FAZER LOGIN"Nona, itu tidak—""Aku akan mengantarmu."Suara lain menyela, tepat ketika Elliot hendak menolak keinginan Iris. Pintu ruangan terbuka semakin lebar dan di sana, Silas muncul bersama dengan dokter di belakangnya. Elliot seketika segera bergeser. Memberi ruang bagi Silas untuk mendekat. "Tuan, bukankah Nona sedang sakit?"Silas melirik Elliot sekilas. Lalu beralih cepat pada dokter yang segera berdehem pelan. "Anda benar, Sir Elliot. Kondisi Nona Iris memang tidak memungkinkan untuk berkeliaran bebas. Apalagi berjalan terlalu jauh."Iris menatap sang dokter dengan pandangan tidak setuju. Dia hendak mengeluarkan protes, tapi dokter kembali melanjutkan perkataannya. "Tapi itu bisa diatasi jika Nona tidak perlu berjalan. Saya sudah menduga hal ini, dan untunglah kursi roda telah tersedia untuk digunakan."Elliot mengangguk pelan. "Kalau begitu, saya akan menyiapkan mobil dan—""Tidak perlu." Silas segera memotong sebelum Elliot sempat pergi. Hingga langkah pria itu tertahan di tempat.
"Ini adalah ancaman. Seseorang telah mengusik keluarga kami dan bertindak seenaknya. Kami tidak bisa tinggal diam!"Suara seorang pria terdengar jelas di layar televisi. Ekspresi wajahnya menunjukkan ketidaksenangan. Kamera kemudian beralih, memperlihatkan beberapa video yang diambil di area gerbang kediaman Valenfort dari beberapa titik berbeda. Namun karena dianggap terlalu sadis, beberapa bagian dari video tampak disensor. Tidak ada yang tahu apa itu, jika pembawa acara tidak menjelaskannya. "Mereka langsung mengangkat ini menjadi drama," ucap Elliot, setelah menonton siaran berita sore itu. Penemuan tiga kepala yang ditancapkan di ujung gerbang kediaman Valenfort berhasil membuat heboh publik. Kemarahan mereka, terutama tuan muda Raphael terdengar sangat keras di layar TV. Berita mereka bahkan segera menggeser kasus kematian Lona dengan cepat. "Apa yang akan Anda lakukan sekarang, Tuan? Sepertinya mereka tahu itu Anda."Elliot menoleh dan mendapati Silas yang ternyata malah as
"Anda terlihat kurus. Anda tidak makan dengan benar, Nona."Iris hanya diam mendengar perkataan Berta. Dia mengunyah makanan yang telah dilembutkan oleh pelayan itu. Rasanya hambar. Membuatnya sama sekali tidak berselera makan, tapi dia telah kelaparan. Air matanya sendiri telah surut. Hanya jejak-jejaknya yang masih tersisa di kedua pipinya yang penuh luka. "Wajah Anda juga lebam. Anda seperti habis berkelahi."Dia menarik napas sambil terus mengunyah. Perkataan Berta mengingatkannya pada orang yang telah memukulnya. Dia tidak tahu seperti apa penampilannya, hanya memang wajahnya sedikit sakit. "Aku dipukul, bukan berkelahi. Apa aku terlihat jelek?"Berta tidak menjawab. Hanya segera mengeluarkan cermin kecil dan memperlihatkannya pada Iris. Saat itulah, dia melihat salah satu pipinya bengkak dan tepat di dekat pelipis, ada warna keunguan. Sementara yang lainnya tampak hanya lecet. Sial. Iris sangat jelek sekarang. Wajahnya benar-benar tidak seperti sebelumnya. "Ternyata pukula
Pin itu adalah pin emas dengan simbol singa. Lambang yang Iris tidak akan mungkin lupa. Keluarga Valenfort. Itu adalah keluarga Raphael. Pria yang beberapa waktu lalu telah menantang Silas secara publik. Dia tidak akan mungkin bisa lupa setelah mencari tahunya."T-tidak mungkin."Iris menggeleng. Dia menggelengkan kepalanya. Lalu melirik ke arah Silas setengah tak percaya. "Kau... kau pasti berbohong! Kau yang mengatur mereka dan sengaja membiarkan mereka memakai ini?"Alis Silas terangkat. Tuduhan Iris tampak membuatnya terkejut sepersekian detik. "Kenapa aku harus repot melakukan itu hanya untuk menemukanmu?"Iris tersedak. Dia seketika terdiam mendengar jawaban Silas yang terasa masuk akal di kepalanya. Jika dia melihat apa yang sering pria itu lakukan selama ini, sudah jelas jawabannya adalah... tidak akan. Silas tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain untuk membunuh. Pria itu tidak pernah berusaha terlihat baik di depan semua orang. Silas bisa membuat masalah kapan pun d
"Bagaimana kondisinya?""Nona mengalami fraktur yang cukup serius di area kaki akibat benturan keras. Beruntung, hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada trauma berat atau pendarahan di bagian kepala."Silas diam mendengar penjelasan dokter pribadinya. Pandangannya terus tertuju ke arah ranjang di mana Iris terbaring dengan sebuah cervical collar di leher. Sementara bagian kakinya mengenakan spalk gips. Peluru yang bersarang di betisnya telah dikeluarkan. Namun memar di beberapa bagian tubuhnya masih ada dan sudah hampir dua puluh empat jam Iris belum sadarkan diri. "Berapa lama dia akan sadar?" Silas masih tidak mengalihkan pandangannya dari Iris. "Operasi pencabutan peluru berjalan lancar dan fraktur di kakinya sudah kami stabilkan, Tuan. Namun kombinasi syok berat, kehilangan banyak darah dari luka tembak, dan trauma tumpul di kepala membuat kesadarannya belum kembali. Jika dalam beberapa jam ke depan dia belum merespons, saya sarankan kita membawa peralatan CT-Scan portabel
Bab 116 - Bertahan Hidup Tubuh Iris ditarik mundur. Tangannya yang nyaris meraih semprotan cabai dicengkeram erat. Makanan yang dibawanya jatuh berhamburan. "Berengsek!"Iris mengumpat dan mencoba menendang tubuh di belakangnya. Dia memberontak. Namun kakinya ditahan cepat. Meski begitu, dia tidak menyerah. Dia berusaha menyikut wajah pria di belakangnya, tapi cengkeraman tangannya menguat. Hingga tiba-tiba.... Klik. "Jadi ini yang kau min—akhh!"Jeritan pria di belakangnya terdengar, bersamaan dengan cengkeraman tangannya yang terlepas. Iris menoleh cepat dan mendapati lengannya yang bebas, kini dalam kondisi berdarah. Namun itu jelas bukan darahnya dan di sana, tak hanya ada darah, melainkan gelang jelek pemberian Silas yang kini telah aktif. Ujung runcing di sekeliling gelang itu terbuka, tepat saat pria tadi tak sengaja menekan tombolnya. "Sialan. Apa-apaan itu!" umpat pria itu sambil meringis kesakitan. Dia tampak memegangi telapak tangannya yang terluka. Cairan merah mene
"Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b
"Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r
"Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me
"Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di







