Share

117

last update publish date: 2026-09-08 10:32:40

Jam 8 pagi, dewa belum juga berangkat ke kantor. Penyebabnya adalah karena Nabila tadi sempat mengeluh perutnya terasa kram.

"Udah lah Mas kamu berangkat aja kantor. Aku udah gak apa-apa."

"Kamu jadi pergi sama Mama hari ini?"

"Ya jadi lah. Kan udah janjian dari kemarin,Diana juga ikut kok."

"Beneran perutnya udah nggak kram lagi?" Dewa mengusap perut istrinya.

"Udah enggak. Mungkin tadi itu gara-gara kamu terlalu sering minta jatah."

Dewa langsung tertawa mendengarkan ucapan Nabila yang fronta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   132

    "Diana!!"teriak Dewa menggelegar, Dewa melangkah tergesa-gesa keluar kamar sambil menopang tubuh Nabila rapat-rapat dalam dekapan dadanya."Astaga Mas jangan teriak-teriak perut aku udah agak gak terlalu sakit kok ini, turunin aja aku mau jalan sendiri.""Sttt... Kamu diem aja, gak usah banyak omong.""Diana! Sini kamu cepat!!" teriak Dewa lagi.Diana yang sedang memegang cangkir di dapur langsung tersentak. Cangkir itu hampir terlepas dari tangannya saat mendengarkan bentakan sang ayah yang kentara dilanda kepanikan luar biasa."Ada apa sih, ayah?! Kenapa teriak-teriak panggil Diana?!" seru Diana sambil berlari cepat menuju arah depan kamar orang tuanya, disusul Bi Sari dari belakang yang ikut panik."Astaga, Ayah! mama kenapa digendong begitu?!" pekik Diana membelalak kaget saat melihat wajah Nabila pucat pasi dan bersimbah peluh."Mama kamu mau melahirkan sekarang, Di! Jangan banyak tanya!" celoteh Dewa dengan napas memburu, matanya merah karena panik."Kamu cepat berlari ke kamar

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   131

    Dewa menghentikan langkahnya ke kamar mandi, karena mendengar suara Nabila mengaduh kesakitan. "Sayang, kamu kenapa? Mana yang sakit?" Dewa Panik langsung menghampiri Nabila di tepi ranjang. "Nggak apa-apa, Mas, cuma agak gak enak perut nya" cicit Nabila sambil menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan beban berat di perutnya yang semakin menegang. "Gak enak gimana? Apa jangan-jangan kamu udah mulai kontraksi?" "Mana aku tau! Udah sana kamu siap-siap mandi dulu, nanti meeting-nya malah telat! Mungkin ini cuma karena kaget aja tadi." omel Nabila setengah meringis, mencoba mendorong dada bidang Dewa pelan. "Mana bisa aku tinggal kalau kamu kesakitan begini! Udah, meeting-nya urusan belakangan, kita ke rumah sakit sekarang." "Mas Dewa, plis, jangan lebay! Ini mungkin cuma kontraksi palsu biasa. Sana mandi, nanti aku telpon mama kalau udah mulai intens rasanya, di rumah juga banyak orang Diana ada, Bibi, satpam dan kalo nanti ada apa-apa juga kan ada supir, Mas." Dewa menatap istr

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   130

    Suara desahan di kamar semakin jadi. Gerakan Pinggul Nabila semakin intens, mengikuti irama napas mereka berdua."Aahh... Mas Dewa... nghh, udah mau... keluar ya?" desah Nabila makin tak teratur.Dewa memejamkan mata erat-erat, jemarinya cengkeram erat pinggul Nabila saat merasakan sensasi pekat yang tak tertahankan lagi."Nghh... iya, Sayang... Mas udah... ahhh!" lenguh Dewa panjang ketika merasakan letupan hangat membasahi bagian dalam istrinya.Namun, bukannya berhenti, Nabila justru terus memutar dan menggoyangkan pinggulnya perlahan, memanfaatkan sensasi hangat yang baru saja memenuhi dirinya."Aahh... Sayanggg... shhh, pelan, Sayang... ngilu banget!" erang Dewa tertahan, matanya terbuka lebar menatap Nabila dengan napas memburu. Rasanya luar biasa sensitif dan menjalar ngilu sampai ke tulang belakangnya."Nghh..makin masuk ke dalam, makin enakkk.. Mas... ahh," bisik Nabila di antara desahannya. Ia menunduk, menatap Dewa dengan tatapan sayu nan menggoda, jemarinya meremas makin k

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   129

    Dewa teruscmengecup wajah istrinya dan nabila hanya pasrah saja dengan tingkah laku suaminya"Tuh kan, ujung-ujungnya pasrah juga," goda Dewa seraya mengedipkan sebelah matanya."Habisnya kamu maksa terus! Lagian aku juga takut, Mas. Gimana kalau nanti malah ketuban pecah duluan pas lagi... gitu?" Nabila meremat piyama yang dikenakannya, matanya menatap Dewa penuh kekhawatiran."Ya kalau ketubannya pecah, artinya si adek emang udah siap keluar, Sayang. Kita tinggal langsung berangkat ke rumah sakit," jawab Dewa santai, mengusap punggung Nabila lembut untuk menenangkan."Gampang banget ya kamu ngomongnya! Yang mau engap-engapan ngerasain kontraksi tuh aku, Mas!" Nabila mencubit pinggang Dewa gemas, membuat pria itu meringis pelan."Aduh, iya-iya, ampun Mama..." Dewa tertawa kecil sambil mengelus pinggangnya."ini itung-itung buat bekel sebelum Mas puasa. siapatau habis ini kamu lahirankan. Kamu jangan stres gitu. Nanti si adek di dalam ikut tegang. Mending sekarang kamu mikirin yang en

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   128

    Sepulang dari mall. Nabila langsung masuk ke kamarnya untuk mandi namun langkahnya terhenti saat melihat suaminya itu duduk melamun di sofa kamar."Mas," panggil NabilaTidak ada jawaban bahkan Nabila bisa lihat tatapan kosong suaminya."Mas Dewa!" Teriak Nabila yang langsung membuat dewa tersentak kaget."Loh, kenapa sayang kok teriak-teriak tadi katanya mau mandi, hmmm?""Gimana nggak teriak? Panggilan aku yang pertama aja nggak mempan di telinga kamu," omel Nabila sambil berjalan pelan mendekati sofa. Ia mendaratkan tubuhnya anggun di samping Dewa, lalu menatap suaminya itu penuh selidik."Mas ngelamunin apa sih, Mas? Sampe aku panggil-panggil gak di respon."Dewa menghela napas panjang, lalu merangkul pundak Nabila, menarik tubuh istrinya agar makin merapat padanya. Tangannya reflex mengelus perut buncit Nabila."Gara-gara obrolan di mall tadi, Sayang..." bisik Dewa pelan."Obrolan yang mana? Soal Ezra sama Diana?""Iya," jawab Dewa cepat, raut wajahnya berubah tegang."Mas masih

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   127

    Di usia Kandungan Nabila 37 Minggu, dengan perut yang semakin membesar. Hari ini Nabila baru saja selesai sidang skripsi. Meskipun sebenarnya Dewa dan sahabat Nabila yang menunggu di ruang tunggu sangat cemas mengingat kandungan Nabila.Begitu pintu ruang sidang terbuka, Nabila melangkah keluar dengan senyum merekah, meski napasnya sedikit terengah-engah membawa perutnya yang sudah semakin membesar di usia kandungan 37 minggu.Dewa yang sejak tadi berdiri gelisah di lorong langsung berjalan cepat memangkas jarak. Raut cemas di wajahnya seketika mencair saat melihat binar bahagia di mata istrinya."Gimana, Sayang? Lancar?" tanya Dewa menyambut Nabila, langsung merangkul pinggang istrinya untuk menopang bebannya."Lulus, Mas! Aku lulus!" seru Nabila setengah berbisik, tidak bisa menahan rasa bahagianya."Aaaaa! Selamat Nabila!" jerit Tria dan Rindi kompak namun tertahan. Mereka berdua bersama Diana yang berdiri di belakang Dewa langsung mengerubungi Nabila."Sumpah, Bil! Gue dari tadi d

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 2

    Dua Minggu berlalu sejak malam itu. Nabila selalu mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa kuliah lalu di lanjut bekerja, namun tubuhnya seolah berkhianat.Setiap pagi, Nabila selalu di sambut mual yang hebat. Aroma kopi, parfum menyengat, Bahkan aroma kantin kampus yang biasanya ia sukai kini

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 1

    "Ahhh... Om, jangan..." desis Nabila dengan napas yang memburu. Tangannya berusaha mendorong dada bidang Dewa yang menghimpitnya. Di balik aroma alkohol yang tercium dari tubuh pria berusia 41 tahun itu, ada intensitas yang membuat pertahanan Nabila goyah. Dewa menatapnya dengan pandangan yang dal

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 4

    Pintu kamar rawat inap VVIP itu tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang begitu mencekam di antara mereka berdua. Begitu perawat selesai memasang infus dan meninggalkan ruangan, Nabila langsung menatap Dewa dengan tatapan seolah ingin membunuhnya.Matanya yang sembap menyalang merah, menahan amara

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 3

    Jam digital menunjukkan pukul 21:00 saat Nabila terpaksa masuk ke mobil sedan mewah milik Dewa demi menghindari sorotan rekan kerjanya di lobi hotel.Suasana kabin terasa mencekam. Dewa membawa mobilnya menepi di area parkir sepi sebuah apotek 24 jam, lalu menyodorkan kantong berisi tiga merek test

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status