Share

Anjing Setia

Penulis: Koran Meikarta
last update Tanggal publikasi: 2026-06-16 20:37:25

Iris melangkah tergesa-gesa keluar dari pemandian. Wajahnya bersunggut-sunggut. Dadanya terasa sesak dan panas. Rasa ingin melampiaskan kemarahannya begitu kuat, sampai-sampai dia tidak memerhatikan langkahnya.

Hingga tubuhnya menabrak seseorang di depannya. Iris yang hilang keseimbangan, berusaha mengapai sesuatu sebagai pegangan. Namun alih-alih selamat, dia justru tetap jatuh.

Pantatnya langsung mencium lantai dingin cukup keras, bersamaan dengan kertas-kertas entah apa yang ikut berhambur
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tertawan oleh Don Mafia   Memfitnah?

    Tak. Dua buah gelas minuman diletakkan Victor tepat di depan Iris dan Silas. Gelas itu berisi cairan berwarna merah yang Iris langsung tahu jika itu adalah wine. Dia tidak mengambilnya sama sekali, saat Silas dan Victor tampak dengan santai menenggaknya. "Maaf, aku tidak minum alkohol," ucap Iris saat Victor meliriknya dan gelas yang tak tersentuh di meja secara bergantian. Pria paruh baya itu meletakkan gelasnya. "Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil jus—""Tidak usah."Iris spontan menggelengkan kepalanya saat Victor hendak memanggil anak buahnya yang berada di balik pintu ruangan. Membuat pria itu kembali menatapnya. "Aku tidak haus."Mata Victor bertahan beberapa detik padanya, sebelum akhirnya pria itu mengangguk. Membiarkan suasana canggung mengisi ruang kerja miliknya. Tidak seperti Dominic yang sangat ekspresif, Victor lebih tenang seperti Marcus. Hingga rasanya, Iris seperti terjebak oleh situasi, meski sebenarnya ini jauh lebih baik dibanding apa yang terjadi sebelu

  • Tertawan oleh Don Mafia   Pembuat Masalah

    "Awas!"Iris refleks berteriak. Tangannya mengambang di udara, tapi sebelum dia sempat melihat apa yang terjadi selanjutnya, sebuah tendangan mendarat tepat di dada pria yang hendak memukul Silas. Tubuh itu seketika terjengkang dan membentur sebuah mesin permainan di belakangnya. Botol minuman meluncur dari tangannya dan pecah di lantai. Mulutnya tampak menyembur mengeluarkan darah, tapi pria itu masih sadar. Iris terkesiap. Tengkuknya langsung merinding dan matanya seketika tertuju pada Silas, pelaku yang menendang pria tadi. Suasana di kasino itu juga mendadak hening. Iris tidak sempat memerhatikan sekeliling, karena matanya dibuat terpaku pada cara Silas yang mencoba menghentikan kekacauan, dengan membuat kekacauan yang lebih besar. "Uhuk! KAU! BAJINGAN SIALAN!" Pria yang ditendang Silas batuk darah, tapi tetap berusaha berdiri sambil dibantu dua pengawalnya. Suasana kini tidak lagi terasa kondusif. Kemarahan pria tadi, tidak lagi tertuju pada permainan yang dianggapnya curang

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kekacauan di Kasino

    "Huh?"Iris berkedip. Dia terbengong dan mendadak berhenti. Kepalanya kembali menoleh ke belakang untuk melihat wanita tadi sudah tidak ada. Lalu dia melihat wanita lainnya yang sudah sibuk dengan pria yang memangkunya. Matanya mengamati penampilan mereka yang sangat terbuka. Tampak memalukan untuk dilihat. "Kau mucikari? Kau menjalankan bisnis prostitusi?" tanya Iris, yang kini perhatiannya kembali tertuju pada Silas. Pria ikut berhenti dan meliriknya. "Mereka membutuhkan pekerjaan."Mulut Iris seketika tekunci rapat. Dia menatap Silas dengan wajah tak percaya yang bercampur kaget. "Menjadi pelacur adalah pekerjaan bagimu? Kau mengeksploitasi mereka, kau sadar?" Suara Iris terdengar lebih seperti bisikan, tapi penuh penekanan. Rahangnya tampak menegang karena kesal dengan apa yang dikatakan Silas. Selain menjijikkan, baginya itu adalah hal yang paling tidak bermoral dan merendahkan bagi seorang wanita. Namun Silas justru dengan santai menariknya dan kembali melanjutkan langkahny

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kelab Malam

    Kebingungan Iris segera terjawab ketika mobil yang ditumpanginya, kini berhenti di pelataran sebuah gedung besar dengan sebuah papan yang di sekelilingnya dihiasi lampu berwarna emas dan putih. Lampu-lampu itu berkedip. Membuat nama "Solenne" yang tertulis di papan, menjadi sangat mencolok. Namun tidak norak atau terlalu ramai. Semuanya terasa pas dan elegan. Iris melongo melihat pemandangan itu. Sebelum matanya ditarik ke arah sebuah pintu yang ada di bawah papan nama itu. Di sana, dia melihat ada dua pria berbadan kekar berdiri sambil melipat tangan di dada. Sampai ketika Silas membuka pintu mobilnya, dua pria itu tersentak dan mulai mendekat. Iris mau tak mau ikut keluar karena Silas bahkan tidak mau repot untuk sekadar membuka pintu."Maaf, kami tidak menyangka Anda akan datang, Tuan."Salah seorang pria kekar itu tampak menunduk dan minta maaf saat Iris mendekat. Dia melihat ekspresi kaget di wajah mereka, seolah tak menyangka Silas akan datang.Namun Silas sendiri tampak tak

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tempat yang Berbeda

    Beberapa jam kemudian, waktu makan malam.Di sebuah restoran sederhana, tepatnya di pinggiran jalan yang masih berada di sekitar wilayah pelabuhan, Iris duduk berhadapan dengan Silas. Pria itu tidak memakai jas mahalnya. Hanya kemeja abu-abu dengan kancing terbuka. Silas tampak santai saat menyantap makan malamnya, seolah pria itu benar-benar tidak menyadari, jika hampir semua wanita di restoran sedang menatap lapar ke arahnya. Penampilannya yang santai seperti ini, mengingatkan Iris kembali pada momen pertemuan mereka di kafe. Di mana dulu dia termasuk ke dalam kelompok wanita yang terpesona pada penampilan Silas. Bibirnya tanpa sadar tersenyum kecut. Pegangannya pada garpu menguat. Hingga tanpa disengaja, Iris menusuk kasar daging di piringnya. Menimbulkan suara decitan yang mengganggu. Sampai memaksa Silas untuk menoleh. "Makanlah."Bukannya menurut, Iris malah mendengkus. Dia melirik kembali para wanita yang masih memerhatikan Silas. Sebelum kembali tertuju pada pria itu. "Ke

  • Tertawan oleh Don Mafia   Aturan Dunia Silas

    "Saya mendengar Nona pingsan."Mata Iris bergerak. Kegelapan masih menyelimutinya, tapi telinganya samar-samar mendengar suara yang tak asing dan derap langkah kaki yang mendekat. "Dia hanya shock.""Apa dokter sudah memeriksanya? Haruskah saya—""Tidak perlu. Dia sudah bangun. Buka matamu."Suara Silas yang terdengar sedikit memerintah, menyentak kesadaran Iris. Matanya bergerak perlahan. Menyesuaikan cahaya yang masuk, sebelum dia akhirnya benar-benar membuka mata sepenuhnya. Untuk beberapa saat, Iris hanya menatap langit-langit ruangan. Dia mengalami disorientasi. Sampai suara langkah kaki yang semakin dekat, seketika menarik perhatiannya. Dia menoleh. Mendapati kehadiran Silas yang berhenti dan duduk di kursi tepat di seberangnya. Sementara di sampingnya, berdiri Marcus yang menatap ke arahnya. Dia melihat keduanya bingung, sampai kemudian, kilas balik adegan sebelumnya tiba-tiba muncul. Seketika, matanya melotot dan Iris spontan terduduk di sofanya. Tatapannya kini tertuju pe

  • Tertawan oleh Don Mafia   Sisa Harga Diri

    "Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kehadiran yang Tak Diharapkan

    "Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Kesepakatan

    Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”

  • Tertawan oleh Don Mafia   Perlawanan

    "Masuklah!" Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Buka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status