共有

Bab 3

作者: Makjos
Pukul 3 dini hari, Andrew masih belum pulang. Karena tak bisa tidur, aku memutuskan menyetir keluar untuk mencarinya.

Baru sampai di tempat parkir, aku melihat Andrew berjalan mendekat sambil menunduk. Di sudut bibirnya tergantung senyuman lembut penuh kasih sayang. Sepertinya dia sedang mengirim pesan suara.

Dia mengatakan sesuatu seperti "sayang" dan "sudah sampai rumah". Nada suaranya yang manja itu seperti anak muda yang sedang jatuh cinta. Andrew tidak pernah berbicara seperti itu padaku.

Aku sempat terpaku dan lupa menghindar. Di tangga, aku ditabraknya hingga hampir terjatuh.

Namun, saat dia menyadari itu aku, senyumannya langsung hilang, wajahnya seketika murung. Dia tidak membantuku, malah mematikan ponselnya dengan waspada, lalu memarahiku dengan kesal.

"Aku cuma pergi ke kantor sebentar, kamu perlu sampai keluar buat mencariku? Maksudmu apa? Kamu curiga sama aku? Sampai datang ke parkiran buat ngintai aku? Kamu nggak punya harga diri ya? Kenapa nggak sekalian aja pasang GPS di tubuhku?"

Lucu sekali, akhirnya aku benar-benar paham. Setiap kali selalu seperti ini. Jelas dia yang salah, tetapi dia memarahiku dengan percaya diri, melempar semua kesalahan kepadaku, menyuruhku introspeksi.

Aku malas meladeninya, jadi langsung melewatinya dan terus berjalan ke depan.

Pergelangan tanganku terasa sakit. Aku ditarik oleh Andrew secara paksa. Tenaganya sangat kuat. Kakiku langsung terkilir dan aku jatuh berlutut di lantai.

Andrew menatapku dari atas, sorot matanya penuh ketidaksabaran. "Aku belum selesai bicara, siapa yang suruh kamu pergi? Berdiri. Sudah sebesar ini masih pura-pura lemah."

Mungkin karena melihat keringat dingin di dahiku dan pergelangan kakiku yang bengkak dan merah, muncul sedikit kepanikan di matanya.

"Maaf, aku terlalu kasar. Tapi siapa suruh kamu setiap hari bikin aku marah." Setelah itu, dia membungkuk hendak menggendongku.

Aku berusaha mendorongnya, tetapi dia meraih tanganku dengan kasar, langsung mengangkatku. "Nurut saja, jangan banyak gerak."

Setelah sampai di rumah, Andrew mengambil kotak P3K, mengobati pergelangan kakiku dengan teliti sambil terus mengomel hal-hal sepele.

Kalau dulu, aku pasti akan sangat tersentuh. Dulu setiap gerak-geriknya bisa menggoyahkan hatiku. Semangkuk mi yang dia buatkan, kartu yang dia tulis sendiri, semuanya kusimpan erat di dalam hati. Bahkan satu pujian saja bisa membuatku bahagia lama. Namun sekarang melihatnya, hatiku tidak beriak sedikit pun.

Saat Andrew pergi mengganti obat, layar ponselnya tiba-tiba menyala. Itu pesan WhatsApp dengan nama kontak "Fellyn Bidadariku".

[ Terima kasih, Bos. Ini tas Hermes pertamaku, aku suka banget! ]

[ Bos temani aku sampai selarut ini, Kak Windy nggak akan marah? Aku tahu Kak Windy pemarah. Ini gara-gara aku sakit lambungku tiba-tiba kambuh. Huhu. ]

[ Tapi aku sekarang merasa sakit lagi karena Bos nggak di sini. Gimana dong? ]

Heh, aku tersenyum sinis.

Saat itu, Andrew datang membawa secangkir obat sambil mengaduknya dengan sendok. Sikapnya yang seperti suami perhatian membuatku muak.

Aku tak bisa menahan diri, jadi menutup mulut dan mulai mual.

Andrew langsung menepuk punggungku, menyerahkan obat itu kepadaku. "Cepat minum, sudah nggak panas."

Sebelumnya aku memang sering minum obat herbal, tetapi belakangan sudah berhenti. Yang di kulkas semuanya sudah kedaluwarsa.

Aku mengernyit dan mendorongnya, lalu berkata, "Terima kasih, aku nggak minum. Buang saja."

Andrew mengerutkan kening, mengangkat wajahku dengan paksa. "Kalau sakit ya minum obat. Aku repot-repot begini, kamu malah suruh buang?"

Bau menyengat obat herbal membuat mataku berair. Rasa mual yang bergejolak di perut membuat kepalaku seperti mau pecah. Aku langsung menepis cangkir itu hingga jatuh.

"Aku sudah bilang, aku nggak minum!"

Andrew langsung berdiri dengan marah, urat di wajahnya menegang. "Windy, jangan nggak tahu diri! Aku sudah lembur sampai baru pulang sekarang, tapi masih mau hangatin obat buat kamu! Aku sudah cukup baik, kamu masih mau apa lagi?"

"Aku cuma nyuruh kamu gantiin Fellyn minum sekali, kamu perlu terus menyulitkanku? Coba tanya, bos mana yang nggak akan melakukan hal seperti itu? Apalagi Fellyn masih muda. Sebagai laki-laki, aku harus lebih menjaganya. Apa aku salah?"

"Seharian ini aku sudah ngalah kasih kamu, tapi kamu malah makin menjadi-jadi. Kamu kira kamu masih gadis 18 tahun? Nggak tahu diri!"

Seluruh tubuhku terasa sangat tidak nyaman, aku tidak ingin bertengkar dengannya. Aku hanya bisa berkata dengan lemah, "Bukan begitu maksudku. Kamu mau bersikap bagaimana ke Fellyn, aku sama sekali nggak peduli dan juga nggak berhak ngatur. Aku cuma sekarang agak ...."

Belum selesai berbicara, aku kembali tak bisa menahan rasa mual.

Andrew mundur beberapa langkah dengan jijik. Dia tidak berniat membantu, malah menunjukku dengan marah. "Windy, dulu kamu masih bisa dibilang lembut dan anggun. Lihat dirimu sekarang, aku saja malu bawa kamu keluar. Kamu bisa nggak introspeksi diri?"

"Kamu setiap hari di rumah juga nggak ngapa-ngapain. Jangan kebanyakan curiga. Lebih sering dandan, bisa nggak? Aku benar-benar kecewa sama kamu."

Kata-katanya tanpa batas, seperti menelanjangiku dan mempermalukanku. Kalau saja dia punya sedikit rasa hormat, sedikit rasa iba, dan sedikit perhatian kepadaku, dia pasti akan menyadari keanehanku sekarang.

Namun, dia tidak dan aku juga tidak peduli lagi. Aku mengusap sudut bibirku, hanya berkata dengan tenang, "Oh, terserah kamu mau pikir apa."

Aku kembali ke kamar, berbaring di tempat tidur dengan kepala berat. Aku hanya mendengar Andrew masih berteriak memberi perintah di luar pintu.

"Sikap macam apa ini? Kamu sekarang masih punya sedikit sifat istri yang baik nggak sih? Entah kenapa dulu aku bisa suka sama kamu! Keberadaanmu di rumah ini saja buat aku susah bernapas! Aku benar-benar nyesal menikahimu!"

"Sebelum aku pulang, bereskan rumah sampai bersih dan jangan telepon aku! Jangan ganggu aku!"

Dengan suara keras, pintu utama dibanting, lalu semuanya kembali sunyi.

Aku menatap langit-langit gelap, menghela napas berat. Kemudian, aku membuka ponsel, melihat banyak postingan Fellyn di medsos.

Di foto, dia memperlihatkan punggungnya yang telanjang. Dia tampak berendam di bathtub sambil menikmati anggur merah, memandang pemandangan garis pantai yang mewah dan indah. Di bawahnya terdapat sebaris keterangan.

[ Kekasihku, kamu akhirnya tetap datang sesuai janji. ]

Aku keluar dari postingan itu dengan tenang, lalu mengirim pesan janji temu ke dokter kandungan.

Beberapa takdir buruk memang seharusnya diakhiri lebih cepat. Tanpa perasaan sedih atau bahagia, malam itu aku tidur nyenyak.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 9

    Setelah itu, entah dari mana Andrew mendapatkan kabar, dia mulai mencariku setiap hari, bahkan mengadangku di parkiran."Istriku, kamu nggak boleh blokir kontakku. Kita belum resmi ambil akta cerai, semuanya masih bisa diperbaiki.""Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau kamu putri Keluarga Wijaya? Aku memang nggak setia padamu, tapi kamu juga menyembunyikan sesuatu dariku, jadi kita impas! Ke depannya kita jalani hidup dengan baik ya?"Mengingat bagaimana dulu dia membentakku di parkiran, sekarang posisi kami terbalik, aku hanya merasa itu menggelikan.Melihat wajahnya yang lesu dan jasnya yang kusut, aku tersenyum. "Andrew, sepertinya akhir-akhir ini bisnismu nggak bagus ya? Aku kira tanpa aku yang kamu anggap beban, kamu akan terbang lebih tinggi."Andrew tidak menyangka aku akan berkata seperti itu. Dia seketika terdiam, lalu memalingkan wajah dengan bersalah.Dulu banyak keputusan di perusahaan yang dia jalankan setelah bertanya kepadaku. Orang lain mungkin tidak tahu, tetapi di

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 8

    Setelah kembali ke posisiku, aku justru terkejut menemukan bahwa semuanya jauh lebih cocok dari yang kubayangkan.Orang tuaku langsung mengumumkanku sebagai wakil presdir, sekaligus langsung masuk ke jajaran manajemen perusahaan, bahkan diberi saham.Awalnya kukira akan ada yang meragukan, tetapi setelah kakakku memperkenalkanku, tidak ada satu pun petinggi yang berwajah serius itu mengajukan keberatan.Kakakku berbisik di telingaku, "Orang-orang tua ini semua tahu keluarga kita sangat melindungi orang sendiri."Setelah menjabat itu, aku beradaptasi dengan sangat cepat. Dalam laporan panjang yang bertele-tele, aku bisa langsung menemukan inti masalah.Di lingkungan kerja yang kompleks, aku bisa dengan cepat melihat kelebihan dan kekurangan setiap orang, lalu membagi tugas dengan tepat.Dalam negosiasi bisnis, aku hanya menggunakan pertukaran kepentingan tanpa perlu duduk di meja minum.Dengan pengamatan tajam, aku dengan cepat menemukan titik keseimbangan yang memuaskan kedua belah pih

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 7

    Setelah menandatangani perjanjian, tinggal menunggu masa tenang satu bulan lewat, aku sudah bisa mendapatkan akta cerai.Aku menghapus semua kontak Andrew dan menyerahkan semuanya kepada pengacara untuk ditangani.Saat pulang ke rumah, yang mengejutkanku adalah, ayah, ibu, dan kakakku tidak menyalahkanku, malah tidak ada yang menyinggung soal aku kabur dari rumah dulu karena keras kepala.Aku berbaring di kamarku sendiri, menyadari tata letak dan perabotnya masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah.Tiba-tiba aku merasa hatiku sangat tenang dan damai. Waktu kecil aku tidak mengerti orang tuaku di luar adalah pemimpin di dunia bisnis, tetapi di rumah justru penuh pertengkaran tanpa henti.Sampai aku SMP, karena masalah harta, mereka memilih hanya menjadi pasangan formalitas.Di belakang, masing-masing punya kekasih, cinta sudah lama tidak ada. Namun, kalau menyangkut kepentingan bersama, mereka tetap bersatu menghadapi orang luar.Sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih kelua

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 6

    Setelah menelepon ke rumah, aku langsung mengurus prosedur keluar dari rumah sakit.Beberapa hari ini Andrew juga tidak datang, hanya mengirim telepon dan pesan. Namun, semuanya pun kuabaikan.Kalau bukan karena masih kurang satu surat perjanjian cerai, aku sudah lama memblokirnya sepenuhnya.Di hari aku keluar dari rumah sakit, Andrew datang. Tangan kirinya membawa termos makanan, tangan kanannya memegang seikat bunga lili, terlihat sangat berusaha menyenangkan.Namun, aku tidak menanggapinya, langsung menyerahkan surat perjanjian cerai yang sudah disusun pengacara kepadanya. "Kamu sudah datang, 'kan? Tandatangani saja."Andrew melirik surat itu, alisnya kembali berkerut. Melihatku sudah berkemas rapi dan ranjang rumah sakit juga sudah kosong, wajahnya langsung menjadi suram. "Siapa yang izinin kamu keluar? Kenapa nggak bilang padaku?"Melihat dia sengaja menghindari membicarakan perceraian, aku benar-benar kehilangan kesabaran. "Andrew, kamu punya hak apa untuk menuntutku? Tolong jan

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 5

    "Nggak, nggak, ini nggak mungkin. Istriku, bilang padaku ini palsu! Kenapa kamu ....""Karena aku nggak ingin mengandung anakmu! Aku nggak mau punya hubungan apa pun lagi denganmu! Andrew, aku mau cerai darimu! Aku mau benar-benar memutus semua hubungan denganmu! Seumur hidupku aku nggak mau lagi melihat wajahmu! Keluar dari duniaku, pergi kamu!"Kebencian karena kehilangan anak, juga semua kepahitan selama bertahun-tahun, semuanya kuluapkan dengan teriakan.Penglihatanku menggelap, aku benar-benar kehilangan kesadaran.Saat bangun lagi, sudah tiga hari kemudian. Begitu membuka mata, yang kulihat adalah langit-langit rumah sakit yang putih menyilaukan dan bau disinfektan yang menyengat.Shani dengan lingkar mata hitam langsung menggenggam tanganku. "Windy, maaf ya, benar-benar maaf. Semua salahku yang gegabah sampai menyeretmu."Andrew duduk di kursi sambil memegangi kepala, suaranya tercekat. Melihatku bangun, matanya merah saat mempertanyakanku, "Istriku, kenapa kamu gugurin anak itu

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 4

    Keesokan harinya di rumah sakit, aku memegang obat sambil menelepon sahabatku.Saat pintu lift terbuka, aku justru melihat Andrew. Tatapan kami langsung bertemu, kami sama-sama terkejut.Aku kira dia datang mencariku. Baru saja ingin membuka mulut untuk menjelaskan, dari sudut mata aku melihat sosok kecil di sampingnya.Pada akhirnya, aku menelan kembali kata-kataku. Sepertinya aku berpikir terlalu jauh.Ekspresi Andrew hanya kaku sesaat, lalu dia segera menyembunyikan Fellyn di belakangnya. Nada bicaranya sangat tidak senang. "Kamu ngikutin aku lagi?"Belum sempat aku berbicara, Fellyn lebih dulu menggoyang lengannya dan berkata dengan suara manja, "Pak Andrew, kenapa kamu galak sekali sama Kak Windy? Nggak ada lembutnya sama sekali! Wajah Kak Windy pucat, dia pasti mau berobat. Jangan salah paham sama dia ya."Sambil berbicara, dia bahkan mengedipkan mata padaku dengan nakal."Kak Windy, maaf ya, kemarin aku sakit lambung parah. Pak Andrew itu bos yang baik dan sangat perhatian pada

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 1

    Saat aku hamil tiga bulan, suamiku menyuruhku menggantikan asistennya minum arak."Fellyn itu masih muda, badannya lemah, nggak bisa minum. Apa salahnya kamu bantu sedikit?"Aku baru mau bilang kalau aku sudah mabuk, tetapi Andrew secara paksa menyelipkan satu teko arak ke tanganku."Kamu kira aku n

  • Tersadar Setelah Menikah Bertahun-tahun   Bab 2

    "Sudah tahu, cerewet sekali."Aku mengangkat kepala menatap Andrew. Baru kusadari dia sama sekali tidak benar-benar mendengar ucapanku dan hanya menjawab asal-asalan dengan samar.Tangannya sedang sibuk membalas pesan dengan cepat, sudut bibirnya sedikit terangkat. Dengan asal, dia mengeringkan ramb

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status