LOGINLiora menikmati hidup barunya di kediaman Dominic. Rumah mewah ini, benar-benar menjadikannya seorang putri raja. Semua yang dia butuhkan, diurus oleh para pelayan. Pagi itu, koper-koper mereka bahkan sudah siap.“Kita berangkat sekarang, Sayang. Pesawat sudah menunggu di bandara.”Oo ooXavier memandang Liora sambil tersenyum, kemudian mengusap lembut puncak kepalanya.Liora justru memasang wajah sedikit cemberut.Sebenarnya, pergi ke luar negeri dan menikmati bulan madu bersama suaminya tentu terdengar menyenangkan.Namun ada satu hal yang membuatnya berat meninggalkan rumah.Ia baru saja merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia miliki.Kasih sayang seorang ibu.Dan kasih sayang itu ia dapatkan dari Martha.“Tapi aku masih ingin di sini.”Martha yang duduk di sofa langsung memicingkan mata.“Kenapa?”Liora menunduk malu.“Aku masih ingin bersama Mami.”Martha langsung tersenyum.“Liora, bulan madu itu adalah salah satu momen yang paling ditunggu pasangan yang b
Martin duduk termenung di sofa ruang tamu.Tatapannya berkeliling, menyapu setiap sudut rumah yang kini terasa asing baginya.Rumah itu terlalu sunyi. Tidak ada suara Leli. Tidak ada suara Cynthia. Tidak ada sapaan cerita dari Liora. Bahkan kedua putranya juga mulai sibuk dengan urusan pekerjaannya. Tidak ada lagi kehangatan yang dahulu memenuhi tempat ini.Yang tersisa hanya kesunyian dan rasa bersalah yang semakin menekan dadanya.Air mata Martin jatuh.“Ini semua salahku…”Jika sejak awal ia tidak berlaku tidak adil kepada Liora, jika ia tidak terus memanjakan Cynthia, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.Tiba-tiba ponselnya berdering.Nomor tidak dikenal.Martin menatap layar beberapa detik sebelum mengangkatnya.“Selamat siang, Tuan Martin. Saya dari kepolisian.”“Ya?”“Nyonya Leli dan Cynthia saat ini berada dalam tahanan kami.”Jantung Martin berdegup keras.“Kenapa?”“Kasus tabrak lari dua tahun lalu kembali dibuka.”Martin langsung membeku.Kasus itu?“Penyelidikan m
Xavier sengaja tidak memberitahu Liora satu hal.Bahwa kasus-kasus tersebut kembali dibuka bukan semata-mata karena pihak kepolisian menemukan kejanggalan.Dialah yang sejak awal mencari bukti. Mengumpulkan berbagai informasi, menelusuri fakta-fakta yang selama ini terkubur, kemudian menyerahkannya kepada pihak yang berwenang.Tanpa bukti yang cukup kuat, kasus-kasus tersebut mungkin akan tetap dianggap selesai.Xavier tidak ingin Liora mengetahui hal itu. Ia tidak ingin istrinya merasa bahwa semua yang terjadi hanya karena campur tangannya.Ia hanya ingin Liora mendapatkan kembali sesuatu yang sejak awal memang menjadi haknya.Kebebasan.Nama baik.Dan kesempatan untuk menjalani hidup tanpa bayang-bayang masa lalu.“Kamu senang?”Liora menoleh.Senyum tipis muncul di wajahnya ketika mendengar pertanyaan Xavier.Namun senyum itu tidak sepenuhnya menggambarkan kebahagiaan.“Aku senang,” jawabnya pelan.Ia terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan.“Sejahat apa pun mereka, Leli tetap ib
Xavier menggeleng pelan.“Kasus itu memang kembali dibuka karena pihak kepolisian menemukan banyak kejanggalan. Mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres, sehingga penyelidikan dilakukan kembali.”Wajah Liora seketika berubah.Ada secercah harapan yang muncul di matanya.“Jadi… keadilan itu benar-benar ada.”Senyum kecil terbit di bibirnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa mungkin saja kebenaran yang selama ini terkubur akhirnya akan muncul ke permukaan.Namun Xavier tidak ingin memberinya harapan terlalu jauh.“Hanya saja, kita belum tahu bagaimana kelanjutan kasusnya,” ujarnya tenang. “Pada akhirnya, keputusan tetap berada di tangan hakim.”Liora mengangguk perlahan.Ia memahami hal itu.Selama ini, ia hanya ingin satu hal.Kebenaran.Ia ingin semua orang tahu bahwa dirinya bukan pelaku tabrak lari seperti yang selama ini dipercayai.Liora kemudian teringat sesuatu.“Apakah Mami Leli juga terlibat karena dia membantu Cynthia menyembunyikan kasus itu dan memfitna
Leon dan Deon tidak diperbolehkan melangkah masuk ke dalam ruang interogasi. Kedua pria itu hanya bisa duduk termenung di kursi tunggu koridor kantor polisi dengan jantung yang berdegup kencang nan cemas."Menurutmu... apa yang membuat keluarga kita hancur lebur seperti ini?" gumam Leon lirih, matanya menatap kosong ke arah lantai.Deon menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ada beban rasa bersalah yang teramat berat menindih dadanya."Kesalahannya ada pada kita sendiri," sahut Deon dengan suara serak. "Kita yang terlalu jahat dan zalim pada Liora. Kita tahu kebenaran di masa lalu, tapi kita justru memilih menutup mata. Kita menganggap keputusan Papi dan Mami adalah hal yang paling benar. Padahal... justru keputusan menzalimi Liora itulah yang menjadi awal hancurnya keluarga kita."Leon mengangguk pelan, menyetujui penyesalan adiknya. "Dan menurutmu... siapa penyebab utama dari seluruh kehancuran ini?""Mami," jawab Deon tanpa ragu."Bukan Cynthia?"Leon menggelengkan
Penyidik tidak membantah.Ia hanya mengambil sebuah laptop di atas meja.“Kalau begitu, mari kita dengarkan apa yang dikatakan wanita ini.”Sebuah rekaman diputar.Suara seorang narapidana perempuan terdengar jelas memenuhi ruangan.“Saya dibayar oleh Nona Cynthia.”Cynthia langsung membeku.“Dia meminta saya menyiksa Liora di dalam penjara.”Wajah Cynthia semakin pucat.“Dia membayar saya setiap kali saya melakukannya. Bahkan dia memberikan uang tambahan dan meminta saya membuat Liora mengalami luka parah agar wanita itu cacat.”“Tidak!”Cynthia langsung berteriak.“Itu bohong!”Penyidik menghentikan rekaman.“Masih mau mengatakan tidak mengenalnya?”Cynthia terdiam.Keringat dingin mengalir di pelipisnya.Penyidik kemudian menggeser beberapa lembar dokumen ke hadapannya.“Ini catatan transaksi.”Cynthia menatap dokumen tersebut.Nama pemilik rekening.Nomor rekening.Tanggal transaksi.Jumlah transfer.Semuanya tercatat dengan jelas.“Nona Cynthia, transaksi ini dilakukan secara ber
Udara sore itu terasa berat ketika Liora melangkah keluar dari kafe.Ia tidak langsung pulang.Sejak keluar dari bank, ia tampak waspada membawa tasnya. Tas ini berisi buku-buku, uang dan batu bata. Jelas terasa cukup berat.Langkahnya tenang menyusuri trotoar di depan kafe. Tangannya menggenggam e
“Kalau begitu… aku ikut mobil polisi saja,” kata Liora sambil tersenyum ringan. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”Pria bendahara itu sempat terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nona. Lebih aman memang begitu.”Beberapa petugas langsung membantu memindahkan koper-koper berisi uang itu ke da
Ruangan itu masih dipenuhi sisa tangis Cynthia.Namun Liora sudah tidak lagi memperhatikan.Tatapannya beralih ke Martin.Tatapan itu dingin dan tenang.Seolah semua emosi tadi… tidak pernah menyentuhnya."Apa, kata Lely?" “Aku setuju.”Kalimat itu keluar begitu saja.Membuat semua orang terdiam.
"Tunangan?" "Iya sayang," jawab Lely lembut.“Ada sebuah keluarga." Martin diam sejenak. Berusaha menyusun kata -demi kata. "Ada keluarga yang sangat berpengaruh di kota ini.”Liora tidak menyela.Hanya menatapnya.“Hubungan dengan mereka akan membawa banyak keuntungan bagi keluarga kita.”Kalima







