FAZER LOGIN“Rin, aku mau kita bercerai.” Airin kaget mendengar ucapan Mario, sang suami. Alasan apa yang membuat Mario dengan tega memintanya bercerai. Airin yang memiliki pekerjaan lebih baik dari Mario tanpa keberatan membiayai kuliah Mario sampai akhirnya dia meraih gelar sarjananya. Bahkan sudah mendapatkan kenaikan jabatan yang lebih baik sesuai impiannya. Namun justru Airin menjadi bahan cemoohan Mario dan keluarganya, mereka selalu saja mencari – cari kekurangan Airin. Ibarat habis manis sepah dibuang. Bagaimana dengan Airin yang tiba-tiba menjanda? Bagaimana reaksi Airin saat bertemu kembali mantan suaminya sebagai rival dalam urusan pekerjaan? . Bagaimana hidup Airin selanjutnya saat bertemu dengan CEO baru kantor yang ternyata cinta pertamanya?.
Ver mais“It would be better if the two of you got a divorce… just for a while.”
The words shot out of Efendi’s mouth—Anna’s adoptive father—like lightning cracking straight across her chest. Anna froze. The world seemed to stall mid-spin. She stared at Efendi, waiting for him to take it back, to laugh, to say it was all some twisted joke. But he didn’t. He was serious. Dead serious. “Dad… don’t joke like that,” Anna whispered, her voice trembling, barely audible. “I’m not joking, Anna. Lusi is pregnant. And you know what that means—she’s a model.” Efendi’s gaze was sharp, immovable. “Rendy has to marry her. It’s the only way to keep our family from being disgraced.” Anna blinked at him, horrified. “She got pregnant by another man—why should my husband be the one to marry her?” Her voice rose in disbelief; none of this made sense. “Lusi’s boyfriend refuses to take responsibility. So please, Anna, listen to us,” Renata murmured softly, almost in a whisper. “We’ve raised you like our own daughter for years. Now we need your help. Think of it as… repayment.” Repayment? The word cut deeper than any blade. Rendy sat beside her, silent. Too silent. Anna turned to her husband—still clinging to the wild hope that he would refuse, defend her, say anything. But his lips stayed sealed. Lusi began to cry softly. “Anna… please. I don’t want my career ruined. I’m begging you…” And finally, Rendy spoke. “For now… we need to separate. Once everything calms down, I promise… I’ll come back to you.” A sharp, painful crack tore through Anna’s chest. Her breath caught. He had actually said it. “Ren, what are you talking about?” Anna’s voice spiked, raw with hurt. “Our marriage is fine! Why are you agreeing to this?!” “Because our marriage is fine, sweetheart,” Rendy said, reaching for her hand. “That’s why we’ll come back together later.” “No!” Anna’s voice broke. “I will never agree to a divorce!” “Don’t be selfish, Anna!” Efendi snapped, as if she were the one destroying the room. Before Anna could answer, Lusi’s body suddenly collapsed. “LUSI!” Renata screamed, frantically grabbing her daughter. Rendy jumped to his feet, his hand slipping from Anna’s like it had never mattered at all. Anna called out softly, “Ren…” but he didn’t look back. Not even once. “Anna, check on her! Quickly!” Rendy barked as he lifted Lusi toward the bedroom. “Anna! Why are you just standing there?!” he shouted—his voice cutting toward her for the first time. And all of it… for another woman. Another woman. A blade twisted through her chest. “Stop acting like a child, Anna! You’re a doctor!” Efendi snapped so harshly that Anna flinched, her body locking up. With unsteady steps, Anna examined Lusi. The room buzzed with panic—but the sharpest, deepest worry came from Rendy. The way he watched Lusi made Anna want to scream. “How is she?” Rendy asked, breathless, desperate. “She’s… just exhausted,” Anna murmured. A moment later, Lusi’s eyes fluttered open—and she burst into hysterical sobs. “I don’t want to live anymore! I want to die!” she cried. Rendy lunged toward her. His arm struck Anna hard, knocking her off balance. Whether it was intentional or not—the pain was real. “Lusi, calm down… we’ll get married. I promise,” Rendy whispered to her, his voice gentler than any tone he had used with Anna in weeks. Anna stared at him, wide-eyed. “Ren?!” “Don’t be selfish, Anna! Lusi’s unstable!” Rendy barked again. “Rendy’s right, Anna. Please understand her condition,” Efendi added without sparing a glance in her direction. Anna held her breath. Her throat burned. “Why… why is it always me who has to understand her? Why won’t any of you try to understand me?” Lusi screamed again. “You’re right! We’re all selfish! Fine, let me die then!” She grabbed a fruit knife from the bedside table. “Lusi! Stop! Stop!” Rendy pulled her into his arms—so tightly, so protectively—as if she were someone he couldn’t bear to lose. Anna stepped back, slowly, her body numb. The tears she’d been holding finally broke free. She watched her husband… holding another woman. Protecting another woman. Fighting for another woman. “You all should leave,” Rendy said without looking at her, still clinging to Lusi. “I’ll calm her down.” “Anna, come on…” Renata tugged gently on her hand. But Anna didn’t move. She couldn’t. Rendy turned his head just enough to shoot her a sharp look. “Don’t be childish, Anna!”10 tahun kemudianTampak remaja tampan sedang menggandeng gadis yang juga tak kala cantik, mereka baru saja keluar dari mobil yang mengantarnya ke sekolah.“Hati – hati kak El adik Oliv” ucap Amar kala mendapati anak majikannya itu sudah keluar dari mobilnya.“Makasih sudah diantarkan, uncle Amar hati – hati juga jangan ngebut nanti aku bilang ke daddy kalau ngebut.”“Beres adik Oliv, kalian jangan lupa belajar yang rajin.”Setelah keduanya masuk ke dalam pintu gerbang Amarpun segera berlalu meninggalkan sekolah internasional di depannya, saat ini Eliezer sudah duduk di bangku SMA sementara adiknya duduk di bangku SMP keduanya bersekolah di tempat yang sama.Selama kurun waktu 10 tahun banyak hal terjadi dalam kehidupan rumah tangga Airin dan Rafael. Mereka sungguh beruntung memiliki anak yang penurut, mereka saat ini tinggal di kediaman pribadi Rafael yang tidak jauh dari rumah Bramantyo
Demi tidak mendapatkan respon dari istrinya Rafaelpun mengikuti arah pandang Airin dan dilihatnya dari kejauhan ada Marsha datang bersama dengan mamanya.“Kamu jadi cemberut karena Marsha ya?”“Gak usah aneh – aneh ya mas!” ancam Airin kala mendapati Rafael terkekeh sesaat setelah menyebut nama wanita lain di hadapan istrinya.“Gak usah manyun begitu, ayo kita kesana.”“Mas..”“Sstt..” Rafael meletakkan jarinya di ujung bibir istrinya agar Airin terdiam. Rafael segera merangkul pinggang langsing istrinya serta membawanya menemui Marsha.“Nak Rafael..” sapa Dahlia yang terlebih dahulu melihat kedatangan Rafael bersama Airin. Wajah Airin yang awalnya jutek dan tidak enak di lihat tampak tersenyum di hadapan Dahlia dan Marsha, keduanya pun segera mengulurkan tangannya untuk menyambut kedatangan Marsha.“Kamu makin seger saja nak Rafael, semakin hari semak
Sore hari kala waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang Dani yang selepas menjemput keluarga kakaknya di bandara Abdulrahman Saleh segera menuju ke kota Batu tempat dimana Yohana menginap di rumah bibinya.Yohana gadis asli Surabaya itu sehari sebelum ke rumah Dani sengaja ke rumah bibinya dulu. Dia tidak mau menginap ke rumah Dani karena belum memiliki ikatan apapun.“Semoga perjalanan kalian lancar.” Pesan bibi Yohana saat melepas keponakannya serta Dani untuk menuju kota Malang.“Terima kasih bibi, kami permisi.” Ucap Dani sembari mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.Mengingat jika weekend banyak yang menuju kota Batu maka perjalanan Dani serta Yohana membutuhkan waktu hampir 1 jam untuk bisa sampai di kediaman Ningsih.Di tempat ini para pria dan wanita sudah selesai membersihkan diri, kaum wanita pun juga siap menyambut tamu mereka, hanya Olivia yang masih tertidur di pangkuan daddynya, balita ini tampaknya
Satya saat ini sudah berada di hadapan kedua orang tuan Anjani, Satya menyatakan keinginannya untuk menjalin hubungan serius dengan Anjani.Intensnya komunikasi diantara keduanya yang sama – sama menjadi pengawal keluarga Rafael membuat hubungan cinta monyet mereka bersemi kembali.Jelas saja Satya maupun Anjani merasa lega karena restu sudah mereka dapatkan dari orang tua kedua belah pihak.Apalagi ternyata ibu Satya adalah sahabat ibunya Anjani kala mereka masih duduk di bangku sekolah.“Ibu tidak menyangka jika kita akan berbesan dengan Hastuti,” ucap Yayuk ibu kandung Anjani saat bervideo call dengan calon besannya itu.Satya menceritakan tentang asal usul keluarganya kepada pak Arif dan ibu Yayuk akhirnya dari situ mereka tahu tentang Hastuti.Restu sudah di dapat oleh calon pasangan suami istri ini, kali ini keduanya menghabiskan waktu dengan berjalan –jalan di mall di kota Semarang tempat Anjani tinggal.
Hari ini tampak keluarga Rafael sedang berkemas – kemas untuk pulang kampung , rencananya mereka akan berangkat besok pagi menggunakan pesawat pribadi demi kenyamanan Olivia dan Eliezer yang sama – sama tidak bisa diam.“Sudah selesai, sekarang tinggal bersiap &ndash
“Beneran bun Dani mau mengenalkan calon istrinya ?” terdengar suara Airin kala sedang berkomunikasi dengan bundanya mau tidak mau membuat Rafael yang baru saja selesai mandi segera mendekat ke a rah istrinya meski hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya.&ldqu
Yohana sungguh sangat terkejut menatap atasannya yang masih berjongkok disebelahnya, Keterkejutan Yohana membuatnya hanya mampu menutup mulutnya dengan kedua tangannya demi melihat kejadian di sebelahnya, saat mulai dapat menetralkan detak jantungnya gegas Yohana berdiri dari kursinya dan meminta Da
Diskusi antara Dani dengan sekretarisnya akhirnya kelar, beberapa pekerjaan sudah mereka bahas saat ini.Yohana sekretaris yang sangat kompeten, dia sangat teliti sehingga sangat membantu Dani untuk urusan pekerjaannya.Bahkan jika Dani ada kepentingan harus ke Jakarta, Yohana sudah m


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações