ANMELDEN"Apakah kamu pikir ini sebuah lelucon, Cindy? Sebuah lelucon murahan dari penggemar fanatik yang kurang kerjaan?"
Suara bariton Pak Johan menggelegar, memantul keras di dinding kaca ruang rapat VIP Vangard Publishing. Pria paruh baya dengan setelan jas rapi itu mondar-mandir seperti harimau yang terkurung di dalam sangkar. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menegang, dan matanya menatap tajam ke arah benda terkutuk yang tergeletak di tengah meja mahoni raksasa tersebut. Di kursi ujung meja, Cindy duduk membeku. Wajahnya sepucat kertas. Kantung matanya menghitam, bukti nyata bahwa ia sama sekali tidak memejamkan mata sejak panggilan telepon mengerikan yang merenggut kewarasannya semalam. Pandangan Cindy tak bisa lepas dari benda di atas meja itu. Sebuah kotak putih bersih yang baru saja diantarkan oleh kurir ke meja resepsionis kantor pagi ini, dialamatkan khusus untuknya. Ketika Cindy membukanya lima belas menit yang lalu, bukan bunga atau surat penggemar yang ia temukan. Isinya adalah potongan kain sutra berwarna merah maroon—kain yang sama persis dengan gaun yang ia kenakan di acara peluncuran semalam—yang telah dirobek dan disayat secara brutal menggunakan benda tajam. Dan di atas tumpukan kain robek itu, tergeletak selembar foto cetak. Foto dirinya yang sedang berdiri di balik jendela apartemen dalam balutan jubah mandi putih. Di balik foto tersebut, terdapat tulisan tangan menggunakan tinta merah yang terlihat seperti darah segar 'Aku suka saat kamu ketakutan. Kaca tebal itu tidak akan bisa menahan sentuhanku.' "Ini bukan lelucon, Pak Johan. Seseorang benar-benar mengawasiku," bisik Cindy parau. Tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan bergetar pelan. "Semalam, setelah telepon itu dimatikan, saya langsung menghubungi pihak keamanan gedung. Mereka menyisir seluruh lantai dua puluh, mengecek rekaman CCTV, dan memeriksa balkon. Tidak ada siapa pun. Kamera pengawas tidak menangkap pergerakan apa pun di lorong unit saya." "Lalu bagaimana foto sialan ini bisa diambil?!" Johan menggebrak meja hingga gelas air mineral di atasnya terguncang. "Apakah hantu yang memotretmu?!" "Pak Johan, tolong turunkan nada suara Anda. Anda hanya membuat Cindy semakin ketakutan." Sebuah suara lembut dan tenang menengahi ketegangan yang mencekik ruangan itu. Josh melangkah mendekati Cindy, meletakkan secangkir teh chamomile hangat di hadapan wanita itu. Pria itu menatap bosnya dengan sorot mata kecewa namun tetap menjaga kesopanannya. "Cindy adalah korban di sini. Seseorang telah melanggar privasinya hingga ke titik yang sangat berbahaya. Kita seharusnya membicarakan langkah hukum dan lapor polisi, bukan malah meneriakinya." Cindy mendongak, menatap Josh dengan mata berkaca-kaca. Di saat dunianya terasa runtuh dan tidak aman, kehadiran Josh seolah menjadi satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kepanikan. Pria itu selalu tahu bagaimana melindunginya, bahkan dari kemarahan bos besar mereka sendiri. "Polisi? Kamu ingin melibatkan polisi, Josh?" Johan mendengus sinis, menghentikan langkahnya dan memutar tubuh menghadap editor utamanya itu. "Begitu ada satu saja laporan resmi ke polisi, media akan mengendus kabar ini dalam hitungan jam. Beritanya akan meledak! 'Penulis Bestseller Vangard Publishing Diteror Penguntit Psikopat'. Kamu tahu apa yang terjadi setelah itu?" Johan mencondongkan tubuhnya ke depan meja, menatap Cindy dengan perhitungan bisnis yang dingin dan tanpa ampun. "Investor akan panik. Pihak rumah produksi yang akan mengadaptasi novelmu besok siang bisa saja membatalkan kontrak bernilai puluhan miliar karena takut produksi mereka terhambat oleh masalah hukum atau skandal keamanan," desis Johan tajam. "Kamu adalah angsa bertelur emas milik Vangard, Cindy. Buku-bukumu menopang tiga puluh persen dari total pendapatan tahunan perusahaan ini. Aku tidak akan membiarkan seorang penguntit gila menghancurkan nilai saham kita!" "Jadi Bapak lebih peduli pada saham perusahaan daripada nyawa saya?" Cindy bertanya dengan suara bergetar, rasa sakit hati mengalir di dadanya. Sepuluh tahun ia mengabdi dan memberikan karya terbaiknya untuk Vangard, namun di mata Johan, ia tak lebih dari sekadar mesin pencetak angka. Johan menghela napas kasar, menyisir rambutnya yang mulai memutih. "Bukan begitu maksudku, Cindy. Tentu saja aku peduli pada keselamatanmu. Justru karena kamu adalah aset perusahaan yang paling berharga, aku harus memastikan kamu mendapat perlindungan absolut. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dijamin oleh kepolisian yang lamban itu." "Lalu apa yang ingin Bapak lakukan? Saya butuh istirahat. Mungkin saya harus mengambil cuti, pindah ke hotel atau pergi ke luar kota untuk sementara waktu sampai—" "Tidak ada cuti. Jadwal bedah bukumu di Westfield Mall akhir pekan ini sudah terjual habis dan kamu memiliki tenggat waktu penyerahan draf bab selanjutnya minggu depan," potong Johan mutlak, membungkam protes Cindy. "Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu." Johan berjalan menuju meja kerjanya di sudut ruangan, membuka sebuah laci yang terkunci dan mengeluarkan sebuah map hitam tebal berlogo perisai perak. Ia melemparkan map itu ke atas meja rapat, tepat di sebelah kotak berisi teror mengerikan tersebut. "Saya sudah menghubungi sebuah agensi keamanan swasta elit pagi ini. Aegis Protection. Mereka bukan petugas keamanan mal atau bodyguard selebriti biasa. Mereka terdiri dari mantan pasukan khusus, ahli taktik militer dan spesialis kontra-intelijen," jelas Johan, nada suaranya berubah menjadi sangat bisnis. Johan pun melanjutkan, "Mereka telah menyetujui kontrak eksklusif dengan bayaran yang sangat fantastis untuk menjagamu dua puluh empat jam penuh. Mereka akan menjadi bayanganmu, melacak dari mana teror ini berasal, dan menyelesaikannya tanpa ada satu pun jurnalis yang tahu." Mata Cindy membelalak. Dadanya terasa sesak seolah pasokan udara di ruangan itu disedot habis. "Dua puluh empat jam? Maksud Bapak, mereka akan mengikutiku ke mana pun aku pergi? Bahkan ke dalam apartemenku?!" "Itu satu-satunya cara, Cindy," kali ini Josh yang bersuara. Pria itu duduk di kursi kosong di sebelah Cindy, menatapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang tampak begitu tulus. Ia menyentuh punggung tangan Cindy dengan lembut. "Pak Johan benar. Penguntit ini sudah berhasil menembus keamanan apartemenmu. Dia bukan orang sembarangan. Aku tidak bisa membayangkan kalau terjadi apa-apa padamu saat kamu sendirian di sana. Tolong ... biarkan mereka melindungimu, demi aku." Bujukan Josh yang begitu personal membuat pertahanan Cindy sedikit goyah. Namun, rasa egois akan privasinya masih meronta kuat. "Saya tidak mau dijaga oleh sekelompok pria bersenjata berwajah seram yang tidak saya kenal! Saya bukan tahanan kota, Pak Johan! Saya menolak kontrak itu!" sergah Cindy, bangkit dari kursinya dengan tegas. Tepat saat kalimat penolakan itu meluncur dari bibir Cindy, suara ketukan berat dan berirama terdengar dari pintu kayu solid ruang rapat tersebut. Tok. Tok. Tok. Johan melirik jam tangan Rolex-nya dengan senyum simpul yang memuakkan, tidak terpengaruh sedikit pun oleh kemarahan penulis andalannya. Ia merapikan jasnya, berdiri tegak, dan menatap lurus ke arah Cindy yang kini mematung karena ketegangan yang mendadak memenuhi udara. "Suka atau tidak, Cindy, kontrak itu sudah ditandatangani dan dibayar lunas. Keselamatanmu kini bukan lagi milikmu sendiri," ucap Pak Johan dengan suara dingin yang menggema di seluruh ruangan, matanya berpindah ke arah pintu yang mulai terbuka perlahan. "Masuklah, Komandan. Temui klien yang akan menjadi bayanganmu mulai detik ini.""Tetap di belakang punggungku. Jangan mengeluarkan suara sekecil apa pun dan apa pun yang terjadi ... jangan lepaskan peganganmu dari ujung bajuku." Suara Owen berbisik setajam belati, mengiris udara dingin di dalam kamar tidur yang kini terasa seperti jebakan maut. Pria itu berdiri tegap layaknya dinding baja yang tak tertembus, sementara pistol Glock 19 di tangan kanannya teracung stabil, menyapu setiap sudut bayangan yang mencurigakan. Dengan tangan kirinya, Owen menarik kerah kaus taktisnya, mengaktifkan alat komunikasi nirkabel yang tersembunyi di balik telinganya. "Kode Hitam. Penyusup di dalam perimeter. Target berada di Zona Alpha. Kirim Tim Penyapu ke lantai dua puluh, sekarang. Tutup semua akses gedung dan blokir seluruh lift!" perintah Owen dengan nada absolut. Tidak ada ruang untuk kepanikan dalam suaranya, hanya ada otoritas komandan yang mematikan. Cindy mencengkeram erat bagian belakang kaus hitam Owen dengan jemari yang memutih dan bergetar hebat. Jantungnya berpac
"Biarkan pintu kamarmu terbuka selebar ibu jari. Jika sampai aku mendengar bunyi silinder kunci diputar dari dalam, aku tidak akan segan-segan menghancurkan engsel pintu itu berkeping-keping."Suara Owen terdengar mutlak, merobek sisa keheningan di ruang tengah. Pria itu berdiri di ambang pintu kamar tidur utama Cindy, memegang sebuah sabak digital yang memancarkan pendar kebiruan, menampilkan denah sistem keamanan apartemen yang baru saja ia retas dan ambil alih secara sepihak.Cindy yang tengah duduk di tepi ranjangnya hanya bisa menatap pria itu dengan pandangan nanar. Perdebatan mereka tentang Josh sepuluh menit yang lalu telah menguras habis energinya. Tuduhan Owen bahwa editor sekaligus sahabatnya itu mungkin adalah sang penguntit terasa begitu konyol, namun anehnya, kata-kata itu berhasil menanamkan benih keraguan yang kini berakar di benak Cindy."Kamu tidak berhak mencurigai semua orang yang peduli padaku, Owen," balas Cindy lemah, menarik selimut tebal menutupi kakinya yang
"Menyingkirlah dari pintuku! Ini adalah apartemen pribadiku, bukan barak militer!"Seruan marah Cindy menggema di seluruh penjuru ruang tengah apartemennya, menabrak dinding-dinding yang kini terasa seperti sel penjara kelas atas. Napasnya terengah, matanya memancarkan kilat amarah yang tertahan.Di hadapannya, Owen tidak bergeming sedikit pun. Pria itu berdiri dengan tenang di depan pintu utama, jemarinya bergerak cepat mengetikkan serangkaian kode keamanan baru pada panel kunci digital cerdas yang baru saja ia pasang. Ia telah melepas seragam taktis bagian luarnya, menyisakan kaus hitam ketat yang mencetak jelas otot punggungnya.Setelah bunyi *klik* elektronik terdengar, Owen berbalik. Wajahnya sedingin bongkahan es di kutub utara."Protokol nomor dua, Nona Cindy. Tidak ada satu pun orang yang bisa masuk atau keluar dari unit ini tanpa pemindaian sidik jari saya," ucap Owen datar, seolah ia sedang membacakan buku manual. Ia kemudian berjalan melewati Cindy menuju jendela kaca raksa
"Saya lebih suka menyebutnya sebagai subjek pengamanan, Pak Johan. Kata 'klien' terdengar terlalu manis dan personal untuk sebuah pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa."Suara bariton yang berat dan dingin itu meluncur dari ambang pintu kayu mahoni yang kini terbuka lebar. Suara yang sangat familier. Suara yang sudah terkubur dalam-dalam di dasar ingatan Cindy selama sepuluh tahun terakhir. Suara yang dahulu selalu membisikkan kata cinta di telinganya di bawah gemerlap bintang, namun kini terdengar setajam pedang yang baru saja diasah untuk membunuh.Udara di dalam ruang rapat VIP itu seolah tersedot habis ke luar angkasa. Cindy mematung di kursinya. Jantungnya berhenti berdetak selama satu detik yang terasa seperti keabadian, sebelum akhirnya berpacu liar menghantam tulang rusuknya.Dari balik bayangan pintu, melangkah masuk sesosok pria berpostur tinggi tegap. Ia mengenakan seragam taktis serba hitam, kemeja berlengan panjang yang digulung hingga siku—mencetak jelas otot-otot lenganny
"Apakah kamu pikir ini sebuah lelucon, Cindy? Sebuah lelucon murahan dari penggemar fanatik yang kurang kerjaan?"Suara bariton Pak Johan menggelegar, memantul keras di dinding kaca ruang rapat VIP Vangard Publishing. Pria paruh baya dengan setelan jas rapi itu mondar-mandir seperti harimau yang terkurung di dalam sangkar. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menegang, dan matanya menatap tajam ke arah benda terkutuk yang tergeletak di tengah meja mahoni raksasa tersebut.Di kursi ujung meja, Cindy duduk membeku. Wajahnya sepucat kertas. Kantung matanya menghitam, bukti nyata bahwa ia sama sekali tidak memejamkan mata sejak panggilan telepon mengerikan yang merenggut kewarasannya semalam.Pandangan Cindy tak bisa lepas dari benda di atas meja itu. Sebuah kotak putih bersih yang baru saja diantarkan oleh kurir ke meja resepsionis kantor pagi ini, dialamatkan khusus untuknya. Ketika Cindy membukanya lima belas menit yang lalu, bukan bunga atau surat penggemar yang ia temukan.Isi
"Jika ada senjata yang lebih mematikan daripada sebutir peluru, itu adalah ujung pena seorang wanita. Dan malam ini, penulis kebanggaan Vangard Publishing, Cindy, kembali membuktikan bahwa ia adalah penembak jitu terbaik di dunia literatur kita. Mari bersulang untuk cetak ulang ketiga dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam!"Suara denting puluhan gelas kristal yang saling bersentuhan mengudara, memecah alunan musik jaz yang sejak tadi mengalun lembut di ballroom hotel bintang lima tersebut. Kilatan lampu kamera dari para jurnalis menyambar secara bergantian, mengabadikan momen puncak peluncuran novel thriller psikologis terbaru yang kini resmi menjadi buku terlaris nasional.Di tengah lautan manusia bergaun malam dan berjas rapi itu, Cindy berdiri dengan senyum simpul yang nyaris tanpa cela. Gaun sutra merah maroon yang membalut tubuh rampingnya membuatnya tampak anggun dan memegang kendali. Namun, hanya dia yang tahu betapa kedua kakinya yang ditopang sepatu hak tinggi set







