LOGINAileen terbangun dalam keadaan linglung, tubuhnya dibalut oleh gaun pengantin putih, dan terjebak dalam sebuah pernikahan yang penuh kepalsuan. Tiga tahun pernikahannya dengan Axel Ferdian, seorang pria kaya dan berpengaruh, hanyalah sebuah neraka yang tak berujung. Ia dipaksa tunduk pada keluarga Axel yang penuh dengan keangkuhan, dan diabaikan oleh Axel sendiri. Aileen merasa dirinya hanyalah sebuah boneka yang dipaksa untuk memainkan peran dalam sebuah drama yang mengerikan. Ia dihina, dicemooh, dan dituduh sebagai wanita yang hanya mengincar harta. Bahkan, Axel tega menikahi wanita lain di depan matanya, tanpa sedikitpun rasa bersalah. Namun, sebuah tragedi mengerikan terjadi. Aileen, yang merasa terjebak dalam keputusasaan, memutuskan untuk mengakhiri semuanya dengan cara yang dramatis. Ia membakar rumah Axel dan menelan racun. Namun, Aileen terbangun kembali, bukan di alam baka, melainkan di hari pernikahannya tiga tahun silam. Ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya. Apakah Aileen akan kembali terjebak dalam pernikahan yang penuh kepalsuan? Atau kali ini, ia akan melawan takdirnya dan memilih jalan hidupnya sendiri? Menjalani kehidupan cinta tersembunyi dengan seorang CEO dingin?
View More"Nyonya Muda, Tuan sudah kembali."
Hari ini, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun pernikahan mereka, Rea tidak langsung berdiri dan menyambut suaminya dengan senyum ceria. Ia hanya menghela napas pelan dan tersenyum pada pembantunya. “Bi, tolong belikan body lotion seperti ini di supermarket.” Apa pun yang terjadi, bahkan jika nyawanya sendiri taruhannya, ia tidak akan pernah menyeret Bi Surti ke dalam masalahnya. Di villa besar The Grand Pavilion ini, hanya Bi Surti yang bisa ia anggap sebagai keluarga. Sisanya hanyalah kumpulan daging hidup yang tak punya hati. Melihat Rea hanya duduk tenang, Bi Surti tetap menjawab dengan sopan seperti biasa, "Tentu saja bisa. Nyonya Muda ingin wangi yang lain atau yang persis seperti itu?" kang-kadang Nyonya Mudanya memang suka berganti varian meski sama mereknya. "Belikan yang sama saja." "Baik ...." Sekepergian Bi Surti, ruangan tiba-tiba menjadi canggung dengan tak masuk akal. Rea dengan tenang meneruskan gerakan tangan menyisir rambut. Kali ini, ia tak akan menyapa Adrian lebih dulu. Bahkan tak merasa perlu melihat kehadiran Adrian yang telah berdiri tepat di belakangnya dengan selembar kertas. Merasa tak di hiraukan, Adrian berdeham kecil, sebelum berkata, "Ini surat gugatan cerai yang telah aku buat. Kamu bacalah dulu atau langsung setuju saja agar semua ini cepat usai ...." Rea tidak menjawab. Ia telah mendengar perihal gugatan cerai ini saat tak sengaja melewati ruang kerja Adrian, dan melihat suaminya itu tengah berbicara dengan ibu mertuanya, Nyonya Shopia Tanuwijaya. Dengan hati yang telah beku, Rea menerima surat itu dan membacanya sekilas. Di bagian alasan perceraian tertulis dengan jelas bahwa, "Selama tiga tahun menikah, Rea tidak pernah menghormati mertuanya dan tidak memiliki keturunan!" Tiba-tiba Rea tertawa sangat kencang, hingga sederet gigi putihnya terlihat di antara dua belahan bibir ranumnya. Wajah Adrian menjadi merah dan ungu untuk beberapa saat. Saat masuk tadi, dia masih sempat berpikir Rea akan menyambut dengan gembira seperti biasa. Mulai menggoda dengan cara apapun yang gadis itu bisa. Tapi ketika mendapati Rea hanya diam saja, entah bagaimana dia merasa gelisa dengan tak masuk akal. "Apa yang kamu tertawakan?" Adrian mencium bau bensin yang menyengat, tapi ia menghiraukannya. Sekarang bukan waktunya mengurusi hal yang tidak penting! Rea menutupi sebagian wajah cantiknya dengan 'surat gugatan cerai' itu, masih tertawa keras dan menjawab, "Hanya menertawakan tiga tahunku yang bagai lelucon!" "Rea ...!" Selama tiga tahun ini, ia telah mengabdikan hidupnya di the grand pavilion dengan melayani semua keinginan suami dan mertuanya. Ia bahkan telah melampaui pengabdian terbesar sebagai seorang istri, membiarkan suaminya tetap berhubungan dengan wanita yang di cintai, dan bahkan menikahi wanita itu tanpa memperdulikan perasaannya sendiri. Ia merasa itu hanyalah hal yang wajar dilakukan setelah seluruh kota mengatakan bahwa keluarganyalah yang telah menjebak Adrian agar menikahinya. Yah, pernikahan mereka bukanlah karena cinta atau perjodohan! Tiga tahun lalu, Rea terbangun di dalam sebuah kamar hotel mewah tanpa busana. Hal yang semakin membuatnya terkejut adalah, ketika ia hendak pergi, terdapat begitu banyak orang yang berdiri didepan kamar itu dengan berbagai emosi di wajah mereka. Kabar buruknya adalah, kedua orang tuanya juga ada di antara kepala yang menyembul, dan ia mendapati Adrian begitu marah mencoba menjelaskan. Akhirnya, pernikahan itu terjadi begitu menyesakkan. Ketika para saksi melihat suka cita di wajah kedua orang tuanya atas pernikahan itu, maka semua kesalahan hanya bisa di tanggung olehnya. Semua orang terus memandangnya rendah dan berkata bahwa hanya demi harta, ia melakukan hal menjijikkan. Malangnya, hal itu bertepatan dengan kondisi perusahaan orang tuanya yang menyempit. Sehingga semua itu berhasil membenarkan spekulasi setiap orang atas tuduhan mereka. Adrian adalah salah satu pemegang saham di grup mahkota. Walau bukan termasuk salah satu dari empat keluarga penguasa yang terkenal, posisi itu jelas jauh lebih tinggi daripada posisinya yang begitu mentereng dengan lebel, (anak dari pengusaha banyak hutang!) Maka dari itu, ia selalu menganggap bahwa semua ketidak adilan yang ia terima di the grand pavilion adalah hal yang wajar. Karena saat kejadian itu terjadi, ia juga sama sekali tidak mengingat apapun. Dalam hatinya, entah bagaimana juga membenarkan spekulasi orang-orang tentang kedua orang tuanya yang telah menjebak Adrian demi keuntungan pribadi. Dengan tenang, Rea meletakkan surat gugatan cerai itu di atas nakas, lalu meletakkan selembar lainnya. "Adrian, orang lain tidak tahu kenapa aku tidak hamil. Tapi apakah kamu tidak tahu?" Saat terbangun tiga tahun yang lalu, Rea sama sekali tidak mendapati dirinya ternoda sedikitpun. Hingga kini ia masih berfikir bahwa setelah menikah tiga tahun lamanya, ia masih perawan! Adrian terdiam, hanya menatap wajah cantik Rea dengan kedua mata burung cendrawasihnya. "Selama ini aku sudah cukup merendahkan diri di depan keluargamu. Aku selalu berfikir bahwa aku adalah orang yang paling bersalah atas pernikahan kita. Sebagai gantinya, aku tunduk di bawah tingkah kalian dan berharap suatu hari kamu akan memberikan setitik kehangatan di hatimu untukku." Ia menggerakkan sisirnya di sepanjang nakas, bermain-main dengan sangat menyesal, "Aku bahkan membiarkanmu menikahi Mira dan menjadikan diriku lelucon terbesar di hari pernikahanmu yang bahagia. Lalu sekarang kamu datang agar aku menandatangani surat, yang akan membuatku tak lagi bisa menemukan penggantimu seumur hidup?!" Rea kembali tertawa miris, "Kamu sungguh bajingan!" Adrian memilih diam. Bagaimanapun, ia telah lama mengaku salah dalam hatinya. Kali ini, ia ingin menceraikan Rea dengan damai. Hanya saja ia takut Rea tidak setuju, jadi memberikan surat gugatan cerai buruk itu untuk mengancam. Dengan tenang, Rea menunjuk kertas yang baru saja ia taruh di atas nakas dengan dagunya, "Jika ingin bercerai, maka ceraikan aku baik-baik, kamu tak perlu mengarang cerita yang kamu sendiri tahu bahwa itu adalah kebohongan besar!" Adrian mengerucutkan bibirnya. Tatapan matanya muram, meski rasa bersalah menyelimuti hatinya, "Kalau kamu menginginkan harta, kamu juga bisa menuliskannya sekalian." Rea mendengus kasar, "Selama tiga tahun ini, kamu adalah orang yang paling tahu apakah aku adalah orang yang hanya mengincar hartamu atau bukan!" Ia memang sangat menyukai uang. Bagaimanapun, ia juga menginginkan hidup dengan baik tanpa memikirkan apakah bisa makan atau minum di hari selanjutnya. Tapi itu bukan berarti ia akan melakukan segala hal untuk mendapatkan uang. Termasuk menikahi Adrian dengan cara yang menjijikkan! Untuk terakhir kalinya, Adrian ingin berbaik hati pada Rea, "Periksalah dulu. Kalau ada poin penting yang tertinggal, tambahkan saja. Setelah aku memegang surat itu, kita tidak akan terlibat dalam hal apapun lagi." "Aku tidak akan memeriksanya. Kamu bisa langsung mengambilnya sekarang. Tapi jika kamu ingin menambahkan sesuatu, silahkan saja." Rea menyerahkan bolpoin yang telah ia buka. Adrian mendekat tanpa curiga. Saat Adrian membungkukkan badannya untuk mengambil surat gugatan cerai itu, Rea bergerak dengan begitu cepat mengambil pisau dapur yang telah lama ia sembunyikan di balik lengan bajunya. Lalu ia tancapkan ujung tajam pisau itu tepat ke bagian dada Adrian tanpa belas kasih.Orang itu mengirimkan dua video dengan durasi lumayan panjang. Di bawah video itu, dia menuliskan, [suamimu dan dua Nyonya itu tengah melihatnya.] Aileen membuka video itu, yang ternyata berisikan apa saja yang ia lakukan di pemakaman tadi. Video itu tidak terlalu jelas. Seperti hasil pengambilan dari CCTV. Tapi cukup membuktikan Aileen tidak bersalah. Di menit pertama, terlihat Grace yang mengajak Aileen ke kamar mandi. Di dalam video memang tak berisikan suara, tapi dari gerak geriknya juga sudah cukup membuktikan, bahwa memang Grace yang mengajaknya ke kamar mandi, bukan sebaliknya. Setelah itu, di lihat dari CCTV berbeda, Grace mendorong Aileen kedalam kamar mandi. Di situ jelas terlihat kemudian Grace sendiri yang mengunci pintunya. "Aku tidak tahu mereka bahkan memasang begitu banyak CCTV di pemakaman?" Dari k
Nyonya Ratna hendak kembali menyerang Aileen, ketika seorang suster dan seorang dokter datang."Maaf, tiba-tiba datang mengganggu. Kami mendengar teriakan dan makian dari ruangan ini. Meski ruangan ini di desai dengan sound proofing yang bagus, tapi kita juga harus memperhatikan keadaan pasien."Dengan sopan, Nyonya Ferdian meminta maaf pada dokter itu. "Terjadi sedikit kesalah pahaman pada kami. Itu membuat kami kehilangan kendali dan mengabaikan peraturan rumah sakit."Dokter itu tersenyum, "kesalah pahaman apapun, tidak baik jika membuat kalian bertengkar di depan pasien. Apa lagi tadi dokter Celestia juga sempat mengatakan, di takutkan pasien ini mengalami gangguan pasca trauma setelah mendapatkan serangan mendadak."Di name tag dokter itu tertulis kata prof. Itu artinya, dia adalah salah satu petugas ruang VVIP. Wajar baginya untuk mengetahui penyakit pasien."Oiya, saya kemari untuk mencari seseorang bernama Axel." Dokter
Merasa tak suka dengan tindakan anaknya, Nyonya Ferdian berkata dengan tak suka, "Axel, kau tidak akan melawan keluargamu demi istri tak tahu diri utu, kan?!"Axel ingin membisikkan sesuatu di telinga ibunya. Tapi dalam kondisi ini, sepertinya hal itu sulit di lakukan."Aku tidak bermaksud melawan kalian, tapi kita perlu mencari pokok drai permasalahan lebih dulu."Dengan Nyonya Ratna yang masih terus meronta di dalam genggamannya, Axel mencoba memberi isyarat kedipan mata pada ibunya.Di atas brankar, Aileen masih berjuang kembali memenuhi paru-parunya. Sebelah tangannya memegang lehernya yang terasa sakit dan kaku.'Rupanya nenek sihir memiliki adik yang sama gilanya.'"Maaf, Bibi. Saya tidak tahu di mana letak kesalahan saya."Setelah tadi dia meninggalkan kamar mandi, tentu dia tak lagi tahu apa yang terjadi selanjutnya.Walau dalam pikiran telah berhasil menebak apa yang terjadi dengan sangat tepat, dia tentu perlu mempertanyakan apa yang terjadi dengan jelas lebih dulu."Kau ber
Di kegelapan, Kopong menyaksikan semua itu dengan wajah datar.'sepertinya kali ini Tuan Muda memang agak berlebihan.'Sementara di lain tempat, Zayn masih berusaha menghubungi Profesor Johan.Ini sudah ketiga kalinya Zayn menekan nomor Profesor Johan, tapi belum juga mendapat jawaban setelah dering ke lima.Ketika panggilan ketiga itu kembali tak mendapatkan jawaban, Zayn hendak kembali menelepon, ketika nomor Profesor Johan telah masuk lebih dulu.[Maaf, Tuan Muda. Baru saja saya kembali menguji kemampuan anak ulat racun cinta itu agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari.]Zayn menjawab langsung pada alasan mengapa ia terus menelepon Profesor Johan. [Kau bilang orang yang tergigit anak ulat itu akan menjadikannya sehidup semati denganku. Sekarang orang itu menderita sakit, kenapa aku tidak merasakannya?]Profesor Johan, [Baru saja setelah saya uji kembali, rupanya anak ulat itu berkembang sesuai keinginan saya. Dulu saya tidak mengatakan hal itu karena masih belum pasti, takutn
Pria berwajah tampan itu, Zayn, segera membalikkan badannya. Belum sempat Profesor Johan mengatakan kenapa ia memanggilnya, Zayn telah berkata, "bagaimana menetapkan tanggal pemberian makan itu?"Tadi Profesor Johan hanya mengatakan bahwa Aileen harus memberikan makan anak ulat cinta itu setiap se
"Iya, Pak." Orang itu menjeda ucapannya sesaat, kemudian melanjutkan, "hanya saja, setiap orang yang membesarkan ulat ini akan menjadi pasangan hidup dan mati anda. Artinya adalah, jika salah satu di antara kalian meninggal, maka satu yang lainnya juga akan meninggal di waktu yang sama.""Jadi aku
Hari itu Aileen tidak langsung kembali bersama Axel ke azura hills estate. Besok adalah jadwal mereka berziarah ke makam Tuan Ferdian untuk meminta restu. Setelah itu, barulah Axel akan membawa Aileen ke rumahnya di tepi danau.Sekepergian keluarga Axel, ruangan itu menjadi berisik oleh bisikan-bis
Seluruh bagian tajam pisau sempurna masuk ke dalam tubuh Axel. Ketika Axel melihat wajah Aileen yang terlihat tanpa penyesalan, Aileen merasa cukup dan mencabut kembali pisau itu.Pisau yang awalnya bersih mengkilap, kini di lumuri dengan darah segar yang kemudian Mengalir di sepanjang garis tajamn






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews