LOGINHari ini Nabila sedang berkaca dengan memakai kebaya untuk acara Wisuda di kampusnya dua hari lagi."Duh, Mas kok badan aku belum balik kurus lagi ya padahal Nevan udah mau 3 bulan loh," gerutu Nabila yang duduk di sofa kamar sebelah Dewa."Kemarin udah konsul sama dokter gizi kamu kan? Mereka bilang masih wajar kok, cuma perlu sabar aja, sayang.""Ishhh... Kamu sih gampang bilang sabar, sabar. Kalo aku kurus dan cantik kan kamu juga yang nikmatin.""Loh sekarang juga Mas Nikmatin kok. Terbuktikan semalam kita sampai gak tidur." Dewa terkekeh pelan sambil mencubit gemas pipi istrinya."Huh... Dasar nyebelin, itu Mulu yang di bahas. Harusnya kemarin itu aku gak kasih kamu jatah,""Loh mana bisa, kamu sendiri baru Mas cium-cium udah gak tahan minta yang lain,""Mas Dewa! Mulutnya ihhh mana ada aku begitu!" pekik Nabila, menyambar bantal sofa lalu menepukkannya tepat ke dada Dewa.Dewa tertawa lepas, menangkap bantal tersebut lalu menarik tubuh Nabila hingga terduduk di pangkuannya."Lho
Dewa bangkit dari ranjang, namun bukannya langsung menuju kamar mandi, ia malah membungkuk dan mendaratkan kecupan hangat di dahi Nabila cukup lama."Makasih ya, Sayang," bisik Dewa lembut tepat di depan wajah Nabila.Nabila mengedipkan matanya pelan, agak kaget dengan perubahan nada suara suaminya yang mendadak manis."Makasih buat apa?""Ya makasih udah mau bertahan, udah sabar nahan sakit dari awal mau melahirkan sampai sekarang kamu menyusui. Mas tadi panik banget pas liat kamu kaya tadi." Dewa mengelus pipi Nabila dengan ibu jarinya, menatap sang istri penuh rasa sayang."Masih nyeri banget nggak dadanya?"Nabila tersenyum tipis, rasa kesalnya menguap begitu saja melihat perhatian Dewa."Udah agak mendingan kok, udah nggak sekeras tadi. Makasih ya, Mas... udah mau bantuin.""Sama-sama, Sayang. Kan emang udah tugas Mas buat jagain kamu," balas Dewa, lalu terkekeh pelan."Lagipula... Yang tadi itu lumayan enak kok, nggak beban sama sekali.""Mas Dewa!" pekik Nabila pelan sambil men
Mama Saras tersenyum tipis melihat reaksi canggung anak dan menantunya, lalu ia menepuk bahu Dewa pelan."Jangan heran gitu, deh kalian. Cara paling cepat dan ampuh buat ngelancarin hisapan pas tersumbat gini ya dibantu suaminya kalau bayinya lagi tidur atau nggak mau nyusu.""Tapi... apa nggak apa-apa, Ma?" tanya Dewa memastikan, matanya bergantian menatap sang ibu dan Nabila yang mukanya sudah memerah—entah karena malu."Ya nggak apa-apa, orang sama istri sendiri. Daripada Nabila makin demam terus makin parah? Ya udah, Mama keluar dulu ya. Kamu urus istri yang telaten," pamit Mama Saras seraya mengedipkan mata sebelum melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan rapat.Suasana kamar mendadak hening. Hanya terdengar suara dengkur halus Nevan dari dalam box bayi dan deru pendingin ruangan. Dewa memandangi Nabila yang kini menunduk dalam-dalam sambil meremas selimut."Sayang... gimana?" tanya Dewa berbisik pelan, mengikis jarak duduk mereka di atas ranjang."Mas... malu tahu, ada Ma
Beberapa jam kemudian, acara akikah sudah selesai Mama Saras membantu Nabila sedang menyusui Nevan.Nabila di kamarnya baru saja selesai menyusui Nevan."Masih sakit payudaranya Bil?" Tanya Mama Saras yang melihat menantunya itu meringis."Masih Ma, kaya tadi kelamaan gak di susuin. Duh mana Nevan udah udah selesai nyusunya.""Sini biar Mama pindahin Nevan ke box bayi. Kamu coba di pumping dulu."Nabila mengangguk lalu mengambil pompa ASI-nya di nakas sebelah tempat tidur nya."Rasanya kayak mau meledak, Ma sakit banget" bisik Nabila meringis sambil menahan napas pelan, tangannya mulai memegang alat pompa ASI.Mama Saras terkekeh pelan sambil menepuk-nepuk lembut punggung Nevan sebelum menidurkannya ke dalam box bayi."Ya gitu emang rasanya kalau udah penuh tapi nggak langsung dikeluarkan, Bil. Lagian tadi kamu keasyikan ngerumpi sama temen-temen kamu, kan?""Ya habisnya kangen, Ma. Lagian Rindi tuh lagi deket sama Kak Leo Ma kaya nya tante Farida bentar lagi punya mantu," sahut Nabil
Tak terasa hari berganti begitu cepat, usia Nevan sudah 3 Minggu. Hari ini mereka mengadakan acara akikah. Yang di hadiri oleh kerabat dekat dan juga sahabat-sahabatnya."Ya ampun lucu banget ponakan gueee," heboh Rindi yang kesenangan melihat si bayi mungil Nevan di gendong Nabila."Kamu hutang penjelasan ya Rin, sama aku kok bisa berangkat bareng Kak Leo." Bisik Nabila yang tadi melihat Rindi datang bareng sepepu suaminya."Iya Nanti, gue jelasin sabar deh." Kata Rindi sambil menatap Nabila, Tria dan Diana bergantian."Sumpah asli hidup gue banyak banget plot twins setelah Ayah gue nikah sama sahabat gue sekarang masa sahabat gue lagi pdktan sama Om gue," cetus Diana yang menepuk jidatnyaNabila yang mendengar itu tertawa pelan."Tapi gue kalo jadi Rindi juga bakal milih Om Leo sih dari pada pacar toxic Lo itu Rin," timpal Tria."Om Leo kayanya udah kecintaan banget sama Rindi." Diana menatap Om nya dan Sahabatnya bergantian.Dari kejauhan Dewa melihat Nabila sedang asik mengobrol
Di dalam kamar yang kini hening, Dewa membelai lembut pipi Nabila. Nabila menyandarkan kepalanya di bahu Dewa, mengembuskan napas lega."Akhirnya ya, Mas... kita sampai rumah juga," bisik Nabila pelan."Iya, Sayang. Senang banget rasanya lihat kamu sama Nevan udah di rumah. Gimana, kamu masih ada yang kerasa nyeri nggak?" tanya Dewa perhatian, membetulkan posisi duduk Nabila agar lebih nyaman."Udah mendingan dibanding kemarin. Mas... makasih ya udah sabar banget nemenin aku dari kemarin-kemarin."Dewa tersenyum manis lalu mengecup lipatan jemari Nabila."Justru aku yang terima kasih sama kamu. Kamu hebat banget, sayang. Oh iya, Nevan mau ditaruh di kasur bareng kita apa tetap di box bayi?""Di box bayi dulu aja deh, Mas. Aku takut ketiduran terus ketindih," jawab Nabila ragu.Tiba-tiba, suara tangisan kecil terdengar dari dalam box bayi. Gerakan kaki Nevan yang menendang-nendang bedong membuat selimutnya terlepas."Tuh kan, baru aja dibicarain, jagonya Ayah udah bangun," goda Dewa be
Dua Minggu berlalu sejak malam itu. Nabila selalu mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa kuliah lalu di lanjut bekerja, namun tubuhnya seolah berkhianat.Setiap pagi, Nabila selalu di sambut mual yang hebat. Aroma kopi, parfum menyengat, Bahkan aroma kantin kampus yang biasanya ia sukai kini
"Ahhh... Om, jangan..." desis Nabila dengan napas yang memburu. Tangannya berusaha mendorong dada bidang Dewa yang menghimpitnya. Di balik aroma alkohol yang tercium dari tubuh pria berusia 41 tahun itu, ada intensitas yang membuat pertahanan Nabila goyah. Dewa menatapnya dengan pandangan yang dal
Dewa melangkah kembali ke dalam kamar rawat inap dengan langkah yang lebih mantap. Di tangannya, ia membawa sekotak bubur ayam hangat yang sempat ia beli di dekat rumah sakit. Nabila masih setia di posisinya, membelakangi pintu sambil menatap kosong ke luar jendela. "Makan dulu. Saya belikan bubu
Nabila terbangun dalam dekapan hangat Dewa yang mengunci tubuhnya dengan erat. Namun, rasa nyaman itu seketika sirna saat rasa mual luar biasa mendadak naik dari perutnya."Huekkk!" Nabila mendadak mual dan memuntahkan sisa makanan tepat di atas kemeja Dewa."Astaga, Nabila?! Kamu nggak apa-apa? Ma







