Share

Tatapan Predator

Penulis: Mentari Senja
last update Tanggal publikasi: 2026-05-01 16:15:15

Langkah kaki Alya menggema pelan di lorong panjang, Mahardika Mansion. Lantai marmer yang dingin, terasa lebih sunyi untuk rumah sebesar ini. Tidak ada suara tawa, tidak ada percakapan ringan. Hanya keheningan dan perasaan seperti sedang diawasi.

Ia baru saja kembali dati taman belakang, mencoba mencari sedikit udara segar, setelah beberapa jam terkurung di dalam rumah, yang terasa lebih seperti penjara mewah.

Namun bahkan di luar, penjaga bersenjata berdiri di setiap sudut. Tidak ada tempat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Bayangan Masa Lalu

    Langit Jakarta malam itu tampak lebih gelap. Dari jendela besar ruang kerjanya, Arsen Alvero Mahardika berdiam diri, menatap kosong ke arah lampu kota yang berkedip seperti ilusi ketenangan.Di tangannya terdapat segelas whiskey, yang hampir tak tersentuh. Raganya masih terdiam, tapi pikirannya kembali pada kejadian lima belas tahun yang lalu.***Suara pecahan kaca, jeritan seorang wanita. Dan bau asap yang membakar paru-paru."Arsen, lari!"Suara itu masih sama, jelas, menghantui. Ibunya.Arsen kecil berdiri membeku di ujung lorong rumah mereka yang megah, api mulai menjalar dari ruang kerja ayahnya, merambat cepat seperti binatang buas yang lapar.Para pelayan berlarian, beberapa mencoba memadamkan api, dan yang lain justru melarikan diri tanpa arah tujuan."Arsen, cepat!"Ibunya berlari ke arahnya, wajahnya pucat, namun matanya tetap tegas. Tangannya mengenggam bahu Arsen kecil dengan kuat."Apa yang terjadi, Bu?" suara Arsen gemetar.Ibunya tidak menjawab, hanya tatapan penuh ke

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Tatapan Predator

    Langkah kaki Alya menggema pelan di lorong panjang, Mahardika Mansion. Lantai marmer yang dingin, terasa lebih sunyi untuk rumah sebesar ini. Tidak ada suara tawa, tidak ada percakapan ringan. Hanya keheningan dan perasaan seperti sedang diawasi. Ia baru saja kembali dati taman belakang, mencoba mencari sedikit udara segar, setelah beberapa jam terkurung di dalam rumah, yang terasa lebih seperti penjara mewah. Namun bahkan di luar, penjaga bersenjata berdiri di setiap sudut. Tidak ada tempat yang benar-benar bebas, Alya menghela napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya. Ia menoleh ke arah jendela besar, yang berada di ujung lorong, dan di sanalah ia melihatnya. Bayangan seorang pria, tegak, diam, dan mengawasi. Alya langsung menoleh. Arsen. Pria itu berdiri beberapa meter di belakangnya, mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung gingga siku. Tatapannya tajam, dalam, dan terlalu fokus padanya. Seperti seorang predator yang sedang mengamati mangsanya. "Apa kamu selalu

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Kontrak Pernikahan

    Hujan masih turun sejak sore hari, meninggalkan jejak basah di kaca yang tinggi, di Mahardika Mansion.Malam itu terasa lebih sunyi, bahkan suara langkah para penjaga di lorong pun, terdengar seperti gema yang jauh.Alya berdiri di depan jendela kamar, yang kini telah menjadi miliknya. Jemarinya menyentuh kaca yang dingin, menatap halaman luas yang dipenuhi bayangan pria bersenjata.Rumah ini terlihat seperti sebuah sangkar emas, Alya menghela napas panjang, lalu berbalik. Matanya kembali menyapu ruangan mewah yang terasa asing, dan itu membuatnya gelisah."Aku yakin, pasti ada sesuatu yang di sembunyikan di rumah ini," gumamnya pelan.Pikirannya kembali pada kejadian tadi siang, ketika ia melihat Arsenal berbicara dengan beberapa pria di ruang kerja. Pintu itu selalu tertutup, dan dijaga.Alya menggigit bibir bawahnya, ada rasa ragu dalam dirinya. Tapi rasa ingin tahunya jauh lebih besar daripada ketakutannya.Ia melangkah keluar, lorong mansion terlihat begitu kosong. Lampu yang red

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Dunia yang Tidak Alya Kenal

    Langkah Alya terhenti di ambang pintu kaca besar, yang menghadap ke halaman mansion. Pagi itu tidak terasa sunyi seperti kemarin, ada sesuatu yang berubah. Udara terasa lebih berat dan berbahaya. Dari balik tirai tipis yang ia geser perlahan, Alya melihat pemandangan yang membuat dadanya mengencang. Beberapa pria berdiri tersebar di halaman, bukan seperti penjaga biasa. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, tubuh gelap, dengan gerakan gang terlatih untuk sekedar pengamanan rumah. Dan yang paling membuat Alya tak bisa mengalihkan pandangannya, adalah sebuah senjata. Mereka membawa senjata api. Nafas Alya langsung tercekat, “A-apa ini,” gumamnya pelan. Ia mundur satu langkah, tapi rasa penasaran itu terus mendorongnya untuk kembali melihat. Seorang pria sedang berbicara dengan yang lain, menunjuk ke arah pagar luar. Gerakannya tegas, seperti memberi sebuah instruksi. Dua orang lainnya berjalan menyusuri perimeter, mata mereka begitu tajam saat mengawasi setiap sudut. Alya m

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Ruang Kerja yang Terkunci

    Malam turun lebih cepat di dalam Mahardika Mansion, atau mungkin hanya perasaan Alya saja. Sejak percakapannya dengan Arsen sore tadi, suasana rumah itu terasa semakin menekan. Dinding tinggi yang berwarna gelap, lorong panjang tanpa suara, dan tatapan para penjaga yang seolah tidak pernah benar-benar lengah. Semuanya membuat Alya merasa seperti berjalan, di dalam labirin tanpa jalan keluar. Namun satu hal yang tidak berubah dalam dirinya, yaitu rasa penasaran. Dan itu jauh lebih kuat daripada rasa takutnya. Alya berdiri di depan jendela kamarnya, memandangi halaman luas yang di terangi lampu-lampu taman. Beberapa pria bersenjata masih berjaga, bergerak pelan seperti bayangan hidup yang tidak pernah tidur. “Dunia yang sama sekali tidak aman,” gumamnya pelan. “Kalau memang berbahaya, kenapa justru aku di kurung di dalam sini?” Tidak ada jawaban, tentu saja tidak ada. Namun pikirannya tidak berhenti di situ, aturan kedua Arsen kembali terngiang di kepalanya. “Kamu tidak boleh masu

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aturan Sang Tuan Rumah

    Mansion itu terlalu sunyi, bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia, yang siap menelan siapa saja yang lengah. Alya berdiri di tengah ruang utama, ia memeluk lengannya sendiri. Lantai marmer dingin, memantulkan bayangannya yang begitu terasa asing. Sudah hampir satu jam, sejak ia ditinggal sendirian. Tak ada pelayan yang berbicara lebih dari sekedar anggukkan. Tak ada suara langkah, selain miliknya sendiri. Bahkan jam dinding pun berdetak pelan, seolah takut menganggu sesuatu, atau mungkin seseorang. “Ini rumah atau sebuah penjara?” gumamnya pelan. “Kalau itu penjara, kamu tidak akan berdiri bebas seperti itu.” Suara berat dan dalam itu muncul tiba-tiba dari belakang. Alya menoleh cepat, dan Arsen sudah berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan di gulung setengah. Tatapannya terlihat lurus, tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang membuat Alya merasa seperti sedang di awasi dari dalam. “Kenap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status