MasukDanendra sudah tahu dari adiknya bahwa wanita yang tadi pagi menabraknya di kantor adalah seorang janda beranak satu.
Dan itu adalah wanita di depannya ini. "Apa kau sungguh ingin melakukannya denganku?" cibir Danendra dengan rasa jijik yang tiba-tiba muncul. "Apa karena aku adalah wakil presdir yang baru di kantormu, hah? Jadi kau ingin tidur denganku, dan nantinya, kau akan terus menjeratku karena kita pernah tidur bersama?" "Bu-bukan begitu!" Marissa menggelengkan kepala, menyangkal semua tuduhan Danendra kepada dirinya. "Lantas, karena hal apa kau melakukan trik ini?" tanya Danendra dengan posisi masih berada di atas tubuh Marissa. Danendra merupakan pria dewasa normal berusia 31 tahun. Ia juga sudah pernah menikah dan memiliki anak. Namun, lima tahun yang lalu, anak dan istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan. Sejak saat itu, Danendra tidak pernah bersentuhan dengan wanita lain. Sekalipun itu dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya, yang merupakan kembaran dari istrinya. "Aku ...." Mendengar Danendra berbicara, tubuh Marissa malah semakin tidak nyaman. Ia tidak bisa menunggu lagi. Reaksi dari minuman yang sudah dicampuri obat itu semakin lama semakin menyiksanya. Tanpa aba-aba, Marissa melingkarkan kedua tangannya ke leher Danendra. Dengan satu tarikan saja tubuh pria itu sudah menempel pada tubuh Marissa. Detik berikutnya, Marissa melumat habis bibir Danendra dengan hasrat yang menggebu. "Eh ...." Danendra terkejut dengan tindakan berani wanita itu. Tanpa malu, Marissa terus menciumnya. Ini pertama kalinya Marissa seintim ini dengan seorang pria. Walau ia mengaku sebagai janda beranak satu, tapi kenyataannya itu hanya kebohongan. Marissa masih perawan dan belum pernah disentuh oleh siapapun. Dan sekarang, tanpa rasa malu Marissa mencium bibir Danendra dan memaksa pria itu untuk melayaninya. "Hey, Janda!" ucap Danendra yang sudah terpancing. Napasnya sedikit terengah karena ulah wanita itu. "Kau wanita murahan pertama yang berani menyentuhku!" Srek! "Bukankah ini yang kau inginkan, Janda?" Danendra merobek gaun Marissa dan melemparnya ke lantai. "Karena kau yang memaksa, aku akan mengabulkan keinginanmu!" Walau awalnya Danendra menolak Marissa, tapi sekarang tidak lagi. Mereka harus menyelesaikan permainan itu karena adik kecil yang sudah tertidur lebih dari lima tahun kini sekarang sudah terbangun. Dan, Danendra tidak bisa mengendalikan hal itu. "Jangan akhiri permainan sebelum adik kecilku tidur lagi!" ancamnya. Setelah itu mereka memulai pertempuran. Danendra yang sudah berpengalaman, terus memimpin permainan dan memainkan tubuh Marissa dengan lihai hingga wanita itu semakin tak berdaya di bawah kendalinya. *** Pukul lima pagi, Marissa terbangun karena rasa dingin yang menusuk punggungnya. Selimut yang mereka pakaian semalam sudah ditarik oleh Danendra sampai Marissa kedinginan. Mata Marissa perlahan terbuka. Ia menatap sekeliling yang nampak redup dan sedikit berantakan. Ada banyak pakaian berserakan di lantai menandakan seberapa gilanya permainan mereka semalam. Mengingat akan permainan gilanya semalam, Marissa semakin tersadar. Ia terperanjat sambil melihat pria di sampingnya. Pria itu memunggunginya hingga tidak tahu ekspresinya seperti apa. Yang terlihat saat ini hanya beberapa bekas cakaran di punggung yang disebabkan oleh cakaran Marissa. "Hump!" Ia segera menutup mulutnya sendiri. Lalu turun dari tempat tidur dan mengambil pakaiannya di lantai. Seluruh tubuh Marissa terasa sakit seperti baru terlindas truk. Apalagi di bagian bawahnya, itu sangat sakit dan pedih. Rasanya, ada sesuatu yang mengganjal. Ketika Marissa mengambil gaunnya, gaun itu sudah robek, tidak bisa dipakai lagi. Itu disebakaren oleh Danendra. Semalam ria itu telah merobeknya. "Aish, bagaimana ini? Bagaimana aku bisa pulang dengan pakaian robek seperti ini?" Marissa segera berjongkok lagi dan memungut pakaian dalamnya. Pakaian dalamnya pun juga sama, sudah rusak, tidak bisa digunakan lagi. Kalau terus berada di sana, orang lain akan tahu kalau semalam Marissa tidur dengan Danendra. Sebelum itu terjadi, Marissa harus segera keluar dari kamar itu, bagaimanapun caranya. Tanpa berpikir panjang, Marissa segera memakai kemeja Danendra, juga jas yang sangat besar. Di tubuhnya, jas itu terlihat seperti jubah besar. Namun itu lebih baik daripada tidak memakai apapun. Marissa bersiap untuk pergi. "Tunggu!" Ia ingat, semalam ia tidak membawa tas saat datang ke kamar itu karena kepalanya terasa pusing. Mungkin sekarang tasnya sudah dibawa oleh Fanny. 'Bagaimana dengan uang untuk ongkos taksi?' Dirinya tidak punya. Lalu, bagaimana caranya Marissa bisa pulang tanpa ada uang sepeser pun? Marissa berpikir sambil mengedarkan pandangannya. Mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk dirinya pulang. Akhirnya, Marissa memberanikan diri mengambil dompet Danendra yang ada di atas nakas. Ia berniat mencuri beberapa lembar uang untuk ongkos taksi. "Astaga!" Marissa menjatuhkan dompet Kulit berwarna hitam itu karena terkejut. "Siapa foto anak ini?" Marissa sangat terkejut ketika melihat foto bayi berusia lima bulan yang ada di dalam dompet Danendra. Dan wajah bayi itu ... sangat mirip dengan bayi yang dirawatnya 5 tahun yang lalu. 'Ayang Mario!' "Kenapa foto ini sangat mirip dengan wajah putraku, Mario?" "Ah! tidak-tidak! Lupakan!" Tidak ingin memikirkan hal-hal yang akan membuatnya pusing, Marissa kembali membuka dompet itu lagi, lalu mengambil tiga lembar uang berwarna merah milik Danendra. Setelah itu, ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu sebelum orang lain melihatnya.Waktu sudah semakin malam, tapi Marissa masih berada di basement apartemen sambil mencari benda kecil yang entah ada di mana. Lututnya pun benar-benar sudah terluka dan berdarah karena goresan-goresan ke lantai. "Arghhh!" Inginnya memaki pria yang saat ini masih bersandar di tiang besar sambil melihatnya mencari kunci mobil. Tapi Marissa tidak bisa. Ia hanya bisa marah pada angin malam yang berhembus. Ia pun melampiaskan kekesalannya dengan menendang salah satu mobil yang ada di depannya. "Aish!" DUGGG! Seketika mobil itu berbunyi kencang. Marissa pun menjadi panik. Tanpa berpikir lagi, ia segera berlari seperti pecundang meninggalkan basement dan meninggalkan Danendra yang masih ada di sana. Lalu masuk ke dalam gedung dan segera masuk ke dalam lift. Marissa tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Entah bagaimana reaksi sang pemilik mobil ketika alarm mobilnya berbunyi kencang, dan tidak tahu juga apa yang Danendra lakukan setelah itu. Yang jelas, Marissa sangat kesal
Setelah Luna pergi, Marissa juga berpamitan pada Zain. Ia ingin segera pulang, lalu tidur. "Mana ponselku! Aku mau pulang sekarang!" Marissa mengulurkan tangan ke depan Zain. Ia meminta ponselnya sebelum pergi. "Nanti saja, makanannya belum habis!" balas Zain tanpa mempedulikan permintaan Marissa. Ia pun kembali masuk ke dalam. "Aishhh! Ini sudah pukul sembilan! Aku harus segera pulang! Takutnya Michael tidak bisa tidur karena menungguku!" balas Marissa sambil mengikuti Zain ke ruang keluarga. Marissa tidak duduk. Ia hanya berdiri di samping sofa yang diduduki oleh Zain sambil meminta ponselnya. "Cepatlah, mana ponselku?" "Ya, sebentar lagi! Habiskan dulu makananmu!" "Aku tidak makan! Perutku masih kenyang! Kau habiskan saja semuanya sendiri!" balasnya yang sudah mulai kesal. Pria itu terus saja mengulur waktu agar dirinya tidak pergi. "Hah? Bagaimana bisa makanan sebanyak ini dihabiskan sendiri? Ayo, kita habiskan bersama!" canda Zain. Ia pun menarik tangan Marissa
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.17, Marissa sudah sampai di depan pintu tempat tinggal Zain. Tanpa membuang waktunya lagi, Marissa menekan beberapa angka—kata sandi—di pintu, lalu bersiap masuk ke dalam. Di tangan kirinya ada kantong berisi beberapa jenis makanan untuk pria itu. Sebelum benar-benar masuk, tiba-tiba Luna membuka pintu miliknya, lalu melihat Marissa. "Eh! Kita bertemu lagi! Bawa apa, itu? Makanan, ya?" tanyanya basa-basi. Dari depannya tercium wangi makanan dari dalam kantong yang Marissa bawa, siapa saja yang menciumnya akan merasa lapar. "Eh, Luna!" sapa Marissa juga. Ia menunjuk kantong yang ada di tangannya. "Ya, ini makanan untuk temanku!" "Kau sendiri, mau pergi ke mana?" tanya Marissa sambil melihat Luna membawa kantong kresek berwarna hitam. Selain ada kresek hitam, di tangannya juga ada ponsel yang terus dipegang. Lensa kameranya mengarah ke arah Marissa. "Ah aku! Aku mau pergi ke bawah! Aku duluan, ya!" pamit Luna. Setelah itu ia pergi dan m
Pukul 7 malam, Ambar sudah pulang. Marissa pun segera mengajak putranya ke unit yang ada di samping. "Ma! Kenapa kita pindah ke sini? Bagaimana dengan Papa Zain? Apa Papa Zain tidak ikut bersama kita?" tanya Michael di kamarnya yang baru. Apartemen ini memiliki 3 kamar tidur yang bisa digunakan untuk Marissa, Fanny, dan juga Michael. Mulai sekarang, anak itu bisa belajar tidur sendiri. "Tidak! Papa Zain masih ada di Ini House Residen, tidak ikut pindah ke sini!" balas Marissa. Setelah itu, ia mengajak Michael pergi ke ruang keluarga. "Bagaimana, apa kau suka dengan kamarnya?" tanya Marissa sambil berjalan bersama menuju ruang keluarga. Marissa pun tahu dari Wilyam, Michael punya kamar sendiri yang sangat bagus dan luas di rumah keluarga Adipraja. Anak itu sangat bahagia walau tanpa ibunya. Jadi sekarang Marissa segera menyiapkan kamar tidur yang tidak kalah bagus dengan kamar yang ada di rumah keluarga itu untuk Michael. "Suka, Ma! Aku sangat suka! Mulai sekarang, aku bis
Ambar terus saja memaksa. Dia ingin Michael ikut dengannya pulang. Padahal di sini ada ibu kandung yang juga sangat merindukan anak itu. "Kita tanya saja anaknya langsung, mau ikut dengan Mama atau ikut dengan Marissa?" "Oke!" Dengan percaya dirinya Ambar menyetujui ide dari Danendra. Ambar sangat yakin, Michael akan memilih dirinya. Karena hidup dengannya sangatlah enak, mau apa pun tinggal bilang. Sekalipun menginginkan barang yang sangat mahal, Ambar pasti akan menuruti. Tanpa membuang waktunya lagi, Danendra segera bertanya, "Sekarang, Michael mau pulang sama Nenek atau Mama?" "Eh!" Michael melihat ibu dan neneknya silih berganti. Seolah dirinya sedang memilih. "Mama! Aku ingin pulang bersama Mama!" jawabnya tiba-tiba. Marissa pun tersenyum. Ia merasa lega karena anaknya sudah memilih ibunya daripada nenek. "Eh, Michael, kenapa tidak pulang bersama Nenek? Bukankah mainan yang Michael beli kemarin masih ada di rumah? Selain itu, ada baju, sepatu di rumah! Sebaiknya
Pukul delapan malam, Marissa masih ada di ruang perawatan seorang diri, karena Danendra pergi ke luar untuk membeli makanan. Saat ini, Michael pun sudah sadar dan sudah bisa bercerita. "Ma! Apa Mama tahu, sekarang aku punya panggilan baru, loh!" ucap Michael dengan lemah. Di tangannya masih ada jarum infus, tapi ia ingin bercerita banyak hal pada ibunya. "Panggilan baru? Apa itu?" tanya Marissa sambil mengelus keningnya yang masih terasa hangat. Marissa pun duduk di samping Michael. "Adik! Panggilan baruku Adik! Kata Nenek, aku lahir paling terakhir, jadi panggilannya harus Adik! Kalau Izela, dia lahir pertama, jadi panggilannya Kakak!" jelas Michael dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia. Michael sangat bahagia punya saudara kembar dan punya keluarga yang lengkap. Sekarang, dirinya sudah sama seperti anak-anak yang lain, punya ayah, punya ibu, kakak, nenek, dan bahkan paman. Semua itu benar-benar membuatnya bahagia. "Apa kau suka dengan panggilan itu?" tanya Mari
Marissa mulai berbicara santai. Sebutan untuk dirinya sendiri bukan lagi " Saya" seperti yang sering ia katakan ketika berbicara dengan Danendra. Sekarang tanpa sadar Marissa menyebut dirinya sendiri dengan kata "Aku". Itu membuatnya lebih santai dalam berbicara. "Oh, untuk masalah itu, kau tidak
Marissa hanya terdiam, tidak menunjukan ekspresi apapun di wajahnya. Hanya kesedihan yang nampak dari sorot matanya yang bening dan sedikit berair. Mengerti akan suasana hatinya yang buruk, Danendra pun tidak bercanda lagi. Ia membuka jaket hitam di tubuhnya, lalu membalut punggung Marissa deng
"O, iya! Di mana nenekmu?" Danendra melihat ke dalam rumah yang nampak sepi. Ia mencari seseorang di rumah itu. "Kita harus berpamitan dulu padanya!" "Kalau tidak berpamitan dulu, nanti dia kaget melihatmu tidak ada di rumah!" tambah Danendra dengan khawatir. Juga merasa tidak sopan jika dirinya
"Bukan!" tepis Danendra dengan cepat. "Begini, Paman!" Ia pun duduk di kursi kebesarannya sambil menatap Jonson. "Karena Foodis cabang Kota H akan dibuka bulan depan, Papa ingin Paman mengelola restoran tersebut! Kalau Paman bersedia, Asisten Anas akan segera menyiapkan tempat tinggal untuk Pa







