Beranda / Mafia / Tertawan oleh Don Mafia / Tempat yang Berbeda

Share

Tempat yang Berbeda

Penulis: Koran Meikarta
last update Tanggal publikasi: 2026-08-04 23:32:03

Beberapa jam kemudian, waktu makan malam.

Di sebuah restoran sederhana, tepatnya di pinggiran jalan yang masih berada di sekitar wilayah pelabuhan, Iris duduk berhadapan dengan Silas. Pria itu tidak memakai jas mahalnya. Hanya kemeja abu-abu dengan kancing terbuka.

Silas tampak santai saat menyantap makan malamnya, seolah pria itu benar-benar tidak menyadari, jika hampir semua wanita di restoran sedang menatap lapar ke arahnya.

Penampilannya yang santai seperti ini, mengingatkan Iris kembali
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tempat yang Berbeda

    Beberapa jam kemudian, waktu makan malam.Di sebuah restoran sederhana, tepatnya di pinggiran jalan yang masih berada di sekitar wilayah pelabuhan, Iris duduk berhadapan dengan Silas. Pria itu tidak memakai jas mahalnya. Hanya kemeja abu-abu dengan kancing terbuka. Silas tampak santai saat menyantap makan malamnya, seolah pria itu benar-benar tidak menyadari, jika hampir semua wanita di restoran sedang menatap lapar ke arahnya. Penampilannya yang santai seperti ini, mengingatkan Iris kembali pada momen pertemuan mereka di kafe. Di mana dulu dia termasuk ke dalam kelompok wanita yang terpesona pada penampilan Silas. Bibirnya tanpa sadar tersenyum kecut. Pegangannya pada garpu menguat. Hingga tanpa disengaja, Iris menusuk kasar daging di piringnya. Menimbulkan suara decitan yang mengganggu. Sampai memaksa Silas untuk menoleh. "Makanlah."Bukannya menurut, Iris malah mendengkus. Dia melirik kembali para wanita yang masih memerhatikan Silas. Sebelum kembali tertuju pada pria itu. "Ke

  • Tertawan oleh Don Mafia   Aturan Dunia Silas

    "Saya mendengar Nona pingsan."Mata Iris bergerak. Kegelapan masih menyelimutinya, tapi telinganya samar-samar mendengar suara yang tak asing dan derap langkah kaki yang mendekat. "Dia hanya shock.""Apa dokter sudah memeriksanya? Haruskah saya—""Tidak perlu. Dia sudah bangun. Buka matamu."Suara Silas yang terdengar sedikit memerintah, menyentak kesadaran Iris. Matanya bergerak perlahan. Menyesuaikan cahaya yang masuk, sebelum dia akhirnya benar-benar membuka mata sepenuhnya. Untuk beberapa saat, Iris hanya menatap langit-langit ruangan. Dia mengalami disorientasi. Sampai suara langkah kaki yang semakin dekat, seketika menarik perhatiannya. Dia menoleh. Mendapati kehadiran Silas yang berhenti dan duduk di kursi tepat di seberangnya. Sementara di sampingnya, berdiri Marcus yang menatap ke arahnya. Dia melihat keduanya bingung, sampai kemudian, kilas balik adegan sebelumnya tiba-tiba muncul. Seketika, matanya melotot dan Iris spontan terduduk di sofanya. Tatapannya kini tertuju pe

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tidak Ada Harganya

    "A-apa?"Mata Iris bergerak antara peti kecil di tangannya dan Silas bergantian. Bertahan. Bertahan sampai Silas datang. Kalimat itu tidak terdengar seperti pria itu akan datang dan menyelamatkannya tanpa dia terluka. Lebih seperti sebuah peringatan jika sesuatu yang buruk, mungkin bisa terjadi. Sesaat, Iris merasa telinganya seolah berdengung, tapi dia bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdetak lebih cepat. Rona merah di wajahnya surut, membuatnya tampak lebih pucat. Pikiran menakutkan menyerangnya, membuat kepalanya sedikit pusing. Bahkan sebelum kejadian itu benar-benar terjadi. "Kau... kau mengatakan itu seolah tahu ada hal buruk yang akan terjadi padaku," gumam Iris dengan suara napas yang sedikit terengah-engah. Tangannya memegangi kepalanya yang pusing saat dia menatap Marcus dan Silas yang bergeming. Ekspresi keduanya tampak tenang. Hanya perlahan, Marcus melepaskan tangannya. "Tidak ada yang tahu apa yang akan kau hadapi nanti."Iris menahan napas dalam-dalam.

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bertahan Sebisa Mungkin

    Mata Iris berkedip. Dia mematung di tempat saat mendengar perkataan Silas. Lalu melirik peti kecil itu dan Silas secara bergantian. Berharap jika Silas sedang bercanda, tapi pria itu tidak pernah bercanda. Matanya kemudian kembali tertuju pada perhiasan di peti tersebut. Ada kalung, gelang, jepit rambut, sampai anting. Semua itu adalah benda yang tidak terpasang di tubuhnya sekarang. Tepatnya nyaris tidak pernah dia gunakan, meski sebenarnya perhiasan semacam itu telah disediakan Silas. Berta juga beberapa kali mencoba menawarkan diri untuk memasangkannya, tapi dia selalu menolak. Iris hanya benar-benar memakainya saat Silas memaksanya mengajak keluar seperti ke pesta gala. "Untukku?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Suaranya terdengar seperti sebuah bisikan. Ada rasa kaget dan sorot tak percaya terpancar di matanya. Selain karena perhiasan itu tampak berbeda dari yang diberikan Silas sebelumnya, perhiasan tersebut juga diberikan langsung oleh Silas sendiri. Iris tidak

  • Tertawan oleh Don Mafia   Sebuah Hadiah?

    Tubuh Iris membeku mendengar jawaban Silas. Matanya berkedip beberapa kali. "P-pulau pribadi?"Pandangannya dengan cepat kembali menatap sekeliling. Mencoba melihat ujungnya, tapi pulau itu terlalu luas. Bukan pulau kecil yang hanya seluas apartemen. Karena di sana, Iris melihat ada beberapa bangunan permanen yang berdiri. Nilainya jelas tidak akan murah. Apalagi jika berada di dekat area pelabuhan yang menjadi jalur perdagangan di kawasan. Iris menelan ludah kasar. Berta tidak bilang soal pulau pribadi. Dia kira, wilayah kekuasaan Silas hanya sebatas pelabuhan saja. Namun tampaknya, tidak ada yang benar-benar bisa menebaknya secara pasti. Tangannya mengepal erat di kedua sisi. Ada rasa waspada yang sedikit berbeda di sana. Bukan gugup, tapi lebih ke rasa takut. Iris tidak melihat Silas mengajaknya ke sana untuk liburan. Tempat itu juga bukan tempat untuk bersenang-senang secara pribadi, tapi tampak seperti gudang di bawah kendali Silas. "Berhenti melamun."Iris tersentak saat me

  • Tertawan oleh Don Mafia   Pulau Pribadi

    Dua hari kemudian. Iris tidak bisa membuat Silas mengurungkan niat untuk pergi. Silas terlihat baik-baik saja. Wajahnya segar, nyaris tidak memperlihatkan bekas luka yang beberapa hari lalu membuat Iris kehilangan kesabaran. Sangat. Hingga dia merasa kesal sendiri. Walau di sisi lain, Iris juga tidak bisa menampik, dia penasaran ke mana Silas akan membawanya kali ini. "Aku tidak melihat Elliot dua hari ini," ucap Iris yang berjalan santai menyusuri jalanan di pelabuhan. Matanya melirik Silas yang berjalan lebih dulu. Santai, tanpa ada yang mengganggu. Pelabuhan itu adalah tempat publik, di mana semua orang dari berbagai negara berkumpul, tapi Silas tampak sangat tenang, seolah itu tempat paling aman. Meski beberapa waktu lalu, pria itu diserang. Sialnya, Iris juga harus mengakui, tempat itu terasa dijaga lebih ketat. Jauh sebelum dia datang. "Dia sibuk.""Sibuk? Memang dia sibuk apa selain mengikutimu sepanjang waktu?" tanyanya setengah menyindir, tapi Silas tidak merespons, pri

  • Tertawan oleh Don Mafia   Sisa Harga Diri

    "Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kehadiran yang Tak Diharapkan

    "Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Kesepakatan

    Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”

  • Tertawan oleh Don Mafia   Perlawanan

    "Masuklah!" Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Buka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status