MasukAir laut terasa dingin saat tubuh Yura menghantam permukaannya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari punggung hingga kepalanya. Ia berusaha berteriak, tetapi air asin langsung memenuhi mulutnya. Tubuhnya tenggelam semakin dalam, sementara gaun yang dikenakannya terasa berat dan membatasi gerakan.
Yura mengayunkan tangan sekuat tenaga, tapi gelombang ombak terlalu keras menghantamnya, tapi ia tidak ingin mati.
Bukan di tempat ini, bukan setelah ia merasa sedikit tenang, bukan setelah Adrian mulai memperlakukannya dengan lembut, meskipun pria itu masih menyimpan luka dan kebencian kepadanya.
Bayangan Adrian muncul di benaknya, wajah dingin itu, senyum tipisnya, tatapan yang sulit dibaca. Yura tersentak ketika menyadari sesuatu.
Adrian adalah satu-satunya orang yang berada bersamanya di tepi tebing, Adrian pula yang paling mengenal seluruh sudut vila. Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat.
Pikiran itu membuat Yura semakin panik. Ia terus berusaha berenang ke permukaan, tetapi tubuhnya semakin lemas. Pandangannya mulai kabur, cahaya bulan di atas permukaan laut tampak semakin jauh.
Tiba-tiba, ujung gaunnya tersangkut pada sesuatu. Yura menarik tubuhnya dengan putus asa, kain itu tersangkut pada dahan pohon yang tumbuh dari celah tebing. Ia berhasil menahan tubuhnya agar tidak terseret arus, tetapi kepalanya terasa sangat berat.
“Yura!” Dari atas tebing terdengar suara samar.Adrian.
Yura berusaha membuka mata. Suara itu terdengar panik, tetapi pikirannya yang kacau justru menafsirkannya secara berbeda.
Dia datang untuk memastikan aku benar-benar mati.
“Nyona! Bertahanlah!” Suara lain terdengar.
Beberapa detik kemudian, cahaya senter menyorot permukaan laut. Para petugas keamanan berusaha menuruni tebing menggunakan tali.
Yura ingin meminta pertolongan, tetapi bibirnya tidak mampu mengeluarkan suara. Dalam pandangan terakhirnya, ia melihat Adrian berada di tepi tebing, menatap ke bawah dengan wajah yang tidak dapat dibacanya, lalu semuanya menjadi gelap.
***
Ketika Yura sadar, bau obat-obatan memenuhi hidungnya. Kelopak matanya terasa berat. Tubuhnya seperti dihantam berkali-kali. Setiap tarikan napas membuat dadanya terasa nyeri, sedangkan kepalanya berdenyut kuat.
“Dia sadar.” Suara seorang wanita terdengar dari dekatnya.
Yura perlahan membuka mata, langit-langit putih menyambut pandangannya. Seorang perawat berdiri di samping tempat tidur, lalu segera menekan tombol panggil.
“Jangan banyak bergerak, Nyona. Anda berada di rumah sakit.”
"Rumah sakit?" tanya Yura dengan suara pelan.
Ingatan tentang kejadian malam itu kembali muncul. Kolam renang, teleskop, bintang jatuh, tangan yang menghantam punggungnya.
“Siapa yang mendorongku?” Yura langsung mencoba bangun.
Perawat itu tampak terkejut. “Tenang dulu. Anda mengalami cedera—”
“Siapa yang mendorongku?” ulang Yura dengan suara bergetar.
Pintu kamar terbuka, Adrian masuk dengan kursi roda elektriknya. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang tampak kusut. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan matanya menyimpan kelelahan yang tidak biasa.
Begitu melihatnya, napas Yura tercekat. Ia mundur ketakutan hingga punggungnya menempel pada sandaran tempat tidur.
“Jangan mendekat!”
Adrian menghentikan kursi rodanya, tatapan mereka beradu. Selama beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
“Kenapa kamu takut, aku tidak akan menyakitimu,” kata Adrian akhirnya.
Yura tertawa pendek, suaranya terdengar getir. “Kamu sudah melakukannya.”
Rahang Adrian menegang. “Apa maksudmu?”
“Kamu menyuruh seseorang untuk membunuhku.”
Perawat yang berada di sisi tempat tidur menatap Adrian dengan gugup. Adrian sendiri tidak segera menjawab, diamnya hanya berlangsung beberapa detik, tetapi bagi Yura terasa sangat lama.
“Kamu masih mau menyangkalnya?” tuduh Yura.
“Aku tidak pernah menyuruh siapa pun untuk membunuhmu.”
“Lalu siapa pelakunya?” Yura menunjuk ke arahnya dengan tangan gemetar. “Tidak ada orang lain di sana selain kamu.”
“Aku juga tidak tahu,” jawab Adrian dengan ekspresi tenang.
“Kamu pemilik vila itu. Kamu tahu semua jalan masuk dan keluar. Kamu tahu kamera keamanan, ruang kontrol, bahkan posisi setiap petugas keamanan. Kalau ada orang yang ingin mendekatiku tanpa diketahui, hanya kamu yang bisa melakukannya.”
“Kamu pikir aku ingin membunuhmu?” Adrian menatapnya tanpa berkedip.
“Aku tidak tahu apa yang kamu inginkan, mungkin kamu ingin membalas dendam karena aku membuatmu cacat.” Suara Yura bergetar semakin keras.
“Aku tidak pernah berpikir untuk balas dendam.” Ekspresi Adrian berubah, wajahnya tampak benar-benar terluka.
“Kamu tidak perlu mengatakannya, semua perubahanmu yang mendadak sudah cukup menjelaskan semuanya.” ” Air mata Yura mulai menggenang.
Adrian mengalihkan pandangan, tangannya mencengkeram sandaran kursi roda dengan erat mengingat semua masalah yang terjadi sejak kecelakaan itu.
“Aku memang terluka karena kecelakaan itu. Aku kehilangan banyak hal, kemampuan berjalan dan hidup yang dulu kumiliki, tapi itu tidak berarti aku ingin membunuhmu." kata Adrian pelan.
“Bukankah kamu menyuruhku menjadi istri yang baik sebagai bentuk penebusan?”
“Aku mengatakan itu karena—”
“Karena kamu ingin aku membayar kesalahanku seumur hidup!” Yura mulai terisak, rasa takut dan rasa bersalah yang selama ini ia pendam akhirnya pecah bersamaan.
Adrian menatap dengan intens, ada sesuatu yang bergerak di balik matanya, tetapi Yura tidak tahu apakah itu kemarahan, penyesalan, atau sekadar rasa jengkel karena rencananya gagal.
“Aku tidak akan membunuhmu,” ujar Adrian.
“Kalau begitu, kenapa kamu ada di sana?”
“Aku mendengar teriakanmu.”
“Dan kamu terlambat menolongku.”
Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam, Yura mengamati wajahnya dengan saksama. Pria itu tampak sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melihat istrinya jatuh dari tebing.
Keheningan memenuhi ruangan. Adrian menatap Yura cukup lama, tatapannya begitu dalam hingga Yura merasa seolah-olah pria itu sedang mencoba melihat isi pikirannya.
“Kalau aku ingin membunuhmu, aku tidak akan membiarkanmu ditemukan.”
“Kamu baru saja mengancamku?” Kalimat itu membuat sekujur tubuh Yura menegang.
“Apa yang aku katakan memang benar.”
“Tidak, kamu sedang memberitahuku bahwa aku masih hidup hanya karena kamu mengizinkannya.”
Adrian tidak menjawab, hanya menatap Yura tanpa ekspresi.
Pintu kembali terbuka, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun masuk dengan membawa map tipis, ia adalah kepala keamanan vila.
“Pak Adrian, kami perlu berbicara.”
“Kita bicarakan di luar.”
Pria itu melirik Yura, lalu menunduk. “Ada masalah dengan kamera keamanan.”
Adrian mengarahkan kursi rodanya menjauh dari tempat tidur. Sebelum keluar, ia kembali menatap Yura.
“Aku akan mencari tahu siapa yang melakukan ini.”
“Aku tidak ingin kamu mendekatiku lagi.”
“Baik.” Ekspresi Adrian mengeras, ia mengepalkan tangannya dan keluar dari ruang rawat Yura.
Setelah keluar dan pintu tertutup, kepala keamanan menyerahkan map tersebut. “Kamera di tepi kolam mati selama tujuh menit sebelum istri anda jatuh.”
“Penyebabnya?”
“Sistem diputus secara manual dari ruang kontrol.”
“Siapa yang memiliki akses?”
Kepala keamanan menelan ludah. “Untuk sementara, hanya Anda, Pak.”
Adrian menatap layar ponselnya yang menampilkan denah vila. Wajahnya tetap tenang, tetapi ibu jarinya terus mengusap noda merah yang belum sepenuhnya hilang dari kulitnya.
“Periksa rekaman kamera di lorong belakang,” katanya.
“Jika pelakunya menggunakan kode akses Anda, berarti—”
“Jangan menyimpulkan apa pun sebelum menemukan bukti.”
Bagian keamanan yang lain datang menghampiri Adrian. "Pak, ada rekaman kamera lain yang tidak ikut terhapus."
"Lalu?" tanya Adrian dengan mata memicing.
"Dalam rekaman itu, tampak seseorang berdiri di belakang istri anda sebelum jatuh." petugas keamanan menyerahkan rekaman tersebut pada Adrian.
***
Adrian baru saja hendak masuk ke kamar Yura ketika seorang perawat menghampirinya.
“Pak Adrian, dokter meminta anda menunggu di luar. Nyona Yura sedang menjalani pemeriksaan.”
Adrian mengangguk. Ia mengarahkan kursi rodanya menuju ruang tunggu, wajahnya tampak tenang, tetapi jemarinya terus mengetuk sandaran kursi. Sejak Yura sadar, wanita itu menolak berbicara dengannya, bahkan setiap kali Adrian mendekat, Yura selalu menunjukkan ketakutan.
Ia tahu Yura mencurigainya. Namun, ia tidak menyangka tatapan takut itu akan terasa lebih menyakitkan daripada tuduhannya. Adrian baru saja berhenti di dekat jendela ketika seseorang memanggil namanya.
“Adrian?”
Suara itu membuat tubuhnya menegang. Ia mengenal suara tersebut, suara yang pernah menemaninya selama bertahun-tahun, sebelum pergi tepat ketika hidupnya berubah.
Adrian menoleh, seorang wanita berdiri beberapa langkah di belakangnya. Soraya mengenakan gaun berwarna krem panjang, rambutnya tersusun rapi, wajahnya tampak anggun, dan di tangannya terdapat buket bunga putih.
Mata mereka bertemu, saat Soraya tersenyum gugup padanya. “Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.”
Adrian diam saja tanpa menunjukkan ekspresi apa pun, wajahnya tetap tenang seperti biasanya.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Seperti yang bisa kamu lihat.” Kali ini Adrian menatap Soraya dengan dingin.
Tatapan Soraya turun ke kursi roda Adrian, lalu segera kembali ke wajahnya. Namun, jeda singkat itu sudah cukup untuk membuat rahang Adrian mengeras.
Soraya menundukkan wajahnya dengan tatapan sedih. “Aku datang untuk menjenguk seseorang.”
“Kalau begitu, pergi.”
“Aku masih ingin bersamamu.”
Adrian tertawa pendek yang terdengar getir. “Apa yang kamu inginkan?”
Soraya menggenggam buket bunga itu lebih erat. “Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja tanpaku setelah kecelakaan itu.”
“Aku sudah bertahan hidup tanpa kehadiranmu, seharusnya kamu tidak perlu mengkhawatirkanku sekarang.”
Soraya tampak terluka karena pernyataan Adrian, selama ini Adrian tidak pernah bersikap dingin padanya, tapi sekarang pria itu sudah berubah, tidak lagi ada keinginan untuk menyambutnya kembali, tetapi Soraya masih enggan untuk pergi.
“Aku tahu kamu masih marah,” ujar Soraya dengan lirih.
“Aku tidak marah.”
“Kalau begitu, kenapa kamu bicara seolah-olah aku ini orang asing?”
“Karena kamu memang orang asing.”
Sebelum Soraya sempat menjawab, pintu ruang pemeriksaan terbuka. Seorang perawat keluar dan memberi tahu Adrian bahwa Yura masih harus menjalani pemeriksaan tambahan.
Adrian mengangguk, lalu hendak kembali ke kamar. Soraya memperhatikan arah pandangnya.
“Yura?” tanya Soraya.
Adrian berhenti.
“Kamu di sini bersama istrimu?”
“Ya.”
“Aku baru tahu kamu sudah menikah.” Walau sudah mengetahui semuanya, Soraya tetap berpura-pura.
“Tidak semua hal dalam hidupku perlu kamu ketahui.”
Soraya terdiam sesaat, kemudian memandangi pintu ruang pemeriksaan dengan tatapan penasaran.
“Dia yang menyebabkan kecelakaanmu?”
“Jaga ucapanmu.” Adrian menoleh tajam.
“Aku hanya bertanya.”
“Jangan pernah membicarakan istriku dengan cara seperti itu.”
Nada suara Adrian membuat Soraya tampak terkejut. Ia mungkin tidak menyangka Adrian akan membela Yura, wanita yang membuat pernikahan mereka batal.
“Dulu kamu mengatakan tidak akan pernah menikah jika bukan denganku,” ujar Soraya perlahan.
“Itu bukan urusanmu.”
“Apakah kamu benar-benar mencintainya?”
Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam. Di balik pintu, Yura baru saja keluar dari ruang pemeriksaan dengan bantuan seorang perawat. Tubuhnya masih lemah, sehingga ia berhenti ketika mendengar suara Soraya. Sedangkan Adrian belum menyadari keberadaan Yura.
“Atau kamu menikahinya karena dia adalah penyebab kecelakaanmu?” sambung Soraya.
Wajah Yura langsung memucat, rasa bersalah pada Adrian kembali menyelimuti hatinya, apa lagi saat melihat Adrian mengepalkan tangan di atas sandaran kursinya.
“Cukup,” balas Adrian dengan nada tegas.
“Kamu berhak membencinya, Adrian. Tapi jangan berpura-pura bahwa pernikahan ini dibangun atas dasar cinta.”
“Ini bukan urusanmu.”
“Memang bukan, tapi aku tahu kamu.” Soraya melangkah mendekat. “Kamu tidak akan menikah dengan seseorang tanpa alasan. Apalagi dengan wanita yang telah membuatmu kehilangan kemampuan berjalan.”
“Jangan menguji kesabaranku, Soraya.” Adrian menatap Soraya dengan tajam.
Soraya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku masih sangat mencintaimu, aku pun tahu kamu pasti juga masih mencintaiku. Aku meninggalkanmu karena aku takut.”
Adrian masih terdiam.
“Aku masih muda. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi masa depan, ketika dokter mengatakan kamu mungkin tidak akan pernah berjalan lagi, aku panik. Aku takut hidupku berubah. Aku takut harus menghabiskan seluruh hidupku merawat seseorang.”
“Kamu tidak perlu menjelaskan.”
“Aku menyesal.”
“Penyesalanmu tidak mengubah apa pun.”
“Aku bisa menerimamu sekarang.”
“Sekarang?” Adrian menatap Soraya dengan dingin.
Soraya menelan ludah. “Sekarang aku sudah lebih dewasa. Aku mengerti bahwa seseorang tidak dinilai dari kemampuan fisiknya.”
“Tidak,” jawab Adrian. “Kamu hanya mengerti bahwa aku tetap memiliki uang dan kekuasaan.”
“Itu tidak benar.” Wajah Soraya memerah.
“Kalau begitu, kenapa kamu datang setelah mendengar aku menikah?”
Soraya tidak langsung menjawab. Dari kejauhan, Yura menundukkan wajah. Setiap kata yang didengarnya membuat rasa bersalah di dalam dadanya semakin berat. Ia tahu Adrian memang terluka karena kecelakaan itu. Ia juga tahu bahwa dirinya adalah penyebabnya.
Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa wanita yang dulu dicintai Adrian meninggalkannya karena kursi roda. Perasaan iba mulai muncul, tetapi segera bercampur dengan rasa takut.
Jika Soraya tahu tentang kecelakaan itu, berarti banyak orang mengetahui masa lalu Adrian. Lalu, siapa sebenarnya yang bisa dipercaya?
Adrian akhirnya menyadari keberadaan Yura, ekspresi wajahnya berubah ketika melihat istrinya berdiri beberapa meter dari sana.
“Yura?”
Yura tersentak kaget saat Adrian menyadari keberadaannya. Perawat segera membantunya duduk di kursi tunggu. Adrian bergerak mendekat, tetapi Yura langsung mengangkat tangan.
“Jangan mendekat.”
Adrian berhenti. Soraya memandangi Yura dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Jadi, kamu Yura.”
Yura mengangguk pelan.
“Aku Soraya, mantan tunangan Adrian.”
Yura tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya menundukkan kepala.
Soraya melirik Adrian. “Kalian menikah karena perjanjian?”
"Tidak." Yura menggelengkan kepalanya.
Adrian mengarahkan kursi rodanya ke depan, menghalangi pandangan Soraya terhadap Yura.
“Pergilah, Soraya.”
“Aku hanya ingin—”
“Aku tidak peduli dengan alasanmu datang, jangan ganggu istriku.”
Soraya menatap Adrian cukup lama, lalu tersenyum pahit. “Kamu membelanya karena mencintainya?”
Adrian tidak menjawab. Keheningan itu membuat dada Yura berdebar. Ia tidak tahu apakah Adrian diam karena tidak mencintainya, atau karena menyembunyikan sesuatu.
Soraya mengibaskan rambutnya. “Suatu hari nanti, kamu akan menyadari bahwa dia tidak menikahimu karena cinta.”
Adrian menatapnya dingin. “Dan kamu akan menyadari bahwa aku tidak lagi menunggu seseorang yang meninggalkanku ketika aku paling membutuhkan dirinya.”
Soraya tampak tersentak dengan sindiran Adrian. Ia kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan mereka. Yura menatap punggung Soraya hingga wanita itu menghilang di balik koridor rumah sakit.
“Dia benar-benar meninggalkanmu setelah kecelakaan itu?” tanya Yura pelan.
“Itu masa lalu.”
“Karena kamu tidak bisa berjalan?”
Adrian tidak menjawab.
“Adrian…”
“Aku tidak ingin membicarakannya.”
Yura menatap wajahnya. Untuk sesaat, ia melihat kesedihan yang sangat dalam di balik sikap dingin pria itu. Namun, ingatan tentang tangan yang mendorongnya dari tebing kembali muncul.
Yura menggenggam ujung bajunya. “Aku turut prihatin.”
Adrian menoleh kepadanya. “Aku tidak membutuhkan rasa iba.”
“Aku tidak bermaksud mengasihanimu.”
“Lalu apa?”
Yura menundukkan wajah. “Aku hanya merasa bersalah.”
Adrian mengamati wajah Yura. Tatapannya tampak tenang, tetapi jari-jarinya kembali mencengkeram sandaran kursi roda. “Kamu seharusnya lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri.”
“Bagaimana aku bisa melakukannya jika aku tidak tahu apakah kamu ingin menyelamatkanku atau membunuhku?”
Kalimat itu membuat Adrian terdiam. Yura menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Adrian mendekat, tetapi kali ini ia tidak memaksa Yura untuk menatapnya. “Kalau aku memang ingin membunuhmu,” katanya pelan, “kamu tidak akan berada di rumah sakit ini.”
“Lalu kenapa aku jatuh?”
Adrian tidak langsung menjawab. Di dalam saku jasnya, ujung jarinya menyentuh sarung tangan hitam yang dikenakan pelaku di malam itu.
“Aku akan menemukan jawabannya,” katanya.
Yura memandangnya dengan curiga. Adrian membalas tatapan itu tanpa ekspresi, tidak ada satu pun tanda yang dapat memastikan apakah ia sedang berbohong.
Air laut terasa dingin saat tubuh Yura menghantam permukaannya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari punggung hingga kepalanya. Ia berusaha berteriak, tetapi air asin langsung memenuhi mulutnya. Tubuhnya tenggelam semakin dalam, sementara gaun yang dikenakannya terasa berat dan membatasi gerakan.Yura mengayunkan tangan sekuat tenaga, tapi gelombang ombak terlalu keras menghantamnya, tapi ia tidak ingin mati.Bukan di tempat ini, bukan setelah ia merasa sedikit tenang, bukan setelah Adrian mulai memperlakukannya dengan lembut, meskipun pria itu masih menyimpan luka dan kebencian kepadanya.Bayangan Adrian muncul di benaknya, wajah dingin itu, senyum tipisnya, tatapan yang sulit dibaca. Yura tersentak ketika menyadari sesuatu.Adrian adalah satu-satunya orang yang berada bersamanya di tepi tebing, Adrian pula yang paling mengenal seluruh sudut vila. Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat.Pikiran itu membuat Yura semakin panik. Ia terus berusaha berenang ke permukaan, tetapi tubu
“Ini terlalu berlebihan.” Yura menatap Adrian dengan ragu. Ia masih mengira semua ucapan pria itu hanyalah basa-basi.“Kamu adalah istriku, Yura. Apa pun yang menjadi milikku, sekarang juga menjadi milikmu.”Yura mengembuskan napas panjang. Perubahan sikap Adrian membuatnya bingung. Dulu, pria itu begitu dingin kepadanya. Kini, Adrian justru memperlakukannya seolah-olah ia adalah seseorang yang sangat berharga. Ia merasa semua ini terlalu instan.“Ayo, kita masuk.”“Iya.”Adrian membawa Yura berkeliling vila dan menunjukkan berbagai fasilitas di kediaman pribadinya. Setelah melewati ruang keluarga yang luas dan taman belakang, mereka tiba di sebuah kolam renang yang dibangun tepat di tepi tebing.Yura langsung berhenti melangkah.Lantai kolam itu terbuat dari kaca transparan. Airnya begitu jernih sehingga dasar kolam dan pemandangan laut di bawah tebing tampak jelas dari atas. Birunya laut terbentang tanpa batas, tetapi keindahan itu tidak mampu mengusir rasa ngeri yang menjalar di tu
Yura kembali menyantap makanannya sambil berkedip beberapa kali. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.“Kenapa diam?”“Iya,” Yura menatap pria itu dengan gugup.“Iya apa?” Adrian membalas tatapan Yura dengan tatapan teduh.Yura menarik napas panjang. “Kamu benar-benar ingin memperbaiki pernikahan kita?”Adrian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.“Kamu tidak sedang mempermainkan aku, kan?”“Apa aku terlihat sedang bermain-main?” raut wajah Adrian terlihat serius.Yura menggeleng. Namun, di dalam hatinya masih ada keraguan. Luka akibat pengkhianatan Malik belum benar-benar sembuh. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru meninggalkan trauma yang membuatnya sulit untuk percaya pada laki-laki.“Aku harap kamu mau membuka lembaran baru dalam pernikahan kita,” ujar Adrian. “Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku.”Yura hanya diam tidak tahu bagaimana harus menanggapi permintaan Adrian.“Aku tidak memintamu langsun
Yura langsung mencengkeram belahan kimono yang menutupi dadanya. Teguran Adrian terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.“Saya dan Pak Andreas tidak melakukan sesuatu yang terlarang.” Yura berusaha membela diri. Ia tidak ingin Adrian memandangnya sebagai wanita murahan.“Berduaan dengan lelaki yang bukan suamimu adalah perbuatan terlarang, Yura.”“Tapi Pak Andreas adalah saudara Anda.” Yura menatap Adrian cemas. Ia tidak ingin suaminya berpikir macam-macam tentang dirinya dan Andreas.Rahang Adrian mengeras. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan rasa kesal yang semakin menguasai dirinya.“Lima menit. Ganti pakaianmu, lalu kita pulang.”“Saya pamit ke Pak Andreas dulu.”“Suamimu itu aku atau Andreas?”Yura menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, Andreas sudah membantunya ketika tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya.“Iya. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu.” Yura berbalik masuk ke apartemen, Adrian dan Gresyuan mengikutinya.Begitu tiba di ruang depan, A
“Apa maksudmu?” Adrian bertanya dengan santai, seolah-olah tidak memahami tuduhan yang baru saja dilontarkan Andreas.Andreas justru berjalan semakin mendekat. “Jangan pura-pura bodoh.” Tangannya menunjuk jam di tangan Adrian.“Arloji itu hanya ada satu di dunia. Aku memesannya khusus dari desainer ternama untuk hadiah ulang tahunmu. Aku sendiri yang memilihnya, jadi jangan bilang aku salah mengenalinya.”Adrian melirik arloji yang ada di tangannya. Andreas tidak mungkin salah, arloji itu memang hadiah darinya. Namun wajah Adrian tetap tenang.“Lalu?”“Aku tahu kau yang menjebak Yura dan membuatnya masuk penjara.” Suara Andreas bergetar menahan amarah.Andreas mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. “Kau mau lihat siapa yang memberitahuku?”Adrian melirik layar. Foto seorang pria muncul di sana membuat wajah Adrian seketika berubah.“Dia sudah bicara,” ujar Andreas dingin. “Orang suruhanmu sudah mengakui semuanya. Jadi berhenti berkelit.”Adrian menyandarkan tubuhnya ke
“Di tahan di mana Yura?”“Di Kapolsek xxx.”Mendengar jawaban itu, Andreas langsung mengambil ponsel di atas meja kerja. Tanpa membuang waktu, ia bergegas keluar dari kantor sembari menghubungi pengacaranya.Sesampainya di parkiran, Andreas masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan kasar. Mobil melaju meninggalkan gedung dengan kecepatan tinggi.Tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Andreas benar-benar marah.Adrian adalah saudara kembarnya. Ia tahu betul adiknya sedang marah, kecewa, bahkan terluka karena kecelakaan yang membuat hidupnya berubah. Namun, semua itu bukan alasan untuk menghancurkan hidup orang lain. Terlebih lagi Yura adalah istrinya sendiri.“Kejam sekali kau, Adrian,” gumam Andreas geram.Ia semakin menginjak pedal gas. “Aku tahu kau membencinya, tapi bukan seperti ini caranya.”***“Yura!”Suara seorang sipir terdengar dari balik jeruji. Yura yang sedang duduk bersama Imelda langsung mengangkat kepala.“Saya, Pak?” Ia berd







