LOGIN“Apa rencanamu lagi sekarang?”Adrian meletakkan segelas whiskie di atas meja, ketika dia mengunjungi Nash di perusahaannya. Nash terlihat menimbang-nimbang, lalu dia menatap Adrian.“Penjara pribadi!”“Maksudmu?”“Pindahkan dia ke bunker bawah tanah. Dia hanya boleh makan sekali sehari, cukup untuk bertahan hidup, tapi tak cukup kuat untuk bisa membela diri.”“Kau ingin dia mengalami delusi atau gangguan disorientasi?”Nash mengangguk.“Tapi dengan kekuatan mentalnya, akankah dia mengalaminya?”“Entahlah. Tapi aku hanya ingin dia mengatakan alasan kenapa dia menyakiti ibuku. Aku perlu tahu alasannya.”Adrian mengangguk, dia mengerti. “Aku dan Bernad akan melakukannya.”“Tidak perlu, Adrian. Biar Bernad saja.”Adrian melirik Nash, dia mengangkat alis. “Kenapa? Sekarang kau tak mau aku terlibat rencanamu?”“Bukan itu.” Nash mendesah, dia teringat dengan tangisan Mila setiap kali Mila datang menemui Chloe. “Kau yakin akan meninggalkan Mila selamanya?”“Sudah ku bilang jangan sebut naman
Lampu-lampu taman depan menyala ketika mobil Nash berhenti di depan rumah milik orang tua Chloe. Nash mengernyit, melepas sabuk pengamannya sambil mengamati rumah itu. “Kenapa mengajakku ke sini?”“Ini rumah orang tuaku,” jawab Chloe. “Turunlah. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”Nash tahu, dia pernah ke sini ketika Chloe tidak pulang selama beberapa hari. Nash mengikuti langkah kaki Chloe ke dalam rumah. Ketika hendak melepas sepatunya, Chloe melarangnya. Tangan gadis itu menggenggam tangan Nash, membimbingnya masuk dan langsung menuju halaman belakang.“Apa yang ingin kau tunjukkan?” Nash menahan tangan Chloe.“Seseorang,” gumam Chloe, dia menuruni anak tangga yang hanya berjumlah dua buah itu menuju pohon flamboyan yang tumbuh tinggi di sana.“Seseorang?” Nash makin bingung.Dia melihat sekelilingnya, namun dia tidak mendapati orang lain di sana selain mereka berdua. Dan ketika Chloe memetik beberapa potong bunga segar yang tumbuh subur di sana, dia makin tidak mengerti.“Apa y
Daisy merasakan seluruh tubuhnya ngilu. Ketika membuka mata, dia malah menemukan dirinya berada dalam satu kamar dan dia sedang tidur di atas ranjang. Daisy memejamkan mata, merasakan sakit di bagian tubuh bawahnya.“Kedua pria itu sungguh liar,” gerutu Daisy.Dia mencoba duduk, namun dia baru menyadari kalau kedua tangannya dirantai. Dia terkesiap, ketika melihat tangannya diborgol dan terhubung dengan rantai panjang ke sudut-sudut kamar. Dia berusaha melepaskan diri, namun bunyi gemerincing rantai menyadarkannya, jika dia tidak akan bisa terlepas.“Sialan. Siapa kalian? Kenapa kalian melakukan ini padaku?” pekik Daisy.Bernad membuka pintu, menyapa Daisy dengan sebuah senyuman. Daisy menyipitkan mata, tidak mengenali Bernad sama sekali, namun wajah itu terasa sangat familiar baginya. Selagi Bernad berjalan mendekatinya, Daisy berpikir keras.Siapa dia? Dimana aku melihatnya? Kenapa dia menculikku?Siapa dia?Siapa ...Mata Daisy membulat, ketika menyadari pria itu adalah mantan mana
“Kau akan melakukan apa?” Adrian membuka pembicaraan di salah satu kamar hotel dimana dia dan Nash bertemu.Nash terlihat menuang wine ke dalam gelas, gerakannya santai dan terukur. Usai menuang wine, dia menyerahkan satu gelas pada Adrian. Pria itu mengamati Adrian dalam diam, lalu dia berdehem rendah.“Kenapa kau memutuskan pergi dari Mila?”Adrian meliriknya, tatapannya sayu. “Aku pikir kau mau bertemu denganku untuk membahas balas dendammu pada Daisy.”“Memang.” Nash mengangguk membenarkan. “Tapi ... kau menyembunyikan banyak hal.”Adrian diam, sangat lama. Dia terlihat hendak meminum anggur dari gelas, namun urung melakukannya. Nash tahu dia memikirkan banyak hal, dan Nash tidak berusaha mendesak. Adrian punya alasan kenapa dia tidak mau mengatakan apa pun padanya.“Aku ingin mencari Athena,” gumam Adrian, usai dia menenggak setidaknya tiga gelas wine. “Aku sudah memberikan semua bukti kecacatan perusahaan pada orang tua Mila dan Mila sendiri. Aku ... hanya menunggu waktu, kapan
“Adrian tidak datang ke sini.”Chloe, dalam pakaian tidurnya duduk menemani Mila ketika sahabatnya itu datang mengetuk pintu pagi-pagi sekali. Chloe terkejut ketika pelayan membangunkannya dan mengatakan Mila di bawah. Mila masih menggunakan pakaiannya semalam, dan Chloe menebak dia tidak pulang sama sekali.“Nash mana? Dia pasti tahu dimana Adrian!”“Masih tidur.” Chloe melirik Mila, dia tahu kalau Mila gelisah. “Kau dan Adrian bertengkar?”Tidak. Mereka sama sekali tidak bertengkar. Semalam, semuanya terasa sangat lambat namun hangat. Setiap sentuhan Adrian, walau asing, tetap saja membuat tubuh Mila terasa damai dan tenang. Tidak ada pertengkaran, tidak ada percakapan. Dia langsung tertidur setelah melakukannya dengan Adrian.Mila menggeleng. “Tidak sama sekali.”“Adrian menyusulmu pulang setelah kau pergi. Dia tidak mengatakan apa pun pada kami,” gumam Chloe.Mila memejamkan mata, rasa sakit di dadanya kembali. Ketika Mila diam, Chloe memperhatikan jemari gadis itu. Tangannya meng
Dan Adrian tidak menunggu lagi ketika panggilan usai. Dia kembali menautkan bibirnya, mencari setiap kehangatan dan kelembutan diri Mila selagi dia berharap ciuman itu akan melenyapkan apa pun yang membuat Mila merasa hilang arah.Mila bisa merasakan kari-jari kakinya menggelung akibat ciuman panas Adrian. Pria itu bahkan seolah tidak memberinya celah untuk bernapas. Ketika Mila menemukan akal sehatnya dan berusaha mendorong Adrian, pria itu juga tidak memberinya kesempatan itu.Seolah tahu jika mereka tak akan bisa bersatu –dan waktu yang mereka punya mungkin sudah selesai-, Adrian mencecap bibir Mila dengan penuh kegilaan. Adrian memeluk tubuh Mila erat, berpegangan padanya, menempelkan tubuhnya sedekat mungkin hingga Mila bisa merasakan jantung Adrian.Lidah Mila dengan cepat menemukan ritme Adrian, ikut bekerja sama dengan pria itu. Adrian melakukannya dengan sempurna, seolah batasan masa lalu diantara mereka telah lenyap walau pada kenyataannya bagi Adrian itu adalah ciuman perpi
Chloe tak mampu memahami tujuan hidupnya saat ini. Dia duduk menghadap jendela kaca, tatapannya kosong, pikirannya hampa. Chloe terhanyut pada saat-saat dimana dia terakhir kali merasakan kebahagiaan, 10 tahun lalu, sebelum kedua orang tuanya bunuh diri.Rasanya aneh ketika dia harus menjalani hidu
Cahaya matahari menyusup lembut melalui tirai tebal. Chloe membuka matanya perlahan-lahan, mencoba mengumpulkan kesadaran yang terasa masih menguap. Tubuhnya masih terasa dingin dan dia lelah luar biasa, seperti baru keluar dari badai besar.Dia bergerak sedikit, matanya bertemu dengan sepasang mat
Chloe mengunci pintu kamar mandi rapat-rapat. Ketika mereka kembali ke rumah, gadis itu langsung naik ke kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hati Chloe sakit bukan main. Dia tidak menyangka, selain tuduhan membunuh ibunya, Nash juga menganggapnya murahan.Tetes demi tetes air matanya mengalir
Chloe tiba di rumah, tapi dia tidak langsung masuk. Gadis itu duduk sendirian di halaman luas itu sambil memandangi langit yang kelam. Dia teringat pada Alex, pada ekspresi antusias adiknya itu saat bercerita tentang Nash.Dan detik berikutnya, Chloe ingat tentang bagaimana Nash memperlakukannya. K







