MasukPagi hari, di kantor, Fanny dengan membawa kantong berisi pakaian kerja milik temannya, juga tas yang kemarin malam dia bawa dari hotel tempat acara, berjalan keluar ruang kerjanya menuju lantai bawah. Ia ditelepon oleh nomor asing dan diminta untuk mengirim barang-barang itu menggunakan taksi.
"Sa, apa ini tidak masalah? Mengantar barangmu menggunakan taxi? Padahal nanti sepulang kerja aku bisa mengantarkannya ke rumah!" ucap Fanny sedikit khawatir. Ia bersiap menghentikan taksi sesuai dengan arahan Marissa yang ada di seberang telepon. "Tidak apa-apa! Kau jangan khawatir. Pasti sampai, kok!" balasnya dengan singkat. Fanny pun mengerti. Ia segera mencatat alamatnya, lalu memberikannya pada sopir taksi. Tadi pagi, Marissa sudah meminta izin untuk mengambil cuti selama tiga hari karena dirinya tidak enak badan. Bukan hanya seluruh badannya yang terasa tidak enak, tapi juga perasaannya. Pergulatannya drngan bos baru tadi malam di kamar hotel membuat Marissa sangat malu dan juga stres. Apalagi kalau harus bertemu dengan bos barunya di kantor, itu akan membuat Marissa semakin tidak nyaman. *** Di dalam gedung perusahaan, lebih tepatnya di ruang kerja wakil presdir, Danendra memanggil beberapa orang dari divisi pemasaran untuk membicarakan masalah pekerjaan. Fanny, Ray, Siska, Kevin, Martha, Sandy dan juga Gilang sudah berdiri di depan meja sambil menunggu perintah dari atasannya. "Siapkan empat orang untuk pergi ke kota C. Di sana kalian akan bertemu dengan orang dari perusahaan FW. Pastikan mereka terkesan dengan penawaran kita, buat produk terbaru kita masuk ke sana," jelas Danendra dengan serius. "Baik, Pak!" balas semuanya dengan kompak. Mulut berkata serius, tapi sorot mata Danendra terlihat tidak fokus. Ia menatap Fanny, Ray, Siska, Kevin, Martha, Sandy dan Gilang silih berganti. "Di mana reka kalian yang satunya lagi? Apakah anggota tim kalian ada yang bolos kerja?" tanyanya tiba-tiba. Dari data yang telah ia baca, Marissa bekerja di divisi pemasaran bersama dengan mereka. Dan sekarang, wanita yang tidur dengannya tadi malam itu tidak ada. Padahal ia sengaja mengumpulkan mereka semua untuk mencari Marissa. Ada beberapa hal yang ingin ia bicarakan dengan wanita itu. "Siapa, Pak? Marissa?" tanya Ray mengerti dengan dimaksud dari ucapan bosnya. "Maaf, Pak! Hari ini rekan kami sedang sakit. Dia sudah meminta izin untuk istirahat selama tiga hari. Jadi, untuk tugas kali ini, biar saya, Ray, Fanny dan Kevin yang berangkat," sambung Sandy dengan cepat. Karena Martha dan Gilang harus menyelesaikan tugas mereka di kantor. "Owh!" Danendra pun mengerti. Ia tidak mempertanyakan hal itu lagi. "Baiklah! Kalau sudah mengerti, silahkan kembali ke tempat kerja masing-masing!" ucap Danendra setengah mengusir. Padahal tadi dia lah yang meminta mereka semua untuk datang. Tapi sekarang, dia sendiri juga yang mengusir mereka untuk pergi meninggalkan ruangannya. "Kami permisi, Pak!" pamit semua orang pada Fanendra. Lalu mereka pergi meninggalkan ruangan itu. *** Di siang hari, Marissa masih bermalas-malasan di rumahnya sambil menonton acara di televisi. Ada beberapa panggilan masuk di ponselnya, namun ia hiraukan. Apalagi panggilan dari teman baiknya—Ray, Marissa enggan untuk mengangkatnya. Dari dapur, keluar bocah kecil dengan satu piring berisi makanan. Anak itu menghampiri Marissa yang ada di sofa. "Ma! Apa Mama benar-benar sakit? Kalau sakit, harusnya Mama pergi ke dokter, bukan malah duduk di rumah," ucap polos Mario sambil berjalan ke arah ibunya, lalu duduk di kursi samping. "Eh, Ayang!" Marissa menarik anak itu ke dalam pelukannya. Ia menjawab, "Mama hanya butuh istirahat sebentar saja. Nanti juga sembuh, kok!" "Hem!" Mario tidak percaya. "Masa orang sakit bisa sembuh begitu saja tanpa minum obat?" "Ya, bisa dong! Mama kan, kuat!" Marissa mengangkat satu tangan, lalu memperlihatkan otot kecilnya pada Mario. "Ma—" Baru saja Mario ingin berbicara, tiba-tiba ponsel ibunya kembali berdering. "Mama, itu ada telepon masuk!" tunjuknya pada ponsel yang ada di atas meja. Ia memberikannya pada Marissa. "Eh...." Karena putranya sudah mengambil, Marissa pun segera menerima ponselnya. 'Ray!' Marissa kembali melihat nama itu di layar ponselnya. Wajahnya tiba-tiba menjadi buruk. "Mama ke depan dulu, ya!" ucapnya pada sang anak. Setelah itu ia beranjak sari sana. Di teras rumah, Marissa duduk di kursi sambil memegang ponsel ke telinga. Ia sudah menekan tombol hijau, lalu menyapa dengan malas. Dari seberang telepon, terdengar Ray bertanya, "Sa! Kau sakit, ya? Sudah ke dokter, belum?" Walau ucapan Ray terdengar sangat khawatir, tapi Marissa tidak tersentuh dengan perhatiannya. Ia sangat marah pada Ray karena kejadian semalam. Kalau bukan karena minuman dari Ray, dirinya tidak mungkin merasakan hal aneh itu dan tidur dengan bos barunya. "Ray! Bisa kau jelaskan, apa maksud dari tindakanmu semalam? Kau memberiku minuman, lalu mengajakku beristirahat di kamarmu! Apa itu sudah kau rencanakan sebelumnya?" tanya Marissa dengan dingin tanpa merespon ajakan Ray untuk pergi ke dokter. Tadi pagi, setelah pulang ke rumah dan mandi air dingin, Marissa semakin tersadar. Ia mulai mengerti dengan apa yang terjadi semalam. Setelah diberi minuman oleh Ray, Marissa tidak minum apapun lagi. Setelah itu, ia merasakan hal aneh, lalu Ray mengajaknya pergi ke kamar hotel. Untungnya, malam itu Ray kembali ke aula untuk mengambil kunci kamar. Kalau tidak, mungkin Marissa akan menghabiskan malam penuh kesakitan itu dengan Ray. "Apa kau sengaja melakukan hal itu kepadamu, hah? Jawab aku, Raymon!" terik Marissa dengan amarah. "Aku kira selama ini kita adalah teman baik! Tapi ternyata—" Marissa tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi. Hatinya teramat sakit mengingat kembali niat buruk Ray pada dirinya. Padahal selama ini Fanny dan Ray adalah teman terbaiknya, bukan hanya di kantor, tapi juga di kehidupan nyata. Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama, bersenang-senang bersama, dan masih banyak lagi hal-hal indah yang mereka lakukan bersama. Tapi sekarang ... Ray telah menodai persahabatan mereka. Marissa tidak melupakannya begitu saja. "Sa! Kau kenapa? Kalau ada masalah, bicara langsung, jangan tiba-tiba marah seperti ini! Aku tidak mengerti!"Tidak terasa, waktu berlalu sangat cepat. Marissa dan bayinya sudah keluar dari rumah sakit setelah beberapa hari dirawat. Fanny pun sudah pulang dan hidup bersama suami dan anaknya di Kota K. Sekarang, Marissa dan keluarga kecilnya tinggal di rumah yang sangat bagus dan mewah yang sudah dibuat dari jauh-jauh hari oleh Danendra. Mereka hidup bahagia tanpa ada yang mengganggu. "Mama, kalau Baby Damar sudah besar, nanti dia akan merebut mainanku, dong! Di sekolah juga ada teman kami yang bilang kalau adiknya selalu mengacau, merebut mainan, dan menangis! Aku dan Izela tidak suka punya adik seperti itu!" ucap Michael yang saat ini sedang duduk di taman belakang bersama ayah dan ibunya, juga Drizela dan bayi Damar (singkatan dari nama ayah dan ibunya, Danendra dan Marissa). Mereka berlima sedang bersantai sambil menikmati udara pagi yang sejuk dengan rumput hijau dan bunga-bunga yang bermekaran di taman belakang rumah. "Husss, jangan bicara seperti itu! Kaka Michael dan Kakak Izel
Benar saja, setelah dokter memeriksa Fanny, ternyata wanita itu akan melahirkan. "Aahhh, bagaimana bisa? Kami ke sini untuk menjenguk Marissa, sama sekali tidak membawa apapun! Perlengkapan untuk bayi, kami tidak membawanya. Bagaimana ini?" Darius terus menggerutu. Ia tidak tahu harus berbuat apa menghadapi persalinan istrinya yang mendadak itu. "Tidak apa-apa! Masalah itu, kau jangan khawatir. Kalaupun bayinya lahir sekarang, ada perlengkapan bayi kami yang belum dipakai. Selain itu, pihak rumah sakit juga menyediakan perlengkapan bayi untuk bayi yang lahir mendadak seperti ini!" Danendra mencoba menenangkan Darius. Mereka berdua duduk di depan ruang persalinan Fanny. Danendra sampai meninggalkan istrinya demi menemani Darius yang terlihat panik. Beberapa menit kemudian, dokter memanggil Darius dan meminta ayah dari sang calon bayi untuk masuk ke dalam ruangan. "Bagaimana ini? Aku tidak berani ...." Darius benar-benar sangat takut. Ia tidak ingin masuk ke dalam ruangan itu dan
Di sebuah ruangan persalinan yang cukup tenang, terdengar suara tangisan bayi diiringi ucapan syukur dari para dokter dan ayah sang bayi. Danendra merasa lega, bayi yang baru saja dilahirkan oleh istrinya berjenis kelamin laki-laki. Bayi itu sangat sehat dengan suara tangisan yang begitu kencang. "Selamat, Nona! Bayi Anda laki-laki!" ucap dokter yang membantu persalinan Marissa. Bayi yang baru lahir itu segera diletakan di dada ibunya agar mencari ASI-nya sendiri. "Owa ... owa ... owa!" Bayi itu terus menangis sambil bergerak-gerak di dada Marissa. Danendra sampai terharu saat melihatnya. Di luar ruangan, Ambar dan suaminya, Wilyam, juga anak kembar—Drizela dan Michael—masih harap-harap cemas menunggu kabar dari dalam ruangan itu. Mereka tadi sempat mendengar suara tangisan bayi dari dalam sana, tetapi belum ada satu orang pun yang keluar dan memberitahu mereka. "Tadi itu suara apa, Nek? Apa suara kucing?" tanya Michael sambil mendongak menatap neneknya yang terlihat kh
Pagi ini, dunia terasa sangat indah. Marissa bangun dari pelukan pria yang semalaman menemaninya. Mereka menghabiskan waktu bersama tanpa mengenal lelah. Entah mengapa, hari ini menjadi hari yang sangat istimewa bagi Marissa. Bukan hanya karena semalaman mereka menikmati kebersamaan sebagai suami istri, tetapi juga karena semua kendala dalam hidupnya sudah berhasil dilalui dengan baik. Sekarang, Marissa merasa hidupnya begitu damai. Ia punya suami yang sangat mencintainya, juga kedua anak kembar yang sangat lucu, serta satu calon bayi yang masih ada di dalam kandungannya. Belum lagi mertua yang kini sudah merestui hubungan mereka. Selain itu, ada kakek dari pihak ayah yang baru ditemuinya belum lama ini. Semua itu benar-benar membuat Marissa sangat bahagia. "Ennnh, Sayang! Mau ke mana?" ujar Danendra sambil memejamkan mata. Ia melingkarkan tangannya di perut buncit istrinya. "Jangan dulu bangun. Aku masih mau seperti ini!" ucap Danendra lagi tanpa membuka matanya. Marissa yang su
Di dalam mobil, Marissa terheran ketika melihat jalanan yang tidak sama dengan jalan menuju tempat tinggalnya. "Eh, kita mau ke mana dulu? Tidak langsung pulang, ya?" tanya Marissa pada suaminya yang duduk di sampingnya. Selain ada Danendra dan Marissa, ada juga Drizela yang duduk bersama mereka, sedangkan Michael duduk di kursi depan bersama Asisten Anas yang sedang mengendarai mobil. "Hehe!" Danendra tersenyum. Ia sangat bangga bisa mengajak Marissa dan anak-anaknya tinggal di rumah baru yang sudah dibuatnya dengan waktu pembangunan yang cukup lama. Mungkin rencana pembangunannya sudah ada saat Marissa hamil anak pertama. Hanya saja, saat itu Marissa dan Danendra ada masalah, jadi pembangunan rumah itu dihentikan sementara waktu. "Nanti juga Sayang akan tahu!" jawab Danendra masih dengan senyum lebarnya. "Apa kita akan pergi berbelanja dulu? Atau ... mengajak anak-anak bermain?" tebak Marissa sambil melihat ke arah anak-anaknya. Mereka pun balas melihat Marissa. Dari
"Minggir! Minggir!" "Semuanya minggir!" Petugas kepolisian bergegas menahan orang-orang yang akan mendekat. Mereka semua memegang ponselnya masing-masing, lalu merekam kejadian tersebut, di mana tubuh seorang pria tergeletak di aspal dengan genangan darah yang terus keluar. "Ah ...." Melihat hal mengerikan itu, akhirnya Marissa tidak kuat lalu pingsan. Tuan Lim yang ada di sampingnya pun segera memeluk dan menahannya agar tidak terjatuh. Dari depannya, Danendra berlari, lalu menghampiri Marissa yang terlihat lemah. "Apa yang terjadi? Marissa kenapa?" tanyanya dengan cemas. Danendra melihat Marissa memejamkan mata. Ia semakin panik, lalu memanggil bawahannya dan memintanya untuk segera membawa Marissa ke rumah sakit. Di dalam mobil, Danendra begitu cemas, bukan hanya karena melihat kejadian mengerikan yang terjadi pada Ken, tetapi juga karena melihat istrinya yang saat ini tidak sadarkan diri. Tuan Lim sudah menceritakan kronologi kejadiannya pada Danendra, dan ia pun semakin
Mendengar ejekan dari adiknya, Danendra pun segera merespon. Ia menegakan punggungnya dan menatap Wilyam dengan tajam. "Siapa yang tersesat? Kemarin itu aku kehilangan koper dan pasporku! Jadi tidak bisa pulang!" jelas Danendra dengan tegas. Ia tidak terima diejek seperti itu oleh Wilyam di dep
"Brengsek! Kau berani mengganggu wanitaku! Akan kubunuh, kau!" Danendra begitu emosi melihat Darius di atas sana. Ia segera menaiki tangga menghampiri Darius. Pria yang ada di lantai dua itu hanya tersenyum penuh kepuasan melihat Danendra yang marah. "Satu sama!" ejeknya tanpa rasa takut. "Du
Jika orang lain yang mengalami kejadian ini, mungkin pria itu sudah dibunuhnya hingga tidak ada lagi di dunia ini. "Kenapa? Kau kasihan padaku, ya?" canda Danendra, yang juga membalas tatapan Marissa padanya. Danendra mengerti dengan tatapan penuh arti dari wanita di depannya itu. Ia pun tahu,
Pukul enak sore, langit di luar sudah mulai gelap. Marissa yang sedang duduk di dalam taksi, segera meminta sang sopir untuk menghentikan taksinya. Ia sudah sampai di kawasan sederhana—rumah sewaan Fanny yang baru.Sahabatnya itu baru pindah ke rumah susun di lantai tiga dengan dua kamar tidur. Di







