/ Romansa / Terjerat Hasrat Bos Baru / Bab 5 Menodai Persahabatan

공유

Bab 5 Menodai Persahabatan

작가: Tusya Ryma
last update 게시일: 2025-11-29 17:33:57

Pagi hari, di kantor, Fanny dengan membawa kantong berisi pakaian kerja milik temannya, juga tas yang kemarin malam dia bawa dari hotel tempat acara, berjalan keluar ruang kerjanya menuju lantai bawah. Ia ditelepon oleh nomor asing dan diminta untuk mengirim barang-barang itu menggunakan taksi.

"Sa, apa ini tidak masalah? Mengantar barangmu menggunakan taxi? Padahal nanti sepulang kerja aku bisa mengantarkannya ke rumah!" ucap Fanny sedikit khawatir. Ia bersiap menghentikan taksi sesuai dengan arahan Marissa yang ada di seberang telepon.

"Tidak apa-apa! Kau jangan khawatir. Pasti sampai, kok!" balasnya dengan singkat.

Fanny pun mengerti. Ia segera mencatat alamatnya, lalu memberikannya pada sopir taksi.

Tadi pagi, Marissa sudah meminta izin untuk mengambil cuti selama tiga hari karena dirinya tidak enak badan. Bukan hanya seluruh badannya yang terasa tidak enak, tapi juga perasaannya. Pergulatannya drngan bos baru tadi malam di kamar hotel membuat Marissa sangat malu dan juga stres. Apalagi kalau harus bertemu dengan bos barunya di kantor, itu akan membuat Marissa semakin tidak nyaman.

***

Di dalam gedung perusahaan, lebih tepatnya di ruang kerja wakil presdir, Danendra memanggil beberapa orang dari divisi pemasaran untuk membicarakan masalah pekerjaan. Fanny, Ray, Siska, Kevin, Martha, Sandy dan juga Gilang sudah berdiri di depan meja sambil menunggu perintah dari atasannya.

"Siapkan empat orang untuk pergi ke kota C. Di sana kalian akan bertemu dengan orang dari perusahaan FW. Pastikan mereka terkesan dengan penawaran kita, buat produk terbaru kita masuk ke sana," jelas Danendra dengan serius.

"Baik, Pak!" balas semuanya dengan kompak.

Mulut berkata serius, tapi sorot mata Danendra terlihat tidak fokus. Ia menatap Fanny, Ray, Siska, Kevin, Martha, Sandy dan Gilang silih berganti.

"Di mana reka kalian yang satunya lagi? Apakah anggota tim kalian ada yang bolos kerja?" tanyanya tiba-tiba.

Dari data yang telah ia baca, Marissa bekerja di divisi pemasaran bersama dengan mereka. Dan sekarang, wanita yang tidur dengannya tadi malam itu tidak ada. Padahal ia sengaja mengumpulkan mereka semua untuk mencari Marissa. Ada beberapa hal yang ingin ia bicarakan dengan wanita itu.

"Siapa, Pak? Marissa?" tanya Ray mengerti dengan dimaksud dari ucapan bosnya.

"Maaf, Pak! Hari ini rekan kami sedang sakit. Dia sudah meminta izin untuk istirahat selama tiga hari. Jadi, untuk tugas kali ini, biar saya, Ray, Fanny dan Kevin yang berangkat," sambung Sandy dengan cepat. Karena Martha dan Gilang harus menyelesaikan tugas mereka di kantor.

"Owh!" Danendra pun mengerti. Ia tidak mempertanyakan hal itu lagi.

"Baiklah! Kalau sudah mengerti, silahkan kembali ke tempat kerja masing-masing!" ucap Danendra setengah mengusir.

Padahal tadi dia lah yang meminta mereka semua untuk datang. Tapi sekarang, dia sendiri juga yang mengusir mereka untuk pergi meninggalkan ruangannya.

"Kami permisi, Pak!" pamit semua orang pada Fanendra. Lalu mereka pergi meninggalkan ruangan itu.

***

Di siang hari, Marissa masih bermalas-malasan di rumahnya sambil menonton acara di televisi. Ada beberapa panggilan masuk di ponselnya, namun ia hiraukan. Apalagi panggilan dari teman baiknya—Ray, Marissa enggan untuk mengangkatnya.

Dari dapur, keluar bocah kecil dengan satu piring berisi makanan. Anak itu menghampiri Marissa yang ada di sofa.

"Ma! Apa Mama benar-benar sakit? Kalau sakit, harusnya Mama pergi ke dokter, bukan malah duduk di rumah," ucap polos Mario sambil berjalan ke arah ibunya, lalu duduk di kursi samping.

"Eh, Ayang!" Marissa menarik anak itu ke dalam pelukannya. Ia menjawab, "Mama hanya butuh istirahat sebentar saja. Nanti juga sembuh, kok!"

"Hem!" Mario tidak percaya. "Masa orang sakit bisa sembuh begitu saja tanpa minum obat?"

"Ya, bisa dong! Mama kan, kuat!" Marissa mengangkat satu tangan, lalu memperlihatkan otot kecilnya pada Mario.

"Ma—" Baru saja Mario ingin berbicara, tiba-tiba ponsel ibunya kembali berdering.

"Mama, itu ada telepon masuk!" tunjuknya pada ponsel yang ada di atas meja. Ia memberikannya pada Marissa.

"Eh...."

Karena putranya sudah mengambil, Marissa pun segera menerima ponselnya.

'Ray!'

Marissa kembali melihat nama itu di layar ponselnya. Wajahnya tiba-tiba menjadi buruk.

"Mama ke depan dulu, ya!" ucapnya pada sang anak.

Setelah itu ia beranjak sari sana.

Di teras rumah, Marissa duduk di kursi sambil memegang ponsel ke telinga. Ia sudah menekan tombol hijau, lalu menyapa dengan malas.

Dari seberang telepon, terdengar Ray bertanya, "Sa! Kau sakit, ya? Sudah ke dokter, belum?"

Walau ucapan Ray terdengar sangat khawatir, tapi Marissa tidak tersentuh dengan perhatiannya.

Ia sangat marah pada Ray karena kejadian semalam. Kalau bukan karena minuman dari Ray, dirinya tidak mungkin merasakan hal aneh itu dan tidur dengan bos barunya.

"Ray! Bisa kau jelaskan, apa maksud dari tindakanmu semalam? Kau memberiku minuman, lalu mengajakku beristirahat di kamarmu! Apa itu sudah kau rencanakan sebelumnya?" tanya Marissa dengan dingin tanpa merespon ajakan Ray untuk pergi ke dokter.

Tadi pagi, setelah pulang ke rumah dan mandi air dingin, Marissa semakin tersadar. Ia mulai mengerti dengan apa yang terjadi semalam. Setelah diberi minuman oleh Ray, Marissa tidak minum apapun lagi. Setelah itu, ia merasakan hal aneh, lalu Ray mengajaknya pergi ke kamar hotel. Untungnya, malam itu Ray kembali ke aula untuk mengambil kunci kamar. Kalau tidak, mungkin Marissa akan menghabiskan malam penuh kesakitan itu dengan Ray.

"Apa kau sengaja melakukan hal itu kepadamu, hah? Jawab aku, Raymon!" terik Marissa dengan amarah.

"Aku kira selama ini kita adalah teman baik! Tapi ternyata—" Marissa tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi. Hatinya teramat sakit mengingat kembali niat buruk Ray pada dirinya.

Padahal selama ini Fanny dan Ray adalah teman terbaiknya, bukan hanya di kantor, tapi juga di kehidupan nyata. Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama, bersenang-senang bersama, dan masih banyak lagi hal-hal indah yang mereka lakukan bersama.

Tapi sekarang ... Ray telah menodai persahabatan mereka.

Marissa tidak melupakannya begitu saja.

"Sa! Kau kenapa? Kalau ada masalah, bicara langsung, jangan tiba-tiba marah seperti ini! Aku tidak mengerti!"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 354 Danendra Sengaja

    Marissa pun berbaring di kursi. Di atasnya sudah ada Danendra yang menekannya. Sepertinya Danendra sengaja melakukan hal itu agar terdengar oleh orang yang ada di seberang telepon. Tanpa mengatakan apa pun, Danendra langsung mencium Marissa. Ia menarik kedua tangan Marissa ke atas kepala agar wanita itu tidak memberontak. Satu tangan lagi meraba pahanya yang hanya mengenakan rok di atas lutut. Tindakannya itu membuat Marissa tak berdaya. Ingin mengeluarkan suara kenikmatan, tapi di sana masih ada ponsel yang menyala. Marissa takut Zain mendengar aktivitas mereka saat ini. Danendra masih menekannya. Ia mencium bibir Marissa dengan rakus hingga suara basah dari kedua mulut yang menyatu sangat jelas terdengar. Danendra benar-benar melakukannya dengan sengaja. "Asihhh! Danen!" Marissa menggeliat. Tangan pria itu semakin menyelusup masuk ke dalam roknya. "Buka kakimu, Sayang! Aku akan menyentuhnya dengan tanganku!" ucap Danendra dengan penuh godaan. "Enghhh ...." Marissa tidak ing

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 353 Tidak Bersalah

    Di depannya Danendra tidak tahan. Ia berkata pada Marissa yang tidak melihatnya sama sekali. "Sayang! Kita ini bukan anak ABG lagi, yang kalau marah harus diam-diaman! Aku tidak suka kau mengabaikan chat dan teleponku! Aku pun tidak suka kau pergi ke tempat pria lain dan mencari kesenangan di sana! Kalau kau memang membenciku, ya, tinggal bilang saja! Aku tidak akan marah!" "Tidak akan marah?" Marissa mengulangi ucapannya. "Yang seharusnya marah itu adalah aku! Kau menuduhku menjual diri, dan kau pun menghilangkan kunci mobil Zain!" "Apa dengan sikapmu itu, aku tidak boleh marah?" tanya Marissa yang kali ini sudah menatap Danendra dengan tajam. Kekesalannya masih belum hilang walau waktu sudah berlalu lebih dari 24 jam. Dan, pria di depannya ini, masih saja merasa tidak bersalah. "Kalau memang tidak melakukan semua itu, kenapa harus marah?" tanya Danendra tanpa emosi. Ia sudah meredam emosinya dan sudah merenungkan semua yang dilakukannya tadi malam. "Makanya, kalau ada

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 352 Seperti Mengusir

    "Ahaha! Ti-tidak! Aku tidak melakukan hal itu lagi!" balas Marissa sambil tertawa. Ia cukup malu saat diingatkan lagi tentang tingkah konyolnya yang akan mengakhiri hidup hanya karena masalah sepele. "Lalu itu ... kakimu!" tunjuk Ken. Marissa segera melihat lututnya yang putih, tapi ada luka merah yang belum kering. Ia pun kembali menyangkal. "Tidak apa-apa! Ini karena terjatuh sedikit! Bukan karena menabrakan diri ke mobil orang!" canda Marissa. "Oh!" Ken tidak bertanya lagi. Setelah itu, Ken malah menyuruh Marissa untuk mengikutinya ke ruangan pribadi. "Mari, ikut dengan saya, Nona!" "Ah, baik!" Marissa pun mengikuti Ken dari belakang. Mereka masuk ke ruangan yang nampak luas dan terang, juga kedap suara. Musik DJ yang begitu keras pun, tidak terdengar ke dalam ruangan itu. "Duduklah!" "Te-terima kasih!" balas Marissa. Ia pun duduk di sofa yang ada di ruang kerja Ken. Setelah itu, Ken membuka lemari kayu, lalu mengambil kotak putih dari sana. Ia menghampiri

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 351 Pria Paruh Baya

    30 menit kemudian, Fanny datang dan masuk ke ruangan yang ramai dengan pencahayaan yang kurang sempurna. Dari salah satu meja, ia melihat punggung wanita yang sudah tidak asing. Wanita itu duduk sambil meneguk minumannya. "Sa!" panggil Fanny pada wanita itu. Di mejanya sudah ada satu gelas dan satu piring berisi makanan yang tinggal setengah. Marissa sudah memesan makan dan minuman untuk dirinya sendiri. Padahal sebelumnya ia masih ingin menunggu Fanny. "Eh, Fan, sini!" Marissa pun melambaikan tangan. Setelah itu, Fanny menghampiri. "Maaf tadi di jalan ada sedikit masalah! Makanya agak lama!" ucap Fanny sambil duduk. "Tidak apa-apa! Makanan aku pun baru datang, kok! Kau mau pesan apa?" tanya Marissa. Lalu ia memanggil pelayan ke mejanya. Sambil memesan makanan untuk Fanny, Marissa pun memperhatikan pria gagah di depan sana yang berusia 45 tahun. Ia ingin menghampiri Ken dan ingin mengobrol dengan asisten pribadi Tuan Lim itu. "Hey, kau lihat apa? Serius sekali!" tan

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 350 Ken?

    Hari sudah semakin sore. Marissa masih ada di tempat tinggal Zain sendirian. Mau pulang? Tapi rasanya sangat berat. Akhirnya Marissa memutuskan untuk tetap tinggal di apartemen Zain karena kalau pulang pun putranya tidak ada. Michael sudah pergi bersama Wilyam dan Ambar ke rumah mereka. "Lebih baik aku tetap berada di sini sambil menenangkan diri!" Mungkin karena lelah seharian bekerja, dan ngantuk—semalaman tidak tidur, akhirnya Marissa tidur di sofa. Ia berbaring sambil menggunakan selimut tipis dan bantal yang dia ambil dari kamar tamu. Tidur di tempat orang lain, juga di sofa empuk yang lumayan besar, Marissa merasa nyaman, waktu pun berlalu begitu cepat. Baru juga tidur, sudah harus bangun lagi karena alarm di ponselnya sudah berbunyi. Padahal tidurnya sudah dua jam. Marissa mengatur alarm di jam 19.30 sebelum Zain benar-benar pulang. Saat ini, Marissa tidak ingin dikira tinggal di apartemen Zain karena menunggunya pulang. Nanti Zain salah paham dan mengira Marissa menungg

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 349 Jangan Lama-Lama

    Waktu sudah semakin malam, tapi Marissa masih berada di basement apartemen sambil mencari benda kecil yang entah ada di mana. Lututnya pun benar-benar sudah terluka dan berdarah karena goresan-goresan ke lantai. "Arghhh!" Inginnya memaki pria yang saat ini masih bersandar di tiang besar sambil melihatnya mencari kunci mobil. Tapi Marissa tidak bisa. Ia hanya bisa marah pada angin malam yang berhembus. Ia pun melampiaskan kekesalannya dengan menendang salah satu mobil yang ada di depannya. "Aish!" DUGGG! Seketika mobil itu berbunyi kencang. Marissa pun menjadi panik. Tanpa berpikir lagi, ia segera berlari seperti pecundang meninggalkan basement dan meninggalkan Danendra yang masih ada di sana. Lalu masuk ke dalam gedung dan segera masuk ke dalam lift. Marissa tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Entah bagaimana reaksi sang pemilik mobil ketika alarm mobilnya berbunyi kencang, dan tidak tahu juga apa yang Danendra lakukan setelah itu. Yang jelas, Marissa sangat kesal

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 67 Lebih Hangat dan Manis

    "Ayo kita berkencan!" Ajakan itu terus terngiang di telinga Marissa. Danendra memberinya waktu tiga hari untuk menjawab hal itu. Keuntungan jika berkencan dengan pria itu, Marissa sangat menginginkannya. Bisa bersama dengan Mario dan bisa menjadi ibu tiri untuknya, tentu saja

    last update최신 업데이트 : 2026-03-23
  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 70 Gaun yang Sangat Indah

    Dalam kepanikannya, ketukan di pintu itu semakin keras terdengar diiringi suara seseorang yang memanggil namanya. "Bety! Bety! Buka pintunya! Kau belum tidur, kan?" Tok! Tok! Tok! "Bety! Buka pintunya!" panggil Nima untuk yang kedua kalinya. Marissa pun mengenali suara itu. Suara itu adal

    last update최신 업데이트 : 2026-03-23
  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 65 Anda Kenapa?

    Karena seharian ini mereka terus bersama, Darius menjadi lebih dekat dengan Fanny, Marissa dan juga Ray. Mereka bisa berteman baik karena Darius orang yang sangat menyenangkan. Malam ini, mereka berencana untuk pergi ke tempat hiburan terkenal di Malio. Tempat hiburan itu sangat ramai setiap mala

    last update최신 업데이트 : 2026-03-23
  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 68 Tidak Mau Nama Itu Lagi

    Pukul dua dini hari, Fanny membawa kopernya keluar dari kamar dan berdiri di depan pintu dengan sedih. Pasalnya, Fqnny dan yang lainnya sangat mencemaskan Marissa karena wanita itu masih tidak bisa dihubungi, juga karena wanita itu tidak ada di manapun. Mereka sudah

    last update최신 업데이트 : 2026-03-23
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status