Share

9. Ketahuan?

Author: Yu.Az.
last update Last Updated: 2025-10-17 23:10:25

Suara berat itu membuat Elena dan Cani seketika membeku. Keduanya menoleh perlahan, di sana di ambang pintu kamar berdiri Rangga. Tubuh tegapnya bersandar di kusen pintu, sorot matanya tajam menusuk, mencoba mengintimidasi.

“Elena.” suaranya datar. “dari mana saja kalian?” ulang Rangga

Cani menunduk refleks, wajahnya pucat pasi. Elena hanya menarik napas pelan, berusaha menenangkan debar di dadanya sebelum menjawab dengan nada datar, tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Kami hanya berjalan-jalan di belakang taman paviliun,” ucapnya. “Sekalian menanam beberapa tanaman.”

Rangga menyipitkan mata, bibirnya terangkat membentuk senyum sinis. “Kau pikir aku percaya? Aku tahu kau pasti merencanakan sesuatu di belakang kami.”

Tatapan Elena berubah dingin, tak ada sedikit pun rasa takut di matanya. “Aku tidak butuh kau percaya atau tidak,” jawabnya tegas. “Lagi pula, apa yang kau lakukan di sini? Setahuku, kau tidak pernah repot-repot mengunjungi kamarku.”

Ucapan itu membuat garis rahang Rangga menegang. Ia melangkah maju semakin menatap tajam. Cani menelan ludah, tubuhnya bergetar, tapi Elena tetap diam, menatap pria itu dengan tenang.

Rangga berhenti hanya sejengkal di depan Elena, mencoba menggertak dengan aura dominannya. “Kau berani bicara seperti itu padaku?”

Elena mendongak sedikit, menatap tepat ke matanya. “Aku hanya berkata jujur,” ujarnya menantang.

Hwning sejenak tadi. Tatapan mereka saling beradu tajam, seolah ada kilatan petir saling menyambar.

“Awas saja kau berbohong!”

Rangga akhirnya mengalihkan pandangan, lalu mendengus pendek. Ia berjalan melewati Elena tanpa berkata apa-apa, langkahnya menuju pintu belakang paviliun.

Elena menatap punggung pria itu dalam diam.

Rangga berhenti di halaman belakang. Matanya langsung tertuju pada deretan kecil tanaman yang baru saja tertanam, pohon tomat muda, cabai, dan beberapa sayuran lain. Tanah di sekitarnya masih lembap, tanda baru selesai diolah.

Pria itu menatap lama, lalu perlahan rasa curiganya mereda. Tarikan napasnya terdengar lebih tenang, meski ekspresinya tetap dingin.

“Jadi ini yang kau maksud dengan menanam tanaman, tapi sejak kapan?” gumamnya.

Elena yang berdiri di ambang pintu hanya menatap tanpa menjawab.

Rangga akhirnya kembali melangkah ke arahnya. “Kali ini kau selamat,” katanya dingin, menatap tajam sejenak sebelum berbalik hendak pergi.

Cani yang sejak tadi menahan napas akhirnya mengembuskannya lega, bahunya turun perlahan. Tapi rasa tenang itu hanya bertahan sekejap.

“Syukurlah,” bisik Cani.

Langkah Rangga tiba-tiba berhenti. Ia berbalik lagi, sorot matanya menusuk Elena dengan arti yang sulit ditebak.

“Oh, satu hal lagi,” ucapnya. “Bersiaplah untuk makan malam. Malam ini, Putra Mahkota Daniel akan datang.”

Cani dan Elena sama-sama tertegun.

“Dan jaga sikapmu,” lanjut Rangga dingin. “Jangan membuat Ayah malu di depan Yang Mulia Putra Mahkota.”

Elena menatapnya datar. “Aku tahu bagaimana bersikap,” katanya pelan.

Rangga tidak menanggapi. Ia hanya menatap Elena sekali lagi, lama lalu benar-benar pergi, langkahnya menghilang di balik koridor panjang yang diterangi cahaya senja.

Begitu suara langkah itu lenyap, Cani langsung menutup pintu dan bersandar di dinding sambil mengusap dada. “Astaga, hampir saja, Nona,” katanya pelan. “Saya pikir kita sudah ketahuan. Untungnya, sebelum pergi, Nona menyuruh saya menanam tanaman itu.”

Elena hanya diam tak menjawab, ia sudah memikirkannya matang-matang. Dan rahasia tidak boleh diketahui siapa pun.

“Nona, ayo bersiap! Sebentar lagi tunangan Anda datang,” kata Cani menarik Elena dari lamunannya.

Elena mengangguk. “Hmmp, ayo.”

*

*

Elena kini telah selesai berbenah. Cani berdiri di belakangnya sambil memegang sehelai hanfu merah berlapis sutra dengan bordiran emas di tepinya.

Matanya membulat tidak percaya.

“Nona,” katanya dengan nada hati-hati, “anda yakin tidak ingin mengenakan hanfu mewah ini? Ini khusus dikirim dari ibu kota. Semua pelayan dapur saja tadi membicarakannya.”

Elena menatap pakaian di tangan Cani, lalu mengerutkan kening. “Baju itu membuatku sakit mata. Buang saja.”

Cani hampir menjatuhkan lipatan kain itu dari tangannya. “Buang?” serunya pelan tapi terkejut. “Nona, pakaian ini sangat mahal! Benang emasnya dijahit tangan, bahkan mungkin lebih mahal dari seluruh isi paviliun ini!”

Elena menghela napas panjang, nada suaranya malas. “Kalau begitu jual saja.”

Cani terpaku. “Jual pakaian istana? Nona, kalau Adipati atau Kepala Pelayan tahu, kita bisa—”

Elena menatapnya santai lewat pantulan cermin. “Tenang saja, Cani. Aku tidak menyuruhmu berteriak di depan aula utama saat menjualnya, kan?”

Cani menatap tuannya itu tak berkedip, lalu akhirnya mengembuskan napas menyerah. “Anda benar-benar berbeda sejak beberapa hari terakhir, Nona.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Haeiril Arafah
Kaget aku.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab 273

    Begitu mereka kembali ke toko melalui pintu rahasia, suasana yang tadi hangat berubah tegang. Lampu-lampu masih menyala, tetapi udara terasa lebih dingin.Elena langsung menutup pintu tersembunyi itu dan berbalik menghadap Rando. “Di mana orang itu?”Nada suaranya tenang, namun sorot matanya tajam.Rando berdiri tegak. “Saat saya tiba di sekitar toko, saya melihat bayangan seseorang di atap bangunan seberang. Tapi ketika saya mengejar, dia sudah pergi.”“Ciri-cirinya?” tanya Caspian singkat.“Berpakaian gelap. Gerakannya ringan. Sepertinya terlatih.”Elena menyilangkan tangan. “Apakah dia mencoba masuk?”“Tidak,” jawab Rando. “Sepertinya dia hanya mengamati.”Caspian mengangguk pelan. “Kalau begitu, kemungkinan besar dia hanya mengumpulkan informasi. Tidak ada tanda-tanda hendak menyerang.”Lily berdecak kesal. “Apa yang mereka inginkan sebenarnya? Jangan-jangan ingin berbuat jahat.”Elena menggeleng tipis. “Sepertinya dia tidak akan berani melakukan itu.”Ia berjalan ke meja dan menu

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 272

    Elena tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Ia jarang kehilangan kata-kata.Caspian menyelesaikan simpul perban, lalu tetap berlutut beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.“Elena,” panggilnya pelan.“Apa?”“Jika suatu hari mereka benar-benar serius mendekatimu .…”Elena mengangkat alis. “Dan?”“Aku tidak akan mundur.”Nada suaranya tidak keras. Tidak emosional. Namun ada tekad kuat di dalamnya.Elena menatapnya lama. “Aku tidak butuh seseorang untuk bertarung demi diriku,” katanya akhirnya.Caspian tersenyum tipis. “Aku tahu.”“Lalu?”“Aku bertarung bukan karena kau lemah.” Ia berdiri perlahan, kini sejajar dengan Elena. “Tapi karena aku ingin.”Hening kembali menyelimuti ruangan. Dari luar terdengar suara Lily yang bercakap dengan Cani di lantai bawah.Elena memalingkan wajah lebih dulu. “Lukanya sudah selesai. Terima kasih.”Caspian menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk kecil. “Jangan membuatku khawatir lagi.”Elena hampir tersenyum, namun menahannya. “Itu bukan sesuat

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 271

    Ketiga pria itu berdiri beberapa saat di tengah jalan, suasana di antara mereka masih dipenuhi bara yang belum padam.Daniel mendengus pelan. “Jika bukan karena kalian berdua yang terus menyela, dia tidak akan pergi begitu saja.”Erland membalas dengan nada tak kalah tajam. “Jika Anda tidak datang tiba-tiba dan bersikap seolah hanya Anda yang berhak, situasinya tak akan memburuk.”Caspian tersenyum tipis, namun sorot matanya dingin. “Kalian berdua terlalu banyak bicara. Elena tidak suka dipaksa.”Daniel menatapnya kesal. “Kau juga sama saja.”“Bedanya,” jawab Caspian tenang, “aku tahu kapan harus berhenti.”Hening sesaat.Akhirnya, tanpa sepakat apa pun, ketiganya berbalik ke arah berbeda. Persaingan tak terucap twrasa di sana.**Reno berjalan beberapa langkah di belakang Putra Mahkota Erland. Suasana di antara mereka lebih tenang, meski jelas ada sesuatu yang mengusik pikiran sang putra mahkota.“Yang Mulia,” panggil Reno hati-hati.Erland melirik sekilas. “Apa?”Reno ragu sejenak,

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 270

    Elena baru saja membuka mulut untuk menjawab desakan Putra Mahkota Erland ketika sebuah suara lain menyela, tegas dan penuh otoritas.“Elena, ikut denganku.”Semua orang di sekitar jalan itu menoleh bersamaan.Di sana, berdiri Putra Mahkota Daniel dengan pakaian kebesaran Solaria yang rapi dan wajah yang sulit ditebak. Aura wibawanya membuat para pejalan kaki spontan memberi jalan.Alis Elena sedikit berkerut. Lily pun ikut menegang.Daniel melangkah mendekat, tatapannya langsung jatuh pada hanfu Elena yang mulai memerah di bagian siku.Wajahnya berubah dingin. “Kau terluka,” katanya singkat. “Ayo. Kita ke klinik kesehatan kekaisaran.”Nada suaranya tidak memberi ruang untuk penolakan. Ia mengulurkan tangan, berniat menggenggam pergelangan Elena.Namun sebelum sentuhan itu terjadi, sebuah tangan lain lebih dulu menghadang.“Tidak.”Putra Mahkota Erland berdiri di antara mereka, sorot matanya tak lagi selembut sebelumnya.“Aku yang akan membawa Nona Elena,” ucapnya tenang namun tegas.

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 269

    Gerbang utama Istana Solaria terbuka perlahan saat tiga kereta berukir lambang Kekaisaran Kaelum memasuki halaman dalam.Bendera hitam-perak berkibar pelan tertiup angin. Para pengawal berjajar rapi di sisi jalan batu putih.Di barisan paling depan, seorang pria muda menunggangi kuda hitam dengan postur tegap dan tatapan tajam.Dialah Putra Mahkota Erland.Tatapannya langsung tertuju pada dua sosok yang telah berdiri di tangga utama istana, Kaisar Ethan dan Permaisuri Lola.Begitu kudanya berhenti, Erland turun dengan gerakan ringan dan mantap. Ia menyerahkan kendali kuda pada pengawal, lalu berjalan menghampiri ayah dan ibunya.Ia berhenti beberapa langkah di depan mereka, lalu menunduk hormat.“Salam hormat untuk Yang Mulia Kaisar,” ucapnya tegas. “Dan salam hormat untuk Ibu Permaisuri.”Kaisar Ethan memandang putranya dengan sorot mata dalam. Wajahnya tetap berwibawa dan cenderung dingin seperti biasa.Ia mengangguk pelan, lalu menepuk pundak Erland. “Kau sudah datang,” katanya sin

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 268

    Gerbang Kediaman Adipati Dirgantara terbuka lebar saat senja mulai turun.Rangga baru saja turun dari kudanya ketika ia melihat sebuah kereta berhenti di halaman depan. Ia mengerutkan kening saat melihat dua sosok turun dari sana.“Ringga? Kanaya?” gumamnya.Saudara kembarnya itu tampak berantakan. Hanfunya basah kuyup, bahkan dari jarak beberapa langkah pun tercium aroma sup yang masih menempel.Di belakangnya, Kanaya turun dengan hati-hati, sementara Kania sudah di antar pulang lebih dulu dengan perasaan dongkol.Rangga melangkah cepat mendekat.“Apa yang terjadi padamu?” tanyanya tajam.Ringga langsung menoleh dengan wajah penuh amarah. “Ini semua ulah Elena.”“Ela— apa?” Rangga terlihat benar-benar terkejut. “Elena melakukan ini?”“Dia berani mempermalukanku di depan murid akademi,” geram Ringga. “Dia menyiramku dengan air sup.”Rangga menatapnya tak percaya. “Elena melakukan itu?”Ringga mengangguk keras. “Tenru saja. Aku hanya memberikan dia peringatan karena mengganggu Kania. D

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status