LOGINLeli merasa seperti baru saja ditampar di depan seluruh tamu undangan.Kenapa dia?!Kenapa Devi?!Napasnya mulai memburu.Tangannya mengepal erat.Wajahnya memerah menahan amarah.Selama ini ia menganggap Devi sebagai rival yang bisa diinjak-injak. Namun malam ini, tanpa perlu mengucapkan satu kata pun, posisi Devi telah membuatnya terlihat seperti seseorang yang lebih dihargai daripada dirinya.Dan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada penghinaan terbuka.Leli ingin berteriak.Ingin menghampiri Martin.Ingin menuntut penjelasan.Namun matanya menangkap barisan pengawal pribadi Xavier yang berdiri tegap di sekitar panggung.Tatapan mereka dingin.Tubuh mereka kokoh.Tidak ada seorang pun yang tampak bisa diajak bermain-main.Leli tahu betul reputasi keluarga Xavier.Jika ia membuat keributan malam ini, tidak ada yang akan membelanya.Ia akhirnya menelan kemarahannya bulat-bulat.Tetapi di dalam hatinya, kebencian itu justru semakin menggila.Baik.Kalau kalian semua ingin memperm
Namun rasa panas menjalar dari dadanya hingga ke wajah.Api cemburu seolah disulut dalam sekejap.Kenapa dia masih bisa terlihat secantik itu?! Leli menggemeretakkan gigi. Tangannya mengepal di sisi tubuh.Jika dibandingkan Devi, Leli jelas tidak ada apa-apanya.Namun, kemudian sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya.Ia teringat sesuatu.Rian.Pria sewaan bertubuh tegap dan berwajah tampan yang sengaja ia bayar untuk datang ke resepsi ini.Leli sudah menyiapkan semuanya.Ia ingin Martin melihatnya berjalan berdampingan dengan pria yang jauh lebih muda. Ia ingin suaminya itu terbakar cemburu. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya masih diinginkan.Dan, ia akan memastikan Martin melihatnya."Lihat saja nanti, Martin. Jangan kira mengabaikan ku seperti ini, kau bisa hidup tenang," gumamnya pelan.Namun, sebelum Leli sempat kembali menikmati khayalannya, tiba-tiba terdengar riuh tepuk tangan dari arah pintu utama.Bisikan kagum langsung menyebar di antara para tamu.“Pengantin pria sud
“Percaya pada saya. Di acara nanti, Anda akan menjadi wanita yang paling mencolok di ruangan itu. Gaun ini juga sangat cocok dengan wajah dan bentuk tubuh Anda. Benar-benar pilihan yang tepat.”Cynthia menatap dirinya sendiri sekali lagi.Dalam bayangannya, ia sudah bukan lagi sekadar tamu.Ia sudah melihat dirinya berdiri di samping Xavier.Ia membayangkan semua mata tertuju kepadanya.Dan yang paling membuatnya mabuk kepayang adalah satu pikiran sederhana—Bahkan sebelum menjadi pengantin, aku sudah terlihat seperti pengantin.“Kalau begitu...” Cynthia tersenyum puas. “Aku benar-benar beruntung menyewamu.”“Justru saya yang beruntung mendapat kesempatan merias wajah secantik ini,” jawab sang MUA tanpa ragu.Cynthia tertawa kecil.Ia menyukai wanita ini.Sangat menyukainya.Pujian demi pujian yang dilontarkan sang perias membuat suasana hatinya semakin tinggi.“Berapa bayarannya?”“Seperti yang sudah disepakati, Nona.”Cynthia mengangguk, lalu mengambil sebuah amplop tebal dari tasny
Sejak pukul empat pagi, kamar hotel kelas atas yang ditempati Cynthia dan Leli sudah dipenuhi kesibukan.Demi mewujudkan ambisi gilanya, Cynthia benar-benar mengikuti seluruh arahan sang ibu. Mereka sengaja menyewa kamar di hotel yang sama dengan lokasi resepsi agar tidak perlu bepergian dari luar. Dengan begitu, mereka juga bisa bergerak cepat jika skenario “pengantin pengganti” tiba-tiba harus dijalankan.Seorang perias ternama yang sengaja mereka sewa dengan bayaran mahal sedang duduk telaten di hadapan Cynthia. Tangannya begitu terampil mengaplikasikan setiap lapisan riasan, mulai dari complexion, riasan mata, hingga sentuhan terakhir pada bibir.Proses itu bahkan berlangsung lebih dari dua jam.Cynthia sendiri sama sekali tidak keberatan.Semakin lama ia duduk di depan cermin, semakin tinggi pula rasa percaya dirinya.Belum lagi gaun yang dipilihnya benar-benar mencuri perhatian.Ia mengenakan gaun malam mewah berwarna putih gading, dihiasi payet-payet berkilauan dan memiliki eko
Kehadiran Xavier di dalam mobil jemputan itu jelas menabrak aturan adat dan tradisi pernikahan. Secara tata cara yang umum, sebelum prosesi ijab kabul dan akad nikah diresmikan, pengantin pria dan pengantin wanita seharusnya berada di kendaraan terpisah. Mereka baru diperbolehkan bertemu secara resmi setelah kata sah berkumandang di hadapan penghulu.Namun, aturan standar mana yang sanggup mengikat seorang Xavier Dominic? Pria berkuasa yang terkenal keras kepala dan selalu memegang kendali penuh itu sama sekali tidak peduli pada tradisi kaku jika hal itu menyangkut calon istri kecilnya.Ketika pintu mobil sedan mewah itu dibukakan oleh John, Liora seketika mematung di pekarangan rumah. Matanya melotot bulat melihat sosok tegap nan rupawan duduk santai di kursi penumpang belakang seraya menatapnya penuh binar pemujaan.Beberapa hari tidak bertemu dengan pria pujaan hatinya karena kesibukan persiapan pernikahan tentu saja menyemaikan rasa rindu yang teramat dalam di dada Liora. Dan kini
Begitu pintu kamar terbuka, langkah Liora terhenti. Di ruang tamu yang luas, Martin, Leon, dan Deon sudah berdiri menunggunya. Ketiga pria bertubuh tegap dalam balutan jas resmi itu seketika mematung saat menatap Liora yang melangkah keluar.Martin memandang putri bungsunya dengan mata yang perlahan berkaca-kaca. Dada pria paruh baya itu terasa sesak luar biasa, bagaikan dihantam batu besar. Rasa bersalah yang teramat dalam mencengkeram jantungnya tanpa ampun. Ia merasa menjadi sosok ayah yang sangat buruk dan tidak berguna—bahkan ia tega mendorong putrinya yang baru berusia sembilan belas tahun ke dalam sebuah pernikahan di usia yang sangat muda.Namun, melihat kebahagiaan Liora sekarang serta ketulusan Xavier yang begitu luar biasa mencintai adiknya, ada sedikit rasa lega yang menyusup di hati Martin. Kendati demikian, penderitaan yang pernah ia goreskan pada Liora tak akan pernah bisa terhapus begitu saja."Liora... maafkan Papi, Nak..." Martin tak kuasa lagi menahan air matanya. A
“Dan pria yang tidak tahu cara berterima kasih,” balas Liora datar.Beberapa tamu mulai saling berpandangan. Tidak ada yang menyangka seorang gadis muda berani berbicara dengan Xavier Dominic, tanpa ada rasa takut. Tatapan mata gadis itu juga tajam, seakan ia sedang menantang. Apakah gadis malang
Malam itu, rumah keluarga Martin berubah total.Lampu-lampu kristal menyala terang, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan. Karpet merah terbentang dari gerbang hingga pintu utama. Mobil-mobil mewah berdatangan tanpa henti, menurunkan tamu-tamu dengan pakaian elegan dan senyum penuh kepentingan
Udara sore itu terasa berat ketika Liora melangkah keluar dari kafe.Ia tidak langsung pulang.Sejak keluar dari bank, ia tampak waspada membawa tasnya. Tas ini berisi buku-buku, uang dan batu bata. Jelas terasa cukup berat.Langkahnya tenang menyusuri trotoar di depan kafe. Tangannya menggenggam e
“Kalau begitu… aku ikut mobil polisi saja,” kata Liora sambil tersenyum ringan. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”Pria bendahara itu sempat terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nona. Lebih aman memang begitu.”Beberapa petugas langsung membantu memindahkan koper-koper berisi uang itu ke da







