Share

Bab 4 Malam Gila

Author: Tusya Ryma
last update Last Updated: 2025-11-29 17:00:25

Danendra sudah tahu dari adiknya bahwa wanita yang tadi pagi menabraknya di kantor adalah seorang janda beranak satu.

Dan itu adalah wanita di depannya ini.

"Apa kau sungguh ingin melakukannya denganku?" cibir Danendra dengan rasa jijik yang tiba-tiba muncul.

"Apa karena aku adalah wakil presdir yang baru di kantormu, hah? Jadi kau ingin tidur denganku, dan nantinya, kau akan menjeratku karena kita pernah tidur bersama?"

"Bu-bukan begitu!" Marissa menggelengkan kepala, menyangkal semua tuduhan Danendra kepada dirinya.

"Lantas, karena hal apa kau melakukan trik ini?" tanya Danendra dengan posisi masih berada di atas tubuh Marissa.

Danendra merupakan pria dewasa normal berusia 31 tahun. Ia juga sudah pernah menikah dan memiliki anak. Namun, lima tahun yang lalu, anak dan istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan. Sejak saat itu, Danendra tidak pernah bersentuhan dengan wanita. Sekalipun itu dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya, yang merupakan kembaran dari istrinya.

"Aku ...." Mendengar Danendra berbicara, tubuh Marissa malah semakin tidak nyaman.

Ia tidak bisa menunggu lagi. Reaksi dari minuman yang sudah dicampuri obat itu semakin lama aemakin menyuksanya.

Tanpa aba-aba, Marissa melingkarkan kedua tangannya ke leher Danendra. Dengan satu tarikan saja tubuh pria itu sudah menempel pada tubuh Marissa.

Detik berikutnya, Marissa melumat habis bibir Danendra dengan hasrat yang menggebu.

"Eh ...." Danendra terkejut dengan tindakan berani wanita itu.

Tanpa malu, Marissa terus menciumnya.

Ini pertama kalinya Marissa seintim ini dengan seorang pria. Walau ia mengaku sebagai janda beranak satu, tapi kenyataannya itu hanya kebohongan. Marissa masih perawan dan belum pernah disentuh oleh siapapun.

Dan sekarang, tanpa rasa malu Marissa mencium bibir Danendra dan memaksa pria itu untuk melayaninya.

"Hey, Janda!" ucap Danendra yang sudah terpancing. Napasnya sedikit terengah karena ulah wanita itu. "Kau wanita murahan pertama yang berani menyentuhku!"

Srek!

"Bukankah ini yang kau inginkan, Janda?"

Danendra merobek gaun Marissa dan melemparnya ke lantai.

"Karena kau yang memaksa, aku akan mengabulkan keinginanmu!"

Walau awalnya Danendea menolak Marissa, tapi sekarang tidak lagi. Mereka harus menyelesaikan permainan itu karena adik kecil yang sudah tertidur lebih dari lima tahun kini sudah terbangun. Dan, Danendra tidak bisa mengendalikan hal itu.

"Jangan akhiri permainan sebelum adik kecilku tidur lagi!" ancamnya.

Setelah itu mereka memulai pertempuran.

Danendra yang sudah berpengalaman, terus memimpin permainan dan memainkan tubuh Marissa dengan lihai hingga wanita itu semakin tak berdaya di bawah kendalinya.

***

Pukul lima pagi, Marissa terbangun karena rasa dingin yang menusuk punggungnya. Selimut yang mereka pakaian semalam sudah ditarik oleh Danendra sampai Marissa kedinginan.

Mata Marissa perlahan terbuka. Ia menatap sekeliling yang nampak redup dan sedikit berantakan. Ada banyak pakaian berserakan di lantai menandakan seberapa gilanya permainan mereka semalam.

Mengingat akan permainan gilanya semalam, Marissa semakin tersadar. Ia terperanjat sambil melihat pria di sampingnya. Pria itu memunggunginya hingga tidak tahu ekspresinya seperti apa. Yang terlihat saat ini hanya beberapa bekas cakaran di punggung yang disebabkan oleh cakaran Marissa.

"Hump!" Ia segera mulutnya sendiri. Lqlu turun dari tempat tidur dan mengambil pakaiannya di lantai.

Seluruh tubuh Marissa terasa sakit bagaikan terlindas truk. Apalagi di bagian bawahnya, itu sangat sakit dan pedih. Rasanya, ada sesuatu yang mengganjal.

Ketika Marissa mengambil gaunnya, gaun itu sudah robek, tidak bisa dipakai lagi. Itu disebakaren oleh Danendra. Semalam ria itu telah merobeknya.

"Aish, bagaimana ini? Bagaimana aku bisa pulang dengan pakaian robek seperti ini?"

Marissa segera berjongkok lagi dan memungut pakaian dalamnya.

Pakaian dalamnya pun juga sama, sudah rusak, tidak bisa digunakan lagi.

Kalau terus berada di kamar itu, orang lain akan tahu kalau Marissa bermalam dengan Danendra. Sebelum itu terjadi, Marissa harus segera keluar dari hotel itu, bagaimanapun caranya.

Tanpa berpikir panjang, Marissa segera memakai kemeja Danendra, juga jas yang sangat besar. Di tubuhnya, jas itu terlihat seperti jubah besar. Namun itu lebih baik daripada tidak memakai apapun.

Marissa bersiap untuk pergi.

"Tunggu!"

Ia ingat, semalam ia tidak membawa tas saat datang ke kamar itu karena kepalanya terasa pusing. Mungkin sekarang tasnya sudah dibawa oleh Fanny.

'Bagaimana dengan uang untuk ongkos taksi?'

Dirinya tidak punya.

Lalu, bagaimana caranya Marissa bisa pulang tanpa ada uang sepeser pun?

Marissa berpikir sambil mengedarkan pandangannya. Mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk dirinya pulang.

Akhirnya, Marissa memberanikan diri mengambil dompet Danendra yang ada di atas nakas. Ia berniat mencuri beberapa lembar uang untuk ongkos taksi.

"Astaga!" Marossa menjatuhkan dompet Kulit berwarna hitam itu karena terkejut. "Siapa foto anak kecil ini?"

Marissa sangat terkejut ketika melihat foto bayi berusia lima bulan yang ada di dalam dompet Danendra. Dan wajah bayi itu ... sangat mirip dengan bayi yang dirawatnya 5 tahun yang lalu.

'Ayang Mario!'

"Kenapa foto ini sangat mirip dengan wajah putraku, Mario?"

Tidak ingin memikirkan hal-hal yang akan membuatnya pusing, Marissa pun segera mengambil dompet itu lagi. Lalu mengambil tiga lembar uang berwarna merah milik Danendra. Setelah itu, ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu sebelum orang lain melihatnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 37 Lebih Jujur

    Malam hari, angin bertiup sepoy-seloy terasa sangat sejuk. Marissa berjalan sendiri di trotoar jalan sambil menikmati indahnya pemandangan kota di malam hari. Hawa di sana tidak terlalu dingin, juga tidak terlalu panas. Itu membuat Marissa sangat menyukai momen malam ini. Saat ini, Marissa ingin menikmati kebebasannya dan ingin menghirup udara segar tanpa gangguan dari siapapun. Walau tadi Danendra mengabaikannya dan tidak membutuhkannya sebagai asisten pribadi, hal itu tidak membuat Marissa kecewa. Justru Marissa merasa senang bisa terbebas dari pekerjaannya sebagai asisten pribadi Danendra yang harus ada 24 jam. "Marissa!" Baru saja wanita itu ingin menikmati kebebasannya terlepas dari pekerjaannya sebagai asisten pribadi yang bekerja sepanjang waktu, tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang. "Tunggu!" "Kau mau pergi ke mana?" tanya Danendra, setengah berlari. Pria itu semakin mempercepat langkah kakinya dan menghampiri Marissa. Dari belakang, Danendra menari

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 36 Berpartisipasi

    Di sebuah night club terbesar di kota itu, Marissa masuk dan berjalan menuju meja Danendra yang ada di bagian tengah. Pria itu terlihat sedang duduk bersama dengan empat orang yang seusia dengannya. "Selamat malam!" sapa Marissa dengan sedikit canggung ketika sudah ada di depan meja. "Perkenalkan, saya Marissa, asisten pribadi Pak Danen! Boleh saya duduk di sini?" tanyanya. Tanpa menunggu jawaban dari orang-orang itu, Marissa segera menarik salah satu kursi yang kosong, lalu duduk di sana. "Oh, iya ... iya! Silahkan duduk!" balas Jhon, rekan bisnis Danendra sekaligus teman baiknya. "Terima kasih!" ucap Marissa. Danendra yang duduk agak jauh dari Marissa hanya melihat wanita itu sekilas, lalu melihat ke arah lain. Sama sekali tidak mempedulikan asisten pribadinya itu. "Oiya! Karena semuanya sudah berkumpul, sebaiknya kita pesan makanan dulu!" Jhon menyarankan. Ia segera memanggil pelayan, lalu memesan beberapa makanan untuk semuanya. Tidak lupa beberapa botol minuman un

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 35 Masa Lalu Danendra

    "Kalau tidak di sini, lalu di mana lagi? Apa di luar?" tanya Danendra dengan datar. Ia tidak ada pemikiran apapun selain itu. "Ya, bukan! Maksud saya, saya tidak yakin untuk mengganti pakaian di sini karena ...." Marissa melihat Danendra yang ada di sampingnya. Ia merasa canggung harus melepas pakaiannya di mobil.. "Karena apa?" tanya Danendra, balas menatap Marissa. Wanita itu menyilangkan kedua tangannya di depan sambil memegang pakaiannya yang baru dibeli Asisten Anas. Mengerti akan isyarat itu, Danendra segera berkata sambil mendekatkan wajahnya ke arah tubuh Marissa. "Aku ingin bertanya, bagian tubuhmu yang mana yang belum pernah aku lihat? Hemh?" Danendra menunduk, melihat tubuh wanita itu yang dihalangi oleh tangan. "Perasaan, semua bagian di tubuhmu sudah pernah aku lihat!" "Bahkan, tempat tersembunyi di sana pun sudah aku sentuh, kan!" Danendra menunjuknya dengan ekor matanya. Itu membuat Marissa salah tingkah. "Pak, Danen! Apa Anda semesum ini juga ketika b

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 34 Danen yang Selalu Berubah-Ubah

    Danendra masih membolak-balik buku menu di tangannya. Jemarinya berhenti di beberapa halaman, lalu menunjuk satu per satu dengan ekspresi datar. “Apa kau suka yang ini? Atau yang ini?” tanyanya. Marissa melirik sekilas, tetapi tidak benar-benar membaca. Matanya mengikuti gerak jari Danendra, sementara pikirannya melayang jauh. Ia hanya mengangguk pelan, seolah semua pilihan itu sama saja baginya.Sikap Danendra selalu seperti itu—kadang terlihat perhatian, kadang terasa dingin dan membuat Marissa bingung. Ia tak pernah tahu versi Danendra yang mana yang akan ia hadapi. “Baiklah,” ucapnya akhirnya. “Kita pesan ini saja!”Danendra menghela napas pendek. Tatapan pria itu menajam, seperti sedang menilai sesuatu yang tidak memuaskan. Ia menutup buku menu, memanggil pelayan, lalu memesan beberapa hidangan tanpa bertanya lagi pada Marissa. Hari ini, pekerjaan Marissa sangat mudah. Ia hanya pergi sambil membawa berkas yang diminta ke kafe, lalu makan sambil mendengar penjelasan Dane

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 33 Terkadang Baik Terkadang Jahat

    Di pagi hari, sinar matahari begitu terang masuk ke dalam kamar hotel yang sangat mewah. Di atas tempat tidur yang empuk, seorang wanita berbaring dengan nyaman di bawah selimut yang sangat lembut. Marissa menarik selimutnya ke atas dan mengubur dirinya di bawah selimut itu. Ia menghindari cahaya matahari yang menganggu matanya yang masih terpejam. Sambil tidur, Marissa merasakan sesuatu yang sangat nyaman di bawah tubuhnya. Padahal tadi malam itu dirinya tidur di atas sofa yang sempit dan tidak seempuk ini. "Tidur di mana aku?" Tiba-tiba Marissa menyibak selimutnya. Ia melihat tempat yang ditidurinya nampak sangat berbeda dari sebelumnya. Saat ini, Marissa tidur di atas tempat tidur milik Danendra. Tapi pria itu ... tidak ada di manapun. Menyadari hal itu, Marissa segera bangkit dari tidurnya. Ia duduk di atas tempat tidur dengan rambut yang masih sangat berantakan. Di sekeliling kamar itu tidak ada orang lain selain dirinya. "Di mana Pak Danen?" tanya Marissa sambil mengedar

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 32 Terus Menggodaku

    Danendra tidak menjawab pertanyaan dari pamannya. Ia malah berjalan masuk ke dalam ruangan itu sambil melihat ke arah tubuh polos Jonson yang tidak memakai baju, lalu beralih ke arah wanita yang ada di depannya. Tangan pria tua itu masih memegang tangan kecil Marissa. "Paman, apa yang kau lakukan pada asisten pribadiku?" Kali ini Danendra bertanya sambil mendekat. Ia tidak sungkan sama sekali pada pamannya yang saat ini menyakiti asisten pribadinya. "Dan, Marissa! Apa yang sedang kau lakukan? Bukankah aku memintamu untuk mengantar hasil pertemuan tadi ke kamarku? Kenapa sekarang malah berada di sini?" Danendra mendekat, lalu menarik tangan Jonson secara paksa dari tangan Marissa. Kalau tadi Danendra tidak mendengar percakapan Marissa dengan pelayan restoran di telepon, selamanya ia tidak bisa melacak keberadaan Marissa. Tadi, setelah mendengar nama ruangan di restoran itu, Danendra segera mencari tahu lewat ponselnya. Dengan mudah ia bisa menemukan nama dan alamat resto

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status