LOGINPukul delapan malam, Fanny mengetuk pintu kamar Marissa beberapa kali, lalu mendorong pintu tanpa mendengar jawaban dari dalam. Seketika pintu kamar itu terbuka lebar, cahaya terang dari lampu luar langsung masuk ke dalam kamar yang nampak gelap. Fanny pun segera menyalakan lampu kamar itu dan melihat Marissa berbaring di tempat tidur tanpa memakai selimut. "Sa! Bangunlah! Jangan dulu tidur, kau kan belum makan!" ucap Fanny sambil berjalan menghampiri Marissa. Ia duduk di samping tempat tidur, lalu mengusap punggung Marissa dengan pelan. Wanita itu tidur menyamping, memunggungi Fanny. "Sa! Apa kau sudah tidur?" Fanny menunduk, melihat Marissa yang tiba-tiba membuka matanya dengan tatapan tajam menatap Fanny. Tindakan Marissa itu membuat Fanny terkejut. Dia hampir loncat ke bawah saking terkejutnya melihat tatapan maut Marissa. "Kau sungguh mengagetkan aku!" ucap Fanny sambil mengelus dadanya sendiri. Marissa pun segera bangkit, lalu duduk sambil bersandar di kepala tempa
Danendra tidak menyangka, Sely, yang kabur dari rumah tahanan itu malah datang ke Kota B dan membuat masalah di tempat usaha ibunya Marissa. Ini sungguh aneh. "Coba, putar ulang saat mereka bertiga duduk di meja itu!" tunjuk Danendra pada layar laptop di depannya. Saat ini, Asisten Anas dan Danendra sedang duduk di sofa kamar Danendra sambil melihat rekaman CCTV pada saat seseorang menaruh racun di makanan pelanggan itu. "Yang ini, Tuan?" tanya Asisten Anas yang sudah memutar ulang kejadian sebelumnya. "Coba, putar lagi, tapi dipelankan saja! Aku ingin melihatnya dengan jelas, wanita yang memakai topi hitam dan masker itu benar Sely atau bukan?" jelas Danendra sambil menatap tajam layar di depannya. Ia begitu fokus memperhatikan gelagat aneh mereka bertiga yang akhirnya satu pria menaburkan serbuk di atas makanan yang dibawanya. "Lihatlah! Dia mulai membuka topi dan maskernya. Coba perbesar lagi gambar wanita itu!" perintah Danendra yang semakin tidak sabar. Asisten Anas
Setelah selesai memeriksa tempat makan Merina dan mengambil perangkat CCTV yang dulu dipasang oleh Danendra untuk keamanan tempat itu, sekarang mereka pergi ke rumah Marissa untuk bertemu dan menjemputnya pulang. Namun ternyata, di kota kelahiran istrinya ini, Danendra malah tidak bisa bertemu dengan Marissa. Wanita itu tidak ada di manapun, termasuk di rumahnya sendiri. "Apa Marissa belum pulang ke rumah?" tanya Danendra pada tetangga yang sedang duduk di luar bersama tetangga lain. Karena tadi mereka mengatakan Marissa tidak ada. "Ya, Tuan! Setelah Merina dimakamkan, Marissa tidak pulang ke sini lagi! Mungkin sekarang dia tinggal di rumah pria itu," jelas Bu Nemi yang kemarin—pada saat di pemakaman—Marissa dibawa oleh seorang pria. "Hah? Pria? Pria yang mana lagi?" Danendra lebih serius lagi. Ia selalu merespon berlebih jika sudah membahas masalah pria lain di hidup Marissa. Trauma karena dulu dikhianati oleh istrinya menjadi sesuatu hal yang membuat Danendra seperti ini. "Ap
Mendengar hal itu, Danendra pun segera mempersilahkan, "Kalau begitu, naiklah! Wilyam ada di lantai 5!" Danendra melepaskan pegangan Luna di lengannya. Lalu menunjuk lift yang ada di pojok kanan lobi untuk wanita itu pergi. "Silahkan!" "Aishhh! Kau ini ... aku masih ingin berbincang denganmu! Kenapa kau malah mengusirku?" Luna terlihat kesal. Apalagi Danendra terus menghindar saat dipegang olehnya. Itu sangat menyebalkan. Biasanya, kalau diantara persahabatan ada pria dan wanita, si wanita pasti akan lebih diistimewakan di geng mereka. Tapi ini, bukannya dimanjakan karena Luna merupakan teman wanita satu-satunya, dia malah terus diacuhkan oleh Danendra. Padahal kemarin sikapnya sudah sangat baik. "Apa kau tidak ingin bertanya, aku bekerja sebagai apa di perusahaan ini?" Luna semakin sebal lagi. Danendra benar-benar tidak peduli dirinya bekerja di bagian mana dan apa pekerjaannya. "Paling hanya cleaning service!" "Danennn! Kau sungguh keterlaluan!" teriak Luna setelah mendenga
Di dalam mobil yang terasa hening, Fanny masih duduk di kursi baris ke dua sambil mengelus kepala Marissa yang ada di pangkuannya. Marissa belum sadarkan diri, Fanny pun tidak tahu harus berbuat apa selain mengikuti Darius. "Sebaiknya kita bawa Marissa ke rumah sakit dulu!" ucap Fanny, memecah keheningan di dalam mobil itu. Perjalanan yang ditempuh dari Kota B ke Kota K lumayan jauh. Fanny khawatir, keadaan Marissa yang lemah seperti ini malah akan mengganggu perkembangan janin yang ada di dalam perutnya. "Iya, Pah! Tante Fanny benar! Sebaiknya kita bawa dulu Mama ke rumah sakit!" Mario segera menoleh ke belakang dan melihat tubuh lemah ibunya. Ia pun tidak tega melihat Marissa berbaring di mobil tanpa bergerak. Melihat putranya berpendapat seperti itu, Darius pun merespon. "Baiklah! Papa akan membawa ibumu ke klinik dokter terdekat! Kalau harus pergi ke rumah sakit, itu terlalu jauh!" "Oh, ya, sudah! Cepatlah, Pah! Cepat bawa Mama ke dokter!" Mario pun tidak sabar. Ia yak
Di sebuah ruang di gedung perusahaan KJK Group, Danendra duduk di kursi kebesarannya dan masih memimpin rapat bersama dengan para petinggi, termasuk ayahnya. Dari sampingnya, Asisten Anas tiba-tiba berbisik pada Danendra sambil memperlihatkan sebuah gambar di ponselnya. Setelah melihat dan membaca informasi di dalamnya, seketika itu juga Danendra langsung terdiam dengan tatapan tidak fokus melihat ke depan. Tangannya terkepal erat dengan rahang yang mulai mengeras. Tanpa peringatan, Danendra segera bangkit berdiri, lalu bersiap untuk pergi meninggalkan rapat yang sangat penting itu. Dari sampingnya, Josep, selaku pemimpin dan pemilik perusahaan itu, segera menarik ujung pakaian Danendra, mengisyaratkan putranya untuk kembali duduk. Josep pun berkata dengan sangat pelan, "Duduklah! Kau tidak boleh pergi sebelum rapat ini selesai!" Rapat kedua ini sedang membahas hal yang sangat penting menyangkut saham perusahaan. Danendra benar-benar tidak boleh pergi dan meninggalkan ruangan itu
Di kedai mie yang nampak sangat ramai, Danendra dan Mario sudah duduk di salah satu meja sambil membawa dua kotak hadiah yang sangat bagus. Mereka menyimpannya di atas meja, lalu memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan mereka disajikan, Danendra terus mengedarkan pandangannya ke sekel
Di rumah sewaan yang nampak sepi, Mario sudah tertidur pulas di dalam kamar sambil memeluk boneka panjang berbentuk kodok. Sedangkan Marissa, dia masih berada di ruang tamu membereskan meja. Dari luar, terdengar seseorang mengetuk pintu tiga kali. Lalu pintu diketuk lagi karena Marissa tidak kunj
"Danen! Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Marissa berusaha melepaskan diri dari dekapan pria itu. Namun, Danendra tidak bergerak sedikitpun. Marissa ditekannya ke dinding hingga ia tidak bisa menghindar lagi. Danendra mengunci tubuhnya dengan kedua tangan yang disatukan ke dinding. Sedangkan ponse
"Yah, lilinnya habis! Bagaimana ini?" Semua orang menjadi panik. Ruangan itu seketika menjadi gelap gulita. Hanya ada sedikit cahaya dari lampu di luar dan dapur yang menyala. "Lilinnya tadi memang sedikit lagi, ya?" "Ya, sepertinya begitu!" "Emh, pantas saja sekarang mati!" Dalam kegel







