidak pergi. "Hah? Bagaimana bisa makanan sebanyak ini dihabiskan sendiri? Ayo, kita habiskan bersama!" canda Zain. Ia pun menarik tangan Marissa
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.17, Marissa sudah sampai di depan pintu tempat tinggal Zain. Tanpa membuang waktunya lagi, Marissa menekan beberapa angka—kata sandi—di pintu, lalu bersiap masuk ke dalam. Di tangan kirinya ada kantong berisi beberapa jenis makanan untuk pria itu. Sebelum benar-benar masuk, tiba-tiba Luna membuka pintu miliknya, lalu melihat Marissa. "Eh! Kita bertemu lagi! Bawa apa, itu? Makanan, ya?" tanyanya basa-basi. Dari depannya tercium wangi makanan dari dalam kantong yang Marissa bawa, siapa saja yang menciumnya akan merasa lapar. "Eh, Luna!" sapa Marissa juga. Ia menunjuk kantong yang ada di tangannya. "Ya, ini makanan untuk temanku!" "Kau sendiri, mau pergi ke mana?" tanya Marissa sambil melihat Luna membawa kantong kresek berwarna hitam. Selain ada kresek hitam, di tangannya juga ada ponsel yang terus dipegang. Lensa kameranya mengarah ke arah Marissa. "Ah aku! Aku mau pergi ke bawah! Aku duluan, ya!" pamit Luna. Setelah itu ia pergi dan m
Pukul 7 malam, Ambar sudah pulang. Marissa pun segera mengajak putranya ke unit yang ada di samping. "Ma! Kenapa kita pindah ke sini? Bagaimana dengan Papa Zain? Apa Papa Zain tidak ikut bersama kita?" tanya Michael di kamarnya yang baru. Apartemen ini memiliki 3 kamar tidur yang bisa digunakan untuk Marissa, Fanny, dan juga Michael. Mulai sekarang, anak itu bisa belajar tidur sendiri. "Tidak! Papa Zain masih ada di Ini House Residen, tidak ikut pindah ke sini!" balas Marissa. Setelah itu, ia mengajak Michael pergi ke ruang keluarga. "Bagaimana, apa kau suka dengan kamarnya?" tanya Marissa sambil berjalan bersama menuju ruang keluarga. Marissa pun tahu dari Wilyam, Michael punya kamar sendiri yang sangat bagus dan luas di rumah keluarga Adipraja. Anak itu sangat bahagia walau tanpa ibunya. Jadi sekarang Marissa segera menyiapkan kamar tidur yang tidak kalah bagus dengan kamar yang ada di rumah keluarga itu untuk Michael. "Suka, Ma! Aku sangat suka! Mulai sekarang, aku bis
Ambar terus saja memaksa. Dia ingin Michael ikut dengannya pulang. Padahal di sini ada ibu kandung yang juga sangat merindukan anak itu. "Kita tanya saja anaknya langsung, mau ikut dengan Mama atau ikut dengan Marissa?" "Oke!" Dengan percaya dirinya Ambar menyetujui ide dari Danendra. Ambar sangat yakin, Michael akan memilih dirinya. Karena hidup dengannya sangatlah enak, mau apa pun tinggal bilang. Sekalipun menginginkan barang yang sangat mahal, Ambar pasti akan menuruti. Tanpa membuang waktunya lagi, Danendra segera bertanya, "Sekarang, Michael mau pulang sama Nenek atau Mama?" "Eh!" Michael melihat ibu dan neneknya silih berganti. Seolah dirinya sedang memilih. "Mama! Aku ingin pulang bersama Mama!" jawabnya tiba-tiba. Marissa pun tersenyum. Ia merasa lega karena anaknya sudah memilih ibunya daripada nenek. "Eh, Michael, kenapa tidak pulang bersama Nenek? Bukankah mainan yang Michael beli kemarin masih ada di rumah? Selain itu, ada baju, sepatu di rumah! Sebaiknya
Pukul delapan malam, Marissa masih ada di ruang perawatan seorang diri, karena Danendra pergi ke luar untuk membeli makanan. Saat ini, Michael pun sudah sadar dan sudah bisa bercerita. "Ma! Apa Mama tahu, sekarang aku punya panggilan baru, loh!" ucap Michael dengan lemah. Di tangannya masih ada jarum infus, tapi ia ingin bercerita banyak hal pada ibunya. "Panggilan baru? Apa itu?" tanya Marissa sambil mengelus keningnya yang masih terasa hangat. Marissa pun duduk di samping Michael. "Adik! Panggilan baruku Adik! Kata Nenek, aku lahir paling terakhir, jadi panggilannya harus Adik! Kalau Izela, dia lahir pertama, jadi panggilannya Kakak!" jelas Michael dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia. Michael sangat bahagia punya saudara kembar dan punya keluarga yang lengkap. Sekarang, dirinya sudah sama seperti anak-anak yang lain, punya ayah, punya ibu, kakak, nenek, dan bahkan paman. Semua itu benar-benar membuatnya bahagia. "Apa kau suka dengan panggilan itu?" tanya Mari
"Memangnya apa yang aku lakukan sekarang?" Danendra bertanya dengan tenang. Dia menyembunyikan perasaan gelisahnya mendengar ucapan Josep itu. "Kau ...." Ayahnya membentak. Lalu berkata dengan tegas, "Dua hari pergi ke Kota K untuk mencari si janda—Marissa—dan meninggalkan kewajibanmu di kantor! S
Beberapa bulan yang lalu, saat Marissa pergi dari rumah dan meninggalkan ibunya dengan keadaan —renovasi—ruko yang masih belum selesai, Marissa tidak tahu kalau Danendra selalu datang ke tempat ibunya dan membantu Merina menyelesaikan renovasi ruko. Danendra juga menjadikan rumah makan Merina itu m
"Brengsek! Kau berani mengganggu wanitaku! Akan kubunuh, kau!" Danendra begitu emosi melihat Darius di atas sana. Ia segera menaiki tangga menghampiri Darius. Pria yang ada di lantai dua itu hanya tersenyum penuh kepuasan melihat Danendra yang marah. "Satu sama!" ejeknya tanpa rasa takut. "Du
"Iya! Tolonglah! Ajak Marissa kemari, sebentar saja! Ini demi nyawa Diego!" Darius ingin meyakinkan Danendra, bahwa ini semua demi keselamatan anak itu. Namun, Danendra tidak tertarik dengan alasan Darius. Jika dari awal Darius sangat menyayangi anak itu dan ingin menyelamatkan anak itu, harusny







