LOGIN"Bagaimana Sa? Sekarang kau percaya, kan, ada dua bayi di dalam perutmu?" tanya Fanny yang menemani Marissa di ruang periksa. Saat ini dokter dan susternya sedang menyiapkan obat. "Ya!" Marissa pun mengangguk. Ia duduk bersama Fanny di depan meja dokter. "Sekarang aku harus bagaimana?" tanya Marissa dengan pelan. Pandangan matanya sedikit kosong dan melihat ke sembarang arah. Pikiran Marissa masih kacau, dan beban di kepalanya semakin banyak. Ia memikirkan banyak hal, termasuk bayi tak berdosa yang ada di perutnya. "Bagaimana apanya?" Fanny tidak mengerti. Ia segera memegang kedua bahu Marissa, memaksa teman baiknya itu untuk menatap dirinya. "Dengarkan aku! Yang harus kau lakukan saat ini ialah... fokus pada bayi yang ada di dalam perutmu! Jangan lagi memikirkan hal-hal yang membuatmu stres! Kematian Tante Merina, aku tahu, dan aku pun bisa merasakannya! Kau pasti sedih dan kecewa! Tapi kau tidak boleh murung terus, ibumu akan sedih melihatmu seperti ini! Ayo, semangat, Sa! Tun
Pukul delapan malam, Fanny mengetuk pintu kamar Marissa beberapa kali, lalu mendorong pintu tanpa mendengar jawaban dari dalam. Seketika pintu kamar itu terbuka lebar, cahaya terang dari lampu luar langsung masuk ke dalam kamar yang nampak gelap. Fanny pun segera menyalakan lampu kamar itu dan melihat Marissa berbaring di tempat tidur tanpa memakai selimut. "Sa! Bangunlah! Jangan dulu tidur, kau kan belum makan!" ucap Fanny sambil berjalan menghampiri Marissa. Ia duduk di samping tempat tidur, lalu mengusap punggung Marissa dengan pelan. Wanita itu tidur menyamping, memunggungi Fanny. "Sa! Apa kau sudah tidur?" Fanny menunduk, melihat Marissa yang tiba-tiba membuka matanya dengan tatapan tajam menatap Fanny. Tindakan Marissa itu membuat Fanny terkejut. Dia hampir loncat ke bawah saking terkejutnya melihat tatapan maut Marissa. "Kau sungguh mengagetkan aku!" ucap Fanny sambil mengelus dadanya sendiri. Marissa pun segera bangkit, lalu duduk sambil bersandar di kepala tempa
Danendra tidak menyangka, Sely, yang kabur dari rumah tahanan itu malah datang ke Kota B dan membuat masalah di tempat usaha ibunya Marissa. Ini sungguh aneh. "Coba, putar ulang saat mereka bertiga duduk di meja itu!" tunjuk Danendra pada layar laptop di depannya. Saat ini, Asisten Anas dan Danendra sedang duduk di sofa kamar Danendra sambil melihat rekaman CCTV pada saat seseorang menaruh racun di makanan pelanggan itu. "Yang ini, Tuan?" tanya Asisten Anas yang sudah memutar ulang kejadian sebelumnya. "Coba, putar lagi, tapi dipelankan saja! Aku ingin melihatnya dengan jelas, wanita yang memakai topi hitam dan masker itu benar Sely atau bukan?" jelas Danendra sambil menatap tajam layar di depannya. Ia begitu fokus memperhatikan gelagat aneh mereka bertiga yang akhirnya satu pria menaburkan serbuk di atas makanan yang dibawanya. "Lihatlah! Dia mulai membuka topi dan maskernya. Coba perbesar lagi gambar wanita itu!" perintah Danendra yang semakin tidak sabar. Asisten Anas
Setelah selesai memeriksa tempat makan Merina dan mengambil perangkat CCTV yang dulu dipasang oleh Danendra untuk keamanan tempat itu, sekarang mereka pergi ke rumah Marissa untuk bertemu dan menjemputnya pulang. Namun ternyata, di kota kelahiran istrinya ini, Danendra malah tidak bisa bertemu dengan Marissa. Wanita itu tidak ada di manapun, termasuk di rumahnya sendiri. "Apa Marissa belum pulang ke rumah?" tanya Danendra pada tetangga yang sedang duduk di luar bersama tetangga lain. Karena tadi mereka mengatakan Marissa tidak ada. "Ya, Tuan! Setelah Merina dimakamkan, Marissa tidak pulang ke sini lagi! Mungkin sekarang dia tinggal di rumah pria itu," jelas Bu Nemi yang kemarin—pada saat di pemakaman—Marissa dibawa oleh seorang pria. "Hah? Pria? Pria yang mana lagi?" Danendra lebih serius lagi. Ia selalu merespon berlebih jika sudah membahas masalah pria lain di hidup Marissa. Trauma karena dulu dikhianati oleh istrinya menjadi sesuatu hal yang membuat Danendra seperti ini. "Ap
Mendengar hal itu, Danendra pun segera mempersilahkan, "Kalau begitu, naiklah! Wilyam ada di lantai 5!" Danendra melepaskan pegangan Luna di lengannya. Lalu menunjuk lift yang ada di pojok kanan lobi untuk wanita itu pergi. "Silahkan!" "Aishhh! Kau ini ... aku masih ingin berbincang denganmu! Kenapa kau malah mengusirku?" Luna terlihat kesal. Apalagi Danendra terus menghindar saat dipegang olehnya. Itu sangat menyebalkan. Biasanya, kalau diantara persahabatan ada pria dan wanita, si wanita pasti akan lebih diistimewakan di geng mereka. Tapi ini, bukannya dimanjakan karena Luna merupakan teman wanita satu-satunya, dia malah terus diacuhkan oleh Danendra. Padahal kemarin sikapnya sudah sangat baik. "Apa kau tidak ingin bertanya, aku bekerja sebagai apa di perusahaan ini?" Luna semakin sebal lagi. Danendra benar-benar tidak peduli dirinya bekerja di bagian mana dan apa pekerjaannya. "Paling hanya cleaning service!" "Danennn! Kau sungguh keterlaluan!" teriak Luna setelah mendenga
Di dalam mobil yang terasa hening, Fanny masih duduk di kursi baris ke dua sambil mengelus kepala Marissa yang ada di pangkuannya. Marissa belum sadarkan diri, Fanny pun tidak tahu harus berbuat apa selain mengikuti Darius. "Sebaiknya kita bawa Marissa ke rumah sakit dulu!" ucap Fanny, memecah keheningan di dalam mobil itu. Perjalanan yang ditempuh dari Kota B ke Kota K lumayan jauh. Fanny khawatir, keadaan Marissa yang lemah seperti ini malah akan mengganggu perkembangan janin yang ada di dalam perutnya. "Iya, Pah! Tante Fanny benar! Sebaiknya kita bawa dulu Mama ke rumah sakit!" Mario segera menoleh ke belakang dan melihat tubuh lemah ibunya. Ia pun tidak tega melihat Marissa berbaring di mobil tanpa bergerak. Melihat putranya berpendapat seperti itu, Darius pun merespon. "Baiklah! Papa akan membawa ibumu ke klinik dokter terdekat! Kalau harus pergi ke rumah sakit, itu terlalu jauh!" "Oh, ya, sudah! Cepatlah, Pah! Cepat bawa Mama ke dokter!" Mario pun tidak sabar. Ia yak
"Bagaimana bisa tiba-tiba Darius menjadi ayah biologis Mario?" tanya Marissa dengan heran. "Bukankah sebelumnya kau yang melakukan tes DNA itu dan mengambil Mario dari tanganku?" Marissa tidak akan lupa, dirinya dan anak itu terpisah karena Danendra mengambil Mario dari tangannya. Jika memang an
Jika orang lain yang mengalami kejadian ini, mungkin pria itu sudah dibunuhnya hingga tidak ada lagi di dunia ini. "Kenapa? Kau kasihan padaku, ya?" canda Danendra, yang juga membalas tatapan Marissa padanya. Danendra mengerti dengan tatapan penuh arti dari wanita di depannya itu. Ia pun tahu,
Mario terkejut ketika melihat ayahnya sudah ada di belakang. Ia segera menoleh untuk melihat. "Pa-Papa Danen???" Walau tahu Danendra sudah pulang dan masuk ke rumah, tapi anak itu tidak menyangka, ekspresi ayahnya akan seperti itu saat melihatnya di dapur. Mario pun menjadi takut dengan reaksi ay
Malam ini, Marissa tidak bisa tidur dengan nyenyak setelah kepulangan pria itu dari rumahnya. Marissa berbaring di samping putranya sambil terus memikirkan tentang ajakan Danendra untuk menikah. Pria itu berjanji akan membatalkan pernikahannya dengan Sely dan akan memenangkan hak asuh anak atas g







