LOGINKamu serius mau kerja, Yar?” tanya Arunika, memiringkan kepala heran.
Yara mengangguk mantap. “Aku cuma tinggal bab terakhir, kok. Tinggal nunggu jadwal sidang.” Suaranya terdengar yakin, meski ada sedikit getar di ujungnya. “Lagian, aku nggak bisa terus-terusan ngandelin orang tua. Di rumah kamu juga nggak enak kalo lama-lama.” Arunika tersenyum lembut, lalu menggenggam tangan Yara. “Aku bangga, tahu.” Yara tertawa kecil. “Bangga-nya nanti aja pas kita udah wisuda bareng, baru boleh peluk-peluk gini.” “Siap, calon sarjana,” goda Arunika, memeluk Yara singkat sebelum melepaskan. “Udah, sana berangkat. Papa pasti udah nungguin di bawah.” Yara meraih tasnya, lalu mematut diri di depan cermin. Blus putihnya rapi, rok span selutut itu menonjolkan kaki jenjangnya, rambutnya tergulung rapi. “Aku cantik, kan?” “Cantik banget. Sekalian bikin orang gagal fokus,” jawab Arunika setengah mengantuk sambil rebahan. “Jangan lupa tutup pintu, ya.” “Oke! Bye, Runi!” Yara menuruni tangga pelan-pelan. Heels-nya beradu pelan dengan lantai marmer. “Om El?” panggilnya begitu sampai ruang tamu. Elvaro yang sedang memeriksa berkas menoleh. Tatapannya sedikit membeku sebelum cepat-cepat berdeham. Yara kembali mengoreksi penampilannya. “Om kenapa? Apa ada yang aneh sama penampilanku?” Elvaro menggelengkan kepala. “Gak ada yang aneh, kok. Kamu cantik. Ayo!” Yara terdiam sepersekian detik. Kata itu—cantik—masih menggema di kepalanya. Tapi ia cepat menyembunyikan senyum yang mulai muncul di bibirnya. “Makasih, Om.” “Sarapan,” ucap Elvaro sambil menydorkan paper bag pada Yara. Mereka keluar rumah, Elvaro bahkan sempat membukakan pintu mobil. Yara sempat tercengang dengan perlakuan sopan itu. “Om nggak sarapan?” tanyanya saat sudah duduk di kursi penumpang. Elvaro hanya menggelengkan kepala. Yara membuka isinya — dua potong sandwich dan segelas strawberry milkshake. “Om, ini dua. Bagi satu ya,” katanya antusias. “Om nyetir, Yara. Makan aja kamu—” ucapan Elvaro terhenti begitu Yara menyodorkan sandwich itu ke depan mulutnya. “Kan nggak adil kalo cuma aku yang makan,” katanya sambil tersenyum manis. Elvaro sempat menatap sekilas — mata mereka bertemu sepersekian detik — sebelum akhirnya ia membuka mulut dan menggigit sandwich itu. Yara tersenyum kecil, lalu menggigit bagian yang sama tanpa banyak pikir. Dalam diam, Elvaro menelan ludah, sementara Yara menatap jalanan yang mulai ramai. Tapi dalam kepalanya, satu hal terlintas. ‘Baru pertama kali aku merasa, pagi bisa sepanas ini.’ Hening. Saat mobil berhenti di depan kantor barunya, Yara belum langsung turun. Tangannya saling meremas di pangkuan, mencoba mengumpulkan semangat yang tersisa. Elvaro meliriknya sekilas, lalu tanpa ragu menggenggam tangan Yara. Hangat. Tegas. “Semangat, ya. Bilang aja kamu kerabat Om.” Bukannya semangat, Yara malah tambah deg-degan. Jarak wajah mereka cuma dua jengkal. Napasnya terasa naik turun. “Iya, Om,” jawabnya pelan, nyaris seperti bisikan. Elvaro tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Yara lembut. “Turun sana. Kamu pasti bisa.” “Ma-makasih, Om.” Yara buru-buru melepas sabuk pengamannya, tapi malah macet. “Eh, aw! Kuku aku kejepit!” “Coba sini,” Elvaro langsung mencondongkan tubuhnya. Jemarinya menyentuh gesper sabuk Yara, membuat gadis itu refleks menahan napas. Jantungnya berdetak gila-gilaan, apalagi aroma parfum Elvaro yang khas terasa dekat sekali. Klik. Elvaro menoleh, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Yara. “Sudah.” “Te-terima kasih, Om.” Yara menurunkan pandangannya cepat-cepat, tapi Elvaro justru tak beranjak.. “Kamu baik-baik aja? Pipi kamu merah.” “Ha? Nggak kok, Om.” Yara spontan menutup pipinya, lalu memalingkan wajah. Tapi ia tahu, Elvaro pasti melihat rona merah itu makin jelas. Elvaro tersenyum kecil. “Ayo, sana masuk. Percaya deh, kamu langsung diterima. Om udah kasih tahu mereka.” “Ta-tapi gimana aku mau turun, kalau Om...,” Yara menunjuk dada Elvaro yang masih terlalu dekat. “Oh.” Elvaro buru-buru menarik diri, dan kini justru dia yang pipinya memerah. Yara nyengir kecil. “Bye, Om.” Elvaro hanya mengangguk, kedua tangannya kembali mencengkeram kemudi. Tapi matanya sempat menatap bayangan Yara di kaca spion, dengan senyum samar yang susah ia tahan. Saat Yara melangkah masuk ke lobi klinik yang masih sepi, seseorang langsung memanggilnya. “Pasti Yara, ya!” suara seorang wanita terdengar ramah, tapi tegas. Yara menoleh. Seorang wanita berusia sekitar empat puluhan berdiri di depan resepsionis, tampil rapi dengan jas putih dokter dan rambut disanggul elegan. “Iya, Bu. Saya Yara,” jawabnya sopan. “Saya Dokter Nathalie, teman Elvaro. Dia udah cerita banyak tentang kamu.” Nathalie tersenyum kecil, lalu melirik ke arah ruangan dalam. “Ayo, masuk. Nanti Mila yang ajarin kamu. Tapi sebelumnya, saya mau ngobrol dulu sebentar, boleh?” Yara mengangguk kikuk. Pandangannya sempat melirik papan nama besar bertuliskan Dr. Nathalie Beauty & Aesthetic Clinic. Bangunannya tampak baru, tapi suasananya berkelas. Begitu mereka duduk di ruang konsultasi kecil, Nathalie menatap Yara serius. “Klinik belum buka dua jam lagi. Jadi, kita bisa santai dulu.” Ia menautkan jari-jarinya di atas meja, lalu berkata pelan tapi jelas, “Saya mau tanya satu hal, Yara. Hubungan kamu sama Elvaro itu... apa, sebenarnya?”Lampu temaram menyala, menyisakan cahaya kuning lembut yang memantul di dinding putih. Di ranjang, Yara duduk bersandar, rambutnya masih sedikit berantakan, matanya sembap karena kurang tidur. Sejak sore tadi, Ravael lebih sering terjaga. Menangis sebentar, tenang sebentar, lalu terbangun lagi.Di sudut kamar, Elvaro berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, menatap popok di tangannya seperti sedang menghadapi soal hidup paling rumit.Ia menghela napas pelan.“Ini depan atau belakang, sih? Papa lupa, udah tahunan gak urusi bayi,” gumamnya, hampir berbisik.Popok itu ia bolak-balik, lalu melirik Ravael yang terbaring di kasur bayi, kakinya bergerak kecil-kecil, wajahnya merah, pertanda sebentar lagi akan menangis.Elvaro bergerak cepat. Terlalu cepat.“Eh—bentar, bentar,” katanya panik, mencoba membuka perekat popok lama. Tangannya gemetar. Ravael mulai merengek.Tangisan kecil itu seperti alarm darurat.“Ya ampun, jangan nangis dulu,” Elvaro memohon, suaranya lebih cocok untuk menenang
Dokter kembali keluar dari ruang tindakan. Wajahnya serius, tapi tidak panik.“Pak Elvaro,” panggilnya.Elvaro segera berdiri. “Istri saya gimana, Dok?”Dokter menarik napas singkat. “Bu Yara mengalami kontraksi persalinan. Dan saat ini, prosesnya sudah tidak bisa dihentikan.”Elvaro terpaku. “Melahirkan?” Suaranya meninggi. “Tapi… kandungannya baru tujuh bulan, Dok. Bukannya itu terlalu cepat?”Dokter mengangguk, nada bicaranya tetap tenang dan profesional.“Secara medis, ini disebut persalinan prematur. Bisa dipicu banyak hal—stres berat, kelelahan fisik, atau kondisi rahim yang sudah siap lebih cepat. Pada Bu Yara, kontraksinya kuat dan pembukaan sudah terjadi. Jika kami paksakan menghentikan, risikonya justru lebih besar.”Elvaro menelan ludah. “Anaknya?”“Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Bayi tujuh bulan memiliki peluang hidup yang sangat baik, apalagi jika ditangani cepat dan tepat. Tapi kami butuh kerja sama Bapak.”Elvaro mengangguk cepat. “Apa pun, Dok. Tolong selamatka
Suasana yang semula hangat dan penuh tawa mendadak berubah tegang.Yara yang sejak tadi berdiri di sisi Arunika tiba-tiba terdiam. Senyum di bibirnya memudar perlahan. Tangannya refleks meraih perut buncitnya, lalu bergeser mencengkeram lengan Arunika.“Run…,” suaranya lirih, nyaris bergetar. “Kok perut aku mulas, ya?”Arunika langsung menoleh. Jantungnya berdegup kencang melihat wajah Yara yang pucat. “Mulas? Dari tadi atau baru sekarang?”“Baru,” jawab Yara sambil menarik napas pendek. Keningnya berkerut, telapak tangannya menekan perutnya. “Tapi rasanya nggak enak. Kayak ditarik-tarik dari dalam.”Kaivan yang berdiri tak jauh langsung mendekat. Wajahnya menegang. “Yara, kamu kenapa? Mukanya pucat gitu.”Belum sempat Arunika menjawab, Yara meringis lebih dalam. Tubuhnya sedikit membungkuk, napasnya mulai tak teratur.“Aduh… Mas…,” panggilnya pelan.Elvaro yang sejak tadi berbincang dengan beberapa tamu langsung menoleh tajam. Ia bergegas menghampiri istrinya. “Yara? Kamu kenapa?”“A
Kaivan berdiri di balik pintu utama aula pernikahan dengan napas yang tak kunjung benar-benar teratur. Setelan jas berwarna gading yang melekat di tubuhnya terasa mendadak sempit, bukan karena ukurannya salah, melainkan karena dadanya dipenuhi gelombang perasaan yang sulit ia kendalikan. Tangannya saling bertaut di depan tubuh, lalu terlepas, lalu kembali menggenggam. Gerakan kecil yang berulang—tanda resah yang tak mampu ia sembunyikan.Di luar, alunan musik lembut mengalir, mengiringi tamu-tamu yang telah duduk rapi. Semua tampak siap. Semua kecuali dirinya.Kaivan mengusap wajahnya pelan. Ingatannya melayang pada malam-malam yang pernah ia habiskan dalam kebingungan, pada jarak yang sempat memisahkan dirinya dari Arunika, pada rasa takut kehilangan yang nyaris menjelma nyata. Hari ini, semua itu seharusnya berakhir. Hari ini, ia menunggu perempuan yang menjadi poros hidupnya—yang akan berjalan ke arahnya, bukan menjauh.“Tenang, Kai.”Suara Pak Agam terdengar di sampingnya. Ayahnya
Hari itu cuaca cerah, tapi Arunika merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangannya menggenggam undangan berwarna krem dengan emboss sederhana di sudutnya. Nama dirinya dan Kaivan tercetak rapi di sana—sebuah kenyataan yang masih terasa seperti mimpi, meski tanggal pernikahan telah ditetapkan secara resmi.Di sampingnya, Kaivan melangkah tenang. Setelan kasual yang ia kenakan tak mengurangi wibawa alami yang selalu melekat padanya. Namun Arunika tahu, ketenangan itu bukan tanpa alasan. Pria itu telah melalui terlalu banyak badai untuk sekadar gugup menghadapi satu kunjungan.Rumah Dokter Aksa berdiri teduh di ujung jalan, dikelilingi pohon mangga yang daunnya rimbun. Aroma tanah basah masih tersisa sejak hujan semalam. Arunika berhenti sejenak di depan pagar, menarik napas dalam-dalam.“Kamu yakin?” tanyanya pelan, menoleh pada Kaivan.Kaivan menatapnya lembut. “Yakin. Kita ke sini bukan cuma bawa undangan. Kita bawa rasa terima kasih.”Kalimat itu membuat dada Arunika
Kaivan menatap Mila tanpa emosi. Bukan marah, bukan benci—lebih kepada selesai. Tatapan orang yang sudah tidak ingin terlibat lebih jauh.Ibunda Mila berdiri, wajahnya memerah karena campuran marah dan malu. “Kaivan, kamu tidak bisa bicara sembarangan! Putri saya—”“Bu,” potong Kaivan dengan sopan, tetapi tegas. “Saya bertanggung jawab penuh atas hidup saya. Dan saya tidak akan membiarkan nama perempuan lain saya bawa hanya karena tekanan.”Ayah Mila mengepalkan tangan. “Jadi maksud kamu, anak ini bukan tanggung jawab kamu?”Kaivan mengangguk mantap. “Bukan.”Ruangan kembali senyap. Kali ini lebih berat.Ayah Kaivan melangkah maju. Nada suaranya dingin, berwibawa. “Jika memang ada klaim seperti ini, keluarga kami berhak meminta bukti. Tes medis, tes DNA, apa pun yang sah. Tanpa itu, pembicaraan ini selesai.”Mila membelalak. “Om—”“Kamu yang memulai semuanya, Mila,” potong Pak Agam. “Sekarang kamu tidak bisa memaksa kami menerima sesuatu tanpa dasar.”Mila menoleh ke Kaivan, matanya b







