Share

Bab 63

Author: Anju
last update Last Updated: 2026-01-01 14:59:19

Kevin tidak langsung menuju kantor pusat Cathy Group.

Ia menyetir tanpa tujuan selama hampir dua puluh menit, membiarkan kota berlalu di balik kaca mobil, mencoba menenangkan sesuatu di dadanya yang tidak mau diam sejak pagi. Pesan ayahnya masih terngiang jelas—singkat, dingin, dan penuh makna.

Kita perlu bicara. Hari ini.

Kalimat itu jarang berarti hal baik.

Akhirnya Kevin berhenti di basement gedung Cathy Group. Mobilnya terparkir rapi di antara kendaraan lain yang harganya setara satu gedung kos Nadia. Ia turun, merapikan jaketnya, lalu melangkah masuk dengan wajah datar yang sudah terlatih sejak lama.

Di lantai atas, ruang rapat utama sudah menunggu.

Ayahnya duduk di ujung meja panjang, punggung tegak, tangan terlipat di atas meja. Beberapa orang penting perusahaan duduk di sisi kanan dan kiri, sementara Adrian berdiri santai di dekat layar besar, seperti biasa—terlalu tenang untuk situasi yang seharusnya serius.

Kevin langsung duduk tanpa basa-basi.

“Kita nggak punya banyak waktu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 67

    Kampus tidak pernah sebising itu sebelumnya.Sirene pemadam masih meraung di kejauhan, bercampur dengan suara langkah tergesa, tangis tertahan, dan bisik-bisik yang menyebar lebih cepat daripada api yang baru saja dipadamkan. Asap tipis masih menggantung di udara, membuat mata perih dan dada terasa sesak.Nadia berdiri di tengah kekacauan itu.Tubuhnya utuh. Tidak terluka. Tidak terbakar.Tapi ia tahu—sesuatu di dalam dirinya sudah patah.Tangannya masih gemetar. Bukan karena takut. Melainkan karena ingatan akan sensasi itu belum pergi. Sensasi ketika lemari besi itu terangkat, ringan—terlalu ringan—di tangannya.Bukan dorongan adrenalin.Bukan keberanian sesaat.Itu terasa… alami.Kevin berdiri di depannya, bahunya sedikit membungkuk seolah melindungi. Matanya tidak lepas dari wajah Nadia, seakan takut ia akan menghilang jika dilepas sedetik saja.“Nad,” panggilnya pelan. “Liat gue.”Nadia menatap Kevin.Di mata itu tidak ada kebingungan. Tidak ada kaget.Yang ada hanya satu hal: ke

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 66

    Hari itu seharusnya berjalan normal.Itulah yang Nadia yakinkan pada dirinya sendiri sejak pagi. Ia bangun, mandi, berpakaian, dan berangkat ke kampus dengan rutinitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada alarm darurat. Tidak ada mimpi aneh. Tidak ada pesan misterius di HP-nya.Namun tubuhnya tahu kebenaran sebelum pikirannya siap menerimanya.Sejak membuka mata, ada sesuatu yang… bergeser.Bukan sakit. Bukan lemah. Melainkan terlalu sadar.Nadia bisa merasakan detak jantungnya sendiri dengan detail yang mengganggu. Ia tahu kapan napasnya sedikit lebih cepat, kapan suhu tubuhnya naik setengah derajat. Bahkan langkah kakinya terasa presisi—terlalu presisi, seolah tubuhnya mengikuti pola yang sudah dihitung sebelumnya.Di dalam bus kampus, ia duduk dekat jendela.Dan tanpa sengaja—ia tahu.Rem bus akan bermasalah di persimpangan depan.Bukan rusak. Tapi terlambat satu detik.“Nggak…” gumamnya.Detik berikutnya, bus mengerem mendadak. Penumpang tersentak. Seorang mahasiswi

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 65

    Pagi datang tanpa peringatan.Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai apartemen Kevin, jatuh tepat di wajahnya. Ia mengerjap pelan, kepala terasa berat, tubuhnya seolah baru saja ditarik keluar dari laut dalam. Untuk beberapa detik, ia lupa di mana dirinya berada—sampai aroma kopi yang belum diminum semalam menyentuh inderanya.Dan suara napas pelan di dekatnya.Kevin menoleh.Nadia duduk di lantai, bersandar pada sisi sofa, jaketnya masih ia pakai. Kepalanya sedikit tertunduk, rambutnya menutupi sebagian wajah. Ia tertidur dalam posisi yang jelas tidak nyaman, seolah takut bergerak terlalu jauh.Kevin langsung bangkit terlalu cepat.Dunia berputar.Ia terpaksa berpegangan pada sandaran sofa, rahangnya mengeras menahan mual yang naik tiba-tiba. Denyut di kepalanya kembali, lebih tajam dari malam sebelumnya, seperti pengingat keras bahwa keputusan kemarin belum selesai menagih harga.“Nad…” suaranya serak.Nadia tersentak bangun. Matanya langsung fokus, seolah tubuhnya sudah siap se

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 64

    Malam itu, Nadia tidak langsung pulang ke kos.Ia duduk lama di dalam kamar, lampu dimatikan, hanya cahaya dari jendela yang membelah ruangan menjadi dua warna—gelap dan abu-abu. Pesan Kevin masih terngiang di kepalanya, berputar seperti gema yang menolak berhenti.Mulai malam ini, apa pun yang terjadi sama gue… itu pilihan gue. Bukan sistem.Kalimat itu seharusnya membuat Nadia lega.Tapi yang ia rasakan justru sebaliknya.Dadanya terasa berat, bukan oleh takut kehilangan, melainkan oleh rasa bersalah yang perlahan merayap. Selama ini, ia selalu bertanya-tanya apakah kedekatannya dengan Kevin membuatnya terperangkap. Baru sekarang ia menyadari—Kevin juga sedang terjebak, dan memilih cara paling berbahaya untuk keluar.Nadia bangkit dari kasur, mengambil jaket, dan menatap bayangannya di cermin.“Aku nggak bisa cuma diam,” katanya pada diri sendiri.Begitu melangkah keluar kamar, sensasi itu datang lagi.Bukan sakit.Bukan pusing.Melainkan tarikan halus, seperti benang yang ditarik p

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 63

    Kevin tidak langsung menuju kantor pusat Cathy Group.Ia menyetir tanpa tujuan selama hampir dua puluh menit, membiarkan kota berlalu di balik kaca mobil, mencoba menenangkan sesuatu di dadanya yang tidak mau diam sejak pagi. Pesan ayahnya masih terngiang jelas—singkat, dingin, dan penuh makna.Kita perlu bicara. Hari ini.Kalimat itu jarang berarti hal baik.Akhirnya Kevin berhenti di basement gedung Cathy Group. Mobilnya terparkir rapi di antara kendaraan lain yang harganya setara satu gedung kos Nadia. Ia turun, merapikan jaketnya, lalu melangkah masuk dengan wajah datar yang sudah terlatih sejak lama.Di lantai atas, ruang rapat utama sudah menunggu.Ayahnya duduk di ujung meja panjang, punggung tegak, tangan terlipat di atas meja. Beberapa orang penting perusahaan duduk di sisi kanan dan kiri, sementara Adrian berdiri santai di dekat layar besar, seperti biasa—terlalu tenang untuk situasi yang seharusnya serius.Kevin langsung duduk tanpa basa-basi.“Kita nggak punya banyak waktu

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 62

    Pagi datang terlalu cepat bagi Nadia.Ia terbangun di apartemen Kevin dengan perasaan yang campur aduk—tubuhnya terasa jauh lebih stabil daripada hari-hari sebelumnya, tapi justru itu yang membuat dadanya berat. Ketenangan ini tidak gratis. Ia tahu itu. Dan semakin lama ia berada di dekat Kevin, semakin jelas pula kenyataan yang tak ingin ia terima: tubuhnya memilih sebelum pikirannya sempat memberi izin.Di dapur, Kevin sudah bangun lebih dulu. Ia berdiri di depan mesin kopi, kemeja hitamnya digulung sampai siku, wajahnya datar tapi matanya lelah. Bukan lelah fisik—ini kelelahan orang yang terlalu lama berjaga.“Kampus nelpon,” kata Kevin tanpa basa-basi saat Nadia masuk ruangan. “Dekan minta kamu hadir siang ini.”Nadia berhenti melangkah. “Hadir… buat apa?”“Penjelasan,” jawab Kevin pelan. “Tentang insiden kemarin. Tentang kondisi kamu. Dan—” Ia berhenti sejenak. “Tentang kenapa kamu sekarang nggak tinggal di kos.”Nadia menghela napas panjang, duduk di kursi tanpa benar-benar ingi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status