LOGINStacey Waldermar atau dengan nama panggung nya Emily Lynch merupakan seorang supermodel dari negeri 'Paman Sam' ia dikenal publik semenjak menjadi salah satu iklan model. Emily memulai kariernya sebagai model saat ia berumur 14 tahun, saat ia berusia 21 tahun ia menjadi model sebuah majalah dan masuk dalam model berpenghasilan tertinggi. Dipertengahan tahun, Stacey telah banyak melakukan peragaan busana dari perancang busana dan merek parfum terkenal. Disaat karir nya melejit, Stacey mendapatkan sebuah ancaman. Awalnya Stacey dan manager tidak mempedulikannya, namun seiring berjalannya waktu, selalu mendapatkan teror. James sang manager khawatir akan keselamatannya, akhirnya dia menyewa seorang Bodyguard yang terkenal dengan reputasi bagusnya dan bukan orang sembarangan, karena seorang dari agen dinas rahasia Amerika, yang bertugas mengawal presiden AS. Bagaimana perasaan Emily kalau tiba tiba sang manager menyewa seorang bodyguard?
View MoreThe lie tasted like metal and mint, a flavor Kara swallowed down every morning with her herbs. From the veranda of the great lodge, she watched the mist curl off the rushing Clearwater River, a living thing twisting through the giant ferns below. Her voice remained even, cutting through the damp air and the grumbling of the two warriors before her. "You both patrol the northern ridge," she declared, her authority unquestioned. "Torvin, the high path; Bael, the low. Settle your squabble by seeing who scents a rogue first."
As they grumbled their assent and departed into the dense forest, her thumb brushed over the cold, heavy diamond on her finger. It was a beautiful cage, a symbol of a promise Kael had spun about a bond of choice, not savage instinct. But a cage it was, and with her next heat only a week away, she could feel the wildness the ring could never hope to contain beginning to stir.
Staring out towards Mount Rainer, the ice glinting even in the distance, she couldn't help but wonder if the lie was worth it. The constant web she had to weave left her drained and damaged, but it was better than the alternative. As a natural born Omega, she was the lowest of the low, good for breeding pups and not a lot else. If it wasn't for Kael, she would've already had several by now and due to her heat, to many different fathers.
A cold knot of dread tightened in her stomach, a feeling as familiar as the weight of the ring on her finger. But before the despair could truly take hold, a new sound cut through the air—not a warning cry, but a chorus of excited shouts echoing from the treeline. The noise grew, a wave of celebration that sent birds scattering from the high branches of the firs.
A single cry of "Alpha Kael has returned!" ripped through the morning's peace, and it was enough to send the entire pack pouring into the main clearing. He had been away for weeks securing an alliance with a neighboring pack, and his return was a cause for wild celebration.
For Kara, however, the cheers were secondary to the wave of pure, unadulterated relief that washed over her. It was a selfish thought, but a desperate one: he was back. He was back in time to help her hide her coming heat.
The tight knot of fear in her stomach, the one that tasted of herbs and desperation, finally began to loosen. Allowing a rare, genuine smile to grace her lips, she moved through the throng of her cheering pack, her eyes scanning the crowd for the sight of him. And then she saw him. He stepped out from the treeline, every inch the powerful Alpha she knew, and her heart swelled with a pride that was dangerously close to hope.
And then she saw him. He stepped out from the treeline, every inch the powerful Alpha she knew, and her heart swelled with a pride that was dangerously close to hope. He was home.
But her smile faltered as a strange quietness rippled through the crowd. It started with the wolves closest to the forest's edge, their cheers dying in their throats, replaced by stunned, wide-eyed silence. The quiet spread like a disease through the pack until the only sound was the rushing of the river. Confusion pricked at Kara. Why had they stopped? What were they all staring at?
The silence broke, not with cheers, but with a low wave of murmurs. Then, the worst part: a few pack members turned, their gazes landing on her with expressions of open, gut-wrenching pity. The dread in her stomach turned to ice. They weren't just staring at him; they were pitying her.
Her gaze pushed past the wall of stunned pack members, finally landing on the source of the silence. There, clinging to Kael’s arm, was a woman with hair like spun fire cascading over pale shoulders. Her green eyes, sharp and intelligent, swept over the crowd with an air of regal ownership. Kara’s breath hitched. Siobhan Redding—the Alpha's daughter from the Silver Creek pack. A princess.
A horrified whisper cut through the air from someone nearby. "Gods... she's wearing his mark."
And there it was. A brutal, vivid scar of a bite mark, stark and angry against the pale skin of Siobhan’s neck. It was a raw, biological claim, a mark of true possession that screamed fated and mine. In that instant, the heavy diamond on Kara's own finger felt like nothing more than a child’s toy, a cold, pathetic piece of glass and metal.
The world didn't tilt. It simply ceased to exist, shattering into a million silent pieces around her, mixed in with pieces of her once full heart.
Finally, Kael’s voice cut through the silence, calm and commanding. He swept his gaze over the pack, deliberately avoiding Kara. "Siobhan Redding is my fated mate," he announced. "From this day forward, you will honor her as your true Luna."
He paused, letting the weight of his words sink in before continuing, his tone shifting to one of solemn apology. "I owe all of you an apology," he said, and the pack leaned in, hanging on his every word. "For years, I have allowed a deception to persist in our ranks for the sake of stability. I have carried a burden for the good of the pack."
His eyes, cold as the ice on Mount Rainier, finally landed on Kara.
"I have protected and sheltered one who is not what she seems," he declared, his voice ringing with false sincerity. "Kara is an Omega."
The word dropped like a stone. A shocked gasp rippled through the crowd. He had made her a secret, and now, in front of everyone, he was making her a sin.
And as the pack stared at her, their pity turning to revulsion, Kara saw it. The almost imperceptible nod Kael gave to his personal guard. The guard's immediate, purposeful turn towards the great lodge. Towards her rooms. Towards the herbs that kept her safe.
He wasn't just revealing her. He was disarming her. He was leaving her defenseless for the slaughter.
Richard Bill POVKemenangan menjadi tujuan utamaku saat ini, aku tersenyum di kulitnya ketika dia memohon padaku saat tangannya menyentuh kejantananku yang sudah membengkak di bawah sana—aku meletakkan kedua tanganku di pinggangnya dan mengangkatnya ke dalam dekapanku, dia melingkarkan kedua kakinya di pinggangku dan mencium bibirku seperti orang kelaparan.Dia telanjang dalam pelukanku, sehingga aku bisa merasakan setiap inci tubuhnya dan putingnya mengeras untukku, kedua tangannya menyentuh rahangku ketika kami masih melangsungkan ciuman kami—hanya ada suara ciuman kami selama beberapa detik dan kemudian aku melangkah maju dan membaringkannya di ranjang sehingga aku berada di atas tubuhnya dengan kedua tanganku menahan berat tubuhku agar tidak menibannya secara langsung.Aku tersenyum di sela-sela ciuman kami ketika miliknya menggesek milikku, dia menginginkanku lebih dari aku menginginkannya.“Kau tidak perlu bersikap arogan untuk mendapatkan perhatianku, Stacey…” bisikku. “Katakan
“Look at the camera, please…”Stacey bersikap dingin padaku, dia bahkan bersikap lebih arogan daripada yang aku kira, dia membantah semua aturanku dan pergi semau yang dia inginkan bahkan tak meminta izinku lebih dulu ataupun James, aku tidak tahu apa yang dia inginkan tapi aku kesal karena dia mengabaikanku, menganggapku seolah aku tidak ada bahkan ketika kami berada di ruangan yang sama, dia selalu memiliki cara untuk menghindari tatapanku dan melakukan sesuatu agar terlihat sibuk seolah dia tidak ingin diganggu.Aku menundukkan pandanganku melirik jam yang sudah menunjukkan pukul hampir enam dan gadis-gadis itu belum selesai dari pekerjaannya. Ini hari kedua kami berada di Hawaii, sunset kedua bersama tetapi dia tidak pernah sekalipun menghubungiku untuk melihat matahari tenggelam.Otot rahangku mengeras, aku tahu bahwa pria itu, seorang fotografer mengambil gambar beberapa wanita berbikini dari berbagai sudut tapi yang membuat tanganku mengeras adalah dari empat gadis di sana, han
Richard Bill POVHari ketiga menyambut hari dengan keindahan tropisnya pantai pasir putih yang lembut bertemu dengan ombak biru jernih di Hawaii.Tiga hari yang lalu aku berada di bawah salju tebal dan sekarang aku berdiri di bawah matahari tropis yang hangat. Saat matahari perlahan menyembul dari cakrawala Pasifik, Hawaii menyambut hari baru dengan keindahan tropisnya yang tak tertandingi. Pantai pasir putih yang lembut bertemu dengan ombak biru jernih, menciptakan latar sempurna untuk pemotretan koleksi musim panas. Para model melangkah dengan anggun di tepi air, angin laut yang hangat bermain-main dengan kain ringan gaun dan bikini yang mereka kenakan.Setiap sudut Hawaii menceritakan kisah musim panas—dari pepohonan kelapa yang melambai hingga warna-warni bunga yang mekar. Suara deburan ombak bercampur dengan tawa para kru saat mereka bekerja di bawah sinar matahari.Aku tidak lagi mengenakan pakaian formal melainkan kemeja linen cokelat lengan panjang yang aku gulung hingga siku
Stacey Waldermar POVSecangkir kopi panas yang menguap berada di depanku dengan dua pria yang berbicara di hadapanku—aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, aku tidak peduli. Mengawali sore hari dengan pria yang menyentuhku beberapa jam yang lalu dengan kata-kata kotor dan desahan berat dari napasnya adalah hal tergila yang pernah aku alami sepanjang hidupku karena aku harus bersikap seolah tidak terjadi apapun.Richard bersikap seperti biasanya, dia tenang sementara aku tidak tahu bagaimana caranya bernapas saat di dekatnya. Apa yang harus aku lakukan?Aku terbangun dua puluh menit yang lalu tanpa pakaian, aku telanjang di balik selimut—semua pakaianku yang berserakan di lantai sudah tidak ada dan aku menyadari apa yang aku lakukan semalam—aku bercinta dengan pengawalku sendiri, aku menghancurkan batas profesionalnya dan aku pula yang membuatnya terjebak dalam situasi seperti ini.Apa yang harus aku lakukan sekarang?Aku tidak memakai pakaian seksi, aku hanya mengenakan kaus h
Stacey Waldermar POV “Jadi, ceritakan padaku bagaimana pria seksi itu bisa menjadi pengawal pribadimu?” Aku mendongak ke atas, membuang napas panjang dan menunggu hingga cangkirku terisi penuh oleh kopi pahit. Aku tidak terbiasa dengan kopi pahit tapi dengan terpaksa aku membuatnya di pagi hari,
Richard Bill POV Menemukan kediaman supermodel bernama Emily Lynch bukanlah bagian sulit dalam hidupku—tentu aku tahu siapa gadis itu, tentang siapa dia ada di dalam dunia ini, aku tahu itu dan hanya sekedar tahu, aku tidak mengaguminya atau mencari tentangnya di social media, aku tidak melakukan
James Herbert POV Dua minggu lebih sudah terlewat setelah kejadian seorang pria yang tidak bertanggung jawab masuk ke dalam mansion tengah malam—menjadi berita hangat dan membuat semua orang mengkhawatirkan keadaannya termasuk Alessandra dan Brad. Mereka datang beberapa hari yang lalu melihat kead
Stacey Waldermar POV “Angkatlah telpon itu, Lynch. Sudah 4 kali dia menelponmu, apa dia kekasih barumu?” “Aku tidak memiliki kekasih baru…” Alessandra, wanita itu segera menoleh dan dia datang membawa dua gelas teh panas kemudian duduk di hadapanku. “Apa dia tampan? Apa dia actor terkenal? Ja


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews