Share

8. Berbisnis

Penulis: Yu.Az.
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-14 17:35:48

Setelah Orion pergi meninggalkan kedai kecil itu, Elena menatap punggung lelaki tua itu hingga hilang di balik kerumunan pasar.

“Sekarang waktunya bagian kedua,” gumam Elena, lalu berbalik pergi.

Langkah Elena berhenti di depan sebuah toko pakaian kecil di sudut pasar. Cat pada papan nama toko itu sudah mengelupas, dan kaca jendelanya berdebu, tempat itu sangat sepi, hanya kain kusam yang tergantung. .

Elena membuka pintu kayu itu perlahan, dan suara lonceng tua berdentang menandakan kedatangannya. Namun, tak ada yang datang.

Elena menunggu sebentar di dekat pintu, lalu akhirnya melangkah masuk. Toko itu sepi, hanya terdengar suara seorang anak kecil dari ruang belakang. Saat Elena menoleh, ia melihat seorang wanita berambut kusam sedang menenangkan anaknya yang tampak kelaparan. Tubuh wanita itu kurus, bajunya lusuh.

Begitu menyadari ada seseorang di pintu, wanita itu langsung berdiri waspada, melindungi anaknya di belakang punggung.

“Siapa kamu?” serunya tajam. “Mau apa kau ke sini?”

Elena tak bergerak, hanya menatap lembut. Lalu perlahan ia melepas tudung jubahnya, memperlihatkan wajahnya.

“Namaku Elen,” ujar Elena. “Aku datang bukan untuk membeli tapi untuk berbisnis denganmu.”

Wanita itu mengernyit heran. “Berbisnis? Dengan orang sepertaku?” ia terkekeh getir. “Toko ini bahkan hampir gulung tikar. Kau salah alamat, Nona.”

Elena tersenyum kecil. “Tidak, aku yakin aku di tempat yang tepat.”

Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas berisi gambar desain hanfu dengan gaya yang belum pernah terlihat di kekaisaran saat ini.

Elena membentangkan gambar itu di meja kayu tua yang berdebu.

“Lihat,” kata Elena. “Bisakah kau membuat pakaian seperti ini?”

Wanita itu menatap gambar-gambar itu lama. Matanya yang tadi tajam kini berubah menjadi pandangan terkejut dan penuh kagum. Jemarinya bergetar saat menyentuh kertas itu, seolah takut merusaknya.

“Ini ... ini indah sekali. Aku belum pernah melihat potongan seperti ini. Tapi ....” suaranya melemah, “aku tidak bisa. Aku tak punya kain, tak punya modal. Semua tabunganku sudah habis untuk makan.”

Elena diam, lalu merogoh kantung kecil di pinggangnya. Ia mengeluarkan seluruh koin perunggu dan beberapa koin perak yang tersisa dari tabungannya.

Meletakkan di meja, ia mendorongnya ke arah wanita itu. “Ini. Gunakan untuk membeli bahan dan peralatan. Mulailah dari satu desain saja.”

Wanita itu membelalakkan mata, lalu mundur selangkah. “Apa maksudmu? Kau benar-benar memberiku uang sebanyak ini? Tanpa jaminan apa pun?”

Elena tersenyum, lembut dan tulus. “Ya. Aku percaya padamu.”

“Kenapa?” tanya wanita itu. “Kenapa kau percaya pada orang yang bahkan tak bisa menjamin tokonya bertahan seminggu lagi?”

Elena menatap wanita itu, lalu tersenyum misterius.

*

*

Setelah melakukan kesepakatan pada pemilik toko pakaian kecil itu. Kini Elena kembali pulang.

“Semoga Cani tidakkhawatir,” gumam Elena.

Elena berlari kecil melewati jalan berbatu yang sepi, kain jubah hitamnya berkibar tertiup angin. Langit mulai memerah, tanda sore hampir tenggelam. Ia mempercepat langkah, menembus jalan setapak di belakang kediaman Adipati Dirgantara sama seperti saat dia pergi, melewati rumpun bambu yang melindungi paviliun Selatan dari pandangan mata orang.

Begitu mendekat, terlihat sosok Cani mondar-mandir di depan pintu paviliun dengan wajah pucat pasi. Pelayan muda itu hampir melompat saat melihat tuannya muncul dari balik semak.

“Nona! Akhirnya Anda datang juga!” seru Cani panik. “Saya kira ada apa-apa! Anda tahu tidak, dua kali pelayan dari dapur datang mencar—”

“Tenang, Cani,” potong Elena cepat sambil menepuk bahunya. Napasnya sedikit terengah. “Aku baik-baik saja. Tidak ada yang tahu aku keluar. Sekarang cepat masuk.”

“Tapi Nona, beberapa pelayan tadi berkata, Adipati mencari—”

“Aku tahu, ayo kita bergegas ke kamar dulu,” potong Elena.

Cani masih terlihat gugup, kini mereka berjalan cepat menuju kamar, suara langkah mereka nyaris tak terdengar di lantai. Sebelum mereka tiba di kamar, Elena melepaskan jubah hitamnya terlebih dahulu.

Cani dengan sigap mengambil jubah itu dan menyembunyikannya ke balik rok dalamnya, seperti sudah terbiasa menutupi rahasia tuannya.

“Nona, kalau sampai ada yang tahu, kita bisa—”

Belum sempat Cani menyelesaikan kalimatnya, suara dingin memotong ucapannya.

“Kalian dari mana saja?”

Deg!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 184

    “M–maaf, Adipati?” Mina memastikan dirinya tidak salah dengar. “Adipati ingin membeli hanfu?”“Bukan,” jawab Adipati Dirgantara singkat. “Aku ingin membeli toko ini.”Suasana toko mendadak sunyi.Detak jantung Mina terasa jelas di telinganya. Namun ia tetap berusaha tenang. “Yang Mulia, toko ini tidak dijual.”Adipati Dirgantara mengangkat alisnya tipis. “Semua benda memiliki harga.”Mina tersenyum sopan, meski jemarinya sedikit mengencang di balik lengan bajunya. “Mungkin bagi sebagian orang. Tapi bagi aaya, toko ini bukan sekadar tempat berdagang.”Ia menatap Adipati Dirgantara tanpa menantang, namun juga tanpa gentar. “Ini hasil kerja keras. Tempat banyak orang menggantungkan hidup.”Salah satu pengawal melangkah maju setengah langkah. “Nyonya, berhati-hatilah dengan ucapanmu.”Adipati Dirgantara mengangkat tangannya, memberi isyarat agar pengawal itu mundur. Tatapannya kembali pada Mina.“Kau berani menolakku?” tanyanya datar.“Bukan menolak Yang Mulia,” jawab Mina lembut namun te

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 183

    Kamar Kanaya terasa sunyi meski lampu kristal di langit-langit menyala terang. Tirai sutra tergerai rapi, namun udara di dalam ruangan itu terasa berat. Kanaya duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Tatapannya kosong, menatap lantai seolah ada sesuatu yang menarik perhatiannya, padahal pikirannya sedang kacau.Bayangan toko yang hangus terus terlintas di benaknya. Rak-rak yang dulu tertata indah, kain-kain mahal yang menjadi kebanggaannya, semuanya lenyap dalam satu malam. Wajahnya terlihat muram, bibirnya terkatup rapat tanpa suara.Pintu kamar terbuka perlahan.Adipati Dirgantara masuk lebih dulu, diikuti oleh nyonya Andini. Keduanya berhenti sejenak di ambang pintu, menatap putri mereka yang terlihat begitu rapuh. Nyonya Andini menggenggam tangan suaminya pelan, seolah meminta kekuatan.Kanaya tidak menoleh. Ia tahu siapa yang datang, tapi ia memilih diam.Adipati Dirgantara menghela napas, lalu melangkah mendekat. Nyonya Andini ikut duduk di sisi lain ranjang, mendekati Kanaya d

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 182

    Prang!Suara pecahan memekakkan telinga di kediaman kosong itu. Vas porselen melayang dan menghantam dinding, pecah berkeping-keping sebelum serpihannya berhamburan ke lantai marmer. Kanaya berdiri dengan dada naik turun, napasnya kasar, matanya merah oleh amarah dan ketakutan yang bercampur jadi satu.“Dasar tidak becus!” teriaknya. “Aku menyuruhmu membakar toko Elena, bukan tokoku sendiri!”Pria yang berdiri di hadapannya bertubuh kurus dengan sorot mata licik mundur setengah langkah, namun bibirnya justru melengkung tipis. “Aku sudah melakukan pekerjaanku,” katanya santai. “Semalam aku membakar toko itu.”“Bohong!” Kanaya menuding dengan tangan gemetar. “Kau menipuku, kau bahkan membakar tokoku. Kau sengaja—”“Aku tidak tahu kenapa yang terbakar justru milikmu,” potong pria itu, suaranya datar. “Api tidak pernah bertanya siapa pemiliknya.”Pria itu sebenarnya juga heran, ia mengingat semalam jika ia sudah membakar toko Mina. Tapi kenapa tiba-tiba toko Cahaya yang terbakar.Kanaya t

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 181

    Kerumunan mendadak senyap.Beberapa bangsawan saling pandang, wajah mereka menegang. Para rakyat menahan napas, seolah takut sedikit saja suara akan memicu ledakan emosi. Udara di sekitar puing-puing toko cahaya terasa berat, menekan dada siapa pun yang berdiri di sana.Mina tersentak dan tanpa sadar melangkah maju. “Nona Kanaya—”Namun Elena mengangkat tangannya pelan, menghentikannya. Tatapannya kini lurus tertuju pada Kanaya, tenang, dingin, tanpa riak emosi berlebih.Kanaya menarik napas dalam-dalam. Suaranya bergetar, namun ia sengaja mempertahankan kelembutan yang rapuh. “Selama ini, toko cahaya kami baik-baik saja. Tidak pernah ada masalah. Tidak pernah terjadi kebakaran.” Ia menoleh sebentar ke arah puing-puing hitam yang masih berasap tipis, lalu kembali menatap Elena. “Tapi anehnya … setelah kakak memiliki toko sendiri, justru tokoku yang habis dilalap api.”Bisik-bisik mulai terdengar di antara kerumunan.“Maksudnya apa itu .…” “Seperti menuduh tapi tidak menuduh …” “Ah,

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 180

    Kanaya langsung menggeleng saat Rangga dan Ringga kembali meraih lengannya.“Tidak,” katanya cepat, suaranya masih gemetar tapi tegas. “Aku tidak mau ke kamar.”Rangga terkejut. “Kanaya, kau baru saja syok. Lebih baik—”Kanaya mengangkat wajahnya dan menatap ayahnya lurus-lurus. Matanya berkaca-kaca, namun ada tekad keras di sana. “Ayah … Kanaya ingin ikut.”Adipati Dirgantara mengernyit. “Ikut ke mana?”“Ke tokoku,” jawab Kanaya pelan. “Kanaya ingin melihatnya sendiri.”Nyonya Andini langsung menggeleng cemas. “Nak, itu bukan pemandangan yang baik untukmu. Ibu takut—”“Justru karena itu,” potong Kanaya lirih. “Kalau Kanaya tidak melihatnya sendiri, Kanaya tidak akan tenang.”Adipati Dirgantara terdiam. Ia menatap putrinya lama, menimbang. Wajah Kanaya pucat, jelas masih terguncang, namun sorot matanya menunjukkan ia tidak akan mundur.“Kanaya,” kata sang adipati akhirnya, suaranya berat. “Ayah tidak ingin kau semakin terluka.”Kanaya menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya lagi. “

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 179

    Kanaya menggeleng keras, napasnya tersengal.“Tidak … tidak!” suaranya bergetar hebat. “Itu tidak mungkin. Kenapa … kenapa tokoku bisa terbakar?”Tubuhnya benar-benar kehilangan tenaga. Kakinya melemas, pandangannya kosong, seolah kata-kata barusan hanyalah mimpi buruk yang terlalu nyata. Rangga dan Ringga langsung berdiri dari kursi mereka hampir bersamaan.“Kanaya!” Ringga lebih dulu menghampiri, tangannya sigap menahan lengan sang adik.Rangga menyusul dari sisi lain, meraih bahu Kanaya agar gadis itu tidak jatuh. “Tenang. Tarik napas dulu.”Ringga segera mengambil segelas air di atas meja dan menyodorkannya. “Minum ini. Pelan-pelan.”Kanaya menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Bibirnya menyentuh air, tapi ia hanya meneguk sedikit sebelum kembali terdiam. Tatapannya kosong, pikirannya dipenuhi satu kalimat yang terus berulang.Toko Cahaya adalah tokonya sendiri. Bagaimana hal itu bisa terbakar?Nyonya Andini menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berkaca-kaca, seolah di benak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status