بيت / Mafia / Tertawan oleh Don Mafia / Tidak Pernah Tenang

مشاركة

Tidak Pernah Tenang

مؤلف: Koran Meikarta
last update تاريخ النشر: 2026-05-20 18:01:30

Tidak ada yang berubah setelah rumor menyebar atau kekacauan di gala akibat Silas. Setidaknya itulah yang terjadi di lingkungan Silas. Namun Iris tidak tahu pasti seberapa kacau di luar sana.

Dia hampir tidak pernah memiliki waktu untuk melihat dunia luar, jika tidak bersama Silas.

Walau kali ini, anehnya pria itu tidak datang dan mengajaknya keluar lagi. Iris seolah diberi napas lebih banyak untuk memulihkan kondisi fisiknya yang masih lemah.

Iris melihat tubuhnya di cermin kamar mandi. Tub
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Tertawan oleh Don Mafia   Disergap

    Iris masih membeku di tempat, ketika dia tiba-tiba merasakan tubuhnya dipeluk dan didorong Silas. Mereka jatuh berguling di atas lereng tanah yang kasar, dihujani suara tembakan dan juga anak panah. Jika Silas terlambat menariknya, tubuh mereka yang akan dihujani peluru dan anak panah. Kini sasaran itu beralih pada kuda cokelat yang tadi mereka tunggangi.Kuda itu meringkik kesakitan ketika timah panas menembus kulit, sebelum akhirnya berlari dan ikut terguling. Lalu ambruk dengan darah menetes. Iris melihatnya. Namun dia tidak sempat menjerit dan mengeluh seluruh tubuhnya sakit ditindih Silas, ketika pria itu justru menariknya berdiri dan bersembunyi di antara semak rimbun serta pohon tumbang. "Akh, sakit, Silas—"Sebelum Iris sempat bicara, mulutnya ditutup. Pria itu berada di belakangnya dan memeluknya erat. Dia sesak. Napasnya terengah-engah, bahkan tubuhnya masih sakit karena harus berguling dari lereng tanah yang cukup tinggi. Gaun putihnya yang bersih, kini kotor oleh tanah

  • Tertawan oleh Don Mafia   Berkuda

    "Silakan naik, Nona."Iris menatap pelatih pria yang meletakkan sebuah tangga kecil di samping kuda. Helm dan perlengkapan berkuda telah terpasang di tubuhnya, tapi dia tetap ragu. Matanya tidak bisa berhenti memerhatikan betapa tingginya kuda cokelat yang disebut jinak itu. Dia tidak pernah memiliki pengalaman naik ke punggung kuda dan tidak pernah memikirkan momen ini akan terjadi. Tidak setelah dia menyaksikan sendiri penunggang kuda terlatih pun jatuh dan terluka. Padahal mereka sudah terbiasa. "Nona?"Iris tersentak. Dia tersadar segera saat pelatih kuda menegurnya. Tatapannya tertuju kembali pada tangga kecil. "Apa ini benar-benar aman? Bagaimana jika aku jatuh?""Anda tidak perlu khawatir. Kuda ini adalah kuda yang paling jinak. Saya akan mengajari Anda." Pelatih itu berkata dengan percaya diri, seakan menjamin keselamatan Iris. Sayangnya hal itu tetap membuatnya ragu, tapi dia yang sudah berjanji, tidak bisa mengingkarinya. Akhirnya, dengan sangat terpaksa, Iris menaiki t

  • Tertawan oleh Don Mafia   Permainan Logika

    "Masih ada waktu untuk menyerah."Iris melirik Silas yang duduk di sebelahnya sambil menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya meremas gaun putih erat. "Tidak, terima kasih. Aku percaya Astra akan menang."Tidak ada jawaban, tapi sekilas Iris melihat bibir pria itu berkedut. Meski pandangan Silas tidak beralih sedikit pun dari arena pacuan kuda.Mereka duduk di sebuah kursi yang ada area balkon. Menghadap langsung ke arena. Dari posisinya, Iris bisa melihat cukup jelas lintasan tanah yang luas. Panjang, cukup lebar dan melingkar. Di garis start, kuda hitam Obsidian dan kuda putih pilihannya sedang bersiap. Dua orang penunggang kuda terlatih terlihat di samping dua kuda tersebut. Mereka memiliki postur yang mirip dan tidak terlihat ada perbedaan kekuatan signifikan. Harusnya semua adil. Namun Iris tidak bisa berhenti memerhatikan ukuran Obsidian yang jauh lebih besar. Tak dipungkiri, ada rasa khawatir memikirkan dia akan kalah. Karena sampai detik ini, dia belum bisa menebak apa yang

  • Tertawan oleh Don Mafia   Sebuah Taruhan

    Itu adalah sebuah lounge. Dugaannya salah ketika matanya tidak menemukan siapa pun di sana selain seorang resepsionis dan barista di meja kopi. Tempat yang tenang tanpa gangguan. Bukan tempat di mana berkumpulnya kalangan atas seperti sebelumnya. "Kami sudah mengosongkan tempat ini setelah Sir Elliot memberitahu Anda akan datang, Tuan Silas."Perhatian Iris teralihkan pada pria yang tadi membuka pintu mobil untuknya. Pria paruh baya berkacamata, yang kini tersenyum lebar dan tampak antusias dengan kedatangan Silas. "Kebetulan, beberapa hari lalu kami juga kedatangan kuda terbaik. Anda ingin melihat?""Kuda?"Iris tanpa sadar mendekat. Dia ikut penasaran mendengar penjelasan pria berkacamata itu. Sampai perhatian pria itu beralih padanya. Tersenyum profesional. "Iya, Nona. Saya akan tunjukkan. Mari ikuti saya."Iris masih ingin bertanya lebih lanjut tentang apa maksudnya, tapi kakinya tanpa sadar ikut melangkah mengikuti Silas dan pria itu. Mereka berjalan ke salah satu ruangan ya

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tidak Pernah Tenang

    Tidak ada yang berubah setelah rumor menyebar atau kekacauan di gala akibat Silas. Setidaknya itulah yang terjadi di lingkungan Silas. Namun Iris tidak tahu pasti seberapa kacau di luar sana. Dia hampir tidak pernah memiliki waktu untuk melihat dunia luar, jika tidak bersama Silas. Walau kali ini, anehnya pria itu tidak datang dan mengajaknya keluar lagi. Iris seolah diberi napas lebih banyak untuk memulihkan kondisi fisiknya yang masih lemah. Iris melihat tubuhnya di cermin kamar mandi. Tubuh telanjangnya tampak masih menunjukkan memar, tapi tidak terlalu buruk atau menyakitkan. Entah karena memang sudah mulai sembuh atau karena dia mulai terbiasa dengan rasa sakitnya. "Nona? Anda melupakan pakaian Anda."Iris menoleh saat mendengar ketukan di pintu kamar mandi. Dia meraih handuk dan segera membukanya. Menatap pelayan yang berdiri sambil membawa sebuah pakaian serba putih. Dia mengerutkan keningnya. Tidak langsung mengambil pakaian itu. "Kenapa semuanya berwarna putih? Apa ada s

  • Tertawan oleh Don Mafia   Menahan Diri

    "Kau akan mati hari ini."Wajah Iris memucat. Matanya terbelalak saat dia melihat Silas berdiri di depannya sambil memegang pedang. Sementara dirinya membungkuk di tanah, tepat di pinggir jurang tanpa dasar. Tidak ada siapa pun selain dia dan Silas. Hanya angin malam dingin dan pohon besar yang menakutkan menjadi saksi. Pria itu berdiri tepat di bawah sinar bulan dan tersenyum seakan menikmati ketakutannya. Iris tidak bisa menahan rasa sesak dan takut luar biasa. "J-jangan. Biarkan aku hidup. Tolong," pintanya dengan suara tercekat, tapi semakin dia memohon, senyum pria itu semakin lebar. Pedang ditarik pelan dan diayunkan ke arahnya. Menembus tepat di jantungnya. "Terlambat. Kau tidak berguna."Iris hanya terpaku melihat darah menetes di dadanya. Dia menatap pria itu lagi, tapi yang dilihatnya bukanlah wajah. Melainkan sebuah sepatu yang mendorong tubuhnya melayang jatuh ke dalam jurang gelap tanpa ujung. "TIDAKK!"Iris menjerit sejadi-jadinya dan terduduk dengan mata melotot. N

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status