ANMELDENSebuah mobil silver berhenti di pelataran manor. Sebastian keluar dan segera disambut oleh dua penjaga. Matanya menatap keduanya, sebelum beralih pada pintu manor yang tertutup. Hari sudah malam ketika dia tiba di sana. "Silas di dalam?" "Ya, Tuan besar. Apa Anda ingin bertemu? Kami akan memberitahu—" "Tidak, aku akan menemuinya sendiri." Tanpa menunggu respons keduanya, Sebastian segera berjalan dengan langkah lebar dan sedikit tergesa-gesa. Dia sudah terlalu lama menunggu ini. Sebastian berharap Silas benar-benar ada di dalam. Karena dia tidak mungkin mencari anaknya di setiap rumah yang tersebar di seluruh Valenor. Beberapa pelayan yang datang menyapa dan memberi hormat, diabaikannya. Sebastian terus melangkah, sampai di ruang tengah dia menemukan keberadaan seseorang yang tak asing. Langkahnya melambat. Matanya menyipit ketika melihat punggung seorang wanita yang duduk di kursi roda. Menghadap ke arah televisi yang menampilkan sebuah berita. Berita yang masih memba
"Makan siang sudah siap, Nona. Anda mau makan di sini atau di dalam?"Berta berdiri di samping Iris yang duduk di kursi roda. Mereka saat ini sedang berada di halaman belakang setelah kepulangan Iris dari pemakaman. Namun wanita itu tidak menjawab sama sekali. Pandangan Iris lurus ke depan. Pada hamparan bunga foxglove. Berta mengernyit dan seketika melambaikan tangan di depan wajahnya. Berusaha menarik perhatiannya kembali. "Nona, Anda mendengar saya?"Iris mengerjap dan menoleh. Lamunannya buyar. "Ada apa?"Berta menarik napas dan mensejajarkan tubuhnya dengan Iris, hingga nyaris bersimpuh. "Saya bertanya Anda mau di sini atau di dalam? Tapi sepertinya Anda memikirkan sesuatu sampai tidak mendengar saya. Terjadi sesuatu saat Anda pergi dengan Tuan?"Pertanyaan Berta tidak langsung dijawab. Iris diam beberapa saat ketika dirinya justru teringat kembali dengan penolakan ibunya Lona atau perkataan Silas yang menyebut semua ini pilihannya. Bibirnya tersenyum kecut dengan kedua tangan
"Kau harus menjelaskan semuanya."Iris tidak berhenti bicara. Dia menuntut jawaban dari Silas atas berita yang baru didengarnya. Meski sepanjang perjalanan, pria itu memilih bungkam. Sampai akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di manor, Silas masih tetap tidak bicara. Iris harus menahan gelisah saat dirinya digendong dan dipindahkan oleh pria itu. "Silas!""Penjelasan apa? Kau sudah mendengar semuanya," jawab Silas sambil mendorong kursi roda Iris untuk masuk. Suasana di manor tampak hening dan sepi. Tidak ada pelayan yang menyambut, tapi langkah Silas tidak berhenti. Sampai akhirnya mereka tiba di kamar Iris. "Aku tahu, tapi bukan itu maksudku."Iris berusaha memutar kursi rodanya untuk menghadap pria itu. Matanya menatap dengan rasa gelisah yang tidak bisa lenyap. "Kau baru saja menantang mereka. Kau membuat masalah. Bagaimana kalau mereka semakin berniat menargetkanku? Kau membuatku dalam bahaya!""Mereka tidak akan bisa menyentuhmu sekarang."Iris mendengkus kasar dan
Iris mendongak. Dia mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya. Matanya menatap ibu Lona dengan sedih. Tangannya terulur untuk menggapai."Tante—"Belum sempat melengkapi kalimatnya, tangan Iris ditepis kasar. Tubuhnya yang tidak siap dengan penolakan itu, seketika goyah. Hingga buket bunga yang digenggamnya terjatuh. "Pergi dari sini!"Iris terhenyak ketika ibu Lona tiba-tiba membentaknya. Dia bisa menyaksikan ekspresi marah dan tidak senang di sana. Sesaat, mulutnya hanya bisa terkatup.Dia sadar jika dirinya penyebab kematian Lona, tapi kedatangannya memiliki niat baik. "T-tante, tolong izinkan aku melihat Lona untuk terakhir kalinya." Iris mengiba. Dia kembali mencoba meminta izin untuk mengikuti acara pemakaman Lona. Ekspresi wajahnya yang keras, tidak berubah. Ibu Lona tampak memandang marah pada Iris. Dia bukan tidak tahu jika Iris telah bersama putrinya beberapa hari terakhir. Lona pernah bercerita soal Iris yang muncul kembali setelah menghilang berbulan-bulan. Bahkan
"Nona, itu tidak—""Aku akan mengantarmu."Suara lain menyela, tepat ketika Elliot hendak menolak keinginan Iris. Pintu ruangan terbuka semakin lebar dan di sana, Silas muncul bersama dengan dokter di belakangnya. Elliot seketika segera bergeser. Memberi ruang bagi Silas untuk mendekat. "Tuan, bukankah Nona sedang sakit?"Silas melirik Elliot sekilas. Lalu beralih cepat pada dokter yang segera berdehem pelan. "Anda benar, Sir Elliot. Kondisi Nona Iris memang tidak memungkinkan untuk berkeliaran bebas. Apalagi berjalan terlalu jauh."Iris menatap sang dokter dengan pandangan tidak setuju. Dia hendak mengeluarkan protes, tapi dokter kembali melanjutkan perkataannya. "Tapi itu bisa diatasi jika Nona tidak perlu berjalan. Saya sudah menduga hal ini, dan untunglah kursi roda telah tersedia untuk digunakan."Elliot mengangguk pelan. "Kalau begitu, saya akan menyiapkan mobil dan—""Tidak perlu." Silas segera memotong sebelum Elliot sempat pergi. Hingga langkah pria itu tertahan di tempat.
"Ini adalah ancaman. Seseorang telah mengusik keluarga kami dan bertindak seenaknya. Kami tidak bisa tinggal diam!"Suara seorang pria terdengar jelas di layar televisi. Ekspresi wajahnya menunjukkan ketidaksenangan. Kamera kemudian beralih, memperlihatkan beberapa video yang diambil di area gerbang kediaman Valenfort dari beberapa titik berbeda. Namun karena dianggap terlalu sadis, beberapa bagian dari video tampak disensor. Tidak ada yang tahu apa itu, jika pembawa acara tidak menjelaskannya. "Mereka langsung mengangkat ini menjadi drama," ucap Elliot, setelah menonton siaran berita sore itu. Penemuan tiga kepala yang ditancapkan di ujung gerbang kediaman Valenfort berhasil membuat heboh publik. Kemarahan mereka, terutama tuan muda Raphael terdengar sangat keras di layar TV. Berita mereka bahkan segera menggeser kasus kematian Lona dengan cepat. "Apa yang akan Anda lakukan sekarang, Tuan? Sepertinya mereka tahu itu Anda."Elliot menoleh dan mendapati Silas yang ternyata malah as
"Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b
"Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di
"Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r
"Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me







