Share

Bab 14. Mati Kutu

Author: Dinis Selmara
last update publish date: 2026-09-25 23:59:15
Bianca mengeratkan pelukannya dengan nyaman. Kepalanya mendusel manja pada dada bidang yang terasa empuk dan wangi.

‘Dada bidang? Wangi ini?’

Bianca tiba-tiba membuka matanya yang langsung membulat. Otaknya baru mencerna apa yang sedang terjadi. Ia mengingat kejadian sebelumnya, Liam yang terkulai dan tertidur di atas kepalanya karena tubuh lelaki itu jauh lebih tinggi dibandingkan tubuhnya yang mungil.

Tapi … kenapa sekarang posisi mereka malah berbaring sambil berpelukan di sofa?

Oh,
Dinis Selmara

Jawab, Bianca hihi...

| 15
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (15)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humayroh
mayan, ya bianca krn nyaman sofanya empuk, hihihi
goodnovel comment avatar
Viva Oke
kacau Bianca klo sampe ada tuan Hayes di layar itu.
goodnovel comment avatar
Viva Oke
nyenyak tuan, sangat nyenyak wkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 17. Fakta Baru

    “Kamu sangat menikmati waktu istirahatmu, Bianca,” ujar Liam. Bola mata Bianca melirik ke kiri dan kanan. Semua rekannya sudah kembali duduk di kursi masing-masing menyibukkan diri. Kan… kan … hal memalukan seperti ini lagi-lagi Liam yang melihatnya. “Tuan butuh bantuan saya?” tanya Bianca lirih. Pelan-pelan ia menelan ludahnya. “Buatkan tiga kopi. Antar ke ruangan Tuan Besar Hayes,” titah Liam. “Baik, Tuan. Tiga kopi,” ulang Bianca. Liam menatap Bianca. Sementara yang ditatap tersenyum kaku. “Akan segera saya buat.” Liam pun pergi meninggalkan area kubikel kerja itu. Begitu sosok itu menghilang di balik lorong, Bianca langsung menjatuhkan kepalanya di meja briefing yang beberapa menit lalu menjadi tempatnya bermain bersama rekan-rekannya. ‘Kaget banget… kayak tiba-tiba… aarrgghhh!’ Bianca gusar di dalam hati. Tak lama terdengar suara kursi kerja beroda mendekatinya. “Bianca, are okay?” Salah seorang rekannya meraih lengannya. Namun, Bianca tetap menenggelamk

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 16. Sikap Aneh

    Percayalah saat bekerja dengan Tuan Besar Hayes, Bianca begitu cekatan, luwes, dan bisa diandalkan. Namun, entah kenapa… setiap kali bekerja dengan Liam, selalu saja ada salahnya dan celah memalukan yang membuatnya terlihat teledor. “Kita ketemu desainer interior, kan?” tanya Liam kepada Bianca sebelum masuk ke dalam mobil usai dari kunjungan kerja. “Benar, Tuan.” Liam mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. Bianca menyusul, kemudian duduk di kursi depan bersama Nolan di sisi kemudi. Liam di belakang memperhatikan Bianca akhirnya membuka suara. “Tidak tanya saya mau makan siang di mana?” Bianca menoleh. Liam menyadari sesuatu terjadi pada Bianca karena wanita itu banyak diamnya sejak tadi. Biasanya, tanpa diminta pun wanita itu sibuk melaporkan ini dan itu. “Mau makan siang di mana, Tuan?” tanyanya akhirnya. “Kamu saja yang pilih tempatnya.” “Baik, Tuan.” Setelah itu, tidak ada lagi percakapan. Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah restoran yang tidak terlalu ja

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 15. Malu

    “Tuan, Zoom meeting tadi... meeting apa? Tuan tidak punya jadwal meeting pagi ini—” “Seterusnya tugas kamu menyelipkan jadwal meeting seperti tadi, serta kunjungan ke proyek yang kita bahas kemarin,” potong Liam. Bianca langsung berdiri saat mendengar penjelasan Liam sambil merapikan dirinya. “Sebentar... berarti meeting tadi tidak ada orang kantor? Tidak ada Tuan Besar Hayes?” Liam mengangguk. Bianca langsung mengembuskan napas lega. “Bersiaplah. Nolan sudah siapkan pakaian untuk kamu. Ada di meja dekat pintu.” “Pakaian saya? Tidak perlu. Saya bisa pulang sebentar, lalu segera ke kantor—” Kalimat Bianca yang semula penuh semangat perlahan melemah. Matanya mengikuti arah pandang Liam. Lelaki itu mengangkat dagunya ke arah jam yang tergantung di dinding. Bianca menoleh, matanya langsung membulat. ‘Pukul delapan?’ teriaknya dalam hati. “Tuan... bagaimana ini?” Seketika saja wajahnya dipenuhi kepanikan. Sejak bekerja untuk Tuan Besar Hayes, Bianca tidak pernah terlamb

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 14. Mati Kutu

    Bianca mengeratkan pelukannya dengan nyaman. Kepalanya mendusel manja pada dada bidang yang terasa empuk dan wangi. ‘Dada bidang? Wangi ini?’ Bianca tiba-tiba membuka matanya yang langsung membulat. Otaknya baru mencerna apa yang sedang terjadi. Ia mengingat kejadian sebelumnya, Liam yang terkulai dan tertidur di atas kepalanya karena tubuh lelaki itu jauh lebih tinggi dibandingkan tubuhnya yang mungil. Tapi … kenapa sekarang posisi mereka malah berbaring sambil berpelukan di sofa? Oh, lebih tepatnya Bianca yang memeluk Liam. Bianca memejamkan matanya rapat-rapat, merutuki dirinya. ‘Sumpah … ini gimana cara lepasinnya?’ rengek Bianca dalam hati. Sementara Bianca sibuk menyusun strategi agar bisa melepaskan tangannya dari tubuh Liam tanpa membangunkannya, lelaki itu justru tengah menjelingkan matanya jengah. “Sampai kapan ini kamu mau peluk saya?” ujar Liam datar. “Saya tahu kamu sudah bangun.” ‘Matilah kamu, Bianca,’ rutuk Bianca lagi pada dirinya, tentunya di dalam ha

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 13. Nyaman Dalam Diam

    Liam meraih tangan Bianca, lalu perlahan menjauhkannya dari bibirnya. Padahal gerakannya tenang, tapi tetap saja Bianca salah tingkah. Ia abaikan degup jantungnya yang tak karuan saat ini. “Sa–saya pesan makan malam,” ujar Bianca terbata. Ia mengangguk sopan, lalu menunduk segan ketika melewati Liam. Baru beberapa langkah Bianca berbalik bertanya, “Apa Tuan ada alergi makanan?” Liam tidak menjawab, lelaki itu menatap Bianca tanpa berkedip. “Saya hanya ingin memastikan–” “Udang,” pangkas Liam, membuat Bianca membeku, pasalnya ia juga alergi seafood satu itu. “Baik, Tuan.” Bianca pun kembali menuju sofa. Kini, keduanya sudah kembali duduk berdampingan di sofa. “Saya tidak lapar,” kata Liam, entah untuk keberapa kalinya seraya menatap Bianca yang tengah menyiapkan makan malam yang wanita itu pesan untuk mereka malam ini. “Nurut,” balas Bianca. Entah keberanian dari mana pula yang membuatnya mengatur hidup the devil of Hayes family itu. Belum lagi telunjuk nakalnya y

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 12. Week-end

    Bianca tersenyum kaku ketika mendengar Adrian mengatakan kalau ia menemukan tumbler miliknya di mobil Liam. Lelaki itu mengira Bianca sengaja menitipkannya kepada sang atasan. “Lain kali jangan begitu,” ujar Adrian mengingatkan Bianca yang hanya bisa meringis tanpa mengklarifikasi. Kini keduanya sedang menikmati kopi di sebuah kafe. Ya, Bianca memilih menemui Adrian siang itu. Rencananya, sore nanti barulah ia mendatangi apartemen Liam. Panggilan Liam kali ini juga tidak mendesak. Bianca sudah memastikan hal itu. Saat ditanya saja, lelaki itu tidak memberitahu untuk apa sebenarnya ia meminta Bianca datang ke apartemen barunya. “Katanya Montclair ini kopinya bagus,” ujar Adrian sambil memperhatikan cangkir di hadapannya. “Kamu bisa menyarankan Liam berkunjung ke petani kopi di sini.” Bianca hanya tersenyum. “Tapi jujur, aku lebih suka kopi di kafe sebelumnya,” lanjut Adrian. “Kalau tempatnya di-upgrade, mungkin memang karena seenak itu sampai layak dikembangkan.” Bianca mengangg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status