LOGINDi dalam mobil, Marissa terheran ketika melihat jalanan yang tidak sama dengan jalan menuju tempat tinggalnya. "Eh, kita mau ke mana dulu? Tidak langsung pulang, ya?" tanya Marissa pada suaminya yang duduk di sampingnya. Selain ada Danendra dan Marissa, ada juga Drizela yang duduk bersama mereka, sedangkan Michael duduk di kursi depan bersama Asisten Anas yang sedang mengendarai mobil. "Hehe!" Danendra tersenyum. Ia sangat bangga bisa mengajak Marissa dan anak-anaknya tinggal di rumah baru yang sudah dibuatnya dengan waktu pembangunan yang cukup lama. Mungkin rencana pembangunannya sudah ada saat Marissa hamil anak pertama. Hanya saja, saat itu Marissa dan Danendra ada masalah, jadi pembangunan rumah itu dihentikan sementara waktu. "Nanti juga Sayang akan tahu!" jawab Danendra masih dengan senyum lebarnya. "Apa kita akan pergi berbelanja dulu? Atau ... mengajak anak-anak bermain?" tebak Marissa sambil melihat ke arah anak-anaknya. Mereka pun balas melihat Marissa. Dari
"Minggir! Minggir!" "Semuanya minggir!" Petugas kepolisian bergegas menahan orang-orang yang akan mendekat. Mereka semua memegang ponselnya masing-masing, lalu merekam kejadian tersebut, di mana tubuh seorang pria tergeletak di aspal dengan genangan darah yang terus keluar. "Ah ...." Melihat hal mengerikan itu, akhirnya Marissa tidak kuat lalu pingsan. Tuan Lim yang ada di sampingnya pun segera memeluk dan menahannya agar tidak terjatuh. Dari depannya, Danendra berlari, lalu menghampiri Marissa yang terlihat lemah. "Apa yang terjadi? Marissa kenapa?" tanyanya dengan cemas. Danendra melihat Marissa memejamkan mata. Ia semakin panik, lalu memanggil bawahannya dan memintanya untuk segera membawa Marissa ke rumah sakit. Di dalam mobil, Danendra begitu cemas, bukan hanya karena melihat kejadian mengerikan yang terjadi pada Ken, tetapi juga karena melihat istrinya yang saat ini tidak sadarkan diri. Tuan Lim sudah menceritakan kronologi kejadiannya pada Danendra, dan ia pun semakin
"Siapa yang tidak tahu diri? Aku atau kau?" Tuan Lim benar-benar tidak mengerti. Kenapa dia yang jahat, tapi dia sendiri yang merasa terzalimi? Bukannya menjawab, Ken malah menyeret Tuan Lim keluar dari apartemen itu. "Ahhh!" Tindakan Ken yang kasar itu membuat Tuan Lim hampir tersungkur. "Kemari, kita harus bicara!" Ken menutup pintu dengan keras hingga Marissa yang ada di dalam merasa terkejut. Ken menarik Tuan Lim ke dalam lift. "Eh, lepaskan! Apa yang kau lakukan? Dasar tidak tahu diri!" Tuan Lim menghempaskan tangannya dari genggaman Ken. Tuan Lim yang memang bukan pria tua yang lemah, mencoba melawan Ken yang pernah menganiayanya. Tuan Lim tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. "Diam! Kita harus berbicara!" Ken masih saja memaksa. Ia bersiap menutup pintu lift. Sebelum pintunya benar-benar tertutup, tiba-tiba Marissa keluar dari unit apartemen, lalu berteriak pada Ken dan Tuan Lim. "Tunggu!" Marissa bergegas menghampiri mereka. Ken kembali membuka pintu. Ia terl
Benar saja, Ken yang masih dendam pada Marissa, juga pada Tuan Lim yang kabur entah ke mana, akhirnya datang ke tempat tinggal Danendra. Dia memakai pakaian serba hitam, juga topi hitam yang ditarik ke depan hingga menutupi hampir sebagian wajahnya. Orang-orang yang berpapasan dengannya pun tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Sebelum mencari Marissa, terlebih dahulu Ken menemui petugas keamanan. Dia meminta bantuan petugas itu untuk memanggil Marissa. "Tolong sampaikan pada Nona Marissa, ada paket dari seseorang! Suruh dia menemuiku di tempat parkir. Soalnya paketnya lumayan besar, masih ada di dalam mobil!" jelas Ken dengan sedikit berbohong. "Oh! Nona Marissa istrinya Pak Danendra, ya?" "Iya, itu!" "Baik! Tunggu sebentar! Akan saya panggilkan!" Setelah itu, petugas keamanan benar-benar pergi ke lantai atas. Dia segera ke unit apartemen milik Danendra. Di depan pintu apartemen, pelayan membuka pintu setelah ada bunyi bel. Petugas keamanan pun segera menyampaikan apa yang
"Oh, iya! Silakan!" Marissa pun mempersilakan Dokter Ma untuk keluar. Ia mengantar dokter itu sampai ke depan pintu. *** Sore hari, Danendra sudah kembali bersama anak-anaknya. Namun, ia langsung mengantar mereka ke rumah orang tuanya karena di apartemen ada Tuan Lim yang sedang sakit. Takutnya anak-anak mengganggu kakek Marissa yang sedang dalam masa pemulihan itu. "Bagaimana keadaan Tuan Lim sekarang? Apa dia mau makan?" tanya Danendra di ruang keluarga. Tadi siang Marissa bilang padanya kalau Tuan Lim tidak ingin makan. Dia hanya terdiam sambil memejamkan mata, padahal tidak tidur. "Ya! Sedikit demi sedikit sudah ada makanan yang masuk. Tapi Tuan Lim masih tidak mau berbicara!" balas Marissa yang terlihat sedih. Sesuai dengan apa yang Marissa dengar dari Bram, Tuan Lim sengaja berpura-pura gila di depan Alex. Padahal sebenarnya dia baik-baik saja. Hanya perasaannya saja yang sakit karena ditikam langsung dari belakang oleh orang yang sudah dianggapnya sebagai anak. Itu
"Tadi ... wanita itu memaksa saya untuk bangun. Padahal saya sudah bilang, saya tidak bisa. Tapi dia terus memaksa!" Ken mengarang cerita. Ia tetap dengan pendiriannya, "Lumpuh!". "Hem ...." Tentu saja, bodyguard yang menyamar menjadi perawat itu tidak percaya dengan apa yang Ken katakan. Sesuai dengan apa yang tadi dia lihat dari rekaman kamera tersembunyi yang ada di ruangan itu, Ken menyerang Marissa dan terus menekannya ke tempat tidur. Ken baik-baik saja dan dia tidak lumpuh. "Ya, sudah! Kalau begitu, saya permisi!" Bram tidak peduli lagi. Ia bersiap pergi meninggalkan Ken di ruangan itu. Yang terpenting saat ini, mereka sudah punya bukti atas kebohongan dan kejahatan Ken. Cepat atau lambat, pria jahat itu akan segera dilaporkan ke polisi. Setelah Bram pergi, akhirnya Ken bisa bernapas dengan lega. Ia mengambil ponselnya yang disembunyikan di bawah bantal, lalu menghubungi seseorang. Ia meminta orang itu untuk datang ke kamarnya. Lima menit kemudian, orang yang dihubungin
Dua hari kemudian adalah tepat hari Minggu. Marissa dan Mario masih belum puas menghabiskan waktu bersama, tapi mereka sudah harus berpisah. Hari Minggu ini, Mario diajak pergi oleh tuan dan nyonya ke luar kota untuk menyusul Danendra yang sudah berangkat dari dua hari yang lalu. Danendra pergi k
"Minggir! Apa kau ingin mati tertabrak?" teriak seseorang dari jendela mobil yang sudah dibuka. Dia mengendarai mobilnya sendiri tanpa ditemani oleh sopir. Marissa yang mendengar teriakan itu segera tersadar dan berpindah ke arah samping. Ia tidak menghalangi jalan mobil itu lagi. Mobil pun ber
"Mama! Apa benar Mama sakit karena memikirkan aku? Aku baik-baik saja di sini bersama bos Mama!" Yang Mario tahu hanya itu. Pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu adalah bos ibunya di kantor. Mereka pernah bertemu sebelumnya dan mereka pernah menginap di apartemennya. Itulah yang membuat M
Di kamar berukuran 3 x 3 meter persegi, Fanny masuk dan menghampiri Marissa yang ada di atas tempat tidur. Wanita itu sedang duduk sambil memegang kedua lututnya di depan dengan pandangan mata terus melihat ke arah luar jendela. Ekspresi wajahnya begitu mengerikan, layaknya seorang wanita yang seda







