Partager

Bab 4

Auteur: Makjos
Keesokan harinya di rumah sakit, aku memegang obat sambil menelepon sahabatku.

Saat pintu lift terbuka, aku justru melihat Andrew. Tatapan kami langsung bertemu, kami sama-sama terkejut.

Aku kira dia datang mencariku. Baru saja ingin membuka mulut untuk menjelaskan, dari sudut mata aku melihat sosok kecil di sampingnya.

Pada akhirnya, aku menelan kembali kata-kataku. Sepertinya aku berpikir terlalu jauh.

Ekspresi Andrew hanya kaku sesaat, lalu dia segera menyembunyikan Fellyn di belakangnya. Nada bicaranya sangat tidak senang. "Kamu ngikutin aku lagi?"

Belum sempat aku berbicara, Fellyn lebih dulu menggoyang lengannya dan berkata dengan suara manja, "Pak Andrew, kenapa kamu galak sekali sama Kak Windy? Nggak ada lembutnya sama sekali! Wajah Kak Windy pucat, dia pasti mau berobat. Jangan salah paham sama dia ya."

Sambil berbicara, dia bahkan mengedipkan mata padaku dengan nakal.

"Kak Windy, maaf ya, kemarin aku sakit lambung parah. Pak Andrew itu bos yang baik dan sangat perhatian pada karyawan, jadi dia datang merawatku. Kamu jangan marah lagi ya, marah bisa bikin jelek lho."

Nada bicaranya polos, wajahnya juga tampak tidak bersalah. Namun, setiap kalimatnya menyimpan duri, jelas sengaja memancing amarahku.

Aku hanya tersenyum santai, nadaku tenang. "Aku nggak marah. Aku justru tenang ada kamu yang jagain Andrew. Kamu masih muda dan cantik, wajar kalau Andrew lebih memperhatikanmu."

Ucapanku sopan, tetapi alis Andrew justru berkerut. Dia menatapku dengan pandangan bingung dan menyelidik, tetapi aku tidak ingin tahu apa yang dia pikirkan.

Lift yang turun sudah tiba. Aku mengangguk ringan pada mereka. "Permisi."

Baru saja aku hendak masuk lift, Andrew malah mengejarku. Dia tidak memedulikan Fellyn di belakangnya, justru menarikku. Wajahnya suram, tatapannya menyapu rekaman medis di tanganku.

"Kamu sakit apa? Kasih aku lihat."

Dengan kesal, aku melepaskan tangannya dan menampar tangannya yang hendak meraih. "Nggak apa-apa, nggak perlu kamu urus."

Namun, Andrew tetap menghalangiku dengan keras kepala. Nadanya menahan diri dan serius. "Windy, belakangan ini memang aku kurang memperhatikanmu. Tapi bagaimanapun kita ini suami istri."

"Kalau tubuhmu ada masalah, sebagai suami aku berhak tahu kamu sakit apa, supaya ke depannya bisa merawatmu. Jangan keras kepala, kasih aku lihat."

Dia mengulurkan tangan hendak merebut, tetapi langsung dihalangi oleh sepasang tangan.

Sahabatku, Shani, datang dengan terengah-engah. Bahkan sebelum Andrew sempat menyapa, dia langsung menampar wajah Andrew.

"Kamu ini benar-benar bukan manusia! Gimana bisa Windy nikah dengan binatang sepertimu? Hari ini aku akan memukulmu sampai puas untuk melampiaskan amarah ini!"

Andrew ditampar sampai bingung. Banyak orang di sekitar berhenti dan menonton.

Shani sangat marah. Dia memukul dan menendang tanpa henti, mulutnya juga terus melontarkan makian.

Andrew tersadar. Dia merasa malu dan ikut naik pitam, lalu membalas pukulan. "Kalian berdua perempuan gila! Sama-sama gila!"

Dalam kekacauan itu, Fellyn yang berusaha melerai justru terkena pukulan Shani. Dia menjerit sambil menutupi matanya dengan tangan.

Melihat harta berharganya diperlakukan seperti itu, Andrew benar-benar kehilangan kendali. Dia mengambil batang besi dari alat infus di sampingnya, lalu mengangkat tangan hendak memukul Shani.

Di saat genting itu, aku berlari dan melompat menutupi tubuh Shani. Batang besi itu menghantam keras punggungku. Rasa sakit yang dahsyat langsung menyerang, lalu aku muntah darah. Sambil memegangi perut, aku jatuh ke lantai.

Semua orang langsung terdiam.

Andrew terkejut sampai menjatuhkan batang besi itu, lalu berlari menghampiriku. "Kamu gila ya, kamu ngapain ...."

Aku kesakitan hingga hampir pingsan. Siksaan beberapa hari ini membuatku sudah berada di ambang runtuh.

Dengan suara hampir berteriak, aku melemparkan rekam medis di tanganku padanya. "Kamu mau lihat rekam medisku, 'kan? Lihat saja! Aku biarkan kamu lihat sepuasnya!"

Di dalamnya, selembar laporan perlahan meluncur keluar, tepat jatuh di depan Andrew.

Setelah melihat tulisan di atasnya, mata Andrew membelalak tidak percaya. Dia hampir runtuh saat menatapku.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 9

    Setelah itu, entah dari mana Andrew mendapatkan kabar, dia mulai mencariku setiap hari, bahkan mengadangku di parkiran."Istriku, kamu nggak boleh blokir kontakku. Kita belum resmi ambil akta cerai, semuanya masih bisa diperbaiki.""Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau kamu putri Keluarga Wijaya? Aku memang nggak setia padamu, tapi kamu juga menyembunyikan sesuatu dariku, jadi kita impas! Ke depannya kita jalani hidup dengan baik ya?"Mengingat bagaimana dulu dia membentakku di parkiran, sekarang posisi kami terbalik, aku hanya merasa itu menggelikan.Melihat wajahnya yang lesu dan jasnya yang kusut, aku tersenyum. "Andrew, sepertinya akhir-akhir ini bisnismu nggak bagus ya? Aku kira tanpa aku yang kamu anggap beban, kamu akan terbang lebih tinggi."Andrew tidak menyangka aku akan berkata seperti itu. Dia seketika terdiam, lalu memalingkan wajah dengan bersalah.Dulu banyak keputusan di perusahaan yang dia jalankan setelah bertanya kepadaku. Orang lain mungkin tidak tahu, tetapi di

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 8

    Setelah kembali ke posisiku, aku justru terkejut menemukan bahwa semuanya jauh lebih cocok dari yang kubayangkan.Orang tuaku langsung mengumumkanku sebagai wakil presdir, sekaligus langsung masuk ke jajaran manajemen perusahaan, bahkan diberi saham.Awalnya kukira akan ada yang meragukan, tetapi setelah kakakku memperkenalkanku, tidak ada satu pun petinggi yang berwajah serius itu mengajukan keberatan.Kakakku berbisik di telingaku, "Orang-orang tua ini semua tahu keluarga kita sangat melindungi orang sendiri."Setelah menjabat itu, aku beradaptasi dengan sangat cepat. Dalam laporan panjang yang bertele-tele, aku bisa langsung menemukan inti masalah.Di lingkungan kerja yang kompleks, aku bisa dengan cepat melihat kelebihan dan kekurangan setiap orang, lalu membagi tugas dengan tepat.Dalam negosiasi bisnis, aku hanya menggunakan pertukaran kepentingan tanpa perlu duduk di meja minum.Dengan pengamatan tajam, aku dengan cepat menemukan titik keseimbangan yang memuaskan kedua belah pih

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 7

    Setelah menandatangani perjanjian, tinggal menunggu masa tenang satu bulan lewat, aku sudah bisa mendapatkan akta cerai.Aku menghapus semua kontak Andrew dan menyerahkan semuanya kepada pengacara untuk ditangani.Saat pulang ke rumah, yang mengejutkanku adalah, ayah, ibu, dan kakakku tidak menyalahkanku, malah tidak ada yang menyinggung soal aku kabur dari rumah dulu karena keras kepala.Aku berbaring di kamarku sendiri, menyadari tata letak dan perabotnya masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah.Tiba-tiba aku merasa hatiku sangat tenang dan damai. Waktu kecil aku tidak mengerti orang tuaku di luar adalah pemimpin di dunia bisnis, tetapi di rumah justru penuh pertengkaran tanpa henti.Sampai aku SMP, karena masalah harta, mereka memilih hanya menjadi pasangan formalitas.Di belakang, masing-masing punya kekasih, cinta sudah lama tidak ada. Namun, kalau menyangkut kepentingan bersama, mereka tetap bersatu menghadapi orang luar.Sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih kelua

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 6

    Setelah menelepon ke rumah, aku langsung mengurus prosedur keluar dari rumah sakit.Beberapa hari ini Andrew juga tidak datang, hanya mengirim telepon dan pesan. Namun, semuanya pun kuabaikan.Kalau bukan karena masih kurang satu surat perjanjian cerai, aku sudah lama memblokirnya sepenuhnya.Di hari aku keluar dari rumah sakit, Andrew datang. Tangan kirinya membawa termos makanan, tangan kanannya memegang seikat bunga lili, terlihat sangat berusaha menyenangkan.Namun, aku tidak menanggapinya, langsung menyerahkan surat perjanjian cerai yang sudah disusun pengacara kepadanya. "Kamu sudah datang, 'kan? Tandatangani saja."Andrew melirik surat itu, alisnya kembali berkerut. Melihatku sudah berkemas rapi dan ranjang rumah sakit juga sudah kosong, wajahnya langsung menjadi suram. "Siapa yang izinin kamu keluar? Kenapa nggak bilang padaku?"Melihat dia sengaja menghindari membicarakan perceraian, aku benar-benar kehilangan kesabaran. "Andrew, kamu punya hak apa untuk menuntutku? Tolong jan

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 5

    "Nggak, nggak, ini nggak mungkin. Istriku, bilang padaku ini palsu! Kenapa kamu ....""Karena aku nggak ingin mengandung anakmu! Aku nggak mau punya hubungan apa pun lagi denganmu! Andrew, aku mau cerai darimu! Aku mau benar-benar memutus semua hubungan denganmu! Seumur hidupku aku nggak mau lagi melihat wajahmu! Keluar dari duniaku, pergi kamu!"Kebencian karena kehilangan anak, juga semua kepahitan selama bertahun-tahun, semuanya kuluapkan dengan teriakan.Penglihatanku menggelap, aku benar-benar kehilangan kesadaran.Saat bangun lagi, sudah tiga hari kemudian. Begitu membuka mata, yang kulihat adalah langit-langit rumah sakit yang putih menyilaukan dan bau disinfektan yang menyengat.Shani dengan lingkar mata hitam langsung menggenggam tanganku. "Windy, maaf ya, benar-benar maaf. Semua salahku yang gegabah sampai menyeretmu."Andrew duduk di kursi sambil memegangi kepala, suaranya tercekat. Melihatku bangun, matanya merah saat mempertanyakanku, "Istriku, kenapa kamu gugurin anak itu

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 4

    Keesokan harinya di rumah sakit, aku memegang obat sambil menelepon sahabatku.Saat pintu lift terbuka, aku justru melihat Andrew. Tatapan kami langsung bertemu, kami sama-sama terkejut.Aku kira dia datang mencariku. Baru saja ingin membuka mulut untuk menjelaskan, dari sudut mata aku melihat sosok kecil di sampingnya.Pada akhirnya, aku menelan kembali kata-kataku. Sepertinya aku berpikir terlalu jauh.Ekspresi Andrew hanya kaku sesaat, lalu dia segera menyembunyikan Fellyn di belakangnya. Nada bicaranya sangat tidak senang. "Kamu ngikutin aku lagi?"Belum sempat aku berbicara, Fellyn lebih dulu menggoyang lengannya dan berkata dengan suara manja, "Pak Andrew, kenapa kamu galak sekali sama Kak Windy? Nggak ada lembutnya sama sekali! Wajah Kak Windy pucat, dia pasti mau berobat. Jangan salah paham sama dia ya."Sambil berbicara, dia bahkan mengedipkan mata padaku dengan nakal."Kak Windy, maaf ya, kemarin aku sakit lambung parah. Pak Andrew itu bos yang baik dan sangat perhatian pada

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 3

    Pukul 3 dini hari, Andrew masih belum pulang. Karena tak bisa tidur, aku memutuskan menyetir keluar untuk mencarinya.Baru sampai di tempat parkir, aku melihat Andrew berjalan mendekat sambil menunduk. Di sudut bibirnya tergantung senyuman lembut penuh kasih sayang. Sepertinya dia sedang mengirim pe

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 2

    "Sudah tahu, cerewet sekali."Aku mengangkat kepala menatap Andrew. Baru kusadari dia sama sekali tidak benar-benar mendengar ucapanku dan hanya menjawab asal-asalan dengan samar.Tangannya sedang sibuk membalas pesan dengan cepat, sudut bibirnya sedikit terangkat. Dengan asal, dia mengeringkan ramb

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 1

    Saat aku hamil tiga bulan, suamiku menyuruhku menggantikan asistennya minum arak."Fellyn itu masih muda, badannya lemah, nggak bisa minum. Apa salahnya kamu bantu sedikit?"Aku baru mau bilang kalau aku sudah mabuk, tetapi Andrew secara paksa menyelipkan satu teko arak ke tanganku."Kamu kira aku n

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status