เข้าสู่ระบบFokus Iris kembali tertuju pada dua orang yang tengah berlatih pedang. Melalui cahaya redup, dia bisa melihat pertarungan antara Silas dan Elliot. Dua pedang tumpul kembali beradu. Denting logam memecah keheningan malam. Elliot mundur setengah langkah, rahangnya mengencang. Sebaliknya, Silas tampak nyaris tidak berubah. Tatapannya tetap datar, bahkan napasnya masih terdengar stabil.Iris mengerjap pelan.Sejak tadi, Elliot terlihat seperti sedang bertahan. Sedangkan Silas... seolah hanya sedang menguji batas lawannya.“Apa sebenarnya yang tidak bisa dilakukan pria itu?”Iris mendesah pelan. Melihat cara Silas memegang pedang dan memojokkan Elliot, berhasil membuatnya merasakan sensasi hawa dingin di tengkuk. Dia pernah melihat pria itu bertarung dengan pistol, pisau atau bahkan tangan kosong. Sekarang dia melihat bagaimana pria itu dengan lihai memainkan pedang. Silas bergerak luwes. Bahkan meski beberapa hari lalu, bahu pria itu terluka karena serpihan bom. “Tuan sudah sering ber
“Bukan orang yang sama?”Elliot melangkah lebih dekat. Berdiri tepat di samping Silas. Dia melirik pria itu yang memandang lurus ke luar jendela. Ada sedikit kebingungan yang bercampur dengan penasaran. Tugas yang membuatnya pergi selama beberapa hari terakhir membuat Elliot tidak mengetahui secara rinci apa yang terjadi pada Silas. Dia hanya mendengar sekilas dari Marcus tentang pengkhianatan di gudang utara. “Mereka ingin membajak kereta,” sahut Silas tanpa menoleh ke arah Elliot. “James Ravenshade. Dia ingin membuatku rugi.”“Dia lagi?”Rahang Elliot mengencang. Dia tahu nama itu. Orang yang memang beberapa kali mengganggu bisnis mereka. Terakhir kali, James juga mengganggu di pelabuhan. Bersikap seakan pria itu mengenal dekat dan memiliki akses langsung terhadap keluarga Montclair, tapi berhasil dibereskan oleh Dominic. “Sepertinya dia dendam setelah insiden terakhir kali. Saya bisa memperingati Octavian jika Anda mau, Tuan.”“Tidak, aku sudah melakukannya.”Elliot menghembuska
Iris melangkah tergesa-gesa keluar dari pemandian. Wajahnya bersunggut-sunggut. Dadanya terasa sesak dan panas. Rasa ingin melampiaskan kemarahannya begitu kuat, sampai-sampai dia tidak memerhatikan langkahnya. Hingga tubuhnya menabrak seseorang di depannya. Iris yang hilang keseimbangan, berusaha mengapai sesuatu sebagai pegangan. Namun alih-alih selamat, dia justru tetap jatuh. Pantatnya langsung mencium lantai dingin cukup keras, bersamaan dengan kertas-kertas entah apa yang ikut berhamburan dan menutupi wajahnya. "Sial," umpatnya setengah mengerang. Iris yang emosi menarik kertas yang menutupi wajahnya dan meremasnya. Sampai akhirnya dia bisa melihat siapa orang yang dia tabrak. Itu adalah Elliot. Pria yang beberapa hari ini tidak dilihatnya, sedang menatapnya dengan dingin. Bibir pria itu tampak menipis seperti menahan jengkel dan saat matanya melirik ke arah tangan Elliot, barulah Iris sadar, pria itu sedang memegang map. Selembar kertas yang tersisa di map itu melayang seb
Langkah Iris tertahan. Tubuhnya berubah kaku. Dia mendengar suara langkah di belakangnya yang mendekat dan berhenti tepat di sebelahnya. Dia langsung menoleh. Tubuhnya berbalik menghadap Silas. Iris menggigit bibirnya dalam-dalam. Tanpa dijelaskan, dia tahu apa maksudnya. Pria ini membahas masalah di kereta. Hal yang dia kira telah dilupakannya. "Maksudmu apa, ya? Kesalahanku?" tanya Iris dengan senyum yang dibuat-buat. "Tidak perlu berpura-pura. Kau mengerti dengan jelas."Senyum Iris patah. Dia membuang napas kasar dan berdecak. "Apa kau pendendam? Kau harusnya juga sudah tahu, aku hanya mencoba bertahan hidup dan kau juga tidak mungkin mati dengan mudah."Iris berharap dalihnya masuk akal untuk Silas. Dia memang tahu pria itu sulit untuk dibunuh, bahkan oleh puluhan orang terlatih yang mengejar mereka. Namun saat di kereta, dia benar-benar berharap Silas mati. Sialnya, dia tidak menyangka, penyusup itu sama sekali bukan orang terlatih seperti dua insiden sebelumnya. Mereka tida
"O-om minta maaf," ucap Octavian dengan nada lemah dan sedikit terbata-bata. Dia menelan ludah susah payah. Matanya terpejam beberapa detik, sebelum kembali terbuka. "Maafkan Om soal James." "Kau tahu dengan jelas, bukan itu yang ingin aku dengar.""Biarkan Om bicara dengannya. Om janji, ini tidak akan terjadi." Iris bisa melihat tekanan, kegelisahan dan ketidakmampuan untuk menolak yang terlihat jelas di wajah pria paruh baya itu. Itu bukan takut, tapi seperti sebuah keterpaksaan. Seolah tidak ada keberanian bagi Octavian untuk melawan Silas. Meski sebelumnya, pria itu tampak percaya diri sebagai teman orang tua Silas. Namun satu hal yang dia tahu saat ini, Octavian tampaknya juga tidak tahu menahu soal apa yang dilakukan pria bernama James itu. "Ini bukan yang pertama." "Om yang akan mengurusnya." Octavian tak membantah atau mempertanyakan perkataan Silas lagi. Dia hanya tampak pasrah. Reaksinya itu, membuat dada Iris sedikit sesak. Meski Octavian pernah memperlakukannya den
"Silas?""Kak Silas di sini?"Saat nama itu disebut, ada dua reaksi yang terlihat. Octavian tampak tegang dan serius. Sementara Lyra tampak berseri. Kemarahan dan rasa kesal yang sempat dirasakannya, mendadak lenyap tanpa jejak. Senyumnya melebar. "Biarkan dia masuk! Ah, tidak, aku yang akan ke sana menyambutnya."Sebelum Octavian menahan putrinya, Lyra segera berlari keluar ruangan. Menabrak pria yang menghalangi pintu masuk. Octavian menghela napas. "Apa yang ingin dia bicarakan?""Saya tidak tahu, Tuan, tapi sepertinya ada sesuatu yang serius."Ketegangan Octavian tidak mereda, justru meningkat. Karena tidak biasanya Silas datang langsung ke kediamannya. Hubungan mereka juga tidak sedekat seperti dia dengan Sebastian. Namun Octavian tidak punya pilihan selain menyambut pria itu. "Suruh pelayan menyiapkan minuman.""Baik, Tuan."Octavian bergerak melangkah keluar dari ruang kerja. Dia berjalan mengikuti Lyra yang sudah lebih dulu pergi. Rumah itu tampak sepi. Istri dan putri per







