MasukSuara berat itu membuat Elena dan Cani seketika membeku. Keduanya menoleh perlahan, di sana di ambang pintu kamar berdiri Rangga. Tubuh tegapnya bersandar di kusen pintu, sorot matanya tajam menusuk, mencoba mengintimidasi.
“Elena.” suaranya datar. “dari mana saja kalian?” ulang Rangga Cani menunduk refleks, wajahnya pucat pasi. Elena hanya menarik napas pelan, berusaha menenangkan debar di dadanya sebelum menjawab dengan nada datar, tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Kami hanya berjalan-jalan di belakang taman paviliun,” ucapnya. “Sekalian menanam beberapa tanaman.” Rangga menyipitkan mata, bibirnya terangkat membentuk senyum sinis. “Kau pikir aku percaya? Aku tahu kau pasti merencanakan sesuatu di belakang kami.” Tatapan Elena berubah dingin, tak ada sedikit pun rasa takut di matanya. “Aku tidak butuh kau percaya atau tidak,” jawabnya tegas. “Lagi pula, apa yang kau lakukan di sini? Setahuku, kau tidak pernah repot-repot mengunjungi kamarku.” Ucapan itu membuat garis rahang Rangga menegang. Ia melangkah maju semakin menatap tajam. Cani menelan ludah, tubuhnya bergetar, tapi Elena tetap diam, menatap pria itu dengan tenang. Rangga berhenti hanya sejengkal di depan Elena, mencoba menggertak dengan aura dominannya. “Kau berani bicara seperti itu padaku?” Elena mendongak sedikit, menatap tepat ke matanya. “Aku hanya berkata jujur,” ujarnya menantang. Hwning sejenak tadi. Tatapan mereka saling beradu tajam, seolah ada kilatan petir saling menyambar. “Awas saja kau berbohong!” Rangga akhirnya mengalihkan pandangan, lalu mendengus pendek. Ia berjalan melewati Elena tanpa berkata apa-apa, langkahnya menuju pintu belakang paviliun. Elena menatap punggung pria itu dalam diam. Rangga berhenti di halaman belakang. Matanya langsung tertuju pada deretan kecil tanaman yang baru saja tertanam, pohon tomat muda, cabai, dan beberapa sayuran lain. Tanah di sekitarnya masih lembap, tanda baru selesai diolah. Pria itu menatap lama, lalu perlahan rasa curiganya mereda. Tarikan napasnya terdengar lebih tenang, meski ekspresinya tetap dingin. “Jadi ini yang kau maksud dengan menanam tanaman, tapi sejak kapan?” gumamnya. Elena yang berdiri di ambang pintu hanya menatap tanpa menjawab. Rangga akhirnya kembali melangkah ke arahnya. “Kali ini kau selamat,” katanya dingin, menatap tajam sejenak sebelum berbalik hendak pergi. Cani yang sejak tadi menahan napas akhirnya mengembuskannya lega, bahunya turun perlahan. Tapi rasa tenang itu hanya bertahan sekejap. “Syukurlah,” bisik Cani. Langkah Rangga tiba-tiba berhenti. Ia berbalik lagi, sorot matanya menusuk Elena dengan arti yang sulit ditebak. “Oh, satu hal lagi,” ucapnya. “Bersiaplah untuk makan malam. Malam ini, Putra Mahkota Daniel akan datang.” Cani dan Elena sama-sama tertegun. “Dan jaga sikapmu,” lanjut Rangga dingin. “Jangan membuat Ayah malu di depan Yang Mulia Putra Mahkota.” Elena menatapnya datar. “Aku tahu bagaimana bersikap,” katanya pelan. Rangga tidak menanggapi. Ia hanya menatap Elena sekali lagi, lama lalu benar-benar pergi, langkahnya menghilang di balik koridor panjang yang diterangi cahaya senja. Begitu suara langkah itu lenyap, Cani langsung menutup pintu dan bersandar di dinding sambil mengusap dada. “Astaga, hampir saja, Nona,” katanya pelan. “Saya pikir kita sudah ketahuan. Untungnya, sebelum pergi, Nona menyuruh saya menanam tanaman itu.” Elena hanya diam tak menjawab, ia sudah memikirkannya matang-matang. Dan rahasia tidak boleh diketahui siapa pun. “Nona, ayo bersiap! Sebentar lagi tunangan Anda datang,” kata Cani menarik Elena dari lamunannya. Elena mengangguk. “Hmmp, ayo.” * * Elena kini telah selesai berbenah. Cani berdiri di belakangnya sambil memegang sehelai hanfu merah berlapis sutra dengan bordiran emas di tepinya. Matanya membulat tidak percaya. “Nona,” katanya dengan nada hati-hati, “anda yakin tidak ingin mengenakan hanfu mewah ini? Ini khusus dikirim dari ibu kota. Semua pelayan dapur saja tadi membicarakannya.” Elena menatap pakaian di tangan Cani, lalu mengerutkan kening. “Baju itu membuatku sakit mata. Buang saja.” Cani hampir menjatuhkan lipatan kain itu dari tangannya. “Buang?” serunya pelan tapi terkejut. “Nona, pakaian ini sangat mahal! Benang emasnya dijahit tangan, bahkan mungkin lebih mahal dari seluruh isi paviliun ini!” Elena menghela napas panjang, nada suaranya malas. “Kalau begitu jual saja.” Cani terpaku. “Jual pakaian istana? Nona, kalau Adipati atau Kepala Pelayan tahu, kita bisa—” Elena menatapnya santai lewat pantulan cermin. “Tenang saja, Cani. Aku tidak menyuruhmu berteriak di depan aula utama saat menjualnya, kan?” Cani menatap tuannya itu tak berkedip, lalu akhirnya mengembuskan napas menyerah. “Anda benar-benar berbeda sejak beberapa hari terakhir, Nona.”“M–maaf, Adipati?” Mina memastikan dirinya tidak salah dengar. “Adipati ingin membeli hanfu?”“Bukan,” jawab Adipati Dirgantara singkat. “Aku ingin membeli toko ini.”Suasana toko mendadak sunyi.Detak jantung Mina terasa jelas di telinganya. Namun ia tetap berusaha tenang. “Yang Mulia, toko ini tidak dijual.”Adipati Dirgantara mengangkat alisnya tipis. “Semua benda memiliki harga.”Mina tersenyum sopan, meski jemarinya sedikit mengencang di balik lengan bajunya. “Mungkin bagi sebagian orang. Tapi bagi aaya, toko ini bukan sekadar tempat berdagang.”Ia menatap Adipati Dirgantara tanpa menantang, namun juga tanpa gentar. “Ini hasil kerja keras. Tempat banyak orang menggantungkan hidup.”Salah satu pengawal melangkah maju setengah langkah. “Nyonya, berhati-hatilah dengan ucapanmu.”Adipati Dirgantara mengangkat tangannya, memberi isyarat agar pengawal itu mundur. Tatapannya kembali pada Mina.“Kau berani menolakku?” tanyanya datar.“Bukan menolak Yang Mulia,” jawab Mina lembut namun te
Kamar Kanaya terasa sunyi meski lampu kristal di langit-langit menyala terang. Tirai sutra tergerai rapi, namun udara di dalam ruangan itu terasa berat. Kanaya duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Tatapannya kosong, menatap lantai seolah ada sesuatu yang menarik perhatiannya, padahal pikirannya sedang kacau.Bayangan toko yang hangus terus terlintas di benaknya. Rak-rak yang dulu tertata indah, kain-kain mahal yang menjadi kebanggaannya, semuanya lenyap dalam satu malam. Wajahnya terlihat muram, bibirnya terkatup rapat tanpa suara.Pintu kamar terbuka perlahan.Adipati Dirgantara masuk lebih dulu, diikuti oleh nyonya Andini. Keduanya berhenti sejenak di ambang pintu, menatap putri mereka yang terlihat begitu rapuh. Nyonya Andini menggenggam tangan suaminya pelan, seolah meminta kekuatan.Kanaya tidak menoleh. Ia tahu siapa yang datang, tapi ia memilih diam.Adipati Dirgantara menghela napas, lalu melangkah mendekat. Nyonya Andini ikut duduk di sisi lain ranjang, mendekati Kanaya d
Prang!Suara pecahan memekakkan telinga di kediaman kosong itu. Vas porselen melayang dan menghantam dinding, pecah berkeping-keping sebelum serpihannya berhamburan ke lantai marmer. Kanaya berdiri dengan dada naik turun, napasnya kasar, matanya merah oleh amarah dan ketakutan yang bercampur jadi satu.“Dasar tidak becus!” teriaknya. “Aku menyuruhmu membakar toko Elena, bukan tokoku sendiri!”Pria yang berdiri di hadapannya bertubuh kurus dengan sorot mata licik mundur setengah langkah, namun bibirnya justru melengkung tipis. “Aku sudah melakukan pekerjaanku,” katanya santai. “Semalam aku membakar toko itu.”“Bohong!” Kanaya menuding dengan tangan gemetar. “Kau menipuku, kau bahkan membakar tokoku. Kau sengaja—”“Aku tidak tahu kenapa yang terbakar justru milikmu,” potong pria itu, suaranya datar. “Api tidak pernah bertanya siapa pemiliknya.”Pria itu sebenarnya juga heran, ia mengingat semalam jika ia sudah membakar toko Mina. Tapi kenapa tiba-tiba toko Cahaya yang terbakar.Kanaya t
Kerumunan mendadak senyap.Beberapa bangsawan saling pandang, wajah mereka menegang. Para rakyat menahan napas, seolah takut sedikit saja suara akan memicu ledakan emosi. Udara di sekitar puing-puing toko cahaya terasa berat, menekan dada siapa pun yang berdiri di sana.Mina tersentak dan tanpa sadar melangkah maju. “Nona Kanaya—”Namun Elena mengangkat tangannya pelan, menghentikannya. Tatapannya kini lurus tertuju pada Kanaya, tenang, dingin, tanpa riak emosi berlebih.Kanaya menarik napas dalam-dalam. Suaranya bergetar, namun ia sengaja mempertahankan kelembutan yang rapuh. “Selama ini, toko cahaya kami baik-baik saja. Tidak pernah ada masalah. Tidak pernah terjadi kebakaran.” Ia menoleh sebentar ke arah puing-puing hitam yang masih berasap tipis, lalu kembali menatap Elena. “Tapi anehnya … setelah kakak memiliki toko sendiri, justru tokoku yang habis dilalap api.”Bisik-bisik mulai terdengar di antara kerumunan.“Maksudnya apa itu .…” “Seperti menuduh tapi tidak menuduh …” “Ah,
Kanaya langsung menggeleng saat Rangga dan Ringga kembali meraih lengannya.“Tidak,” katanya cepat, suaranya masih gemetar tapi tegas. “Aku tidak mau ke kamar.”Rangga terkejut. “Kanaya, kau baru saja syok. Lebih baik—”Kanaya mengangkat wajahnya dan menatap ayahnya lurus-lurus. Matanya berkaca-kaca, namun ada tekad keras di sana. “Ayah … Kanaya ingin ikut.”Adipati Dirgantara mengernyit. “Ikut ke mana?”“Ke tokoku,” jawab Kanaya pelan. “Kanaya ingin melihatnya sendiri.”Nyonya Andini langsung menggeleng cemas. “Nak, itu bukan pemandangan yang baik untukmu. Ibu takut—”“Justru karena itu,” potong Kanaya lirih. “Kalau Kanaya tidak melihatnya sendiri, Kanaya tidak akan tenang.”Adipati Dirgantara terdiam. Ia menatap putrinya lama, menimbang. Wajah Kanaya pucat, jelas masih terguncang, namun sorot matanya menunjukkan ia tidak akan mundur.“Kanaya,” kata sang adipati akhirnya, suaranya berat. “Ayah tidak ingin kau semakin terluka.”Kanaya menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya lagi. “
Kanaya menggeleng keras, napasnya tersengal.“Tidak … tidak!” suaranya bergetar hebat. “Itu tidak mungkin. Kenapa … kenapa tokoku bisa terbakar?”Tubuhnya benar-benar kehilangan tenaga. Kakinya melemas, pandangannya kosong, seolah kata-kata barusan hanyalah mimpi buruk yang terlalu nyata. Rangga dan Ringga langsung berdiri dari kursi mereka hampir bersamaan.“Kanaya!” Ringga lebih dulu menghampiri, tangannya sigap menahan lengan sang adik.Rangga menyusul dari sisi lain, meraih bahu Kanaya agar gadis itu tidak jatuh. “Tenang. Tarik napas dulu.”Ringga segera mengambil segelas air di atas meja dan menyodorkannya. “Minum ini. Pelan-pelan.”Kanaya menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Bibirnya menyentuh air, tapi ia hanya meneguk sedikit sebelum kembali terdiam. Tatapannya kosong, pikirannya dipenuhi satu kalimat yang terus berulang.Toko Cahaya adalah tokonya sendiri. Bagaimana hal itu bisa terbakar?Nyonya Andini menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berkaca-kaca, seolah di benak







