공유

59. Penculikan Reyhan

작가: Sandra Dhee
last update 게시일: 2025-08-04 22:43:29

Malam sudah larut di Jakarta. Reyhan duduk di meja makan, sendirian, menyendok nasi dan lauk sederhana yang baru ia hangatkan. Rumah terasa sepi sejak ia tinggal sendiri. Reyhan memang tak pernah mengeluh, tapi ia tak memungkiri bahwa rasa sepi sering menghantamnya di waktu malam seperti ini.

Ia baru saja mengambil sendokan ketiga saat terdengar ketukan di pintu. Pelan, tapi tegas.

Reyhan mengernyit. “Siapa malam-malam begini?” gumamnya.

Ia bangkit, berjalan menuju pintu sambil sedikit waspada.
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   72. Malam yang Sulit

    Malam itu, suasana rumah besar keluarga Bara terasa menyesakkan. Cahaya lampu kristal di ruang tengah menyinari ruangan megah dengan lantai marmer, tapi tidak mampu mengusir kegelapan yang mengendap di dada Bara. Ia duduk di kursi panjang, menundukkan kepala, jemarinya berulang kali mengepal lalu terbuka lagi.Di hadapannya, Nenek masih duduk tegak dengan tatapan keras, sementara Ayahnya berdiri tak jauh, mengamati dengan wajah penuh kecewa. Sejak pengakuan Becca di apartemen tadi, rumah itu dipenuhi dengan perdebatan, bentakan, dan tuntutan.“Bara,” suara Neneknya terdengar dingin, tegas, tidak memberi ruang untuk bantahan, “aku tidak ingin mendengar alasan lagi. Kamu akan segera mengurus perceraian dengan Rania. Tidak ada tawar-menawar.”Bara mendongak, matanya merah menahan emosi. “Nek, jangan seperti ini. Tolong beri aku waktu. Aku… butuh bicara dengan Rania dulu. Aku harus menjelaskan padanya.”Ayahnya menggeleng pelan, tapi sorot matanya tajam. “Kamu sudah cukup mempermalukan ke

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   71. Rahasia Rania

    Hujan turun tipis malam itu, menambah suram suasana rumah lama Rania yang sudah lama tak ia tempati. Bangunan sederhana berwarna putih dengan pagar kayu itu terasa dingin, meski biasanya begitu hangat ketika ia masih tinggal bersama Reyhan dan Ayah mereka dulu. Reyhan dan Nisa duduk di ruang tamu, berusaha menemani Rania yang tampak lebih rapuh dari biasanya.Rania masuk ke kamar lamanya, kamar yang dindingnya masih penuh dengan stiker bunga-bunga kecil yang ia tempel saat SMA. Tempat tidur itu, lemari kayu tua, bahkan tirai biru pudar, semuanya menyimpan kenangan lama. Ia menutup pintu pelan, bersandar, lalu menekup wajah dengan kedua tangannya. Isak kecil lolos dari bibirnya.Selama ini, ia pikir ia sudah kuat. Ia pikir pernikahannya dengan Bara, meski awalnya kontrak, sudah berubah menjadi sesuatu yang nyata. Ia percaya dengan ketulusan lelaki itu, percaya dengan setiap tatapan, genggaman, dan pelukan yang diberikan. Tapi kini semua runtuh.Rania meraih test kehamilan yang ia simpa

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   70. Tekanan Keluarga

    “Aku hamil anak Bara.” Suara Becca terdengar tegas, seakan menancap di dada setiap orang yang hadir. Ruangan yang tadinya penuh tawa mendadak beku setelah ucapan Becca itu terlepas.Nenek Bara terbelalak dan wajahnya memerah. “Apa maksudmu, Becca?! Jangan sembarangan bicara di rumah ini!” suaranya bergetar oleh amarah.Ayah Bara menepuk meja dengan keras. “Bara! Jelaskan ini! Apa benar yang dia katakan?” Sorot matanya penuh kekecewaan sekaligus murka.Tama yang berdiri paling dekat dengan Becca segera melangkah maju dengan wajah kaku. “Cukup, Becca! Kau sudah membuat kekacauan. Ayo keluar.” Ia mencoba meraih lengan Becca, berusaha menyeretnya pergi sebelum suasana semakin parah.Namun Becca menepis kasar, matanya berkaca-kaca. “Aku tidak berbohong! Aku tidak akan pergi sebelum semua orang tahu!”Bara melangkah cepat menghampiri Rania dengan wajah pucat, keringat dingin mengalir di pelipisnya. “Rania, dengarkan aku dulu. Itu tidak seperti yang kau pikirkan...”Namun Rania yang berdiri

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   69. Kejutan Lain di Tengah Pesta

    Apartemen itu tampak lebih hangat dari biasanya. Balon-balon berwarna pastel menggantung di sudut ruangan, dengan pita-pita manis yang berayun pelan terkena hembusan kipas angin. Meja makan sudah dipenuhi kue, teh hangat, dan beberapa hidangan ringan. Di tengah meja, sebuah kotak hadiah besar dibungkus kertas warna biru dan pink, dan dihiasi pita putih lebar. Rania sengaja meletakkannya disana sebagai pusat perhatian nanti.Nenek Bara duduk di sofa sambil menatap sekeliling dengan senyum hangat.“Rania ini rajin sekali ya, mengundang kita dan mempersiapkan semuanya seperti ini. Rasanya ada yang mau dirayakan,” komentarnya sambil menyeruput teh.Ayah Bara hanya mengangguk pelan, matanya penuh rasa ingin tahu.“Apa ada yang ulang tahun?" tanyanya, mencoba menebak.Tama yang sejak tadi sibuk mengutak-atik ponselnya hanya terkekeh.“Saya juga penasaran. Rania tak mengatakan apa-apa. Hanya menyuruhku datang untuk makan malam.”Nisa duduk di samping Reyhan, keduanya sama-sama menatap dekora

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   68. Kabar Mengejutkan

    Bara masuk ke ruangannya bersama Becca, diikuti dengan pandangan penasaran para karyawannya. Terutama Tama. Tama sedang mengambil kopi ketika melihat Bara dan Becca lewat. Dia ingin mengikuti mereka, namun ia langsung mengurungkan niat ketika melihat wajah Bara yang tegang saat menutup pintu."Ada apa lagi ini?" desisnya curiga. Tama sangat mengenal bagaimana Becca. Selama berhubungan dengan Bara, Becca selalu mengikatnya dalam hubungan toxic dan tak sehat. Apalagi sekarang, ketika Bara memutuskan untuk meninggalkannya. Tama yakin ada sesuatu yang tak beres sedang terjadi.Tama mengintip dari jendela ruangan Bara, yang sialnya tertutup tirai. Ia hanya bisa melihat sedikit gerak-gerik mereka di dalam ruangan. Tampak olehnya Becca sedang berusaha menggoda Bara dan menggenggam tangan Bara.Bara perlahan menarik lengannya pelan dari genggaman Becca. “Kalau ini cuma permainanmu lagi, aku tidak tertarik.”Becca menatapnya dengan tatapan penuh luka yang terlalu sempurna untuk dianggap tulus

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   67. Hadiah Istimewa

    Bara langsung memutus telepon dari Becca ketika mendengar suara pintu depan terbuka."Aku pulang..."Ia bangkit dari sofa hendak menyambut istrinya itu, tapi wajahnya langsung berubah saat mendapati Rania masuk dengan langkah pelan. Wajahnya pucat, matanya sedikit sayu, dan tangan kirinya memegangi perut."Sayang, kamu kenapa?" Bara langsung mendekat, nada suaranya penuh cemas.Rania tersenyum tipis, mencoba meredakan kekhawatiran suaminya. "Tak apa-apa. Kayaknya hanya masuk angin. Tadi di sekolah udaranya panas, tapi angin bertiup sangat kencang.""Kamu pulang naik apa?""Motor..."Bara menghela nafas, "Mulai besok, kamu harus pakai sopir. Aku akan mencarikan kamu sopir. Pakai mobil. Aku tak mau kamu kemana-mana naik motor sendiri lagi," omel Bara.Rania menatap Bara, hendak protes namun nyeri di perut membuat ia membatalkan keinginannya itu."Iya. Aku tak apa-apa kok. Besok juga sembuh."Bara menatap lekat wajah istrinya, jelas tak puas dengan jawaban itu. "Yakin? Kalau perlu kita k

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   66. Jerat yang Tak Terlihat

    Becca duduk di meja riasnya, jendela kamarnya dibiarkan terbuka, membiarkan cahaya masuk menyinari rambutnya yang keemasan. Jemarinya menelusuri bibir cangkir kopi yang sudah dingin, tatapannya kosong, namun pikirannya berputar cepat seperti pusaran air yang tak ada ujungnya.Di sudut meja, amplop

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   65. Permainan Baru Dimulai

    Malam belum begitu larut ketika Rafael sampai di rumahnya dan membawa Becca masuk. Di dalamnya, suasana redup menyelimuti ruangan, dengan musik jazz mengalun lembut dari speaker tersembunyi di sudut-sudut.Rafael mendudukkan Becca di sofa, dan Becca langsung terkulai lemas. Gaun hitamnya melingkari

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   64. Malam Panas Becca

    "Selamat pagi..." sapa Reyhan paginya ketika muncul di ruang makan. Rania yang sedang masak sontak menoleh dengan wajah berbinar."Rey, bagaimana keadaanmu?" tanya Rania sembari menghampiri adiknya dan menarik kursi untuk Reyhan duduk."Baik Kak. Sudah mendingan," jawab Reyhan. Ia duduk di kursi ya

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   63. Janji Palsu di Ruang Bersalin

    Senja menggantung malas di balik jendela besar rumah Becca. Di tengah pencahayaan temaram, ia duduk menatap kosong ke arah gelas anggurnya yang nyaris kosong. Rasa frustasi merambat dari kerongkongan hingga dadanya. Semua yang ia rencanakan hancur berantakan. Bara dan Rania bukan hanya kembali dari

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status