공유

Bab 7

작가: Yuki Norin
Tatapan Darwis terpaku pada sosok Nikita yang terjatuh. Di mata hitamnya yang pekat, seperti biasa, tak tampak riak emosi sedikit pun.

Saat itu, hampir semua orang mengalihkan pandangan kepada Nirina.

Sebagai kakak Nikita, wajah Nirina langsung berubah pucat karena terkejut. Dia segera berlari menghampiri.

Namun, sebelum dia sempat tiba, Adler sudah mendahuluinya dan langsung mengangkat Nikita ke dalam pelukan.

Di telinga Nikita hanya terdengar suara-suara yang bercampur menjadi gemuruh tidak jelas. Seluruh tubuhnya lemas, sementara perut bagian bawahnya terasa begitu sakit hingga nyaris membuatnya pingsan.

Tangannya mengepal erat, berusaha meredakan rasa sakit itu. Di telinganya terdengar suara Adler yang penuh kekhawatiran.

Saat Adler menggendongnya pergi, Nikita mengangkat pandangan dan bertemu dengan mata Darwis.

Di kejauhan, tatapan pria itu hanya dipenuhi ketenangan dan sikap dingin.

Nikita memejamkan mata, memutuskan tatapan itu.

Suaminya bisa bersikap hangat dan ramah kepada siapa saja. Hanya kepadanya, dia bersikap dingin, bahkan ketika dirinya hampir mati.

Melihat itu, Nirina hendak mengejar mereka.

Namun, Adler berkata dengan ekspresi dingin, "Bu Nirina, silakan kembali."

Dia tahu Nikita tidak ingin melihat Nirina. Untuk apa membiarkannya ikut?

Darwis melangkah menghampiri dan mencegah Nirina mengejar mereka.

Nirina menggigit bibir bawahnya. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran. "Dia kelihatannya sakit parah. Sebenarnya ada apa? Biasanya dia nggak begini ...."

Adler mengangkat pandangan ke arah Darwis. "Pak Darwis nggak ikut?"

Dia memang mendengar dari Nikita bahwa mereka akan bercerai. Namun bagaimanapun, perceraian itu belum resmi terjadi.

Sebagai suami, bagaimana mungkin Darwis bisa bersikap tidak peduli sampai seperti ini?

Darwis melirik Adler.

Sementara itu, ujung jari Nirina dengan lembut menyentuh perutnya yang mulai membesar. Jemarinya sedikit gemetar.

Dia juga takut. Dia juga panik. Dia juga membutuhkan seseorang untuk menemaninya.

Nirina mendongak menatap Darwis. "Darwis, aku benar-benar nggak apa-apa .... Adikku sendirian. Kasihan sekali."

Makin berhati-hati sikapnya, makin mudah orang merasa iba. Terlebih lagi, dia sedang mengandung.

Karena itu, dia lebih dahulu menelan semua rasa sedih.

"Pergilah. Aku bisa menunggu. Aku juga bisa jaga diriku sendiri."

Setiap kata yang diucapkannya terdengar begitu lembut dan patuh.

Darwis hanya menunduk meliriknya sekilas. Tatapannya tenang tanpa riak, tak menunjukkan sedikit pun emosi.

Wajah Nikita sepucat kertas. Seluruh tubuhnya gemetar. Dengan pandangan yang mulai kabur, dia menatap pasangan yang berdiri di depannya.

Padahal dialah istri sah Darwis. Saat ini dia pun sakit hingga nyaris tak mampu berdiri.

Namun di mata pria itu ... yang terlihat hanya sosok Nirina, perempuan yang lembut, pengertian, dan mengusap perutnya sambil menyuruhnya pergi "menjaga adiknya".

Darwis menunduk menatap Nirina. "Bagiku, tetap berada di sisimu adalah hal yang paling penting."

Satu kalimat itu seolah menjatuhkan vonis bagi Nikita.

Sejak awal, orang yang dipilih Darwis bukanlah dirinya.

Orang yang selalu dilindungi pria itu juga bukan istrinya sendiri.

Tenggorokan Nikita dipenuhi rasa getir. Dadanya sakit seolah hendak meledak.

Padahal dialah yang ditinggalkan, dialah yang diabaikan, dialah yang sedang disiksa penyakit.

Namun di mata Darwis, dia bahkan tidak memiliki hak untuk diperhatikan.

Dengan mengerahkan sisa tenaga, Nikita akhirnya bersuara, "Kita pergi."

Terus bertahan hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

Tatapan Adler menjadi dingin saat melirik Darwis.

Nikita sudah pingsan, tetapi pria itu masih sempat saling mempersilakan dengan Nirina.

Detik berikutnya, Adler menggendong Nikita masuk ke mobil dan langsung menutup pintu.

Dia berkata kepada sopir, "Ke Rumah Sakit Jaya."

Nirina memandangi mobil yang melaju pergi. Dia mengangkat kepala menatap Darwis dan menggigit bibirnya pelan. "Darwis, mungkin Nikita cuma gula darah rendah. Dia memang selalu pilih-pilih makanan. Karena sudah terbiasa hidup berkecukupan, waktu tinggal di rumah Ayah Djamin dan Ibu Sherly, dia nggak mau makan apa pun dan selalu terlihat jijik."

Djamin dan Sherly yang dimaksud Nirina adalah orang tua kandung Nikita.

Sejak kecil, Nirina dibesarkan oleh mereka.

Sementara setelah Nirina kembali diakui sebagai putri kandung, dia sangat dimanjakan oleh orang tua Keluarga Alinskie.

"Aku juga nggak pernah memaksanya meninggalkan Keluarga Alinskie. Toh Ayah dan Ibu juga menganggapnya sebagai anak. Tapi dia sepertinya sangat membenciku, seolah aku yang merebut keluarganya. Aku benar-benar nggak tahu harus gimana. Aku juga kasihan padanya. Aku ingin akrab dengan adikku seperti orang lain."

Tatapan Darwis tertuju pada sudut mata Nirina yang memerah.

Dengan nada datar tanpa emosi, dia hanya berkata, "Dia memang terlalu dimanjakan. Itu bukan salahmu."

Dia tidak lagi menyinggung Nikita. Tatapannya kembali kepada Nirina. "Jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai kamu mengorbankan dirimu demi orang lain."

Sepanjang percakapan itu, Darwis tidak marah maupun membujuk. Namun, setiap ucapannya jelas-jelas berpihak kepada Nirina.

Nirina tersenyum lembut. "Aku juga sebenarnya iri padanya. Ke mana pun dia pergi, selalu ada orang yang menyayanginya."

....

Di dalam mobil ....

"Obat ...."

Suara Nikita begitu lirih hingga nyaris tenggelam oleh suara angin.

Dengan panik, Adler langsung mengobrak-abrik tas yang dibawa Nikita. Saat ujung jarinya menyentuh kotak obat pereda nyeri, hatinya terasa berat.

Nikita menelan obat itu dengan beberapa teguk air hangat. Wajahnya sepucat kertas. Dengan susah payah, dia berkata, "Nggak usah ke rumah sakit."

"Sudah sesakit ini, mana mungkin nggak ke rumah sakit?" Nada bicara Adler penuh rasa iba.

Nikita memejamkan mata. Dengan suara lemah, dia berkata, "Aku lagi datang bulan."

Adler tertegun. Pada akhirnya, dia meminta sopir memutar balik mobil.

Perlahan, obat pereda nyeri mulai bekerja. Namun, rasa sakit yang tajam itu hanya berubah menjadi nyeri tumpul yang berat, tetap membelit seluruh tubuhnya tanpa henti.

Nikita memalingkan wajah dan berkata dengan lirih kepada Adler, "Terima kasih."

"Kamu seharusnya lebih menjaga dirimu sendiri. Dulu kamu nggak seperti ini."

Melihatnya terus memaksakan diri, hati Adler terasa sesak. "Gimana kalau aku kasih kamu cuti beberapa hari?"

Nikita menggeleng pelan.

Waktunya sudah tidak banyak. Dia tidak ingin menyia-nyiakan sedetik pun untuk beristirahat.

Adler tahu sifatnya keras kepala. Dia tidak mungkin bisa membujuk. Jadi, dia hanya menghela napas panjang. "Kalau benar-benar sudah nggak kuat, istirahatlah. Jangan terus memaksakan diri."

Nikita mengangguk pelan. Suara sangat lirih. "Aku tahu kondisi tubuhku sendiri."

Mobil pun seketika diliputi keheningan.

Nikita meringkuk di sudut kursi. Tubuhnya menciut menjadi sekecil mungkin.

Gelombang rasa sakit terus datang silih berganti, menjalar dari dada hingga ke ujung jari. Dinginnya menusuk sampai ke tulang.

Nikita menggertakkan giginya erat-erat. Bibirnya memucat. Bahkan erangan pelan pun tidak dia keluarkan. Rasanya seolah menunjukkan kelemahan pun sudah menjadi sesuatu yang tidak perlu lagi.

Akhirnya, mobil sampai di vila.

Nikita membuka pintu mobil. Kakinya terasa lemas hingga hampir tak mampu berdiri.

Adler memandangi punggungnya yang kurus. Dia benar-benar tidak tenang. "Perlu aku temani? Benar-benar nggak mau ke rumah sakit?"

Nikita menoleh. Dia memaksakan sebuah senyum tipis. Senyuman itu tidak sampai ke matanya. Yang tersisa hanya kehampaan.

"Iya, nggak perlu. Aku tahu kondisi tubuhku sendiri."

Dia tahu dirinya tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi.

Dia juga tahu di dunia ini sudah tidak ada lagi orang yang benar-benar peduli pada rasa sakitnya.

Setelah Adler pergi, Nikita masuk ke rumah. Tubuhnya yang lemah langsung ambruk di sofa ruang tamu. Dia meringkuk memeluk dirinya sendiri.

Dia tidak menyalakan lampu. Seluruh ruangan diselimuti kegelapan.

Entah sudah berapa lama berlalu, terdengar suara pintu dibuka dari luar.

Darwis pulang.

Pria itu menyalakan lampu. Sekilas pandang saja, dia langsung melihat Nikita yang meringkuk di atas sofa.

Tubuhnya begitu kurus. Terlihat begitu rapuh.

Tatapan Darwis meredup. Dia melepas jasnya, lalu berjalan mendekat. Sesampainya di samping sofa, dia berjongkok. "Bagian mana yang sakit?"

Nikita memang tidak menyangka Darwis akan pulang malam ini.

Toh saat kembali ke tanah air pun pria itu tidak memberi tahu siapa pun. Bahkan dirinya menjadi orang terakhir yang mengetahuinya.

Nikita bahkan tidak meliriknya. "Nggak perlu mengurusku."

Tatapan Darwis begitu tenang hingga terasa mengerikan. "Terus, kamu ingin diurus siapa?"

Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Adler menggendong Nikita. Nikita tidak menolak. Bahkan dengan tubuh yang lemah, dia bersandar di pelukan pria itu.

"Kamu segitu butuhnya dipeluk orang lain?"

Tubuh Nikita langsung menegang.

Tatapan Darwis tertuju pada wajahnya yang pucat. "Kamu masih ingat kalau kamu punya suami?"

"Saat sakit, orang pertama yang kamu cari bukan aku, melainkan pria lain. Nikita, memangnya kamu begitu nggak percaya padaku? Atau dia lebih bisa diandalkan daripada aku?"

Tatapan Darwis terasa sangat dingin.

Itu bukanlah amarah, melainkan sikap tidak ingin kalah dari seseorang yang selalu berada di posisi lebih tinggi. Toh semua rasa sakit yang dialami Nikita hanyalah sandiwara.

Mendengar itu, Nikita hanya merasa semuanya begitu konyol sekaligus menusuk hati.

Bukankah dia sudah mengatakannya?

Dia sudah bilang bahwa dirinya tidak enak badan dan tidak ingin memberikan kursi itu.

Lalu, apa jawaban Darwis? Pria itu menyuruhnya berhenti bertingkah seperti anak kecil demi mencari perhatian.

Sekarang justru pria itu berbalik menyalahkannya?

Benar-benar menggelikan.

Di mata orang yang tidak mencintaimu, bahkan rasa sakit pun dianggap pura-pura. Bahkan saat nyawamu hampir melayang, kamu tetap dianggap hanya sedang membuat keributan.

Nikita tetap diam. Dia tidak ingin berdebat lagi.

Toh mereka juga akan bercerai.

Untuk apa bertengkar lagi? Untuk apa terus mempermalukan diri sendiri?

Lebih baik menghemat tenaga. Bisa hidup satu detik lebih lama pun sudah cukup.

Darwis mengulurkan tangan. Bukan untuk menopang, bukan pula karena iba. Pria itu mencengkeram dengan kasar, hendak mengangkatnya dari sofa.

"Ke rumah sakit."

Saat napas pria itu makin dekat, Nikita seolah tersiram air mendidih. Dia mati-matian meronta.

Gerakan Darwis terhenti. Dia menunduk menatap wanita itu. Tatapannya begitu dalam hingga terasa mengerikan, bahkan dipenuhi tekanan dan ketidaksabaran khas seseorang yang terbiasa berada di puncak kekuasaan.

Tidak mau ke rumah sakit?

Detik berikutnya, bibir tipisnya terbuka. "Jadi kamu pura-pura sakit untuk mencari belas kasihan? Atau kamu sengaja menjatuhkan diri ke pelukan Adler?"

Nikita menatapnya. Seluruh tubuhnya gemetar. Hatinya terasa diremas. Dirinya sudah hampir mati, tetapi ternyata beginilah penilaian Darwis terhadapnya.

Tiga tahun pernikahan ini benar-benar sebuah lelucon.

Nikita mengangkat tangannya.

Plak! Sebuah tamparan keras mendarat tepat di wajah pria itu.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 100

    Nanti, mereka akan mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan dan meluruskan semua masalah ini.Setelah pulang kerja, Nikita langsung pergi lagi ke rumah sakit.Kondisi neneknya masih cukup stabil.Hanya saja pada malam hari, terkadang napasnya menjadi sedikit lebih cepat. Nikita duduk di sisi ranjang sambil diam-diam memperhatikan garis pada monitor yang bergerak dengan stabil. Hatinya perlahan terasa berat.Luka di tangan Nikita kembali terbuka karena hantaman Dariel tadi. Dia sudah meminta bantuan di konter perawat untuk penanganan sederhana, tetapi setiap kali tangannya sedikit digunakan, rasa sakit samar langsung terasa.Pekerjaan Nikita berkaitan dengan eksperimen yang sangat presisi sehingga kestabilan tangannya memiliki tuntutan yang sangat tinggi. Jika lukanya terus berulang dan tidak pulih dengan baik, hal itu sangat mungkin akan memengaruhi pekerjaan berikutnya.Memikirkan hal itu, Nikita tidak berani mengabaikannya. Dia bangkit dan pergi ke bagian UGD untuk menangani luka

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 99

    Pada saat yang sama, opini publik di internet justru makin memanas.Proyek peralatan eksperimen kerja sama antara Evergreen Biotech Biotech dan Grup Marmara yang sebelumnya dituduh melakukan penjiplakan sebenarnya sudah berhasil ditekan agar tidak meluas.Namun, entah siapa yang kembali mengarahkan arus opini. Dalam semalam, semua tuduhan kembali mengarah kepada Nikita.Ada yang membongkar riwayat hidupnya di masa lalu, ada yang mengambil data eksperimennya di luar konteks, bahkan ada yang menggali seluruh informasi pribadinya dan melakukan serangan massa besar-besaran terhadapnya.Kolom komentar hampir semuanya berdiri di pihak Nirina. Mereka membela dan memperjuangkan keadilan untuknya.[Nirina lulusan universitas ternama dengan dua gelar. Untuk apa dia repot-repot menjiplak karya orang yang baru kembali di tengah jalan seperti Nikita?][Pasti Nikita iri sama Nirina. Karena nggak mampu membuatnya, dia pun mencuri rencana orang lain. Sekarang, dia bahkan menyeret perusahaan sampai iku

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 98

    Namun dibandingkan rasa sakit di tubuhnya, rasa nyeri di dalam hati Nikita jauh lebih parah. Rasa sakit yang tumpul itu menyebar begitu rapat hingga membuat seluruh tubuhnya terasa dingin.Nikita menatap pemuda di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. Pemuda yang baru saja dia jaga sepanjang malam.Pemuda yang dulu Nikita rawat dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga.Hanya saja, Dariel tetap menatapnya dengan penuh rasa muak. Dia menunjuk ke arah pintu dan membentaknya dengan suara keras, "Lebih baik kamu segera bercerai saja dengan Kak Darwis. Setelah keluar dari Keluarga Susanto, kamu bukan siapa-siapa lagi. Memangnya aku butuh kebaikan palsumu? Nggak usah repot-repot datang menjengukku!""Dariel." Suara Darwis terdengar dingin dan berat. "Diam. Siapa yang mengajarimu bersikap seperti ini?"Darwis pun menoleh kepada Nikita. "Salah kamu yang memanjakanku."Nikita sampai hampir tertawa karena marah. "Anggota keluarga kalian memang sudah begitu dari sananya. Memangnya masih perlu diaj

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 97

    Di mata Darwis, Nikita tidak lebih dari seorang pengangguran yang tidak melakukan apa-apa. Semua hal baik yang ada di rumah itu tidak ada hubungannya dengannya.Kebetulan Nikita kembali lagi untuk mengambil tasnya. Kalimat itu terdengar jelas olehnya.Langkahnya langsung terhenti. Dadanya terasa seperti dihantam benda tumpul dengan keras. Rasa sesak dan sakit perlahan menyebar.Sungguh konyol.Setelah bertahun-tahun menahan diri, berusaha, dan mencemaskan segala hal, semua itu ternyata sama sekali tidak bernilai bagi Darwis."Niki." Begitu Nirina mendongak, dia langsung melihat Nikita. Wanita itu sontak memperlihatkan senyum lembut. "Kamu sudah kembali. Tadi, aku sedang membicarakanmu dengan Kak Darwis."Darwis juga menoleh untuk melihatnya. Ekspresinya tetap datar, tanpa menunjukkan sedikit pun rasa bersalah ataupun merasa bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang salah.Ekspresi Nikita sangat dingin. "Kalau memang semuanya diurus pembantu, lalu saat Dariel demam, untuk apa aku ditel

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 96

    "Kemarin, kamu sembarangan makan apa di luar?"Tatapan Dariel beralih ke arah lain. Dia langsung merapatkan bibirnya dan tidak mengatakan apa-apa.Semalam, Nirina datang menjenguknya dan membawakan banyak camilan serta minuman dingin yang biasanya dilarang keluarganya untuk dikonsumsi. Dia pun langsung menyantap cukup banyak dalam sekali waktu.Dariel tidak berani mengatakan hal tersebut karena takut dimarahi.Melihat sikapnya yang menghindar seperti itu, Nikita langsung tahu apa yang terjadi. Dia pun malas bertanya lebih jauh.Nikita berdiri sambil berujar, "Karena kamu sudah bangun, berarti kondisimu baik-baik saja. Kakakmu sebentar lagi akan datang. Aku pergi dulu."Dirinya dan Keluarga Susanto sudah tidak memiliki hubungan apa pun. Apalagi, dia tidak punya kewajiban untuk terus menjaga Dariel.Usai Nikita berkata demikian, pintu ruang rawat terbuka.Darwis dan Nirina masuk satu demi satu.Nirina segera berjalan cepat ke sisi ranjang dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Dariel, gi

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 95

    Belakangan ini, Nikita memfokuskan dirinya dalam penelitian obat-obatan.Dia memulai dari akar persoalan yang paling mendasar.Setiap harinya, Nikita memeluk laptopnya sambil berulang kali melakukan perhitungan. Jika tidak, dia akan berada di ruang rapat untuk berdiskusi dengan tim.Sepulang kerja, Nikita tetap menemani neneknya di ruang rawat. Hari-harinya terasa padat, tetapi juga terasa bermakna.Hingga pukul sembilan malam, dering ponsel yang tiba-tiba berbunyi memutus alur pikirannya.Dia menerima panggilan masuk dari ….Darwis.Sebenarnya Nikita sudah memblokir nomor ponsel pria itu, tetapi berhubung mereka masih belum bercerai, memang masih ada yang perlu dibicarakan lagi.Nikita tidak ingin mengangkatnya, tetapi Darwis sangat jarang berinisiatif untuk menghubunginya. Setiap kali menelepon pasti ada tujuannya.Nikita terdiam sesaat, baru mengangkatnya. Nada bicaranya terdengar datar. “Ada urusan?”“Dariel demam. Dia lagi di klinik sekolah. Kamu pergi jaga dia sebentar.” Langsung

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status