Mag-log inAurora dan Alvaro bermain bersama sembari menunggu Leo pulang dari bertemu klien di rumah sakit yang berbeda, suaminya itu memang sering pergi ke luar kota bahkan ke luar negeri bertemu dengan dokter-dokter yang lainnya.Untungnya Leo sudah mempersiapkan mainan yang cukup banyak untuk Alvaro. Jadi, anak mereka itu tidak akan bosan bermain di dalam kamar hotel.Aurora malas untuk keluar karena ia tidak paham jalan di sini. Bisa-bisa nanti ia kesasar jika pergi berdua dengan Alvaro tanpa adanya Leo.“Papa,” panggil Alvaro yang mulai mencari keberadaan Leo.“Papa sedang kerja, Sayang. Sebentar lagi pulang, kita tunggu Papa ya,” jawab Aurora dengan lembut.Alvaro mengerti, anak kecil itu mengangguk dan bermain kembali. Bahkan terus berjalan ke sana ke sini tanpa lelah. Sering kali Aurora lah yang merasa lelah dan mengantuk, karena Alvaro yang tidak mau tidur.“Sayang, ayo tidur dulu. Kamu gak ngantuk apa, Sayang?” tanya Aurora dengan menguap setelah selesai berbicara.“Ndak Mama, main aja
“Iya bulan madu, Sayang. Gimana kamu mau kan?” tanya Leo dengan menaik turunkan alisnya.Ia yakin Aurora tidak akan bisa menolaknya, walaupun sang istri nampak terkejut dengan ucapannya.“Alvaro gimana, Mas?” tanya Aurora yang tidak ingin meninggalkan Alvaro.Ia tidak tenang jika hanya pergi berdua tanpa membawa Alvaro. Sebagai seorang ibu tentu saja ia akan merindukan anaknya, Aurora tidak ingin berjauhan dari Alvaro apalagi anaknya itu sedang aktif-aktifnya.“Alvaro kita bawa, Sayang. Mas juga tidak tega jika harus meninggalkan Alvaro. Kamu tidak perlu takut ya,” sahut Leo dengan tersenyum menenangkan.Aurora yang mendengar jawaban suaminya merasa sangat lega karena mereka akan membawa Alvaro pergi bersama.“Aku kira Alvaro ditinggal, Mas. Kalau seperti itu aku gak mau pergi, gak tega ninggalin anak cuma sama pengasuhnya, Mas. Tapi aku lega jika Alvaro akan kita bawa,” ujar Aurora dengan perasaan yang ringan.Leo tergelak mendengarnya, ia sangat mengerti ketakutan istrinya. “Jadi gi
Leo memeluk Aurora dari belakang setelah mereka selesai bercinta untuk kedua kalinya. Napas mereka masih sangat memburu, terasa panas dan membakar jiwa keduanya. Kali ini mereka bercinta sudah tidak menggunakan pengaman sama sekali, keduanya sudah sepakat untuk memiliki anak kedua. Sebab, usia Leo tak lagi muda. Dan Aurora pun setuju atas permintaan sang suami kepadanya. “Kamu capek, Sayang?” tanya Leo dengan suara yang serak dan berat bahkan ia masih bisa mencium tengkuk Aurora. Aurora mengangguk dengan mata terpejam, napasnya masih sangat berat. Dan tentu saja ia sangat kelelahan melayani suaminya, lihatlah tubuhnya sekarang yang sudah dipenuhi tanda merah perbuatan Leo. “Capek banget, Mas. Aku ngantuk juga,” ucap Aurora mulai menguap. Aurora membalikkan tubuhnya menjadi menghadap sang suami, ia memegang dada Leo dan mengusap karyanya di sana dengan gerakan lembut. “Biar cepat jadi anak kedua kita, Sayang. Maaf ya kalau membuat kamu kelelahan,” ujar Leo dengan pelan. De
lAurora tidak terlalu terkejut ketika Leo meminta anak lagi dari dirinya. Tetapi tetap saja ia merasa deg-degan dengan permintaan sang suami.“Loh kenapa tidak, Sayang? Mas ingin punya dua anak dari kamu. Apa kamu tidak mau, Sayang?” tanya Leo dengan serius.Aurora gelagapan, seketika ia menggelengkan kepalanya. “Bukan seperti itu, Mas. A-aku mau kok. Hanya saja aku—”“Deg-degan ya?” tanya Leo memotong ucapan Aurora.Aurora tersipu, kedua pipinya memerah dan ia mengangguk dengan malu sampai wajahnya memerah.Leo tergelak melihat anggukan dengan ekspresi malu-malu istrinya.“Ih Mas Leo jangan ketawa. Wajar dong aku deg-degan,” ujar Aurora memprotes suaminya dengan memukul dada Leo pelan.Leo memegang tangan Aurora dengan erat, ia menghentikan tawanya dan menatap Aurora dengan serius.“Tidak perlu malu, Sayang. Kita sudah biasa melakukannya, kan?” tanya Leo dengan suara yang rendah dan serak.Suasana di ruangan ini berubah menjadi panas bagi Aurora. Wanita itu memegang tengkuknya sendi
6 bulan kemudian….Aurora tersenyum melihat Alvaro yang sudah mulai bisa berjalan, walaupun masih tertatih-tatih tetapi ia bangga dengan tumbuh kembang anaknya sendiri.Ia juga tidak menyangka jika dirinya menjadi seorang ibu untuk Alvaro, melihat Alvaro terus bertumbuh menjadi anak yang sehat membuat dirinya lega.“Ternyata aku sudah sejauh ini menjadi seorang ibu ya,” gumam Aurora menatap sang anak dengan perasaan penuh haru.Perubahan besar yang sangat ia syukuri selama hidupnya, takdir yang membawa dirinya sejauh ini. Jika ia tidak bertahan dengan segala cobaan yang datang di hidupnya dulu, mungkin ia tidak akan merasakan kebahagiaan ini.Memiliki keluarga kecil, suami yang yang bertanggung jawab dan anak yang lucu adalah sebuah anugrah terindah di dalam hidupnya.“Alvaro sini ke tempat Mama, Nak!” perintah Aurora dengan lembut sambil merentangkan kedua tangannya.Anak kecil itu sudah sangat paham jika namanya dipanggil. Alvaro langsung menoleh ke arah mamanya dan tertawa sambil
Darma menunggu di depan ruangan UGD. Tatapannya kosong, pikirannya entah melayang di mana.Kenapa ia harus secemas ini kepada Emma? Seharusnya ia meninggalkan wanita itu saja, apalagi Emma sudah mengusirnya. Namun, sekarang ia malah duduk di sini menanti dokter keluar setelah memeriksa Emma.“Kenapa aku masih peduli dengannya? Aku tinggalkan saja wanita itu sekarang,” gumam Darma menimbang semua perkataannya.Untuk apa juga ia berada di sini, biarkan saja Emma sendirian. Toh mereka juga tidak memiliki hubungan selain saling membutuhkan di atas ranjang dan sekarang semuanya sudah berakhir.Saat Darma hendak melangkah pergi, suara pintu terbuka mengurungkan niatnya. Seketika kakinya langsung terhenti dan menoleh ke arah dokter yang baru saja keluar dari ruangan UGD.“Dengan suami pasien?” tanya Dokter pada Darma.Darma tak langsung menjawab. Ia tampak terkejut dengan pertanyaan dokter. Tetapi lebih baik mengaku menjadi suami Emma terlebih dahulu agar ia bisa cepat pergi dari sini setel







