공유

Bab 006

작가: Queen Moon
last update 최신 업데이트: 2025-09-20 22:46:45

"Hmm ...." Wajah Ardhan terlihat acuh tak acuh menatap istrinya.

"Sarapan pasti sudah disiapkan. Pergilah dulu, nanti aku menyusul sambil membawa Chloe." Winda tersenyum manis.

Ardhan tak mengucapkan sepatah kata pun dan hanya mengangguk lalu berjalan pergi dengan tas kerjanya.

Setelah Ardhan pergi, Winda mendelik pada Laras.

"Saat aku dan suamiku berduaan, jangan tiba-tiba muncul atau mengganggu kami."

"Maaf, Bu Winda. aku tidak tahu kamu dan Tuan keluar dari kamar. Aku hanya mau keluar bawa Chloe berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk mendapat vitamin D,” ujar Laras meminta maaf.

"Jangan banyak alasan. Ini peringatan pertama, ya. Awas kalau mengganggu waktu berduaan kami lagi. Kalau lihat aku dan Ardhan berdua, kamu harus menjauh dan bawa juga Chloe ...." Winda menatap putrinya.

Sebelah alis Laras terangkat melihat kilat kecemburuan di mata Winda saat menatap putrinya sendiri.

Wajar seorang ibu cemburu karena perhatian Ardhan lebih banyak tertuju pada putrinya.

“Sudahlah, aku mau mandi. Bawa Chloe keluar berjemur seperti yang kamu bilang,” ujar Winda acuh tak acuh lalu masuk kembali ke dalam kamarnya tanpa mencoba memeriksa Chloe.

Laras menghembuskan napas menatap bayi dipelukannya. Dia dapat merasakan Winda begitu acuh tak acuh dengan putrinya sendiri, sangat berbeda dengan Ardhan yang protektif pada anaknya.

Jika Winda begitu dingin pada anaknya, anaknya tidak bisa dekat dengan ibunya.

Laras menghela napas dan menggelengkan kepala. Ini bukan urusannya mengomentari rumah tangga majikannya. Dia hanya perlu mengasuh dan menyusui bayi majikannya agar mendapat uang untuk membesarkan Aidan-nya.

Dia tersenyum lembut pada Chloe.

“Bibi akan bawa Chloe berjemur ya ….”

Bayi tersenyum memperlihat mulutnya yang ompong namun Lucu.

Laras menahan keinginan untuk menciumnya. Dia sangat menggemaskan, membuatnya merindukan Aidan-nya.

Laras membawa Chloe turun dari lantai dua dan menuju halaman mansion sementara anggota keluarga Wikrama sedang sarapan.

“Matahari tidak terlalu kuat, cuacanya juga sejuk ….” gumam Laras berdiri di tengah halaman sambil menggendong Chloe. Dia menutup kepala dan mata Chloe dari sinar matahari sambil memantau kulit Chloe jika terjadi reaksi sensitif terhadap sinar matahari.

Namun bayi itu justru anteng sambil menghisap jarinya.

“Waah, rumah ini sudah sangat tenang. Ternyata Chloe sudah anteng dan tidak menangis lagi.”

Laras menoleh dan tersenyum hormat menyapa Sofia yang keluar dari dalam rumah dengan penampilan yang sudah rapi.

“Selamat pagi, Nyonya.”

“Pagi.” Sofia melirik Chloe diperlukan Laras berdecak. “Benar-benar udah anteng. tidak sia-sia adikku menyarankan kamu jadi ibu susunya. Kamu lebih berguna daripada ibu kandungnya sendiri.” Saat dia mengatakan itu dia melirik ke arah kamar di lantai dua.

“Anaknya bangun pagi, tapi ibunya asyik tidur setelah semalam begadang di diskotik. Aku heran kenapa Ardhan begitu toleran pada istrinya,” ujarnya dengan nada tidak senang.

Laras hanya tersenyum menanggapinya, merasa tidak berhak untuk ikut berkomentar tentang majikan.

Dia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, "Nyonya hendak pergi ya?"

"Ya. Aku mau bertemu dengan temanku. Kami ada janji pagi ini." Kemudian wanita itu mengeluh tentang ketidaksukaan bangun pagi untuk bertemu dengan temannya, namun tetap harus menemuinya.

Dia melambai pada Laras sambil menuju ke arah mobil yang sudah disiapkan sopir pribadinya.

Laras mengalihkan pandangannya pada Chloe yang sudah mulai mengantuk.

"Chloe sudah mulai ngantuk ya, ayo kita kembali kamar ...." Dia mengusap pipi bayi itu dan mulai berjalan menuju ke dalam rumah.

"Tunggu Nona ...." Seorang penjaga gerbang mansion memanggil Laras membuat wanita itu menoleh.

"Kamu Laras Aubrey, pengasuh Nona Chloe, kan?" Satpam itu bertanya sambil menatap penampilan Laras.

"Ya. Ada apa, ya?"

"Ada yang mencari kamu. Dia sudah menunggu di depan gerbang." Satpam itu menunjuk ke arah gerbang mansion Wikrama yang sangat tinggi.

Seorang wanita paruh baya dengan punggung membelakangi Laras terlihat samar-samar dari kejauhan dan berdiri di luar gerbang. Laras tak bisa melihat wajahnya karena wanita itu membelakangi gerbang.

"Siapa yang mau bertemu denganku?"

"Katanya ibu mertuamu."

Wajah Laras langsung berubah muram.

"Maaf Pak. Kami sudah putus hubungan. Bisa tolong jangan izinkan dia masuk?" bisik dengan Laras dengan suara memohon.

"Hm, begitu ya ... Oke aku tidak akan izinkan masuk." Satpam itu menatap Laras dengan pengertian lalu melanjutkan ucapannya. "Hubungan dengan mertua memang begitu buruk, ya ...."

Laras hanya mengangguk lemah.

Sayangnya saat mobil Sofia berjalan keluar, satpam lain membuka gerbang, lalu dengan ekspresi menakutkan, Yanti mengambil kesempatan saat gerbang terbuka bergegas masuk.

"Laras!" Dia berteriak keras menghampiri Laras dengan cepat.

"Kamu! Berani sekali menerobos masuk!" Satpam itu mencoba menghentikan Yanti.

"Lepaskan aku!" Yanti menggeram kesal mencoba melepaskan satpam yang sedang menahannya.

Jantung Laras berdegup kencang karena melihat Yanti begitu berani menerobos masuk ke mansion keluarga Wikrama. 

Dia sangat berani. 

Teriakannya mengagetkan Chloe, dan gadis kecil itu mulai menangis.

"Ssstt, Chloe ... tidak apa-apa sayang." Laras membujuk bayi di pelukannya lalu melirik Yanti yang berteriak memarahi satpam.

Laras merasa tidak enak karena Yanti memarahi satpam keluarga Wikrama. Teriakan itu akan menarik orang-orang di mansion dan Laras akan dicap jelek jika mertuanya membuat keributan di rumah orang.

Meski memutuskan hubungan dengan mertuanya, mereka tetap mengganggunya layaknya parasit.

"Ada apa ini? kenapa sangat berisik?" Tania keluar dari dalam rumah dan menghampiri mereka.

"Tania, boleh minta tolong sebentar jaga Chloe dan bawa dia ke dalam." Laras mencoba menyerahkan Chloe pada Tania dengan ekspresi memohon.

"Apa yang terjadi?" Tania menerima Chloe dengan ekspresi bingung. Bayi kecil itu menangis membuat dia kewalahan.

"Ini ada masalah dengan mantan ibu mertuaku. Tolong bantu aku jaga Chloe. Aku akan segera mengurus masalah ini."

"Oh oke ...." Tania mengerutkan kening menatap Yanti yang berteriak di tahan oleh satpam. "Cepat selesai masalah ibu mertuamu itu. Dia sangat berisik dan mengganggu kenyaman Tuan Hendra. Tuan Hendra tidak suka kebisingan."

"Baik, Tania. Maafkan aku."

Tania menggelengkan kepala lalu berjalan kembali masuk ke dalam rumah sambil membawa Chloe.

Laras menghembuskan napas dan berbalik memandang Yanti. Dia menghampiri ibu mertuanya dan menarik tangannya karena mencakar satpam.

"Bu, apa kamu gila? Kenapa membuat keributan di rumah orang!"

Yanti menepis tangannya menampar wajah Laras keras. Segera pipi mulus dan putih Laras memerah dengan tanda telapak tangan.

"Semua ini salah kamu, dasar perempuan murahan!"

"Bu, tolong tenang! Kamu tidak boleh memukul orang seenaknya. Masalah bisa diselesaikan dengan berbicara.” Sang Satpam menegur Yanti dan menatap Laras prihatin.

Pipinya jadi bengkak. Mata Laras merah, tangannya mengusap pipinya yang ditampar dengan mata berkaca-kaca. Itu membuatnya terlihat menyedihkan. Satpam itu merasa iba dan menatap Yanti galak.

Yanti tidak memedulikannya dan mengangkat tangannya menunjukkan ke wajah Laras

"Dasar perempuan murahan. Kamu pikir bisa kamu begitu saja dengan uang Rizal!"

"Sudah kubilang semua uang Rizal sudah habis. Semua uang itu dia habiskan untuk selingkuhannya," desis Laras.

"Cuih! Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu! Cepat berikan uang Rizal padaku! Aku tidak akan pergi sebelum dapatkan uang anakku."

"Kamu ini aneh sekali. Uang anakmu dipakai untuk selingkuhannya, kenapa kamu memeras menantumu!" Satpam berkomentar dengan kening berkerut mendengar percakapan mereka.

"Diam! Ini bukan urusan kamu! Anakku meninggal juga karena perempuan sial ini. Sejak anakku menikah dengan perempuan sial ini, hidup kami menjadi sulit! Sekarang anakku meninggal, dan tidak ada yang menafkahi kami! Perempuan sial ini harus bertanggung jawab! Beraninya dia lari dan memberikan rumah anakku pada tetangganya itu!"

Laras mengusap keningnya mendengar ucapan Yanti menjadi semakin tidak masuk akal dan penuh omong kosong.

"Sejak aku menikah, Rizal tidak bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga kami, jadi aku bekerja sendiri mencari uang. Kamu sendiri yang membuat hidup kalian susah karena terus berhutang. Hutang-hutang itu adalah urusan kalian. Tolong berhenti mengganggu hidupku."

Yanti mengangkat dagu dengan angkuh.

"Aku tidak peduli! Kembalikan uang anakku!"

"Pak Satpam tolong usir saja. Dia terus bicara omong kosong. Kami sudah tidak ada hubungan lagi karena suamiku meninggal dalam kecelakaan mobil dengan selingkuhannya."

"Iya, tenang saja. Jangan berurusan lagi dengan keluarga mertua kamu yang seperti ini ini. Lebih baik lapor polisi saja."

Yanti cemas mendengar percakapan mereka, dan dengan marah berteriak.

"Aku tidak akan pergi sampai aku dapat kembali uang anakku! Enak saja kamu membawa uang anakku dan kerja di tempat keluarga kaya!" Yanti memandang ke arah rumah mewah.

Pandangannya berbinar menatap seorang pria tampan yang sedari tadi berdiri di depan pintu dengan tangan di masukkan ke dalam saku celana.

Dia menghampiri pria itu dengan cepat.

Laras berbalik melihat tindakan tiba-tiba Yanti menghampiri seseorang di belakangnya. Wajahnya menjadi pucat saat melihat Ardhan berdiri di depan pintu.

Sejak kapan pria itu ada di sana?

"Tuan, jangan pekerjakan perempuan itu. Dia punya catatan j

elek. Dia mantan pelayan hotel yang tidur dengan banyak pria yang membayarnya dan punya anak haram.”

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terjerat Skandal Berbahaya Sang Presdir   Bab 100

    "Dasar anak nakal, dia membuatku tak bisa merawat diri selama sebulan.” Dia menggerutu dan menyebut putrinya sendiri anak nakal dengan nada yang tidak menyenangkan didengar.“Aku akan pergi ke spa untuk perawatan. Sampai jumpa nanti." Dia melambai pada Laras lalu mengambil tasnya di atas sofa dan berjalan meninggalkan ruang tamu dengan langkah ringan seolah melepaskan beban berat di pundaknya.Laras memandang punggungnya dan ingin memanggilnya untuk bertanya apa Chloe sudah diberi makan atau belum, namun mengurungkan niatnya melihat langkah cepat Winda.Dia menghela napas memeluk dua bayi di pelukannya. Dia memandang ke sekeliling mencari anggota keluarga Wikrama yang lain.Tapi sejak dia datang, Laras belum melihat satupun anggota keluarga Wikrama.Wajar saja karena Ini masih jam 3 sore, seluruh anggota keluarga Wikrama masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Laras gelisah memikirkan jika bertemu dengan Sofia karena kasus adik iparnya, Dian, yang melecehkannya. Lalu fakta bahwa

  • Terjerat Skandal Berbahaya Sang Presdir   Bab 099

    Dengan perasaan kecewa Laras masih belum bertemu dengan Ardhan bahkan saat berangkat ke JakartaBukannya dia mengharapkan bertemu dengan Ardhan. Tapi pria itu sudah berjanji akan bertemu dengannya setelah pertemuan terakhir mereka di kantornya.Itu membuat Laras merasa menikmati semua pemberian Ardhan tanpa memberikan ‘imbalan’ pada pria itu.Sekarang di sinilah dia, berhadapan dengan Winda, istri Ardhan, di ruang tamu keluarga Wikrama.Pada akhirnya dia kembali ke tempat ini.“Sudah lama sekali ya. Bagaimana kabarmu?” Wanita itu bertanya dengan ramah. Laras menyadari Winda mengalami banyak perubahan seperti kebanyakan seorang ibu yang sudah melahirkan. Rambutnya kusut, dan tidak berkilau seperti biasa. Ada lingkaran gelap di bawah matanya. Dia bahkan tidak mengenakan make up hingga wajahnya wajah pucat dan kusamnya terlihat sangat jelas.Wajah Winda terlihat tidak secantik saat dia bermake-up.Laras berdeham dan menjawab dengan sopan. “Kabarku baik, Nyonya.”“Ah, itu bagus. Aku ha

  • Terjerat Skandal Berbahaya Sang Presdir   Bab 098

    Berhari-hari kemudian, Ardhan belum mendatanginya. Dia hanya sesekali menelepon dan memberitahu Laras bahwa pekerjaannya sangat sibuk. Hanya Thomas yang setiap hari datang sesuai dengan perintah Ardhan mengantar hadiah dari pria itu.Ardhan membelikannya beberapa perhiasan, baju, sepatu dan bahkan kebutuhan Aidan. Tapi lebih banyak susu formula mahal yang diimpor dari luar negeri, dengan pengingat pada Laras agar tidak terlalu memfokuskan dirinya menyusui Aidan dengan ASI.Kemudian Laras mendapati saldo rekeningnya bertambah, itu pemberian dari Ardhan. Pria itu ingin Laras berhenti bekerja dan hanya tinggal di rumah, mengurus anaknya.Ardhan begitu bermurah hati.Itu membuat perasaan Laras menjadi rumit melihat saldo rekeningnya mencapai angka fantastis.Namun dia harus menahan ketidaknyaman dan kesedihan di hatinya merasa menjadi seorang wanita simpanan yang dipelihara.Sertifikat rumah Laras sudah dikembalikan, namun mereka masih mencari Yanti dan anak perempuannya yang kabur.Orang

  • Terjerat Skandal Berbahaya Sang Presdir   Bab 097

    Laras menghela napas setelah melihat Aidan baik-baik saja.Dia berdiri dan menghampiri Thomas dengan senyum kikuk."Terima kasih sudah menjaga anakku," ucapnya sambil mengambil Aidan dari Thomas.Thomas hanya mengangguk dengan acuh tak acuh sambil menyerahkan Aidan ke pelukan ibunya dan menjawab dengan sopan. "Aku hanya mengikuti perintah Tuan Ardhan."Dia melirik wajah Laras. Bibir wanita itu bengkak dan merah. Pipinya masih terlihat memerah dengan mata coklatnya yang berkaca-kaca seperti rusa, tampak begitu sensual dan memikat. Kerah bajunya longgar dan agak turun hingga belahan dadanya.Thomas mengalihkan pandangannya dengan cepat. Dia terlalu memikat. Tidak heran Ardhan begitu terpesona.Wanita itu sangat cantik bahkan tanpa riasan. Lebih cantik dari istri bosnya. Thomas menatapnya cukup lama --bukan karena dia terpesona--dia merasa wajah Laras familiar. Dia merasakan perasaan ini saat pertama kali bertemu dengan Laras. Namun dia hampir melupakannya karena jarang melihatnya lagi

  • Terjerat Skandal Berbahaya Sang Presdir   Bab 096

    Laras menatap mata gelap Ardhan yang tampak seperti obsidian yang gelap.Laras tak bisa mengalihkan pandangannya dari mata gelap yang mempesona, seperti jurang gelap yang menariknya untuk melanggar prinsip dan batas moral-nya.Laras menatap bibir tipis Ardhan yang menyungging senyum mempesona dan menelan ludah merasakan keinginan untuk menempelkannya di bibir pria itu.Rasa malu masih ada dalam dirinya.Dia telah merasakan bibir pria itu berkali-kali. Bahkan lebih dari itu.Tapi pria itu milik wanita lain.Dia ingin mengalihkan pandangannya namun Ardhan menahan tengkuknya, mendekatkan bibir mereka."Ayolah sayang ...." Bisikannya seperti bisikan jin, merayunya untuk menuruti kemauannya. Wajahnya mendekat dan menghembuskan napas hangatnya, bibirnya hanya berjarak beberapa inchi di bibir Laras saat dia berkata, "Katakan ... Mintalah padaku. Apa yang kamu inginkan, aku akan memberikan segalanya padamu."Sayang ....Wajah Laras terasa panas mendengar panggilan 'sayang' yang diucapkan deng

  • Terjerat Skandal Berbahaya Sang Presdir   Bab 095

    Sementara Aidan tertidur, Laras menunggu dengan hati yang berat di dalam kantor yang besar dan rapi. Dia tahu Thomas menghentikan orang-orang itu menghancurkan rumahnya karena Ardhan. Laras tahu apa yang harus dia lakukan ketika bertemu dengan Ardhan. Dia tak mampu membayar 15 miliar untuk melindungi rumahnya.Yanti dan Sandra, kedua orang itu pasti sudah melarikan diri setelah menjual rumahnya. Dia mengetahui itu setengah jam lalu ketika dia meminta Thomas mengantarnya ke rumah mantan mertuanya untuk meminta penjelasan mereka yang telah menyusup dan mencuri sertifikat rumahnya.Sayangnya, rumah itu kosong dan terjual. Yanti dan Sandra melarikan diri setelah menjual rumah Laras seharga 3 miliar. Orang-orang dari perusahaan real estate menjual kembali pada Thomas dengan angka 15 miliar ketika dia bertanya.Thomas hanya mampu menunda orang-orang dari perusahaan real estate sebelum mereka kembali untuk menghancurkan rumahnya. 15 miliar. Sekaya apapun Ardhan atau bagaimana mereka menja

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status