Share

Elera Vasqeuz

Author: THANISA
last update Last Updated: 2025-03-05 15:10:55

Maya mondar-mandir di ruang tamu apartemen Elera, wajahnya penuh kekhawatiran dan frustrasi. Ponselnya tergenggam erat di tangan, siap menelepon polisi kapan saja.

Seharusnya mereka sudah berada di Pattaya sekarang, menikmati liburan yang telah direncanakan berbulan-bulan. Tapi nyatanya? Sahabatnya malah menghilang tanpa kabar.

Klik!

Suara kunci berputar.

Maya langsung menoleh ke arah pintu. Begitu pintu terbuka, sosok yang sejak tadi ia tunggu akhirnya muncul.

"ELERA!"

Ia langsung berlari dan memeluk sahabatnya erat, hampir membuat Elera kehilangan keseimbangan.

"Ya Tuhan, kau ke mana saja?! Aku sudah hampir gila!"

Elera tersenyum tipis, membalas pelukan itu dengan tepukan pelan di punggung Maya. "Aku baik-baik saja, Ma."

Namun, Maya langsung menarik diri dan menatapnya penuh selidik.

"Tidak! Kau tidak baik-baik saja! Kau menghilang semalaman, tidak menjawab telepon, lalu tiba-tiba kembali seperti ini?"

Elera membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi sebelum ia sempat mengeluarkan satu kata pun, Maya melihat sesuatu di belakangnya.

Matanya membesar, rahangnya menganga, dan ekspresinya berubah dari lega menjadi syok.

"ASTAGA… SIAPA MEREKA?!"

Elera menegang. Ia tahu siapa yang sedang dilihat Maya.

Leon dan Dante.

Dua pria itu berdiri di ambang pintu, mengamati mereka dengan tatapan tenang tetapi tajam.

Maya langsung melangkah mundur, memandang Elera dengan ekspresi tidak percaya. "Elera… siapa mereka? Apa yang sebenarnya terjadi?!"

Elera menelan ludah. Sial.

Leon melangkah masuk, menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan santai. Suaranya rendah, dalam, tetapi penuh otoritas.

"Cepat kemasi barangmu."

Maya mendelik. "Apa maksudnya ini?! KAU PERGI DENGAN MEREKA?!"

Elera menghela napas panjang. Ia tahu ini akan jadi sulit.

"Aku… akan menjelaskan nanti, Maya."

Maya mengangkat tangan, menghentikan kalimat Elera.

"Tidak! Jelaskan sekarang juga! Siapa pria ini?! Kenapa dia masuk ke APARTEMENMU?!"

Sial.

Elera berpikir cepat. Maya tidak bisa tahu yang sebenarnya. Dia tidak boleh tahu bahwa Leon adalah mafia yang sedang berperang dengan musuhnya dan bahwa Elera secara tidak sengaja terjebak di tengah-tengahnya.

Jadi, tanpa berpikir panjang, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah—

"Dia… orang yang dijodohkan denganku oleh Om dan Tante."

Hening.

Maya berkedip, wajahnya berubah dari penuh kecurigaan menjadi kebingungan total.

"APA?!"

Dante yang tadinya bersandar santai di pintu langsung membeku, menatap Elera seolah baru saja mendengar lelucon terbaik dalam hidupnya.

Leon, sementara itu, tetap memasang ekspresi datarnya. Namun, tatapannya ke arah Elera jelas mengatakan "Apa-apaan ini?"

Maya, yang tidak bisa diam lama-lama, langsung meledak.

"KAU DIJODOHKAN?! SEJAK KAPAN?! DENGAN DIA?!" Maya menunjuk ke arah Leon dengan dramatis."YA AMPUN, KENAPA KAU TIDAK MENGATAKAN APA-APA?! APA AKU INI BUKAN SAHABATMU?!"

Elera hampir jatuh ke lantai karena Maya mengguncang tubuhnya keras-keras.

"Ma-Maya, tenang! Aku bisa jelaskan!"

Namun, Maya tidak berhenti sampai di situ. Dia malah melihat lebih dekat ke arah Leon dan Dante, lalu mengerjapkan matanya berulang kali.

"Oke, tunggu sebentar. Stop. Aku harus memproses ini."

Ia mengibas-ngibaskan tangannya, seolah meminta semua orang diam sebentar, lalu menatap Leon dan Dante lagi dengan ekspresi penuh penilaian.

"Astaga. Aku harus mengatakannya."

Elera menutup mata, sudah bisa menebak apa yang akan keluar dari mulut Maya.

Dan benar saja—

"KALIAN BERDUA TAMPAN DAN SEKSI BANGET! YA TUHAN, ELERA, KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU KALAU PERJODOHANMU SEBEGINI HOT-NYA?!"

Dante langsung tertawa terbahak-bahak.

Leon hanya mengerutkan kening, sementara Elera menutup wajahnya dengan kedua tangan, ingin menghilang dari dunia ini sekarang juga.

"Maya, AKU MEMOHON, JANGAN SEPERTI INI!"

Namun, tentu saja, Maya tidak peduli. Dia melangkah mendekati Leon dan Dante, menatap mereka dari atas ke bawah seperti sedang menilai barang koleksi mahal.

"Serius, El. Kalau aku tahu kau dijodohkan dengan pria sekeren ini, aku pasti sudah merestuinya sejak awal!"

Dante bertepuk tangan dengan gembira. "Akhirnya! Seseorang yang bisa mengapresiasi keberadaan kami!"

Leon mendengus pelan. "Ini tidak perlu dibesar-besarkan."

Maya langsung menunjuknya dengan mata menyipit curiga. "Oh, oh, oh, tidak. Kau tidak bisa menghancurkan momen ini, Tuan Santiago! Karena aku masih punya pertanyaan!"

Elera mengerang dalam hati. "Tolong hentikan, Maya."

Maya mengabaikannya, malah mendekatkan wajahnya ke Leon dengan ekspresi menyelidik.

"Seberapa banyak kau tahu tentang calon istrimu ini?"

Leon menatap Maya dengan malas, tetapi ia tetap menjawab dengan suara tenang.

"Aku tahu dia keras kepala, terlalu mandiri untuk ukuran seorang wanita, dan tidak mudah tunduk pada siapa pun."

Dante tertawa lebih keras lagi, sementara Maya terdiam sesaat sebelum akhirnya…

"ASTAGA! DIA BENAR-BENAR TAHU KAU, EL!"

Elera ingin menjerit. "Maya, DIAM!"

Namun, Maya tidak mendengarkan. Dia malah melompat kegirangan dan menepuk pundak Elera keras-keras.

"Kau harus segera menikah dengannya, El! Serius, pria ini tipe suami ideal!"

Leon menaikkan satu alis. "Oh?"

Elera menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh ancaman. "JANGAN DENGAN SENANG HATI MENERIMA INI!"

Dante benar-benar tidak bisa berhenti tertawa sekarang.

Tetapi sesuatu dalam ekspresinya berubah sedikit saat matanya kembali ke Maya.

Wanita itu tidak takut sedikit pun.

Dan itu… menarik perhatiannya.

Elera menghela napas panjang. Ini sudah cukup buruk.

Tapi ia tahu, ini baru awal dari kekacauan yang lebih besar.

~~~~~

Suasana apartemen masih riuh dengan suara perdebatan. Maya terus saja mengomel pada Dante, sementara Elera sibuk mengatur napasnya, berusaha mengendalikan situasi yang semakin absurd.

Namun, di tengah kekacauan itu, pintu apartemen tiba-tiba terbuka lagi.

Suara langkah kaki berat bergema di dalam ruangan.

Seolah udara langsung berubah lebih dingin.

Tanpa perlu melihat, Elera bisa merasakan aura mendominasi yang baru saja masuk ke dalam ruangan.

Ia menoleh—dan seketika tubuhnya menegang.

Seorang pria melangkah masuk dengan tenang, matanya tajam seperti pemangsa yang menilai keadaan, posturnya tegap, dan ekspresinya begitu sulit ditebak.

Leon, yang sejak tadi santai, langsung duduk lebih tegak.

Dante juga langsung diam, sesuatu yang jarang terjadi.

Namun, yang paling mengejutkan adalah Maya, yang semula masih sibuk mengomel, tiba-tiba membatu di tempatnya.

Matanya membesar, seakan ia baru saja melihat sesuatu yang tidak ia duga sama sekali.

"Ayah?" suara Maya nyaris tercekat di tenggorokannya.

Elera membelalak, jantungnya seperti jatuh ke perutnya.

"Om Alvarez?"

Diego Alvarez berdiri di tengah ruangan, matanya menyapu seluruh orang di sana sebelum akhirnya berhenti pada Leon.

Tatapan itu tajam, penuh tekanan, dan jelas membawa sesuatu yang besar.

Hening.

Semua orang menunggu apa yang akan dikatakannya.

Akhirnya, suara beratnya terdengar, terucap dengan nada yang tenang tetapi memiliki kekuatan luar biasa di dalamnya.

"Kita perlu bicara. Sekarang."

Elera menelan ludah, sesuatu dalam dirinya mengatakan bahwa pembicaraan ini tidak akan sederhana.

Leon mengeraskan rahangnya, tetapi tidak menolak.

Maya masih terpaku di tempatnya, matanya beralih dari ayahnya ke Leon dan kembali lagi.

Namun satu hal yang pasti—pertemuan ini akan mengubah segalanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Saat Tawa Menjadi Penjaga

    Pagi itu datang tanpa alarm, tanpa tergesa. Matahari masuk malu-malu lewat tirai, seolah tahu rumah ini butuh waktu sebelum dunia kembali menagih.Alfa sudah bangun duluan. Ia duduk di lantai, menyusun bantal dan selimut jadi benteng dadakan. “Papa, ini markas rahasia,” katanya serius.Leon menatap hasil karya itu, lalu berjongkok. “Markas rahasia tapi pintunya kebuka semua?”“Itu strategi,” jawab Alfa cepat. “Biar musuh bingung.”Kai yang baru keluar dari kamar tertawa kecil. “Oke, aku lupa Alfa ada,” gumamnya. “Anak jenius.”Elera muncul dengan salah satu kembar di gendongan. Yang satu lagi merangkak cepat, terlalu cepat, lalu—bruk. Tangis pecah. Kembarnya justru tertawa, keras dan bangga, seolah baru memenangkan sesuatu.“Kenapa yang ini ketawa mulu sih?” Leon mengangkat bayi yang tertawa itu. “Papa tuh jatuh harga dirinya, tau?”Maya datang tepat saat itu, membawa kopi dan komentar. “Tenang. Yang satu empati, yang satu sadis. Seimbang.”Rumah itu kembali penuh suara. Tawa kecil, c

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Pagi yang Terlalu Tenang untuk Keluarga Santiago

    Pagi itu datang tanpa alarm, tanpa teriakan, tanpa suara sepatu berlarian panik seperti hari-hari lain. Matahari jatuh lembut di balik tirai, seolah dunia sepakat memberi keluarga Santiago jeda—sebentar saja—dari segala kekacauan yang biasanya mengintai.Elera terbangun lebih dulu. Bukan karena jadwal operasi, bukan karena panggilan darurat. Tapi karena suara kecil yang sedang belajar mengenal dunia.Si kembar.Satu merangkak terlalu cepat, terlalu percaya diri, lalu—bruk—jatuh dengan bunyi pelan. Tangis pun pecah. Yang satunya? Bukannya ikut menangis, malah tertawa kecil, puas, seakan baru menemukan hiburan baru bernama “kekacauan”.“Yang satu drama, yang satu komedian,” gumam Elera sambil menggendong yang menangis.Dari balik pintu, Leon muncul dengan rambut acak-acakan, kaus rumah, dan wajah yang jarang orang lihat—wajah papa yang belum sepenuhnya bangun, tapi sudah siap siaga.“Yang mana sekarang?” tanyanya.“Yang ini,” kata Elera. “Yang satunya lagi kayaknya bangga.”Leon terkeke

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Hal yang Tidak Pernah Kuceritakan

    Malam turun perlahan di mansion Santiago.Anak-anak sudah tidur. Alfa lebih dulu, kelelahan setelah seharian “mengawasi” si kembar. Dua bayi itu terlelap berdampingan, napas mereka kecil dan teratur—ritme yang biasanya menenangkan.Tapi malam ini, tidak.Leon berdiri di balkon kamar, menatap gelap. Elera tidak memaksanya bicara. Ia tahu kapan harus menunggu.Akhirnya Leon menarik kursi dan duduk. Ia menyentuh wajahnya sebentar, seperti orang yang sedang mengumpulkan keberanian.“Namanya Valerio Cruz,” katanya pelan.Elera menoleh. Nama itu jatuh berat.“Dulu,” lanjut Leon, “dia bukan musuh. Dia… keluarga. Bukan sedarah. Tapi lebih dekat dari itu.”Elera duduk di hadapannya, diam, memberi ruang.“Kami membangun jaringan bersama. Dari nol. Kotor. Berdarah. Tapi jujur. Valerio orang yang brilian. Dan kejam.”Leon tertawa kecil tanpa senyum. “Dia percaya kekuasaan harus ditakuti. Aku percaya… harus dijaga.”“Perbedaan visi,” gumam Elera.“Perbedaan batas,” koreksi Leon. “Dia mulai menyent

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Retakan Pertama

    Leon tidak langsung bertindak.Itu bukan gayanya.Ia duduk tenang di ruang kerja, jas belum dikenakan, kancing kemeja masih terbuka satu. Di hadapannya, data mentah mengalir tanpa henti—pergerakan jaringan, akses rumah sakit non-afiliasi, jejak digital yang sengaja dibuat terlalu rapi.Kai selalu rapi.Tapi tidak pernah berlebihan.Leon menekan satu titik waktu. Dua hari lalu.Nama rumah sakit itu muncul lagi. Kali ini dengan jalur logistik yang seharusnya tidak terhubung ke siapa pun.“Kau menyembunyikan sesuatu,” gumamnya pelan.Bukan tuduhan.Pengakuan.Pintu terbuka tanpa diketuk. Elera masuk dengan ekspresi yang Leon kenal betul—wajah seorang dokter yang mencium bau masalah sebelum hasil lab keluar.“Leon,” katanya. “Kau belum jawab pertanyaanku tadi pagi.”Leon menutup layar. Terlambat. Elera sudah melihat cukup.“Dante tidak di rumah,” lanjut Elera. “Kai juga tidak. Dan instingku bilang ini bukan kebetulan.”Leon berdiri. Mereka kini sejajar—dua orang yang sama-sama terbiasa be

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Hal-Hal yang Tidak Diucapkan

    Dante belum sepenuhnya sadar ketika layar kecil di sudut ruang perawatan berkedip pelan.Bukan alarm.Bukan gangguan listrik.Kai mengangkat kepala, napasnya langsung mengeras.Saluran mati.Saluran yang seharusnya sudah terkubur bersama masa lalunya.“Dokter Kai,” suara di seberang terdengar terdistorsi, nyaris sopan.“Kami tahu kau memilih rumah sakit itu.”Jari Kai berhenti di udara. Tidak gemetar. Tidak ragu.“Kami juga tahu,” lanjut suara itu, “kau tidak memberi tahu Leon Santiago. Atau Elera.”Sunyi memanjang.Dante bergerak kecil di ranjang. Monitor berbunyi lirih, seolah ikut menahan napas.“Kenapa?” tanya Kai akhirnya. Suaranya rendah, datar, berbahaya.“Kalian mau apa dariku?”Tawa kecil terdengar. Bukan ejekan. Lebih seperti kepuasan.“Kami cuma ingin memastikan,” suara itu berkata,“bahwa orang yang selalu pasang badan untuk keluarga itu… masih sama.”Kai menatap wajah Dante. Perban menutupi separuh kepalanya. Luka itu tidak akan terlihat oleh siapa pun di rumah Santiago.

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Retakan yang Tidak Bersuar

    Malam turun pelan di mansion Santiago, terlalu pelan sampai terasa mencurigakan.Si kembar terbaring di boks bayi, satu mengoceh tanpa arah, satu lagi sibuk menarik kaus Leon yang sedang duduk di lantai. Alfa membangun benteng dari bantal—kali ini serius, struktur segitiga, “anti serangan monster,” katanya.“Papa, kamu jaga pintu,” perintah Alfa.Leon menurut. Duduk tegak, wajah serius. “Siap. Papa di sini.”Elera berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahu. Lelahnya hari itu belum hilang, tapi melihat pemandangan ini—anak-anak, Leon yang rela jadi penjaga benteng—ada hangat yang menambal retakan kecil di dadanya.Kai memperhatikan dari kejauhan.Ia selalu begitu. Tidak masuk ke tengah lingkaran, tapi memastikan lingkaran itu aman.Dante muncul membawa dua gelas kopi. Menyodorkan satu ke Kai. “Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “orang normal kalau bahagia tuh santai.”Kai menyesap. “Aku nggak daftar jadi orang normal.”“Ketahuan.”Mereka saling pandang. Ada humor di situ, tapi juga kelel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status