Share

Bab 137 Misi

Author: Tusya Ryma
last update Last Updated: 2026-02-07 23:19:07

Jonson dan Wilyam masih terkejut. Mereka terdiam sambil mendengar penjelasan Danendra.

"Iya! Hari ini aku dan Marissa sudah mengambil akta pernikahan! Satu atau dua bulan lagi, aku ingin mengadakan pesta khusus untuk keluarga, kerabat, dan para sahabat—merayakan penikahan kami! Kebetulan, sekarang kita sedang berkumpul, jadi bisa sekalian membahas masalah ini!"

Danendra sengaja mengatakan kebenaran itu pada semua orang. Ia sudah siap menerima konsekuensi atas tindakannya yang menikahi Maris
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 153 Sentuhan

    "Apa? Diculik? Apa kau anak kecil, bisa diculik dan dimintai tebusan? Jangan mengada-ngada, itu sama sekali tidak masuk akal! Siapa juga yang mau menculik orang dewasa sepertimu?" Danendra tidak percaya dengan penjelasan Marissa. Mungkin saja istrinya mengarang cerita agar perselingkuhan mereka tidak diketahui olehnya. "Tidak! Itu memang benar! Aku tidak mengada-ngada!" "Sudahlah! Katakan dengan jujur! Kau dan pria itu ada hubungan, kan? Kalau berkata jujur, aku akan memaafkanmu!" Sebenarnya Danendra sangat membenci hal itu. Penghianatan yang dulu dia terima dari wanita yang dinikahinya, membuat Danendra terpuruk dan bahkan trauma. Ia tidak mau hal itu terulang lagi, apalagi Marissa adalah wanita yang dicintainya. Itu akan sangat menyakitkan dari sebelumnya. "Sungguh! Aku sama sekali tidak berbohong! Kemarin aku memang diculik dan dibawa ke suatu tempat yang sepi! Untung saja aku segera menghubungi Zain dan meminta bantuannya! Kalau tidak, mungkin saat ini aku tidak ada di r

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 152 Apa Kau Sengaja?

    Di dalam rumah yang tata letaknya sama dengan rumah Marissa, wanita itu berjalan masuk ke dapur lalu mencari makanannya sendiri. Ada begitu banyak makanan cepat saji di dapur milik Zain, beberapa mie dan sayuran, juga ada kompor dan panci juga. Terlihat bahwa pria itu sering memasak makanannya di dapur. Marissa pun mengerutkan kening. Ia menatap pria yang berdiri di dalam rumah sambil memeluk piring itu dengan tajam. Marissa tidak mengerti, mengapa setiap hari pria itu selalu meminta air panas pada Marissa? Padahal di rumahnya ada alat masak. Zain bisa menghangatkan airnya di kompol menggunakan panci, tidak perlu lagi meminta air panas pada orang lain. "Apa kau sengaja?" Tiba-tiba Marissa bertanya seperti itu pada Zain. Ia masih menatap pria itu dengan tajam. Terlihat Zain mendekat. Ia menyimpan piringnya di rak, lalu menghampiri Marissa. Zain bertanya dengan heran, "Sengaja apa?" Apa sengaja membiarkan dapurnya berantakan? "Ini ... nanti aku bereskan!" ucapnya sambil

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 151 Kepulangan Anak dan Suami

    "Mama!" Mario berteriak saat melihat Marissa. Ia memeluk kaki ibunya dan terus memanggil. "Mama!" Marissa terdiam. Putra yang selama ini dia rindukan, sekarang benar-benar ada di depan matanya, dan bahkan memeluk kedua kakinya dengan erat. Marissa tidak bisa berkata apapun. Ia terpaku, rasanya dunia berhenti saat itu juga. "Sayang! Kau baik-baik saja, kan?" Danendra yang ada di belakang anak itu bertanya dengan pelan. Danendra sudah sangat lelah karena dua hari ini tidak tidur. Ia melihat wanita itu berdiri bengong tanpa bergerak. Marissa benar-benar tidak menyangka dengan kejutan ini. Bukan hanya suaminya saja yang sudah kembali dan berdiri di hadapannya, tapi juga anak yang beberapa waktu lalu berpisah dengannya itu, kini sudah ada di depannya. Bahkan anak itu terus memeluk Marissa dengan erat. "Sayang! Apa kau tidak senang kami kembali?" Danendra berkata lagi karena Marissa masih terdiam dan melamun. Ia pun mendekat. Danendra tidak bisa terus seperti ini. Sudah b

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 150 Aku baik-baik saja

    Setelah Marissa naik ke atas motor tinggi dan besar itu, bukannya membelokan motornya dan pergi dari sana, Zain malah berjalan lurus menuju rumah tua itu. Ia menghiraukan teriakan Marissa dari belakang. Dia terus saja berjalan. "Zain! Apa yang kau lakukan? Kenapa membawaku ke rumah tua itu lagi? Apa kau ...." Marissa tidak mampu mengatakan apa yang dirinya pikirkan. Bukannya membawa Marissa pulang, Zain malah membawa Marissa ke tempat itu lagi. "Za-Zain! Apa kau komplotan mereka juga?" Ternyata, selama ini Marissa berteman dengan seorang penjahat. Daripada mengikuti Zain ke rumah tua itu lagi, lebih baik kalau Marissa terluka karena loncat dari motor itu. Niat Marissa pun sudah bulat. Ia akan loncat dari motor Zain dan melarikan diri lagi. Saat ada gerakan dari orang yang duduk di belakangnya, Zain pun mulai tersadar. Ada sesuatu yang aneh dari wanita di belakangnya. "Apa yang kau lakukan? Diamlah! Kita bisa celaka kalau terus bergoyang seperti itu!" ucap Zain seteng

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 149 Anak Orang Kaya

    Hari sudah sangat larut, suasana di tempat itu pun semakin malam semakin menyeramkan. Marissa tidak menyadari ponsel yang ada di dalam tasnya masih menyala, dan seseorang dari seberang telepon masih bisa mendengar dan mengetahui apa yang terjadi di tempatnya. 'Besok pagi, orang-orang itu akan membawa Marissa pergi!' Zain harus segera menjemput Marissa sebelum mereka meninggalkan lokasi itu. *** Pukul 02.00, Marissa yang sedari tadi tidak bisa tidur, kini berdiri di depan pintu lalu menajamkan pendengarannya. Ia menempelkan telinga di pintu dan menutup kedua mata agar bisa lebih konsentrasi mendengar pergerakan dari luar. Namun, setelah didengarkan, tidak ada pergerakan apapun di sana. Sepertinya mereka sudah tidur. Setelah beberapa menit membungkuk dengan posisi seperti itu, akhirnya Marissa menarik tubuhnya kembali d

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 148 Mencari Bantuan

    Di rumah tua yang sangat sepi, samar terdengar suara hewan-hewan dari sekitaran rumah tersebut. Bukan hanya suara hewan-hewan kecil saja, hewan besar seperti long-longan anjing pun begitu jelas terdengar. Marissa yang dikurung di tempat yang sepi itu merasa merinding dan sedikit takut. Marissa masih tidak habis pikir dengan orang-orang yang tega menculiknya itu, disuruh oleh orang lain pun mereka mau saja. Padahal, sebelumnya, mereka ada di rumah susun yang Marissa tinggali. "Apa mereka sengaja, menyewa rumah itu hanya untuk menguntitku?" Dipikir lagi, kedua orang itu bodoh juga sebagai seorang penjahat. Mereka tidak mengikat tangan Marissa agar wanita itu tidak bisa bergerak. Tidak pula mengambil tas yang Marissa bawa dan mengambil ponsel di dalamnya. Mereka terlihat seperti penjahat baru kemarin sore. Benar-benar tidak ada pengalaman. Marissa pun segera membuka tas kecil di tubuhnya, lalu mengambil ponsel dan mengirim pesan singkat pada seseorang. Awalnya Marissa mengirim

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status