MasukTiga hari berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Elara. Iris tidak bisa berhenti memikirkannya. Tidak juga bisa menanyakan langsung pada Silas. Pria itu sibuk dan hampir belum pulang ke rumah. Dia tidak tahu di mana Silas berada. Satu-satunya orang yang sering terlihat hanyalah Elliot. Tentu saja, semenjak Silas meminta Elliot melatihnya, dia jadi sering bertemu dengan pria itu. Sampai rasanya Iris benar-benar muak melihat wajahnya. "Berta, apa yang kau tahu soal Elara?" tanya Iris tiba-tiba saat dirinya sedang duduk di sebuah bangku taman belakang. Matanya melirik helipad yang tidak terdapat helikopter. Beberapa hari sebelumnya, Dominic pergi dengan itu. "Elara? Nona Elara Ravenshade?"Iris menoleh. Dia melihat Berta menatap bingung. "Siapa lagi? Memang ada Elara yang kukenal?"Alih-alih tersinggung, Berta hanya tertawa kecil saat nada bicara Iris sedikit ketus. "Saya tidak tahu banyak soal beliau. Saya hanya tahu kalau keluarga Ravenshade memiliki hubungan baik dengan kelu
Iris keluar gedung masih memikirkan jawaban Silas. Dia sama sekali tidak fokus pada hal lain, bahkan ketika penjaga menyapanya. Sampai nyaris saja Iris menabrak seorang pekerja yang melintas. "Astaga, maaf," ucapnya refleks. Namun alih-alih mendapat tanggapan baik, pekerja tersebut malah mendelik sambil menggerutu, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Iris yang terdiam sambil meringis. "Pelabuhan ini akan diperluas?""Iya, kami butuh tempat yang lebih cukup untuk kapal-kapal yang semakin banyak."Suara Dominic. Tepat ketika suara itu tertangkap telinganya, Iris tanpa sadar langsung mencari asal suaranya. Hingga dia mendapati keberadaan Dominic yang berada beberapa meter darinya. Pria paruh baya itu tidak sendiri. Di sana rupanya masih ada Elara. Keduanya berdiri menghadap area pelabuhan, menyaksikan pembangunan baru yang masih setengah jadi. "Pelabuhan ini berkembang pesat di tangan Paman."Dominic tersenyum. "Paman merasa tersanjung mendengarnya, tapi sejujurny
Perkataan Iris terputus tepat saat pintu ruangan dibuka. Tiga pasang mata spontan tertuju padanya. Iris bisa melihatnya. Itu adalah Dominic, Silas dan.... "Elara?" panggilnya setengah berbisik. Napas Iris tercekat. Matanya membulat ketika dia mendapati kehadiran seseorang yang tidak asing. Seperti dugaannya, memang ada wanita yang bersama Silas saat ini, tapi ini sama sekali bukan seperti yang dia bayangkan. Iris melihat sofa saling berhadapan dan sebuah meja tepat di tengahnya. Di mana Silas duduk bersama Dominic, sedangkan Elara berada di seberangnya. Di atas meja tersebut, matanya menemukan map-map yang tidak dia tahu apa itu."Tolong kau pikirkan dulu sebelum menjawabnya. Ini tidak akan membuatmu rugi, aku janji."Dahi Iris berkerut saat suara Elara memecah keheningan beberapa detik sebelumnya. Perhatian Elara tertuju kembali pada Silas, begitu pun pria itu. Seolah keduanya tidak peduli dengan dia yang masuk tanpa mengetuk. Satu-satunya orang yang memerhatikanya hanyalah Domi
Matahari bersinar sangat cerah pagi itu. Cahayanya yang hangat, cukup untuk menyinari kamar Iris. Di mana saat ini dia sedang bercermin. Pakaian olahraga melekat di tubuhnya. Tidak terlalu ketat, tapi tidak juga longgar. Tubuhnya yang dulu tampak ringkih, kini terlihat sedikit berisi. Iris bisa melihat pergelangan tangannya yang tidak sekecil dulu. Wajahnya yang tirus pun, tidak terlihat lagi. Meski kulitnya masih sedikit pucat. Iris memutar tubuhnya untuk memerhatikan lebih detail, sebelum dia melihat tengkuknya. Luka-luka dulu yang disebabkan oleh Silas dan Elliot, kini tampak memudar. Walaupun gara-gara itu, tubuhnya tidak semulus dulu. Saat Iris mencoba menurunkan sedikit bajunya di bagian bahu, pintu ruangan tiba-tiba dibuka. Menyentaknya seketika dan refleks membuatnya mengalihkan pandanga."Oh, Nona, Anda sedang apa? Apa saya mengganggu?"Iris menghela napas kasar saat melihat orang yang membuka pintu adalah Berta. Kedua bahunya seketika terkulai lemah. "Berta, aku kira si
"Istirahatlah, Paman akan kembali ke pelabuhan."Iris menatap Dominic yang kembali berjalan menuju mobilnya. Pria tua itu hanya mengantarnya kembali ke rumah setelah makan malam yang tidak direncanakan. "Hati-hati, Paman," ucapnya saat Dominic melambaikan tangan sebelum mobilnya kembali pergi. Matanya terus memerhatikan mobil tersebut yang melaju ke jalanan menuju pelabuhan. Tidak terlalu jauh, hingga Iris masih bisa melihat dengan jelas perjalanannya. Dia berbalik dan melangkah masuk ke dalam ketika mobil Dominic sudah sangat jauh. Tampak beberapa pelayan masih berkeliaran. Lampu juga masih dalam menyala terang. Iris tidak melihat kiri kanan saat dia melewati ruang tengah. Setidaknya sampai telinganya mendengar suara seseorang menegurnya. "Bersenang-senang?"Langkah Iris langsung terhenti. Dia tersentak di tempat, sebelum tubuhnya perlahan berbalik, hanya untuk melihat Silas yang duduk bersandar di sofa. Pria itu menatapnya dengan ekspresi santai sembari meletakkan kertas yang
"Jadi, bagaimana latihanmu tadi? Silas sibuk, kau latihan sendiri?"Iris melirik Dominic yang duduk di depannya. Pria itu benar-benar membawanya ke restoran yang berada tak jauh dari pelabuhan. Menjauh dari lokasi di mana Silas berada. Hingga setelah sekian lama, akhirnya Iris bisa melihat suasana luar yang berbeda. Tidak seperti saat Silas membawanya ke gala atau ke rumah orang tua pria itu. Sekarang, dia hanya pergi ke restoran, di mana orang-orang makan tanpa menatapnya penasaran. Mereka sibuk masing-masing. Tidak terganggu sama sekali dengannya. Kehadiran Dominic juga tidak menarik perhatian. Tidak seperti Silas yang selalu berhasil menyedot seluruh atensi semua orang. "Latihannya lancar. Tidak, Elliot menggantikannya. Dia yang mengawasiku," gumamnya sambil tersenyum kecut. Iris tiba-tiba merasa tidak nyaman saat dia mengucap nama Elliot atau berbohong pada Dominic. Latihannya sama sekali tidak lancar, dan sialnya, kejadian yang sempat dilupakannya tiba-tiba kembali muncul da
"Masuklah!" Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Buka
Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat seb
"A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia
Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri be







